Rabu, 09 Mei  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5595

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Menneg BUMN Sofyan Djalil:
Saya Lebih Paham BUMN




Jakarta–Tepat pukul 15.00 WIB, Senin (7/5) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi mengumumkan perombakan kabinet atau reshuffle terbatas. Menteri Negara Komunikasi dan Informatika (Menneg Kominfo) Sofyan Djalil merupakan salah satu menteri yang masih dipercaya bergabung di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) untuk masa 2,5 tahun ke depan.
Namun, dia tak lagi menjabat sebagai Menneg Kominfo. Kali ini, Presiden mempercayainya untuk mengemban tugas sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN). Ini sebuah kementerian yang membawahi 154 BUMN.
Tugas ini pun disambut dengan senang hati oleh Sofyan. Buatnya, tugas di kementerian baru ini justru jauh lebih mudah ketimbang pertama kali menjabat sebagai Menneg Kominfo. Maklum, sebelum menjabat sebagai Menkominfo, mantan tim sukses Yudhoyono–Jusuf Kalla tersebut sudah akrab dengan BUMN. Dia bahkan sempat menjadi asisten Tanri Abeng, Menteri BUMN masa pemerintahan Soeharto.
“Ada orang yang kirim SMS ke saya. Isinya begini: saya tahu bahwa orang di muka bumi ini tidak bekerja sendiri. Kalau itikadnya baik, niatnya baik maka Tuhan akan membantu. Sekarang, pekerjaan berat atau ringan itu sama saja. Itu kata SMS orang kepada saya baru-baru ini,” katanya ketika ditemui SH di ruang kerjanya, di Jalan Medan Merdeka Barat yang menghadap ke Tugu Monumen Nasional (Monas), Selasa (8/5). Saat itu, dia sedang berbenah dan bersiap-siap menghadap Presiden di Istana Negara.
Meski waktu wawancara terbatas, Sofyan sangat akrab dan lancar menjelaskan langkah yang akan ditempuh. Dia yakin tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan masa tugas pertama di BUMN. Ia bahkan memprediksi penyesuaian di kementerian baru itu lebih mudah dibandingkan dengan pertama kali dirinya menjabat sebagai Menneg Kominfo.
Saat pertama kali memegang posisi tersebut, Sofyan mengaku buta dan gagap dengan dunia telekomunikasi. Namun, berkat staf khusus maupun staf struktural yang baik, Sofyan segera dapat menyesuaikan diri. Hasilnya, sebanyak 50 peraturan menteri dikeluarkannya sebagai dasar aturan yang jelas untuk perlindungan konsumen.
Selain itu, di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil bekerja sama dengan Swedia dalam soal manajemen frekuensi. Kerja sama ini telah memberikan keuntungan bagi negara sebesar Rp 16 triliun dalam waktu 10 tahun, sejak tahun lalu.
Artinya, keuntungan negara setiap tahunnya adalah Rp 1,6 triliun. Untuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), departemen yang dipimpinnya juga memberikan peningkatan dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 4,7 triliun.
“Yang penting adalah bagaimana mempekerjakan staf yang baik, mendengar orang, meminta nasihat siapapun. Pembelajaran di sini sangat cepat. Hari pertama datang ke sini saya gagap, tapi kemudian saya memilih staf bagus. Saya sangat diuntungkan dengan staf yang bagus,” kata suami Ratna Megawangi ini.
Hanya saja, ia sempat menyayangkan “perseteruannya” dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). “Perseteruan” ini bermula ketika Sofyan mengeluarkan tujuh Peraturan Pemerintah (PP) tentang penyiaran. Muatan PP itu dianggap telah mengambil posisi KPI.
Akibat perseteruan ini, ribuan industri radio tidak bisa diberikan izin siaran. “Saya sangat sesalkan sekali ini terjadi,” kata ayah tiga anak tersebut.

Diterapkan di BUMN
Model manajemen ini pula yang ke depan akan diterapkan di Kementerian BUMN. Menurut pria kelahiran Peureulak, Aceh Timur, 23 September 1953 itu, dalam mengelola BUMN diperlukan good coorporate governance. Konsep ini diperlukan supaya praktik korupsi, kolusi, maupun nepotisme yang terjadi di BUMN dapat dikontrol.
Di samping itu, ke depan, Sofyan juga berusaha untuk mengurangi birokrasi dan lebih mendorong kerja BUMN. Untuk masalah ini, ia mengambil contoh pengelolaan BUMN di Singapura dan Malaysia.
Di Singapura, permasalahan BUMN hanya ditangani oleh seorang deputi. Unit kecil itu memiliki tugas untuk melakukan supervisi dan mengelola portofolio.
Begitu juga yang terjadi di Malaysia. BUMN di negeri jiran ini pun tidak berada di bawah menteri. “Tetapi di sana semuanya berjalan dengan baik. Ini kenapa? Karena di sana good coorporate governance-nya sudah bagus. Ini adalah konsep yang harus kita terapkan,” katanya.
Dia yakin apabila BUMN tersebut dikelola dengan baik, ini dapat menjadi penggerak sektor riil. BUMN memiliki aset yang sangat besar dan di berbagai bidang. Jika BUMN-BUMN tersebut berada di jalur yang tepat, akan baik untuk menumbuhkan perekonomian. “Cuma sekarang kurang didorong cukup baik. Sekarang ini akan kita dorong,” ujarnya.
Untuk memaksimalkan kinerja BUMN tersebut, Sofyan mengaku tidak “mengharamkan” privatisasi aset BUMN. Namun, privatisasi tersebut akan dilakukan melalui pasar modal, sehingga masyarakat dapat langsung ikut serta. Sementara itu, untuk BUMN yang berskala kecil dan tidak sehat, kemungkinan besar akan dijual langsung.
Dia tidak sependapat dengan pandangan beberapa pihak yang menganggap bahwa privatisasi hanya akan merugikan negara. Dengan privatisasi, negara akan kehilangan banyak kepemilikannya.
Dalam pandangannya, jumlah BUMN di Indonesia tidak perlu terlalu banyak. Indonesia hanya perlu memiliki beberapa BUMN, tetapi memiliki kapasitas yang besar dan memberikan banyak keuntungan.
“Saya pernah jadi asisten BUMN. Pernah di PLN, Kimia Farma, Pelindo, dan Pupuk Iskandar Muda. Jadi saya tahu behaviour BUMN. Saya juga punya perusahaan konsultan good coorporate governance. Jadi dari pemahaman masalah, saya lebih mengerti, tinggal kita mengoptimalkan,” katanya mengakhiri perbincangan.
Ia pun mengangkat kopernya, melangkah terburu-buru. Dengan menggunakan mobil dinasnya, Sofyan melaju menuju Istana Negara untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Yudhoyono. Semoga masalahnya benar-benar lebih mudah, Pak! (tutut herlina/suradi)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003