|
Legenda Malin
Kundang ”Mati Suri”
Oleh
Parluhutan Gultom
PADANG - Gempa tektonik berkekuatan 6,2 pada skala Richter yang
mengguncang Sumatera Barat (Sumbar) pada Selasa (6/3) lalu tak
sekadar merenggut korban jiwa dan merusak fasilitas bangunan yang
ada. Karena selain merenggut harta dan jiwa, gempa tersebut juga
telah merusak mata pencarian warga di sejumlah daerah Sumatera Barat.
Salah satu kawasan yang rusak secara perekonomian itu adalah kawasan
wisata Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang,
Sumbar. Pascagempa, suasana pantai wisata ini mendadak lengang,
apalagi isu tsunami yang gencar merebak ke permukaan menyebabkan
orang semakin enggan menyambangi tempat ini.
Dalam beberapa hari pascagempa, tak lebih dari 20 pengunjung yang
masih “sudi” mampir ke pantai itu. Turis lokal maupun mancanegara
yang biasanya rutin mengunjungi kawasan ini sudah tak tampak lagi.
Tak ada lagi kegiatan berselancar di pantai. Semuanya mendadak
terhenti setelah bencana alam itu melanda Pantai Air Manis.
Kondisi itulah yang kemudian membuat para pedagang di sekitar pantai
menjadi resah akan nasib dan masa depan mereka.
Selama ini mereka cenderung menggantungkan hidup di pantai ini.
”Beginilah kondisinya sejak beberapa hari terakhir. Mungkin karena
sebelumnya sempat merebak isu tsunami, jadi orang-orang takut datang
ke sini,” kata Ana,
seorang pedagang kelapa muda di sekitar Pantai Air Manis ketika
ditemui SH, Jumat (9/3) siang.
Ana menjelaskan, sebelum terjadinya musibah gempa, ia bersama
teman-temannya dapat mengais rezeki cukup lumayan dari para
pengunjung pantai. Karena lebih dari seratus pengunjung datang ke
pantai itu setiap harinya. Namun sekarang kondisinya jauh berubah.
Jangankan seratus pengunjung per hari, ada pengunjung sampai 20
orang saja sudah sangat baik, sebab rata-rata jumlah pengunjung
kawasan wisata air yang datang tak lebih dari angka itu.
Ana bahkan mengaku kini jumlah jumlah pedagang yang ada bisa lebih
besar dari jumlah pengunjung. Jadi bisa dibayangkan, berapa besar
keuntungan yang bisa direguk para pedagang di sana. “Kalau sehari
bisa dapat Rp 20.000 saja sudah sangat bagus,” lanjut Ana dengan
dialek Padang yang cukup kental.
Tidak Terawat
Selain bencana gempa, merosotnya minat pengunjung untuk datang ke
Pantai Air Manis kemungkinan juga akibat tidak terawatnya lokasi
wisata itu. Patung Malin Kundang yang menjadi legenda pantai
tersebut kini sudah dalam kondisi rusak.
Pada sisi lain, perubahan yang dilakukan Pemerintah Kota Padang
terhadap patung Malin Kundang maupun perahunya seperti sebuah
“blunder” pariwisata. Karena perbaikan pada bagian kepala patung
Malin Kundang dan perubahan bebatuan agar menyerupai perahu justru
terkesan dipaksakan. Dan akhirnya membuat suasana menjadi tak
seperti aslinya lagi.
”Bagian kepala patung ini sudah hancur sejak lima tahun lalu sebelum
akhirnya diperbaiki. Namun sayang, pemugaran bebatuan yang dilakukan
pemerintah daerah setempat di sekitar patung terkesan sangat
dipaksakan agar bisa menyerupai perahu. Tapi hal itu justru membuat
nilai alaminya hilang,” jelas Zulkifli, guru salah satu SMU di Kota
Padang saat berkunjung di pantai tersebut.
Ia mengatakan mungkin hal itulah yang membuat sejumlah pengunjung
jadi kecewa dan tak berminat lagi untuk singgah untuk kedua kalinya.
“Jadi tak heran kalau jumlah pengunjung makin turun,” tutur Zulkifli.
Kondisi terparah justru terjadi pada rumah Malin Kundang di Muara
Padang, Kota Padang atau tepatnya sekitar 5 kilometer dari Pantai
Air Manis. Akibat tak terawat, sejak beberapa tahun lalu rumah
tersebut hancur tak berbekas dimakan usia.
Tak heran kalau sejumlah pengunjung yang datang ke Pantai Air Manis
mengaku tidak puas dan sedikit kecewa setelah melihat langsung
patung legenda Malin Kundang. Apalagi selain legenda Malin Kundang,
tak banyak objek yang bisa dijual lagi.
“Di sini jadi terasa agak membosankan. Karena selain patung Malin
Kundang dan pantai, tidak ada lagi hal menarik untuk bisa dilihat,”
tutur R. Satrio Hutomo, salah seorang warga yang ditemui saat
berkunjung ke Pantai Air Manis.
Kawasan Pantai Air Manis sebenarnya memang hanyalah sebuah kawasan
perkampungan nelayan. Tapi karena pemandangannya indah dan bersih,
kawasan ini pun dijadikan sebagai pusat wisata di bagian selatan
Kota Padang. Di tempat inilah, legenda tentang si anak durhaka Malin
Kundang juga menjadi daya tarik tersendiri. (*)
|
|