Senin, 14 Mei  2007

E K O N O M I    &    B I S N I S

No.  5599

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 CEO

CEO Hutchison CP Telecom (HCPT) Indonesia Rajiv Sawhney:
“3” Tawarkan Tarif dan Fitur Kompetitif  




Oleh
Dikdik Hidayat

Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi keempat terbesar di dunia, tetapi penetrasi selulernya ternyata paling rendah dalam percaturan kawasan regional. Hasil penelitian yang dikeluarkan Pyramid menyatakan bahwa penetrasi seluler di Indonesia hanya 27 persen saja.
Dengan Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) sebesar US$ 1.283, Indonesia kalah jauh dari Filipina yang GDP-nya hanya US$ 1.168. Adapun Filipina mampu melakukan penetrasi telekomunikasi selulernya sampai 34 persen.
Belum lagi jika dibandingkan Thailand dengan GDP US$ 2.659, melaju dengan penetrasi 54 persen. Yang paling top ternyata negara tetangga, yang wilayah perbatasannya berada di Pulau Kalimantan, yakni Malaysia.
Negara yang penduduknya jauh lebih sedikit jika dibandingkan Indonesia ini ternyata mempunyai penetrasi seluler terbesar, 75 persen! Bayangkan kalau kita bisa seperti itu, tentunya wilayah Indonesia tetap terintegrasi meskipun kita terpisahkan oleh beribu pulau yang ada.
Di samping penetrasi selulernya yang jauh ketinggalan, Pyramid mencatat Indonesia sebagai negara yang paling mahal tarif percakapan teleponnya. Mereka mencatat tarif termurah berada di India yang hanya membebankan Rp 200 untuk percakapan per menitnya. Jumlah besaran tarif itu disusul Thailand dengan Rp 275, lalu Malaysia mematok Rp 825, tidak jauh berbeda dengan Filipina yang berbeda Rp 25, yakni di posisi Rp 850. Terakhir, pemenang tarif termahal adalah Indonesia, Rp 1.200 per menitnya! Ruarr biasa!
Ternyata tarif telekomunikasi di Indonesia yang dikatakan orang tergolong yang paling mahal di Asia—kalau tidak mau disebut paling mahal di dunia—bukanlah isapan jempol belaka.
Kenyataan ini tentunya merupakan permasalahan yang harus diantisipasi oleh operator telekomunikasi di Indonesia, baik GSM (Global System for Mobilephone) maupun CDMA (Code Division Multiple Access). Mereka berlomba-lomba membuat hal tersebut tak kentara. Maka, bermunculanlah inovasi-inovasi yang ditawarkan tetapi intinya satu: menawarkan tarif yang paling murah.
Kita bisa melihat dalam iklan pelaku usaha ini di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, semuanya menawarkan tarif paling murah. Akan tetapi, jangan tergiur dengan tarif murah saja tanpa melihat sisi lain keuntungan (benefit) yang kita dapatkan. Sebagai contoh, buat apa murah kalau untuk menelepon atau mengirim layanan pesan singkat (short message service/SMS) saja sulitnya bukan main? Buat apa murah, kalau coverage area-nya sangat terbatas? Dan sekali lagi, buat apa murah kalau fitur-fitur yang ditawarkan tidak inovatif?
“3” (baca: tri-red) menawarkan solusi bagi permasalahan telekomunikasi seluler di Indonesia dengan empat strategi, yakni inovatif, fleksibel, simple, dan terjangkau,” ungkap Rajiv Sawhney, Chief Executive Officer (CEO) Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT). Adapun “3” sendiri ditulis dalam format angka, yang tidak perlu diterjemahkan lagi karena sudah relevan di setiap negara tempatnya berada. Sebagai contoh, “3” diucapkan three di Inggris, Australia, dan Irlandia, tre di Italia, drei di Austria, dan sekarang tri di Indonesia.
Kalau dilihat dari sisi kepemilikan, HCPT merupakan perusahaan kemitraan antara Hutchison Telecommunications International Ltd (HTIL) dengan porsi kepemilikan saham sebesar 60 persen, dan Charoen Pokphand (CP) Group memiliki 40 persen sisanya. HTIL merupakan bagian dari Hutchison Whampoa Ltd (HWL), perusahaan multinasional berbasis di Hong Kong dan salah satu pemain kunci pada industri telekomunikasi global dengan lebih dari 36,5 juta pelanggan 2G dan 3G di seluruh dunia.
Charoen Pokphand (CP) adalah perusahaan multinasional berbasis di Thailand yang menjalankan layanan telekomunikasi di Thailand dan memiliki minat pada industri makanan ternak, peternakan, dan produk aquaculture. CP memiliki pendapatan global US$ 11 miliar dan mempekerjakan lebih dari 100.000 pegawai, dengan 30.000 di antaranya berada di Indonesia dan sumbangan pendapatan mencapai lebih dari US$ 1 miliar.
Dalam wawancaranya dengan SH baru-baru ini, CEO HCPT Indonesia, pemegang brand “3” ini, melihat bahwa potensi market telekomunikasi seluler Indonesia sangat besar. Akan tetapi penetrasinya terkendala dengan tingginya tarif yang ditawarkan operator yang ada.
Dengan empat strateginya, inovatif, fleksibel, sederhana (simple), dan terjangkau, “3” berupaya mengatasi permasalahan telekomunikasi seluler di Indonesia yang terkenal dengan kemahalannya. Apalagi ditambah dengan nature sebagian besar orang Indonesia yang menginginkan segala sesuatunya berharga murah membuat “3” yakin dengan strateginya dapat merebut hati konsumen Indonesia.
“3” Inovatif Sesuatu yang baru dan berbeda untuk tarif, layanan maupun fitur. Fleksibel Isi ulang fleksibel, mulai Rp 1.000 dan kelipatan Rp 100. Sederhana Tarif hanya dibedakan dari menelepon atau SMS ke sesama “3” atau operator lain, dan
menelepon lokal atau SLJJ (sambungan langsung jarak jauh). Harga Terjangkau (Value 4 Money) Menawarkan tarif terjangkau dan nilai tak tertandingi yang menguntungkan pelanggan. “Dengan inovasi dari sisi tarif, layanan, maupun fitur dan denominasi isi ulang yang termurah, hanya Rp 1.000 dan kelipatan Rp 100, kami yakin masyarakat Indonesia bisa menerima “3” sebagai alternatif baru bagi telekomunikasi selulernya,” tukas Rajiv. Dengan lisensi GSM untuk jaringan 2G di 1800 MHZ dan 3G melalui WCDMA-nya, “3” membutuhkan waktu dua tahun untuk merencanakan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan jaringannya di Indonesia.
Pada peluncurannya di Jakarta, 29 Maret 2007 yang lalu, “3” mengklaim sudah dapat melayani 75 persen populasi di Pulau Jawa, bertepatan dengan tanggal tersebut. “3” juga berencana melakukan peluncuran di Bali, Lombok, Sumatera, dan Batam dalam jangka waktu dekat ini, yang disusul dengan peluncuran di Sumatera pada kuartal berikutnya. “Peluncuran di Kalimantan dan Sulawesi akan dilaksanakan tahun 2008,” cetus Rajiv.
“3” juga menawarkan hal baru bagi pengguna seluler di Indonesia, di antaranya adalah pengenaan tarif yang hanya dibebankan untuk download content saja, tapi gratis untuk aksesnya. Dari sisi isi ulang, “3” menawarkan bagi setiap pengisian ulang seharga Rp 30.000 atau lebih, “3” akan memberikan pulsa 3 kali lipatnya.
Pengguna dapat menggunakan pulsa ini untuk dua jenis panggilan: ke sesama pengguna “3” (on-net) dan ke pengguna di luar “3” atau antaroperator (off-net).
Pengguna dapat menggunakan maksimum 50 persen dari pulsa untuk panggilan antaroperator dan sisanya untuk panggilan ke sesama pengguna “3”. Sebagai tambahan, “3” membuat struktur panggilan menjadi jauh lebih sederhana, dengan membuat hanya dua tipe panggilan, ke sesama pelanggan “3” atau bukan pelanggan “3” dan lokal atau SLJJ. “3” juga membuang perhitungan peak atau off peak dan zona SLJJ.
“Bagi kami yang terpenting saat ini adalah memberikan layanan terbaik bagi pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia. Kami ingin “3” dapat dikenal dan diterima, di samping bukti bahwa “3” merupakan pilihan yang layak untuk diambil,” tutur Rajiv. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di dunia telekomunikasi dan beroperasi hampir di seluruh benua, Hutchison tampaknya layak diperhitungkan oleh operator seluler yang sudah ada di Indonesia. Tapi yang terpenting dari itu semua adalah masyarakat dapat diuntungkan dengan banyaknya operator yang ada, sehingga nantinya tarif telekomunikasi di Indonesia akan jauh lebih murah. Murah dan berkualitas, tentunya. Semoga!

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003