Selasa, 13 Maret  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5549

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Legenda Malin Kundang ”Mati Suri”




Oleh
Parluhutan Gultom

PADANG - Gempa tektonik berkekuatan 6,2 pada skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat (Sumbar) pada Selasa (6/3) lalu tak sekadar merenggut korban jiwa dan merusak fasilitas bangunan yang ada. Karena selain merenggut harta dan jiwa, gempa tersebut juga telah merusak mata pencarian warga di sejumlah daerah Sumatera Barat.
Salah satu kawasan yang rusak secara perekonomian itu adalah kawasan wisata Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumbar. Pascagempa, suasana pantai wisata ini mendadak lengang, apalagi isu tsunami yang gencar merebak ke permukaan menyebabkan orang semakin enggan menyambangi tempat ini.
Dalam beberapa hari pascagempa, tak lebih dari 20 pengunjung yang masih “sudi” mampir ke pantai itu. Turis lokal maupun mancanegara yang biasanya rutin mengunjungi kawasan ini sudah tak tampak lagi. Tak ada lagi kegiatan berselancar di pantai. Semuanya mendadak terhenti setelah bencana alam itu melanda Pantai Air Manis.
Kondisi itulah yang kemudian membuat para pedagang di sekitar pantai menjadi resah akan nasib dan masa depan mereka.

Selama ini mereka cenderung menggantungkan hidup di pantai ini.
”Beginilah kondisinya sejak beberapa hari terakhir. Mungkin karena sebelumnya sempat merebak isu tsunami, jadi orang-orang takut datang ke sini,” kata Ana,
seorang pedagang kelapa muda di sekitar Pantai Air Manis ketika ditemui SH, Jumat (9/3) siang.
Ana menjelaskan, sebelum terjadinya musibah gempa, ia bersama teman-temannya dapat mengais rezeki cukup lumayan dari para pengunjung pantai. Karena lebih dari seratus pengunjung datang ke pantai itu setiap harinya. Namun sekarang kondisinya jauh berubah. Jangankan seratus pengunjung per hari, ada pengunjung sampai 20 orang saja sudah sangat baik, sebab rata-rata jumlah pengunjung kawasan wisata air yang datang tak lebih dari angka itu.
Ana bahkan mengaku kini jumlah jumlah pedagang yang ada bisa lebih besar dari jumlah pengunjung. Jadi bisa dibayangkan, berapa besar keuntungan yang bisa direguk para pedagang di sana. “Kalau sehari bisa dapat Rp 20.000 saja sudah sangat bagus,” lanjut Ana dengan dialek Padang yang cukup kental.
Tidak Terawat
Selain bencana gempa, merosotnya minat pengunjung untuk datang ke Pantai Air Manis kemungkinan juga akibat tidak terawatnya lokasi wisata itu. Patung Malin Kundang yang menjadi legenda pantai tersebut kini sudah dalam kondisi rusak.
Pada sisi lain, perubahan yang dilakukan Pemerintah Kota Padang terhadap patung Malin Kundang maupun perahunya seperti sebuah “blunder” pariwisata. Karena perbaikan pada bagian kepala patung Malin Kundang dan perubahan bebatuan agar menyerupai perahu justru terkesan dipaksakan. Dan akhirnya membuat suasana menjadi tak seperti aslinya lagi.
”Bagian kepala patung ini sudah hancur sejak lima tahun lalu sebelum akhirnya diperbaiki. Namun sayang, pemugaran bebatuan yang dilakukan pemerintah daerah setempat di sekitar patung terkesan sangat dipaksakan agar bisa menyerupai perahu. Tapi hal itu justru membuat nilai alaminya hilang,” jelas Zulkifli, guru salah satu SMU di Kota Padang saat berkunjung di pantai tersebut.
Ia mengatakan mungkin hal itulah yang membuat sejumlah pengunjung jadi kecewa dan tak berminat lagi untuk singgah untuk kedua kalinya. “Jadi tak heran kalau jumlah pengunjung makin turun,” tutur Zulkifli.
Kondisi terparah justru terjadi pada rumah Malin Kundang di Muara Padang, Kota Padang atau tepatnya sekitar 5 kilometer dari Pantai Air Manis. Akibat tak terawat, sejak beberapa tahun lalu rumah tersebut hancur tak berbekas dimakan usia.
Tak heran kalau sejumlah pengunjung yang datang ke Pantai Air Manis mengaku tidak puas dan sedikit kecewa setelah melihat langsung patung legenda Malin Kundang. Apalagi selain legenda Malin Kundang, tak banyak objek yang bisa dijual lagi.
“Di sini jadi terasa agak membosankan. Karena selain patung Malin Kundang dan pantai, tidak ada lagi hal menarik untuk bisa dilihat,” tutur R. Satrio Hutomo, salah seorang warga yang ditemui saat berkunjung ke Pantai Air Manis.
Kawasan Pantai Air Manis sebenarnya memang hanyalah sebuah kawasan perkampungan nelayan. Tapi karena pemandangannya indah dan bersih, kawasan ini pun dijadikan sebagai pusat wisata di bagian selatan Kota Padang. Di tempat inilah, legenda tentang si anak durhaka Malin Kundang juga menjadi daya tarik tersendiri. (*)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003