|
CEO
CEO Hutchison CP
Telecom (HCPT) Indonesia Rajiv Sawhney:
3 Tawarkan Tarif dan Fitur Kompetitif
Oleh
Dikdik Hidayat
Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi keempat terbesar di
dunia, tetapi penetrasi selulernya ternyata paling rendah dalam
percaturan kawasan regional. Hasil penelitian yang dikeluarkan
Pyramid menyatakan bahwa penetrasi seluler di Indonesia hanya 27
persen saja.
Dengan Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) sebesar
US$ 1.283, Indonesia kalah jauh dari Filipina yang GDP-nya hanya US$
1.168. Adapun Filipina mampu melakukan penetrasi telekomunikasi
selulernya sampai 34 persen.
Belum lagi jika dibandingkan Thailand dengan GDP US$ 2.659, melaju
dengan penetrasi 54 persen. Yang paling top ternyata negara tetangga,
yang wilayah perbatasannya berada di Pulau Kalimantan, yakni
Malaysia.
Negara yang penduduknya jauh lebih sedikit jika dibandingkan
Indonesia ini ternyata mempunyai penetrasi seluler terbesar, 75
persen! Bayangkan kalau kita bisa seperti itu, tentunya wilayah
Indonesia tetap terintegrasi meskipun kita terpisahkan oleh beribu
pulau yang ada.
Di samping penetrasi selulernya yang jauh ketinggalan, Pyramid
mencatat Indonesia sebagai negara yang paling mahal tarif percakapan
teleponnya. Mereka mencatat tarif termurah berada di India yang
hanya membebankan Rp 200 untuk percakapan per menitnya. Jumlah
besaran tarif itu disusul Thailand dengan Rp 275, lalu Malaysia
mematok Rp 825, tidak jauh berbeda dengan Filipina yang berbeda Rp
25, yakni di posisi Rp 850. Terakhir, pemenang tarif termahal adalah
Indonesia, Rp 1.200 per menitnya! Ruarr biasa!
Ternyata tarif telekomunikasi di Indonesia yang dikatakan orang
tergolong yang paling mahal di Asiakalau tidak mau disebut paling
mahal di duniabukanlah isapan jempol belaka.
Kenyataan ini tentunya merupakan permasalahan yang harus
diantisipasi oleh operator telekomunikasi di Indonesia, baik GSM
(Global System for Mobilephone) maupun CDMA (Code Division Multiple
Access). Mereka berlomba-lomba membuat hal tersebut tak kentara.
Maka, bermunculanlah inovasi-inovasi yang ditawarkan tetapi intinya
satu: menawarkan tarif yang paling murah.
Kita bisa melihat dalam iklan pelaku usaha ini di berbagai media,
baik cetak maupun elektronik, semuanya menawarkan tarif paling murah.
Akan tetapi, jangan tergiur dengan tarif murah saja tanpa melihat
sisi lain keuntungan (benefit) yang kita dapatkan. Sebagai contoh,
buat apa murah kalau untuk menelepon atau mengirim layanan pesan
singkat (short message service/SMS) saja sulitnya bukan main? Buat
apa murah, kalau coverage area-nya sangat terbatas? Dan sekali lagi,
buat apa murah kalau fitur-fitur yang ditawarkan tidak inovatif?
3 (baca: tri-red) menawarkan solusi bagi permasalahan
telekomunikasi seluler di Indonesia dengan empat strategi, yakni
inovatif, fleksibel, simple, dan terjangkau, ungkap Rajiv Sawhney,
Chief Executive Officer (CEO) Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT).
Adapun 3 sendiri ditulis dalam format angka, yang tidak perlu
diterjemahkan lagi karena sudah relevan di setiap negara tempatnya
berada. Sebagai contoh, 3 diucapkan three di Inggris, Australia,
dan Irlandia, tre di Italia, drei di Austria, dan sekarang tri di
Indonesia.
Kalau dilihat dari sisi kepemilikan, HCPT merupakan perusahaan
kemitraan antara Hutchison Telecommunications International Ltd (HTIL)
dengan porsi kepemilikan saham sebesar 60 persen, dan Charoen
Pokphand (CP) Group memiliki 40 persen sisanya. HTIL merupakan
bagian dari Hutchison Whampoa Ltd (HWL), perusahaan multinasional
berbasis di Hong Kong dan salah satu pemain kunci pada industri
telekomunikasi global dengan lebih dari 36,5 juta pelanggan 2G dan
3G di seluruh dunia.
Charoen Pokphand (CP) adalah perusahaan multinasional berbasis di
Thailand yang menjalankan layanan telekomunikasi di Thailand dan
memiliki minat pada industri makanan ternak, peternakan, dan produk
aquaculture. CP memiliki pendapatan global US$ 11 miliar dan
mempekerjakan lebih dari 100.000 pegawai, dengan 30.000 di antaranya
berada di Indonesia dan sumbangan pendapatan mencapai lebih dari US$
1 miliar.
Dalam wawancaranya dengan SH baru-baru ini, CEO HCPT Indonesia,
pemegang brand 3 ini, melihat bahwa potensi market telekomunikasi
seluler Indonesia sangat besar. Akan tetapi penetrasinya terkendala
dengan tingginya tarif yang ditawarkan operator yang ada.
Dengan empat strateginya, inovatif, fleksibel, sederhana (simple),
dan terjangkau, 3 berupaya mengatasi permasalahan telekomunikasi
seluler di Indonesia yang terkenal dengan kemahalannya. Apalagi
ditambah dengan nature sebagian besar orang Indonesia yang
menginginkan segala sesuatunya berharga murah membuat 3 yakin
dengan strateginya dapat merebut hati konsumen Indonesia.
3 Inovatif Sesuatu yang baru dan berbeda untuk tarif, layanan
maupun fitur. Fleksibel Isi ulang fleksibel, mulai Rp 1.000 dan
kelipatan Rp 100. Sederhana Tarif hanya dibedakan dari menelepon
atau SMS ke sesama 3 atau operator lain, dan
menelepon lokal atau SLJJ (sambungan langsung jarak jauh). Harga
Terjangkau (Value 4 Money) Menawarkan tarif terjangkau dan nilai tak
tertandingi yang menguntungkan pelanggan. Dengan inovasi dari sisi
tarif, layanan, maupun fitur dan denominasi isi ulang yang termurah,
hanya Rp 1.000 dan kelipatan Rp 100, kami yakin masyarakat Indonesia
bisa menerima 3 sebagai alternatif baru bagi telekomunikasi
selulernya, tukas Rajiv. Dengan lisensi GSM untuk jaringan 2G di
1800 MHZ dan 3G melalui WCDMA-nya, 3 membutuhkan waktu dua tahun
untuk merencanakan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan
jaringannya di Indonesia.
Pada peluncurannya di Jakarta, 29 Maret 2007 yang lalu, 3
mengklaim sudah dapat melayani 75 persen populasi di Pulau Jawa,
bertepatan dengan tanggal tersebut. 3 juga berencana melakukan
peluncuran di Bali, Lombok, Sumatera, dan Batam dalam jangka waktu
dekat ini, yang disusul dengan peluncuran di Sumatera pada kuartal
berikutnya. Peluncuran di Kalimantan dan Sulawesi akan dilaksanakan
tahun 2008, cetus Rajiv.
3 juga menawarkan hal baru bagi pengguna seluler di Indonesia, di
antaranya adalah pengenaan tarif yang hanya dibebankan untuk
download content saja, tapi gratis untuk aksesnya. Dari sisi isi
ulang, 3 menawarkan bagi setiap pengisian ulang seharga Rp 30.000
atau lebih, 3 akan memberikan pulsa 3 kali lipatnya.
Pengguna dapat menggunakan pulsa ini untuk dua jenis panggilan: ke
sesama pengguna 3 (on-net) dan ke pengguna di luar 3 atau
antaroperator (off-net).
Pengguna dapat menggunakan maksimum 50 persen dari pulsa untuk
panggilan antaroperator dan sisanya untuk panggilan ke sesama
pengguna 3. Sebagai tambahan, 3 membuat struktur panggilan
menjadi jauh lebih sederhana, dengan membuat hanya dua tipe
panggilan, ke sesama pelanggan 3 atau bukan pelanggan 3 dan
lokal atau SLJJ. 3 juga membuang perhitungan peak atau off peak
dan zona SLJJ.
Bagi kami yang terpenting saat ini adalah memberikan layanan
terbaik bagi pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia. Kami ingin
3 dapat dikenal dan diterima, di samping bukti bahwa 3 merupakan
pilihan yang layak untuk diambil, tutur Rajiv. Dengan pengalaman
lebih dari 25 tahun di dunia telekomunikasi dan beroperasi hampir di
seluruh benua, Hutchison tampaknya layak diperhitungkan oleh
operator seluler yang sudah ada di Indonesia. Tapi yang terpenting
dari itu semua adalah masyarakat dapat diuntungkan dengan banyaknya
operator yang ada, sehingga nantinya tarif telekomunikasi di
Indonesia akan jauh lebih murah. Murah dan berkualitas, tentunya.
Semoga!
|
|