|
Bhiksu Mancanegara
dan Semarak Perayaan Waisak
Oleh
SU Herdjoko
MAGELANG – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah mulai memadati
kawasan Mendut dan Borobudur. Mereka telah mempersiapkan diri untuk
mengikuti ritual perayaan Tri Suci Waisak 2551 BE/2007 yang jatuh
pukul 08.00 lebih 27 detik, Jumat (1/6) besok. Mereka datang
menggunakan bus-bus besar maupun mobil pribadi. Jalanan menuju
kawasan Borobudur telah berhias dengan aneka penjor.
Sementara itu, para bhiksu dari Sangha Theravada dan Mahayana
menggelar ritual Pindhapata (mengumpulkan bahan makanan dan uang)
dari umat Buddha yang ada di Kota Magelang, Rabu (30/5).
Ada 130 bhiksu, 30 di antaranya dari Thailand yang terlibat dalam
Pindhapata. Prosesi itu dimulai dari halaman Tempat Ibadah Tri
Dharma Liong Hok Bio. Mereka berjalan sembari melantunkan kidung
pujian (Parita) menyusuri kawasan Pecinan di Jalan Pemuda.
Di sepanjang jalan itu, umad Buddha telah menunggu di depan pintu
rumah ataupun tokonya. Mereka dengan posisi tangan Anjali (sikap
menyembah), memasukkan amplop warna merah ke dalam wadah yang dibawa
oleh para bhiksu.
Koordinator Dewan Sangha Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi)
Bhiksu Tadisa Paramitha menjelaskan ritual Pindhapata adalah tradisi
yang harus dilakukan para bhiksu sebelum melaksanakan prosesi Agung
Tri Suci Waisak yang dipusatkan di Candi Mendut dan Candi Borobudur.
“'Ritual Pindhapata merupakan ajaran Sang Buddha. Mengapa ada ritual
itu? Karena selama dalam wihara para bhiksu dilarang untuk
mengumpulkan bahan makanan maupun uang sehingga perlu uluran tangan
agar bisa makan,”' jelasnya.
Diperkirakan ada 10.000 umat Buddha yang akan memadati Borobudur
pada puncak peringatan Tri Suci Waisak Jumat besok.
Perayaan Nasional
Di pihak lain, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) menyelenggarakan
perayaan Waisak di Candi Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Perayaan
Waisak secara nasional di luar Pulau Jawa, tepatnya di Situs Candi
Muaro Jambi, merupakan pertama kali dilaksanakan. Alasannya, candi
ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tak kalah agungnya
dengan Candi Borobudur dan candi-candi lain di Pulau Jawa.
Peninggalan sejarah ini menjadi bukti bahwa dulu pernah ada kerajaan
besar di bumi nusantara ini, bernama Sriwijaya. Dulu di masa
Universitas Nalanda, ribuan pelajar dari berbagai negara datang ke
Sriwijaya. Dharmakirti adalah salah satu guru besar yang sangat
terkenal, dan guru besar dari India Atisha Dipankara, khusus datang
untuk belajar selama bertahun-tahun dengannya. Guru Atisha inilah
yang kemudian mengembangkan agama ke negeri Tibet.
MBI memandang hal ini sebagai suatu kebhinnekaan, keragaman, bukan
sebagai tandingan bagi perayaan Waisak di tempat lain (Candi
Borobudur-red). Perayaan Waisak ini akan dihadiri oleh 60 orang
biksu sangha dan 3.000 lebih umat. Mereka akan mendoakan agar
bencana yang sedang bertubi-tubi melanda Indonesia segera berakhir
dan dapat diatasi dengan baik. Ketua Umum PP MBI, Sudhamek AWS,
mengingatkan bahwa manusia harus hidup damai dan saling mengasihi.
Pendeta Jepang
Sementara itu di Denpasar, 63 pendeta Buddha dari Jepang beserta
sekitar 200 pengikutnya akan melakukan berbagai kegiatan di Bali
dalam event bertajuk “Mandala” mulai 12 hingga 15 Juni mendatang.
Kegiatan itu antara lain upacara persembahyangan api suci (saitongoma),
seminar “Budhisme Esoterik”, dan pementasan seni budaya kolaborasi
seni Bali dan Jepang.
Ketua Panitia Event Mandala, Made Sudiana, menjelaskan bahwa tujuan
diadakannya acara ini, yakni untuk mendoakan agar keadaan bangsa
Indonesia pulih dari berbagai masalah seperti bencana alam. Selain
itu, guna meningkatkan kerja sama Jepang dan Indonesia, khususnya
Bali, dalam pemulihan pariwisata Bali pascaperistiwa peledakan bom
beberapa waktu lalu.
Hal senada juga disampaikan salah seorang Direktur PT Bali Tourism
Development Coorporation (BTDC), Solichin. Ia menyebutkan, selama
ini jumlah kunjungan wisatawan asal Jepang ke Bali mengalami
penurunan setelah ada dua kali bom di Bali.
“Dengan kedatangan para bikshu ke Bali ini masyarakat dunia,
khususnya Jepang, dapat mengetahui bahwa kondisi keamanan di Bali
sudah cukup kondusif sekarang ini,” jelas Solichin.
(cinta malem ginting/wahyu dramastuti)
|
|