Sabtu,  03 Maret  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5541

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Gerhana Bulan
Tengadah ke Langit Subuh Nanti



Oleh
Adiseno

JAKARTA – Bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan alam kerap tersembunyi di balik dinding beton. Namun, Minggu (4/3) dini hari besok marilah kita keluar rumah dan tengadah ke ufuk di sebelah barat. Lihat gerhana bulan penuh mulai 04.30 sampai menjelang pukul 07.00. Ini untuk sekadar mengingatkan bahwa kita hidup di alam, dan karya budaya seperti gedung dan listrik kerap menjauhkan kita dari alam.
Gerhana bulan nanti dapat terlihat khususnya di wilayah Indonesia bagian barat. Paling jelas di Sumatera, dan terus ke barat hingga India, Eropa, Afrika, sampai Samudera Atlantik bagian timur.
“Secara fisik untuk bumi tidak ada yang membahayakan, namun jika menguntungkan memang ada manfaatnya yakni terjadinya pasang surut,” kata Kepala Observatorium ITB-Boscha, Lembang, Taufiq Hidayat ketika dihubungi SH, Jumat (2/3). Ia menjelaskan dari segi pengetahuan gerhana bulan tidak terkait dengan apa-apa. Namun, Taufiq mengingatkan bahwa fenomena alam seperti gerhana kerap dikaitkan dengan kepercayaan.
Di Jawa gerhana dimitoskan sebagai wujud bahwa bulan dimakan Batara Kala. Kepercayaan itu terkait dengan agama Hindu yang berasal dari India. Di India pun gerhana dipercaya akibat ulah sang Naga. Selama gerhana mereka yang percaya membenamkan diri ke air sampai leher, berharap bulan dan matahari, yang juga bisa mengalami gerhana, dapat mempertahankan diri dari Naga. Di Jawa, masyarakat memukul kentongan dan membuat bunyi-bunyian agar Batara Kala takut dan melepaskan bulan.
Keributan pun dilakukan orang China sejak 20 abad lalu. Mereka juga meyakini Naga memakan bulan atau matahari. Keributan itu untuk mengusir Naga yang tidak terlihat. Bahkan di Asia Tengah pada 28 Mei 585 perang antara dua negara Timur Tengah kala itu dihentikan akibat hari menjadi gelap seperti malam.

Menghitung Gerhana
Pada 19 Maret mendatang gerhana matahari parsial (sebagian) akan terjadi, namun gerhana ini tidak dapat dilihat di wilayah Indonesia. Gerhana akan mulai sejak 07.30 pagi hingga pukul 11.24. Mereka yang berada di Thailand, Burma, China, Korea dan bagian Barat Jepang dapat menyaksikan ini.
Gerhana sendiri merupakan kejadian astronomi di mana satu objek di angkasa bergerak ke dalam bayangan objek astronomi lainnya. Gerhana bulan hanya terjadi ketika bulan purnama. Saat itu bulan masuk dalam bayangan Bumi. Sedangkan, pada gerhana matahari, bintang terdekat dengan bumi itu masuk dalam bayangan satelit bumi, bulan.
Gerhana terjadi ketika bulan bumi dan matahari yang saling berkeliling atau rotasi dan berporos pada matahari berada pada satu garis. Pertemuan ini bisa diperhitungkan oleh para pakar astronomi. Edar bumi mengelilingi matahari selama 365 hari dan rotasi bulan pada bumi selama 27 hari lebih mengakibatkan secara berkala ketiga objek astronomi ini akan berada pada satu garis. Para astronom tinggal menghitung hari, untuk memprediksi gerhana.
Kegagalan ahli bintang memprediksi datangnya gerhana di Kekaisaran Tiongkok pada masa lalu, berakibat fatal. Kaisar yang menjadi tidak siap untuk membuat ribut, marah dan menghukum mati para ahli perbintangan dia.
“Pada gerhana matahari itu kan siang hari perlahan mulai gelap dan itu bisa mempengaruhi perilaku satwa, burung malam jadi keluar,” ucap Taufiq Hidayat, mengenai pengaruh gerhana pada kehidupan. Selebihnya ia meyakinkan tidak akan ada pengaruh langsung pada manusia. Tinggal kita saja menikmati fenomena alam ini agar sadar bahwa alam masih berlaku bagi kita semua. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003