Jumat, 11 Mei  2007

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5597

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

  Profil  

Amal Al Ghozali
Menantang Presiden dengan Visi 1:10:1



Oleh
Novan Dwi Putranto

JAKARTA - Sebuah tantangan dengan solusi untuk meningkatkan hasil pertanian Indonesia siap dilayangkan Amal Al Ghozali kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Amal yang akrab dengan dunia pertanian itu mengaku memiliki resep jitu melipatgandakan hasil pertanian Indonesia.

“Saya akan melayangkan surat tantangan kepada Presiden,” ujar Direktur PT SMS Indoputra, produsen pupuk biologi Agrobost, itu dalam wawancara khusus dengan SH, Selasa (8/5). Tantangan yang dimaksud pengusaha pupuk biologi itu terkait dengan rencana pemerintah yang akan menambahkan anggaran di bidang pertanian hingga Rp 2 triliun untuk meningkatkan hasil pertanian, khususnya beras.
“Manajerial pertanian kita sangat lemah. Kita punya lahan, bibit unggul, dan sumber daya yang banyak, tapi hasilnya?” katanya.
Lebih lanjut, pria kelahiran Madiun itu menjelaskan bahwa biaya produksi beras di Indonesia masih sangat tinggi. “Produksi satu ton beras masih mencapai US$ 400 sedangkan di Vietnam hanya setengahnya,” lanjutnya. Ia menjelaskan jika petani masih mengandalkan pupuk kimia yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, hasil yang diperoleh tidak akan maksimal dan hanya menambah beban pemerintah dan tidak membawa keuntungan bagi petani.
Amal yang merupakan pelopor produsen pupuk biologi itu, mengungkapkan perusahaan yang dipimpinnya memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki hasil pertanian, baik kualitas maupun kuantitasnya. “Saya punya visi 1:10:1 yang akan membuat Indonesia kembali menjadi pengekspor beras,” katanya.
Visi yang dimaksud ayah dari empat anak itu adalah, 1 untuk biaya produksi bagi setiap satu hektare tidak lebih dari Rp 1 juta. “Biaya itu termasuk benih, obat-obatan, hingga pupuk,” ujarnya. Angka 10 merupakan target hasil panen yang diharapkan mencapai 10 ton tiap hektarenya. “Angka 1 yang terakhir adalah target kami pada tahun 2009 untuk bisa mencakup satu juta hektare sawah,” jelasnya.
Sampai saat ini, yang menjadi kendala para petani di daerah adalah penggunaan pupuk kimia yang memberatkan. Dalam satu hektare sawah, petani harus merogoh kocek hingga Rp 480.000 untuk membeli pupuk urea guna mencukupi lahan satu hektare. “Belum lagi biaya pupuk kimia lainnya seperti Sp-36, KCl, dan SP-36,” jelas Amal. Hasil yang diperoleh petani yang mengandalkan pupuk kimia juga hanya berkisar antara 5 hingga 6,5 ton.

Riset Panjang
Bagi pria lulusan Ilmu Politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta itu, pertanian seolah menjadi kecintaan tersendiri. Hal itu dibuktikannya dengan serangkaian riset panjang sebelum akhirnya pupuk biologi diproduksinya. “Riset kami dimulai tahun 1985 dan baru diproduksi tahun 1998,” kenang Amal.
Bersama dengan Dr Lukman Gunarto, seorang pakar mikrobiologi yang lama menjadi peneliti di Pusat Riset Beras Internasional di Filipina, Amal mulai mencoba menggali potensi penggunaan mikrobiologi untuk membantu menyuburkan tanah. Teknologi mikrobiologi mampu memaksimalkan penggunaan pupuk dan menyuplai makanan yang diperlukan tanah.
Penggunaan pupuk biologi terbukti mampu me-ningkatkan efektivitas pupuk kimia. Hasilnya, petani mampu memangkas pengeluaran hingga setengah dari yang biasa dikeluarkan untuk membeli pupuk kimia. “Singkatnya, pengeluaran petani bisa lebih ditekan,” kata Amal. Penghematan yang bisa dicapai petani bahkan mencapai Rp 500.000 lebih.
Hasilnya juga bukan isapan jempol semata. Para pengguna pupuk biologi merasakan peningkatan hasil panen bisa mencapai 40 persen. Hal itu dikarenakan mikroba yang terkandung dalam pupuk biologi mampu menguraikan pestisida hingga bulir padi yang dihasilkan memiliki kadar residu yang rendah.
Selain itu, pupuk biologi juga memiliki kemampuan mengikat nitrogen dari udara bebas maupun yang berasal dari pupuk kima hingga penggunaan pupuk kimia bisa menjadi lebih efisien.
Sampai saat ini, Amal mengaku masih sering turun ke sawah untuk memberikan pengarahan pada petani binaannya. Pria kelahiran 14 Juli 1966 itu juga sedang merangkul berbagai lembaga koperasi desa dan lembaga kemasyarakatan lainnya untuk turut memberikan bantuan guna memperbaiki kehidupan para petani.
Selain itu, Amal juga akan melibatkan beberapa lembaga sosial kemasyarakatan desa untuk dapat memberikan bantuan modal awal bagi para petani. “Mereka akan kami bimbing untuk memperoleh hasil maksimal hingga akhirnya mereka mampu mandiri,” katanya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003