|
Thailand Tidak Akan
Ulangi Krisis Keuangan
Manila – Thailand tidak akan mengulangi krisis keuangan yang dialami
satu dekade lalu karena perekonomian negara itu kini makin kuat dan
memiliki cadangan mata uang asing yang lebih besar.
Demikian kata Perdana Menteri Surayud Chulanont. “Dengan cadangan
mata uang asing dan dasar perekonomian yang kuat, saya yakin negara
ini tidak akan menghadapi krisis yang sama seperti yang kita alami
sepuluh tahun lalu,” kata Surayud dalam tayangan program televisi
Thailand, Channel 11, Sabtu (30/6).
“Perekonomian negara ini tetap kuat,” kata Surayud. “Ekspor terus
akan menjadi penggerak utama perekonomian kita tahun ini. Pendapatan
pemerintah dan investasi asing akan meningkatkan pertumbuhan di
paruh kedua.”
Hari ini, sepuluh tahun lalu tepatnya pada 2 Juli 1997, Thailand
terpaksa mendevaluasi nilai tukar mata uangnya, baht, karena bank
sentral kekurangan cadangan mata uang asing. Negeri itu membiarkan
kurs baht mengambang di pasar bebas. Nilai baht langsung turun
hingga separuhnya.
Langkah Thailand tersebut memicu krisis keuangan dan jatuhnya
perekonomian Asia Timur yang terburuk sejak Perang Dunia Kedua.
Krisis mengguncang perekonomian Thailand, Indonesia, Korea Selatan,
Malaysia, Filipina, Singapura, Hong Kong dan Taiwan.
Krisis lebih lanjut merembet ke Amerika Selatan dan Rusia menyusul
dan kejutan itu juga dengan tajam menurunkan harga minyak mencapai
US$ 8 per barel pada akhir 1998.
Surayud mengulangi pernyataannya bahwa perekonomian diperkirakan
akan tumbuh 4,5 persen tahun ini setelah pada kuartal pertama tumbuh
4,3 persen. “Cukup memuaskan,” katanya. Pertumbuhan ekonomi Thailand
tahun 2006 mencapai 5 persen.
Cadangan mata uang asing negeri itu, termasuk aset dan cadangan emas
turun 0,7 persen dibandingkan seminggu sebelumnya menjadi US$ 72,2
miliar pada 22 Juni, menurut data Bank Sentral Thailand. Bank
Sentral kemarin melaporkan surplus tercatat US$ 246 juta bulan Mei,
dibandingkan defisit bulan April sebesar US$ 125 juta berkat
peningkatan ekspor.
Menurut penelitian tim ekonomi American Express, dalam berbagai
kasus tahun 2007 perekonomian Asia lebih kuat dalam perubahan
kondisi dunia saat ini. Hal ini disebabkan nilai tukar uang yang
lebih fleksibel, surplus eksternal dan cadangan mata uang asing yang
besar. (nat)
|
|