Kamis, 31 Mei  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5613

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Bhiksu Mancanegara dan Semarak Perayaan Waisak



Oleh
SU Herdjoko

MAGELANG – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Mendut dan Borobudur. Mereka telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ritual perayaan Tri Suci Waisak 2551 BE/2007 yang jatuh pukul 08.00 lebih 27 detik, Jumat (1/6) besok. Mereka datang menggunakan bus-bus besar maupun mobil pribadi. Jalanan menuju kawasan Borobudur telah berhias dengan aneka penjor.
Sementara itu, para bhiksu dari Sangha Theravada dan Mahayana menggelar ritual Pindhapata (mengumpulkan bahan makanan dan uang) dari umat Buddha yang ada di Kota Magelang, Rabu (30/5).
Ada 130 bhiksu, 30 di antaranya dari Thailand yang terlibat dalam Pindhapata. Prosesi itu dimulai dari halaman Tempat Ibadah Tri Dharma Liong Hok Bio. Mereka berjalan sembari melantunkan kidung pujian (Parita) menyusuri kawasan Pecinan di Jalan Pemuda.
Di sepanjang jalan itu, umad Buddha telah menunggu di depan pintu rumah ataupun tokonya. Mereka dengan posisi tangan Anjali (sikap menyembah), memasukkan amplop warna merah ke dalam wadah yang dibawa oleh para bhiksu.
Koordinator Dewan Sangha Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) Bhiksu Tadisa Paramitha menjelaskan ritual Pindhapata adalah tradisi yang harus dilakukan para bhiksu sebelum melaksanakan prosesi Agung Tri Suci Waisak yang dipusatkan di Candi Mendut dan Candi Borobudur.
“'Ritual Pindhapata merupakan ajaran Sang Buddha. Mengapa ada ritual itu? Karena selama dalam wihara para bhiksu dilarang untuk mengumpulkan bahan makanan maupun uang sehingga perlu uluran tangan agar bisa makan,”' jelasnya.

Diperkirakan ada 10.000 umat Buddha yang akan memadati Borobudur pada puncak peringatan Tri Suci Waisak Jumat besok.

Perayaan Nasional
Di pihak lain, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) menyelenggarakan perayaan Waisak di Candi Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Perayaan Waisak secara nasional di luar Pulau Jawa, tepatnya di Situs Candi Muaro Jambi, merupakan pertama kali dilaksanakan. Alasannya, candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tak kalah agungnya dengan Candi Borobudur dan candi-candi lain di Pulau Jawa.
Peninggalan sejarah ini menjadi bukti bahwa dulu pernah ada kerajaan besar di bumi nusantara ini, bernama Sriwijaya. Dulu di masa Universitas Nalanda, ribuan pelajar dari berbagai negara datang ke Sriwijaya. Dharmakirti adalah salah satu guru besar yang sangat terkenal, dan guru besar dari India Atisha Dipankara, khusus datang untuk belajar selama bertahun-tahun dengannya. Guru Atisha inilah yang kemudian mengembangkan agama ke negeri Tibet.
MBI memandang hal ini sebagai suatu kebhinnekaan, keragaman, bukan sebagai tandingan bagi perayaan Waisak di tempat lain (Candi Borobudur-red). Perayaan Waisak ini akan dihadiri oleh 60 orang biksu sangha dan 3.000 lebih umat. Mereka akan mendoakan agar bencana yang sedang bertubi-tubi melanda Indonesia segera berakhir dan dapat diatasi dengan baik. Ketua Umum PP MBI, Sudhamek AWS, mengingatkan bahwa manusia harus hidup damai dan saling mengasihi.

Pendeta Jepang
Sementara itu di Denpasar, 63 pendeta Buddha dari Jepang beserta sekitar 200 pengikutnya akan melakukan berbagai kegiatan di Bali dalam event bertajuk “Mandala” mulai 12 hingga 15 Juni mendatang. Kegiatan itu antara lain upacara persembahyangan api suci (saitongoma), seminar “Budhisme Esoterik”, dan pementasan seni budaya kolaborasi seni Bali dan Jepang.
Ketua Panitia Event Mandala, Made Sudiana, menjelaskan bahwa tujuan diadakannya acara ini, yakni untuk mendoakan agar keadaan bangsa Indonesia pulih dari berbagai masalah seperti bencana alam. Selain itu, guna meningkatkan kerja sama Jepang dan Indonesia, khususnya Bali, dalam pemulihan pariwisata Bali pascaperistiwa peledakan bom beberapa waktu lalu.
Hal senada juga disampaikan salah seorang Direktur PT Bali Tourism Development Coorporation (BTDC), Solichin. Ia menyebutkan, selama ini jumlah kunjungan wisatawan asal Jepang ke Bali mengalami penurunan setelah ada dua kali bom di Bali.
“Dengan kedatangan para bikshu ke Bali ini masyarakat dunia, khususnya Jepang, dapat mengetahui bahwa kondisi keamanan di Bali sudah cukup kondusif sekarang ini,” jelas Solichin.
(cinta malem ginting/wahyu dramastuti)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003