I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No. 5585

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Waspadai Sariawan Berkelanjutan



JAKARTA-Kendati cukup mengganggu, sariawan seringkali disepelekan oleh penderitanya dan masyarakat pada umumnya.
Rasa perih dan nyeri pada gusi akibat sariawan hanya diobati sendiri dengan sekadar mengonsumsi vitamin C, obat bebas yang dijual di pasaran, atau larutan penyegar yang oleh produsennya diklaim mampu menghilangkan sariawan. Menurut Dr drg Tri Erri Astoeti, MKes, sariawan padahal bisa jadi merupakan penanda awal dari suatu keganasan, seperti kanker di rongga mulut (oral cancer).
“Sariawan di tempat yang sama selama dua minggu hingga satu bulan harus dicurigai. Segera diperiksakan ke dokter, karena bisa jadi itu kanker,” katanya. Ia menjelaskan, menurut data patologi anatomi terkini, kanker rongga mulut atau squamosa carsinoma merupakan jenis kanker kesembilan yang paling sering diderita penduduk Indonesia.
Jenis kanker tersebut, menurut drg.Rahmi Amta, MDS, bisa menyebar dengan cepat ke organ dan jaringan tubuh yang lain seperti kelenjar getah bening, paru-paru, rongga dada, dan otak.
“Rongga mulut merupakan port of entry atau pintu masuk dari banyak aktivitas. Di sana banyak pembuluh darah dan lapisan epitelnya lebih tipis. Itu membuat sel-sel kanker lebih sering terpapar dan akhirnya menyebar ke bagian yang lain,” ujarnya.
Bila sudah demikian, ia melanjutkan, hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan pembedahan dan memberikan terapi baik berupa kemoterapi maupun radioterapi. Pembedahan dan terapi itu pun, kata dia, tidak bisa memberikan jaminan kesembuhan bagi penderita kanker di rongga mulut.
“Hampir 90 persen penderita oral cancer meninggal dunia setelah satu tahun,” ujar Rahmi.

Cegah Lebih Baik
Sebagaimana jenis kanker yang lain, kanker di rongga mulut juga sulit diobati dan disembuhkan. “Karena itu lebih baik kita mencegah supaya itu tidak terjadi, yakni dengan menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut kita,” kata Erri.
Lagi pula, ia menjelaskan pemeliharaan kesehatan gigi pada dasarnya tidak sulit dilakukan. “Kita hanya perlu menggosok gigi secara benar dengan menggunakan pasta gigi dan akan lebih baik kalau yang berfluoride,” ujarnya.
Gigi, lidah, dan rongga mulut, katanya, harus selalu dibersihkan dari sisa-sisa makanan supaya sisa-sisa makanan tidak menjadi asam dan merusak gigi serta gusi. “Biasakan menggosok gigi setiap kali habis makan dan sebelum tidur,” katanya.
Erri juga menyarankan agar setiap individu secara teratur memeriksakan kondisi kesehatan giginya ke dokter gigi. “Bisa enam bulan sekali,” katanya.
Selain itu, Rahmi juga mengingatkan agar setiap individu menghindari perilaku yang berisiko memicu kanker di rongga mulut seperti merokok dan memasukkan obat-obatan ke dalam gigi yang berlubang. (ant)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003