|
Charlotte’ Web
Persahabatan di Sebuah Kandang
Oleh
Ida Rosdalina
Jakarta — Sommerset adalah kota yang biasa-biasa saja. Tak pernah
ada kejadian aneh di sana, apalagi hingga menghebohkan.
Dalam kota yang biasa-biasa itu, hiduplah seorang anak perempuan
bernama Fern Arable (Dakota Fanning). Ia begitu mencintai binatang.
Kecintaannya pada binatang terutama babi makin besar tatkala babi
yang dipelihara ayahnya beranak sebelas. Sebelas anak babi, tapi
hanya ada sepuluh puting untuk menyusui. Satu anak babi paling kecil
mesti menerima nasib, yaitu mati.
Untunglah ada Fern. Anak babi malang itu malah menjadi “anak
kesayangan” Fern. Ke mana pun Fern pergi, ia tak pernah melupakan
anak babi yang diberinya nama Wilbur. Namun, Wilbur tak bisa terus
bersama Fern. Kian besar, Wilbur sudah tak bisa lagi hidup di dalam
rumah Fern. Akhirnya, Wilbur dijual kepada Zuckerman, paman Fern,
yang rumahnya di seberang jalan.
Di kandang milik paman Fern, Wilbur mencoba menjalin pertemanan
dengan sapi-sapi, domba-domba, kuda, angsa-angsa, dan bahkan tikus.
Sayangnya, tak ada satu pun yang menginginkan pertemanan itu.
Ia kesepian. Hingga satu malam, Wilbur mendengar ucapan selamat
malamnya disambut oleh sebuah suara. Suara yang menjanjikan
persahabatan itu ternyata milik Charlotte, seekor laba-laba.
Kehangatan hati Wilbur membuat Charlotte yang selama ini tak
berteman menjadi riang. Mereka menjadi dua sahabat yang tak
terpisahkan.
Satu hari, salah seekor sapi mengucapkan kalimat yang membuat Wilbur
bergidik. Menurutnya, Wilbur tak akan bisa melihat salju di hari
Natal karena pada saat itu ia akan menjadi babi asap.
Mendengar nasib malang yang akan menimpa temannya, Charlotte segera
berpikir keras. Apa yang bisa dibuat untuk sahabatnya itu. Maka,
pada malam hari, Charlotte mendapat ide bagus. Ia merajut dua kata
yang akan menjadi perhatian orang banyak, “Some pig” (babi yang
hebat). Upaya Charlotte berhasil. Kota Sommerset segera gempar.
Kandang milik Zuckerman dipenuhi orang yang ingin tahu. Sayangnya,
perhatian itu cuma sesaat.
Nasib Wilbur masih di ujung tanduk. Charlotte harus berbuat hal yang
lebih hebat lagi. Dan, itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan
Templeton, si tikus yang egois.
Kisah Klasik
Kisah yang dibuat EB White (juga membuat Stuart Little) dan digambar
oleh Garth Williams telah menjadi dongeng klasik yang telah terjual
hingga 45 juta kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 23
bahasa. Cerita yang berpusat pada Fern, Wilbur, dan Charlotte ini
digemari karena dialog-dialog yang lucu dan berisi, temanya yang
mempertanyakan tentang umur seseorang.
Dalam buku yang ditujukan untuk kanak-kanak, White mengajukan sebuah
pertanyaan yang sulit, yaitu tentang hidup dan mati. Seberapa lama
kita akan hidup, dan sampai sejauh mana kita harus memperjuangkan
hidup. Pertanyaan sesulit ini dituturkan dalam bahasa yang mudah
dicerna dan cara yang jenaka hingga kanak-kanak pun tidak merasa
takut membacanya.
Dalam bentuk film, Charlotte’s Web tidak menyimpang sama sekali dari
plot aslinya. Gary Winick sangat taat pada apa yang disampaikan
White. Yang dilakukan Winick hanyalah mewujudkan karakter-karakter
White dalam bentuk hidup. Winick berusaha membuat para bintang
“berakting” dan “berbicara”, layaknya khayalan anak-anak saat
membacanya. Dengan kemajuan teknologi, hal ini tentu bukan perkara
sulit. Apalagi, sebelumnya telah banyak film yang mengangkat
hewan-hewan berbicara.
Faktor lain yang menentukan adalah memilih bintang-bintang yang
bakal mengisi suara para binatang. Terpilih Julia Roberts sebagai
Charlotte. Kemudian ada Robert Redford, John Cleese, Cedric the
Entertainer, Kathy Bates, Reba McEntire, Thomas Haden Church, dan
Andre Benjamin. Namun, di antara semua bintang, yang paling menonjol
adalah Steve Buscemi. Ia dengan tepat menyuarakan karakter
Templeton, si tikus yang rakus dan sangat egois. Sesungguhnya,
Templetonlah yang menghidupkan film ini. n
|
|