|
Waspadai Sariawan
Berkelanjutan
JAKARTA-Kendati cukup mengganggu, sariawan seringkali disepelekan
oleh penderitanya dan masyarakat pada umumnya.
Rasa perih dan nyeri pada gusi akibat sariawan hanya diobati sendiri
dengan sekadar mengonsumsi vitamin C, obat bebas yang dijual di
pasaran, atau larutan penyegar yang oleh produsennya diklaim mampu
menghilangkan sariawan. Menurut Dr drg Tri Erri Astoeti, MKes,
sariawan padahal bisa jadi merupakan penanda awal dari suatu
keganasan, seperti kanker di rongga mulut (oral cancer).
“Sariawan di tempat yang sama selama dua minggu hingga satu bulan
harus dicurigai. Segera diperiksakan ke dokter, karena bisa jadi itu
kanker,” katanya. Ia menjelaskan, menurut data patologi anatomi
terkini, kanker rongga mulut atau squamosa carsinoma merupakan jenis
kanker kesembilan yang paling sering diderita penduduk Indonesia.
Jenis kanker tersebut, menurut drg.Rahmi Amta, MDS, bisa menyebar
dengan cepat ke organ dan jaringan tubuh yang lain seperti kelenjar
getah bening, paru-paru, rongga dada, dan otak.
“Rongga mulut merupakan port of entry atau pintu masuk dari banyak
aktivitas. Di sana banyak pembuluh darah dan lapisan epitelnya lebih
tipis. Itu membuat sel-sel kanker lebih sering terpapar dan akhirnya
menyebar ke bagian yang lain,” ujarnya.
Bila sudah demikian, ia melanjutkan, hal yang bisa dilakukan untuk
mengatasinya adalah dengan melakukan pembedahan dan memberikan
terapi baik berupa kemoterapi maupun radioterapi. Pembedahan dan
terapi itu pun, kata dia, tidak bisa memberikan jaminan kesembuhan
bagi penderita kanker di rongga mulut.
“Hampir 90 persen penderita oral cancer meninggal dunia setelah satu
tahun,” ujar Rahmi.
Cegah Lebih Baik
Sebagaimana jenis kanker yang lain, kanker di rongga mulut juga
sulit diobati dan disembuhkan. “Karena itu lebih baik kita mencegah
supaya itu tidak terjadi, yakni dengan menjaga kesehatan gigi dan
rongga mulut kita,” kata Erri.
Lagi pula, ia menjelaskan pemeliharaan kesehatan gigi pada dasarnya
tidak sulit dilakukan. “Kita hanya perlu menggosok gigi secara benar
dengan menggunakan pasta gigi dan akan lebih baik kalau yang
berfluoride,” ujarnya.
Gigi, lidah, dan rongga mulut, katanya, harus selalu dibersihkan
dari sisa-sisa makanan supaya sisa-sisa makanan tidak menjadi asam
dan merusak gigi serta gusi. “Biasakan menggosok gigi setiap kali
habis makan dan sebelum tidur,” katanya.
Erri juga menyarankan agar setiap individu secara teratur
memeriksakan kondisi kesehatan giginya ke dokter gigi. “Bisa enam
bulan sekali,” katanya.
Selain itu, Rahmi juga mengingatkan agar setiap individu menghindari
perilaku yang berisiko memicu kanker di rongga mulut seperti merokok
dan memasukkan obat-obatan ke dalam gigi yang berlubang. (ant)
|
|