Senin, 08 Oktober  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5721

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Mudik dengan Sepeda Motor, Paling Murah 




Oleh
Isyanto

CIREBON – Makin lama masyarakat Indonesia memang semakin pintar. Setidaknya begitulah gambaran yang muncul di musim mudik tahun 2007 ini. Banyak pemudik yang tidak sudi lagi berdesak-desakan di dalam kereta api atau bus yang penuh sesak dengan penumpang. Mereka lebih pilih beramai-ramai menggunakan sepeda motor. Ini memang melelahkan, tapi mereka sadar mungkin ini pilihan terbaik.
"Ke Lamongan di musim Lebaran ini tarif bus bisa mencapai Rp 350.000 per orang, dengan fasilitas AC dan toilet. Padahal dengan sepeda motor, bensinnya tidak sampai Rp 100.000, bisa membawa keluarga lagi. Dengan sepeda motor, mudik menjadi lebih murah dan lebih menyenangkan," kata Samsudin, yang sehari-hari membuka usaha sebagai pedagang pecel lele di Karawang dan akan mudik ke Lamongan, Jawa Timur.
Samsudin bersama istrinya, Susanti (25) dan anak mereka Nasha (1), sedang istirahat di Tegal ketika dijumpai SH, Selasa (8/10) pagi. Susanti tengah menyuapi Nasha dengan bakso. Ketika ditanya apakah ia tidak khawatir bila tiba-tiba Nasha sakit, Samsudin mengatakan tidak.
"Yang penting, perut anak ini harus selalu diisi agar tidak masuk angin. Kita pun harus sering-sering menengoknya agar tidak seperti tahun lalu ada bayi yang mati karena tidak bisa bernafas, tergencet di antara punggung ayahnya dan dada ibunya. Kalaupun anak itu sakit, di sepanjang jalan ini banyak posko kesehatan. Kita bisa berobat di sana," jelasnya.
Menurut Samsudin, mudik dengan membawa anak justru tidak melelahkan. Mereka malah terhibur oleh kehadiran Nasha, yang lucu dan bisa diajak bercanda selama dalam perjalanan.

Pendapat serupa dilontarkan rekan sesama penjual pecel lele, Amin, yang juga mudik bersama istri Nurfaizah (25) dan anak mereka, Irsan (1).
"Biarin kita susah di perjalanan. Yang penting, kita selamat asal kita hati-hati di jalan. Sisa uangnya bisa kita belikan oleh-oleh untuk orang tua di kampung," kata Amin.
Samsudin dan Amin hanyalah satu di antara ratusan ribu pemudik dengan sepeda motor. Alasan yang sama juga dilontarkan Indra (35) yang mudik ke Jatisrono, Wonogiri. Bahkan, Indra memimpin rombongan 11 sepeda motor yang ditumpangi 16 jiwa.
Dengan sepeda motor, Indra mengaku hanya tiga kali mengisi bensin. Sekali mengisi Rp 15.000. Kalau empat kali mengisi berarti Rp 60.000. Sedangkan bila naik bus umum di musim Lebaran seperti sekarang ini, tarifnya bisa Rp 250.000 per orang.
"Selisihnya cukup banyak. Soal suka-dukanya, banyak. Sukanya, kita bisa berhenti dan istirahat di mana pun kita mau. Kalau naik bus, kita tidak bisa istirahat sembarangan. Semua sudah ada waktunya dan ada tempatnya. Dukanya, kalau ada rekan yang tercecer atau kecelakaan. Kita semua ikut repot," tutur Indra, yang tinggal di Pluit, dan sudah tiga kali mudik dengan sepeda motor.

Solidaritas
Indra memuji solidaritas tinggi para pemudik sepeda motor asal Jakarta, yang sungguh tidak disangkanya. "Misalnya ada yang kecelakaan atau pecah ban, mereka berhenti dan menolong walaupun korban bukan teman atau keluarganya. Pokoknya, asal plat nomornya B dan tampak membawa buntelan, pasti ditolong. Padahal di Jakarta sendiri, mereka gontok-gontokan dan bersaing mencari rejeki. Aneh ya?" kata Indra, yang menurut salah satu anggota rombongannya, nama aslinya bukan Indra melainkan Samino.
Ia mengakui ada beberapa pemudik yang bertindak kurang sopan selama dalam perjalanan. "Tapi kalau anggota saya, pasti sopan. Saya jamin. Kalau tidak sopan, tahun depan dia akan saya keluarkan dari rombongan," katanya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003