|
Profil
Amal Al Ghozali
Menantang Presiden dengan Visi
1:10:1
Oleh
Novan Dwi Putranto
JAKARTA - Sebuah tantangan dengan solusi untuk meningkatkan hasil
pertanian Indonesia siap dilayangkan Amal Al Ghozali kepada Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Amal yang akrab dengan dunia pertanian itu
mengaku memiliki resep jitu melipatgandakan hasil pertanian
Indonesia.
“Saya akan melayangkan surat tantangan kepada Presiden,” ujar
Direktur PT SMS Indoputra, produsen pupuk biologi Agrobost, itu
dalam wawancara khusus dengan SH, Selasa (8/5). Tantangan yang
dimaksud pengusaha pupuk biologi itu terkait dengan rencana
pemerintah yang akan menambahkan anggaran di bidang pertanian hingga
Rp 2 triliun untuk meningkatkan hasil pertanian, khususnya beras.
“Manajerial pertanian kita sangat lemah. Kita punya lahan, bibit
unggul, dan sumber daya yang banyak, tapi hasilnya?” katanya.
Lebih lanjut, pria kelahiran Madiun itu menjelaskan bahwa biaya
produksi beras di Indonesia masih sangat tinggi. “Produksi satu ton
beras masih mencapai US$ 400 sedangkan di Vietnam hanya setengahnya,”
lanjutnya. Ia menjelaskan jika petani masih mengandalkan pupuk kimia
yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, hasil yang diperoleh tidak
akan maksimal dan hanya menambah beban pemerintah dan tidak membawa
keuntungan bagi petani.
Amal yang merupakan pelopor produsen pupuk biologi itu,
mengungkapkan perusahaan yang dipimpinnya memiliki komitmen kuat
untuk memperbaiki hasil pertanian, baik kualitas maupun kuantitasnya.
“Saya punya visi 1:10:1 yang akan membuat Indonesia kembali menjadi
pengekspor beras,” katanya.
Visi yang dimaksud ayah dari empat anak itu adalah, 1 untuk biaya
produksi bagi setiap satu hektare tidak lebih dari Rp 1 juta. “Biaya
itu termasuk benih, obat-obatan, hingga pupuk,” ujarnya. Angka 10
merupakan target hasil panen yang diharapkan mencapai 10 ton tiap
hektarenya. “Angka 1 yang terakhir adalah target kami pada tahun
2009 untuk bisa mencakup satu juta hektare sawah,” jelasnya.
Sampai saat ini, yang menjadi kendala para petani di daerah adalah
penggunaan pupuk kimia yang memberatkan. Dalam satu hektare sawah,
petani harus merogoh kocek hingga Rp 480.000 untuk membeli pupuk
urea guna mencukupi lahan satu hektare. “Belum lagi biaya pupuk
kimia lainnya seperti Sp-36, KCl, dan SP-36,” jelas Amal. Hasil yang
diperoleh petani yang mengandalkan pupuk kimia juga hanya berkisar
antara 5 hingga 6,5 ton.
Riset Panjang
Bagi pria lulusan Ilmu Politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta
itu, pertanian seolah menjadi kecintaan tersendiri. Hal itu
dibuktikannya dengan serangkaian riset panjang sebelum akhirnya
pupuk biologi diproduksinya. “Riset kami dimulai tahun 1985 dan baru
diproduksi tahun 1998,” kenang Amal.
Bersama dengan Dr Lukman Gunarto, seorang pakar mikrobiologi yang
lama menjadi peneliti di Pusat Riset Beras Internasional di
Filipina, Amal mulai mencoba menggali potensi penggunaan
mikrobiologi untuk membantu menyuburkan tanah. Teknologi
mikrobiologi mampu memaksimalkan penggunaan pupuk dan menyuplai
makanan yang diperlukan tanah.
Penggunaan pupuk biologi terbukti mampu me-ningkatkan efektivitas
pupuk kimia. Hasilnya, petani mampu memangkas pengeluaran hingga
setengah dari yang biasa dikeluarkan untuk membeli pupuk kimia.
“Singkatnya, pengeluaran petani bisa lebih ditekan,” kata Amal.
Penghematan yang bisa dicapai petani bahkan mencapai Rp 500.000
lebih.
Hasilnya juga bukan isapan jempol semata. Para pengguna pupuk
biologi merasakan peningkatan hasil panen bisa mencapai 40 persen.
Hal itu dikarenakan mikroba yang terkandung dalam pupuk biologi
mampu menguraikan pestisida hingga bulir padi yang dihasilkan
memiliki kadar residu yang rendah.
Selain itu, pupuk biologi juga memiliki kemampuan mengikat nitrogen
dari udara bebas maupun yang berasal dari pupuk kima hingga
penggunaan pupuk kimia bisa menjadi lebih efisien.
Sampai saat ini, Amal mengaku masih sering turun ke sawah untuk
memberikan pengarahan pada petani binaannya. Pria kelahiran 14 Juli
1966 itu juga sedang merangkul berbagai lembaga koperasi desa dan
lembaga kemasyarakatan lainnya untuk turut memberikan bantuan guna
memperbaiki kehidupan para petani.
Selain itu, Amal juga akan melibatkan beberapa lembaga sosial
kemasyarakatan desa untuk dapat memberikan bantuan modal awal bagi
para petani. “Mereka akan kami bimbing untuk memperoleh hasil
maksimal hingga akhirnya mereka mampu mandiri,” katanya. n
|
|