|
Hari Raya Nyepi
Berdoa agar Alam Tak Murka Lagi
Oleh
Syafnijal Datuk Sinaro/Chusnun Hadi
SIDOARJO–Ratusan Umat Hindu di Sidoarjo, Jawa Timur, menjalani Hari
Raya Nyepi dengan penuh keprihatinan karena banyaknya bencana yang
terjadi di Tanah Air. Mereka menjalani Catur Brata Penyepian sejak
terbitnya matahari, Senin (19/3) pagi hingga matahari terbit kembali
Selasa (20/3) pagi tadi.
Terselip permohonan khusus agar alam tidak murka, sehingga bencana
khususnya semburan lumpur panas di Porong, bisa segera berhenti.
“Semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc merupakan salah satu
bentuk kemurkaan alam, karena manusia kurang menjaga keseimbangan
hubungan dengan alam,” kata I Ketut Suardhaka, Ketua I Parisadha
Hindu Dharma Kabupaten Sidoarjo, saat ditemui SH di Pura Jala Siddhi
Amertha, Juanda, Sidoarjo, usai upacara Mecaru (penyucian) di hari
pengrukukan (hari penutup dalam tahun baru Saka 1928) untuk
menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929.
Upacara Mecaru dipimpin oleh Pinandhita Jero Mangku Nyoman Arya.
Dalam doanya melalui kidung-kidung suci, Pinandhita menyerukan
kembali agar manusia selalu menjaga keseimbangan hubungan dengan
Sang Pencipta, alam semesta dan dengan sesama manusia yang terangkum
dalam Tri Hita Karana atau mensucikan kembali tiga kerangka hubungan
menuju kemakmuran dan kedamaian.
Menurut Ketut, dalam menjalankan catur brata penyepian, umat Hindu
melakukan empat tindakan, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api),
Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan
Amati Lelanguan (tidak boleh mengumbar hawa nafsu).
“Saat itulah umat Hindu melakukan introspeksi diri, bersemedi dan
berdoa agar alam tidak murka, sekaligus mengendalikan Sad Ripu atau
enam api dalam diri manusia, yakni kama (nafsu), kroda (marah), loba
(serakah), mada (mabuk dunia), moha (sombong) dan matsarya (dengki),”
tambahnya.
Setelah berdoa, mereka menyembelih lima ekor ayam sebagai kurban,
yang sebelumnya diletakkan pada lima arah mata angin, yakni timur,
barat, utara, dan selatan. Satu lagi ada di tengah-tengah atau
pancer (sentral). “Kami berharap seluruh penjuru mata angin bisa
harmonis, sehingga tidak lagi mengganggu manusia di bumi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut juga diarak ogoh-ogoh keliling Pura.
Ogoh-ogoh adalah perwujudan dari kekuatan negatif atau Buthakala,
yang disimbolkan dalam bentuk raksasa dengan wajah yang menakutkan
dan menyeramkan. Arak-arakan Ogoh-ogoh ini juga diiringi
bunyi-bunyian dari bambu, kaleng, dan gamelan, dengan tujuan untuk
menyerap Buthakala yang kerapkali menganggu manusia.
Penuh Toleransi
Suasana Nyepi juga terasa di sejumlah kompleks perumahan yang dihuni
warga asal Bali di Lampung. Di Perumahan Bataranila, Hajimena,
Lampung Selatan, misalnya, meskipun jumlah rumah warga Bali bisa
dihitung dengan jari, tapi para tetangga terlihat begitu toleran
terhadap kegiatan Nyepi.
Eva, warga yang tinggal di Jl. Sakura dan bertetangga dengan warga
beragama Hindu Bali mengaku tidak membunyikan musik keras-keras agar
tidak mengganggu kekhusukan tetangganya dalam beribadah. “Mereka
baik-baik, jika Lebaran datang ke rumah, kami juga menghargai agama
mereka. Untuk itu, anak-anak saya minta untuk tidak menyetel musik
keras-keras,” ungkap Eva.
Sebagai bentuk toleransi lainnya, warga juga membantu Wayan
mengoperasikan mesin pompa air milik PDAM Way Tirta Jasa yang
merupakan sumber air di Perumahan Bataranila sepanjang Senin kemarin.
Wayan merupakan petugas yang sehari-hari mengoperasikan mesin pompa
air tersebut.
Kepada SH, sehari sebelum Nyepi, Wayan mengaku tidak ingin warga
terganggu oleh kegiatannya merayakan Nyepi. Karena itu, ia berencana
minta tolong pada tetangganya mengoperasikan mesin air PDAM tersebut.
“Tapi sebelum saya minta tolong, sudah ada teman yang datang untuk
menawarkan bantuan,” jelasnya. Hingga Senin malam, rumah-rumah warga
asal Bali kelihatan gelap gulita. Hanya gonggongan anjing yang
sekali-sekali memecah suasana.
Tanpa Ogoh-Ogoh
Berbeda dengan di Bali, di Kendari, umat Hindu asal Bali yang
tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara, menyambut Hari Raya Nyepi
tanpa patung ogoh-ogoh. Masalahnya, menurut Ketua Perhimpunan Hindu
Dharma Indonesia (PHDI) Sultra, I Ketut Puspa Adyana, komunitas
orang Bali khususnya penganut Hindu di Sultra tidak terkosentrasi di
perkampungan tertentu, melainkan tersebar di beberapa kawasan
permukiman. Kondisi itu membuat umat Hindu kesulitan mengarak
ogoh-ogoh keliling kampung.
Meski demikian, bukan berarti umat Hindu di Kendari tak bisa
memusnahkan roh jahat atau pengaruh jahat di dalam diri manusia
maupun lingkungan tempat tinggalnya. ”Patung ogoh-ogoh itu hanya
simbol. Seorang penganut paham Hindu dapat melenyapkan segala
pengaruh jahat baik di dalan diri maupun lingkungan melalui, hati
dan pikiran yang jernih,” katanya.
Sementara itu di Bali, pada Selasa ini kembali bergeliat setelah
sehari penuh ”beristirahat” karena Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka
1929. Pusat pertokoan di sepanjang Kota Denpasar sudah kembali buka
seperti biasa, kendaraan juga mulai berlalu-lalang di jalan. Namun
para pegawai pemerintah maupun swasta masih libur.
Sehari setelah Hari Raya Nyepi umumnya warga saling berkunjung satu
dengan lainnya. ”Besok Rabu sudah mulai masuk kerja lagi,” kata
Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali AA Bagus Netra.
(agus sana’a/cinta malem ginting)
|
|