Senin, 02 Juli  2007

I N T E R N A S I O N A L

No.  5639

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Thailand Tidak Akan Ulangi Krisis Keuangan 



Manila – Thailand tidak akan mengulangi krisis keuangan yang dialami satu dekade lalu karena perekonomian negara itu kini makin kuat dan memiliki cadangan mata uang asing yang lebih besar.
Demikian kata Perdana Menteri Surayud Chulanont. “Dengan cadangan mata uang asing dan dasar perekonomian yang kuat, saya yakin negara ini tidak akan menghadapi krisis yang sama seperti yang kita alami sepuluh tahun lalu,” kata Surayud dalam tayangan program televisi Thailand, Channel 11, Sabtu (30/6).
“Perekonomian negara ini tetap kuat,” kata Surayud. “Ekspor terus akan menjadi penggerak utama perekonomian kita tahun ini. Pendapatan pemerintah dan investasi asing akan meningkatkan pertumbuhan di paruh kedua.”
Hari ini, sepuluh tahun lalu tepatnya pada 2 Juli 1997, Thailand terpaksa mendevaluasi nilai tukar mata uangnya, baht, karena bank sentral kekurangan cadangan mata uang asing. Negeri itu membiarkan kurs baht mengambang di pasar bebas. Nilai baht langsung turun hingga separuhnya.
Langkah Thailand tersebut memicu krisis keuangan dan jatuhnya perekonomian Asia Timur yang terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Krisis mengguncang perekonomian Thailand, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Hong Kong dan Taiwan.
Krisis lebih lanjut merembet ke Amerika Selatan dan Rusia menyusul dan kejutan itu juga dengan tajam menurunkan harga minyak mencapai US$ 8 per barel pada akhir 1998.
Surayud mengulangi pernyataannya bahwa perekonomian diperkirakan akan tumbuh 4,5 persen tahun ini setelah pada kuartal pertama tumbuh 4,3 persen. “Cukup memuaskan,” katanya. Pertumbuhan ekonomi Thailand tahun 2006 mencapai 5 persen.
Cadangan mata uang asing negeri itu, termasuk aset dan cadangan emas turun 0,7 persen dibandingkan seminggu sebelumnya menjadi US$ 72,2 miliar pada 22 Juni, menurut data Bank Sentral Thailand. Bank Sentral kemarin melaporkan surplus tercatat US$ 246 juta bulan Mei, dibandingkan defisit bulan April sebesar US$ 125 juta berkat peningkatan ekspor.
Menurut penelitian tim ekonomi American Express, dalam berbagai kasus tahun 2007 perekonomian Asia lebih kuat dalam perubahan kondisi dunia saat ini. Hal ini disebabkan nilai tukar uang yang lebih fleksibel, surplus eksternal dan cadangan mata uang asing yang besar. (nat)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003