Jumat, 02 Maret  2007

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5540

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Charlotte’ Web
Persahabatan di Sebuah Kandang



Oleh
Ida Rosdalina

Jakarta — Sommerset adalah kota yang biasa-biasa saja. Tak pernah ada kejadian aneh di sana, apalagi hingga menghebohkan.

Dalam kota yang biasa-biasa itu, hiduplah seorang anak perempuan bernama Fern Arable (Dakota Fanning). Ia begitu mencintai binatang. Kecintaannya pada binatang terutama babi makin besar tatkala babi yang dipelihara ayahnya beranak sebelas. Sebelas anak babi, tapi hanya ada sepuluh puting untuk menyusui. Satu anak babi paling kecil mesti menerima nasib, yaitu mati.
Untunglah ada Fern. Anak babi malang itu malah menjadi “anak kesayangan” Fern. Ke mana pun Fern pergi, ia tak pernah melupakan anak babi yang diberinya nama Wilbur. Namun, Wilbur tak bisa terus bersama Fern. Kian besar, Wilbur sudah tak bisa lagi hidup di dalam rumah Fern. Akhirnya, Wilbur dijual kepada Zuckerman, paman Fern, yang rumahnya di seberang jalan.
Di kandang milik paman Fern, Wilbur mencoba menjalin pertemanan dengan sapi-sapi, domba-domba, kuda, angsa-angsa, dan bahkan tikus. Sayangnya, tak ada satu pun yang menginginkan pertemanan itu.
Ia kesepian. Hingga satu malam, Wilbur mendengar ucapan selamat malamnya disambut oleh sebuah suara. Suara yang menjanjikan persahabatan itu ternyata milik Charlotte, seekor laba-laba. Kehangatan hati Wilbur membuat Charlotte yang selama ini tak berteman menjadi riang. Mereka menjadi dua sahabat yang tak terpisahkan.
Satu hari, salah seekor sapi mengucapkan kalimat yang membuat Wilbur bergidik. Menurutnya, Wilbur tak akan bisa melihat salju di hari Natal karena pada saat itu ia akan menjadi babi asap.
Mendengar nasib malang yang akan menimpa temannya, Charlotte segera berpikir keras. Apa yang bisa dibuat untuk sahabatnya itu. Maka, pada malam hari, Charlotte mendapat ide bagus. Ia merajut dua kata yang akan menjadi perhatian orang banyak, “Some pig” (babi yang hebat). Upaya Charlotte berhasil. Kota Sommerset segera gempar. Kandang milik Zuckerman dipenuhi orang yang ingin tahu. Sayangnya, perhatian itu cuma sesaat.
Nasib Wilbur masih di ujung tanduk. Charlotte harus berbuat hal yang lebih hebat lagi. Dan, itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan Templeton, si tikus yang egois.

Kisah Klasik
Kisah yang dibuat EB White (juga membuat Stuart Little) dan digambar oleh Garth Williams telah menjadi dongeng klasik yang telah terjual hingga 45 juta kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 23 bahasa. Cerita yang berpusat pada Fern, Wilbur, dan Charlotte ini digemari karena dialog-dialog yang lucu dan berisi, temanya yang mempertanyakan tentang umur seseorang.
Dalam buku yang ditujukan untuk kanak-kanak, White mengajukan sebuah pertanyaan yang sulit, yaitu tentang hidup dan mati. Seberapa lama kita akan hidup, dan sampai sejauh mana kita harus memperjuangkan hidup. Pertanyaan sesulit ini dituturkan dalam bahasa yang mudah dicerna dan cara yang jenaka hingga kanak-kanak pun tidak merasa takut membacanya.
Dalam bentuk film, Charlotte’s Web tidak menyimpang sama sekali dari plot aslinya. Gary Winick sangat taat pada apa yang disampaikan White. Yang dilakukan Winick hanyalah mewujudkan karakter-karakter White dalam bentuk hidup. Winick berusaha membuat para bintang “berakting” dan “berbicara”, layaknya khayalan anak-anak saat membacanya. Dengan kemajuan teknologi, hal ini tentu bukan perkara sulit. Apalagi, sebelumnya telah banyak film yang mengangkat hewan-hewan berbicara.
Faktor lain yang menentukan adalah memilih bintang-bintang yang bakal mengisi suara para binatang. Terpilih Julia Roberts sebagai Charlotte. Kemudian ada Robert Redford, John Cleese, Cedric the Entertainer, Kathy Bates, Reba McEntire, Thomas Haden Church, dan Andre Benjamin. Namun, di antara semua bintang, yang paling menonjol adalah Steve Buscemi. Ia dengan tepat menyuarakan karakter Templeton, si tikus yang rakus dan sangat egois. Sesungguhnya, Templetonlah yang menghidupkan film ini. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003