Selasa, 20 Maret  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5554

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Hari Raya Nyepi
Berdoa agar Alam Tak Murka Lagi





Oleh
Syafnijal Datuk Sinaro/Chusnun Hadi

SIDOARJO–Ratusan Umat Hindu di Sidoarjo, Jawa Timur, menjalani Hari Raya Nyepi dengan penuh keprihatinan karena banyaknya bencana yang terjadi di Tanah Air. Mereka menjalani Catur Brata Penyepian sejak terbitnya matahari, Senin (19/3) pagi hingga matahari terbit kembali Selasa (20/3) pagi tadi.
Terselip permohonan khusus agar alam tidak murka, sehingga bencana khususnya semburan lumpur panas di Porong, bisa segera berhenti.
“Semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc merupakan salah satu bentuk kemurkaan alam, karena manusia kurang menjaga keseimbangan hubungan dengan alam,” kata I Ketut Suardhaka, Ketua I Parisadha Hindu Dharma Kabupaten Sidoarjo, saat ditemui SH di Pura Jala Siddhi Amertha, Juanda, Sidoarjo, usai upacara Mecaru (penyucian) di hari pengrukukan (hari penutup dalam tahun baru Saka 1928) untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929.

Upacara Mecaru dipimpin oleh Pinandhita Jero Mangku Nyoman Arya. Dalam doanya melalui kidung-kidung suci, Pinandhita menyerukan kembali agar manusia selalu menjaga keseimbangan hubungan dengan Sang Pencipta, alam semesta dan dengan sesama manusia yang terangkum dalam Tri Hita Karana atau mensucikan kembali tiga kerangka hubungan menuju kemakmuran dan kedamaian.
Menurut Ketut, dalam menjalankan catur brata penyepian, umat Hindu melakukan empat tindakan, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak boleh mengumbar hawa nafsu).
“Saat itulah umat Hindu melakukan introspeksi diri, bersemedi dan berdoa agar alam tidak murka, sekaligus mengendalikan Sad Ripu atau enam api dalam diri manusia, yakni kama (nafsu), kroda (marah), loba (serakah), mada (mabuk dunia), moha (sombong) dan matsarya (dengki),” tambahnya.
Setelah berdoa, mereka menyembelih lima ekor ayam sebagai kurban, yang sebelumnya diletakkan pada lima arah mata angin, yakni timur, barat, utara, dan selatan. Satu lagi ada di tengah-tengah atau pancer (sentral). “Kami berharap seluruh penjuru mata angin bisa harmonis, sehingga tidak lagi mengganggu manusia di bumi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut juga diarak ogoh-ogoh keliling Pura. Ogoh-ogoh adalah perwujudan dari kekuatan negatif atau Buthakala, yang disimbolkan dalam bentuk raksasa dengan wajah yang menakutkan dan menyeramkan. Arak-arakan Ogoh-ogoh ini juga diiringi bunyi-bunyian dari bambu, kaleng, dan gamelan, dengan tujuan untuk menyerap Buthakala yang kerapkali menganggu manusia.

Penuh Toleransi
Suasana Nyepi juga terasa di sejumlah kompleks perumahan yang dihuni warga asal Bali di Lampung. Di Perumahan Bataranila, Hajimena, Lampung Selatan, misalnya, meskipun jumlah rumah warga Bali bisa dihitung dengan jari, tapi para tetangga terlihat begitu toleran terhadap kegiatan Nyepi.
Eva, warga yang tinggal di Jl. Sakura dan bertetangga dengan warga beragama Hindu Bali mengaku tidak membunyikan musik keras-keras agar tidak mengganggu kekhusukan tetangganya dalam beribadah. “Mereka baik-baik, jika Lebaran datang ke rumah, kami juga menghargai agama mereka. Untuk itu, anak-anak saya minta untuk tidak menyetel musik keras-keras,” ungkap Eva.
Sebagai bentuk toleransi lainnya, warga juga membantu Wayan mengoperasikan mesin pompa air milik PDAM Way Tirta Jasa yang merupakan sumber air di Perumahan Bataranila sepanjang Senin kemarin. Wayan merupakan petugas yang sehari-hari mengoperasikan mesin pompa air tersebut.
Kepada SH, sehari sebelum Nyepi, Wayan mengaku tidak ingin warga terganggu oleh kegiatannya merayakan Nyepi. Karena itu, ia berencana minta tolong pada tetangganya mengoperasikan mesin air PDAM tersebut.
“Tapi sebelum saya minta tolong, sudah ada teman yang datang untuk menawarkan bantuan,” jelasnya. Hingga Senin malam, rumah-rumah warga asal Bali kelihatan gelap gulita. Hanya gonggongan anjing yang sekali-sekali memecah suasana.

Tanpa Ogoh-Ogoh
Berbeda dengan di Bali, di Kendari, umat Hindu asal Bali yang tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara, menyambut Hari Raya Nyepi tanpa patung ogoh-ogoh. Masalahnya, menurut Ketua Perhimpunan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sultra, I Ketut Puspa Adyana, komunitas orang Bali khususnya penganut Hindu di Sultra tidak terkosentrasi di perkampungan tertentu, melainkan tersebar di beberapa kawasan permukiman. Kondisi itu membuat umat Hindu kesulitan mengarak ogoh-ogoh keliling kampung.
Meski demikian, bukan berarti umat Hindu di Kendari tak bisa memusnahkan roh jahat atau pengaruh jahat di dalam diri manusia maupun lingkungan tempat tinggalnya. ”Patung ogoh-ogoh itu hanya simbol. Seorang penganut paham Hindu dapat melenyapkan segala pengaruh jahat baik di dalan diri maupun lingkungan melalui, hati dan pikiran yang jernih,” katanya.
Sementara itu di Bali, pada Selasa ini kembali bergeliat setelah sehari penuh ”beristirahat” karena Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1929. Pusat pertokoan di sepanjang Kota Denpasar sudah kembali buka seperti biasa, kendaraan juga mulai berlalu-lalang di jalan. Namun para pegawai pemerintah maupun swasta masih libur.
Sehari setelah Hari Raya Nyepi umumnya warga saling berkunjung satu dengan lainnya. ”Besok Rabu sudah mulai masuk kerja lagi,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali AA Bagus Netra.
(agus sana’a/cinta malem ginting)





 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003