|
PROFIL
Bambang Ismawan
Kredit Tanpa Bunga untuk si Miskin
Oleh
Wahyu Dramastuti
JAKARTA - Penampilannya selalu rapi dan suka mengenakan baju batik.
Bicaranya lugas dan penuh data. Namun tugasnya keluar-masuk pedesaan,
lembah, gunung, pesisir, hanya untuk mencari masyarakat yang patut
ditolong.
Kemudian masyarakat itu dihubungkannya dengan lembaga yang dapat
memberikan bantuan, sampai akhirnya masyarakat itu mampu hidup
mandiri.
Dialah Bambang Ismawan, Pendiri dan Ketua Bina Swadaya, sebuah
lembaga yang punya misi membangkitkan keberdayaan masyarakat miskin
dan terpinggirkan dalam aspek sosial-ekonomi. Karyanya bagaikan
pepatah Jawa sepi ing pamrih, rame ing gawe (terus bekerja tanpa
pamrih).
Begitu jelinya Bambang bersama Bina Swadaya-nya. Ia menemukan sebuah
koperasi di pedesaan Bengkulu yang jauh dari liputan media massa dan
membuat sekelompok masyarakat di sana keluar dari jeratan rentenir.
Ia juga menemukan kelompok usaha bersama di Dusun Sindet, Bantul,
Yogyakarta, yang membantu para anggotanya menata kembali kehidupan
perekonomian mereka pascagempa.
“Saya trenyuh pada masalah kemiskinan. Apa betul, orang miskin itu
tidak punya apa-apa? Ternyata tidak, orang miskin itu punya meskipun
sedikit. Nah, kalau mereka bergabung, mereka bisa menolong diri
mereka sendiri,” kata Bambang yang juga merintis pendirian Bank
Pembangunan Rakyat (BPR) Bina Swadaya.
BPR Bina Swadaya memberikan kredit tanpa agunan kepada usaha mikro.
Cicilannya setiap bulan dengan bunga sangat rendah, 1-3% setahun.
Ini pun masih tanpa penalti jika cicilan menunggak. Syaratnya,
peminjam harus membentuk kelompok terdiri dari 5-10 orang. Tujuannya,
agar pinjaman itu ditanggung renteng, sehingga kalau ada yang
menunggak anggota lainnya menalanginya.
Bagi kelompok yang baru berdiri, pinjaman diberikan baru pada bulan
keempat, itu pun masih tanpa bunga. Bunga baru akan diterapkan
kemudian, secara bertahap.
Menurut pengalaman, mereka yang menunggak selama ini hanya karena
sedang tertimpa musibah, itu pun kemudian ditalangi oleh anggota
kelompoknya. Maka Bambang Ismawan berpendapat, sebetulnya pengusaha
mikro tidak membutuhkan bunga rendah karena usahanya untung. Yang
mereka butuhkan hanya akses ke lembaga peminjam.
Maka, ia heran mengapa bank menerapkan syarat yang sulit untuk
memberikan kredit bagi usaha mikro. Semestinya antara masyarakat,
pemerintah, dan bank saling percaya. “Mengapa selama ini tidak jalan?
Karena masyarakat menggantungkan pada atas (pemerintah-red).
Padahal ketika semua orang menyerahkan pada atas dan atas tidak
jalan, semuanya hancur,” tegasnya.
Itulah sebabnya, Bambang mengajak semua pihak berbuat sesuatu.
Rakyat jangan hanya berteriak agar pejabat pemerintahan mundur, dan
pemerintah serta organisasi juga harus memfasilitasi rakyat.
Lalu Bambang mencontohkan, ada petani yang tidak berpendidikan
tinggi, tanahnya hanya sedikit, tetapi memiliki semangat dan
terampil. Di dalam kelompoknya, mereka melakukan proses
belajar-mengajar. “Petani tidak belajar dari profesor, tapi dari
tetangga. Petani itulah yang kami fasilitasi,” jelasnya.
Jadi Penghubung
Selain penyaluran kredit, Bina Swadaya juga memberikan pendampingan,
pelatihan, dan menghubungkan usaha mikro dengan lembaga pemerintah,
seperti Bappenas, Perkebunan, BKKBN, serta perusahaan swasta besar,
seperti Coca Cola dan Carrefour.
Bina Swadaya memfokuskan pada pengembangan ekonomi rakyat, terutama
pada usaha mikro, karena 99,97% unit usaha di Indonesia merupakan
usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Adapun spirit yang memotivasi Bambang dan Bina Swadaya-nya adalah
tujuan kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu memberdayakan rakyat.
Tetapi setelah merdeka, ternyata pemerintah tidak mampu
memberdayakan rakyat; cita-cita ini masih sebatas retorika yang
dibicarakan lewat seminar-seminar.
Bambang menyamakan para elite di Indonesia dengan elite di
Bangladesh. Sama-sama gampang menyerah pada pemberdayaan masyarakat
dan sibuk dengan urusan masing-masing. Sialnya, masyarakat melihat
kekuasaan sebagai segala-galanya sehingga menggantungkan diri pada
pemerintah.
Bambang Ismawan lahir di Lamongan, Jawa Timur, 7 Maret 1938.
Pernikahannya dengan Silvia Maria membuahkan dua putera, Ervo
Ismawan (almarhum) dan Irsa Ismawan. Ia ikut merintis Bina Swadaya
yang didirikan oleh Ikatan Petani Pancasila pada 24 Mei 1967, yang
semula bernama Yayasan Sosial Tani Membangun.
Dalam ulang tahun ke-40 Bina Swadaya pada tahun 2007 ini, Bina
Swadaya memberikan penghargaan Kusala Swadaya bagi individu dan
kelompok yang memiliki kontribusi dalam pemberdayaan masyarakat,
serta kepada media massa dan wartawan yang berpihak pada
pemberantasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.
Sayangnya, sejarah Indonesia penuh dengan kisah-kisah heroisme
politik, sehingga tak mampu lagi menampung kisah heroisme
pemberdayaan masyarakat. n |
|