|
Jalan Panjang
Minyak Jatropha Menjadi Biofuel
Oleh
Merry Magdalena
JAKARTA–Manfaat minyak jarak alias Jatropha Cursas sudah lama
didengungkan sebagai bahan bakar alternatif terbarukan. Sayangnya
teknologi pengolahannya belum dikuasai penuh oleh ilmuwan Indonesia.
Pada 2010 mendatang pemerintah bertarget akan mensubstitusi 10
persen BBM kita dengan energi terbarukan alias biofuel.
Sumber biofuel itu adalah singkong, minyak jarak, kelapa sawit, dan
tebu.“Ada banyak aspek yang harus kita kuasai seputar tanaman jarak
ini, di antaranya budi daya penanaman, proses pengolahan, dan
pemanfaatannya. Selain itu juga dibutuhkan riset dan pengembangan
lebih jauh terhadap minyak jarak,” ungkap Prof Said D Jenie, Kepala
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kepada pers di sela
acara “Valorization of Jatropha Cursas as Sustainable Resource for
Biofuel and Non Energy Utilization”, di Jakarta, (21/11).
Pada kesempatan ini, sejumlah ilmuwan dalam dan luar negeri saling
berbagi ilmu pengolahan minyak jarak sebagai biofuel. Salah satunya
adalah ilmuwan asal India, SN Nail dari Indian Institute of
Technology Delhi.
Proses
“Jarak pagar adalah tanaman tropis yang tahan kering yang kini
banyak dibudidayakan di Amerika Tengah dan Selatan, Asia Tenggara,
India, dan Afrika. Tanaman ini dikenal bermanfaat meningkatkan
kesuburan tanah,” ungkap Nail dalam presentasinya.
Di India, tanaman jarak pagar tumbuh baik secara liar maupun secara
budi daya. Dari studi diketahui bahwa bukan hanya bijinya, bahkan
buah jarak pagar juga mengandung minyak. Jika diperas, dari buah
dapat dihasilkan 20 persen minyak, biji 40 persen. Di sana lahan
jarak sudah mencapai ribuan hektare, terutama wilayah Rasashtan,
Orissa, Chatisgarh.
Nail menjelaskan proses pengolahannya melalui beberapa tahap.
Pertama, biji jarak dibersihkan lalu menuju mesin pressing. Hasilnya
adalah minyak mentah yang harus melalui proses sentrifugasi,
sedimentasi, dan penyaringan, dan dihasilkan minyak bersih yang
jernih berwarna kekuningan.
Namun ini belum berarti minyak sudah bisa langsung dipakai di mobil.
Konverter dibutuhkan untuk menyaring minyak dari asam lemak jenuh
yang ada agar tidak merusak mesin kendaraan.
Tanaman jarak penghasil biodiesel ini berasal dari jenis tanaman
jarak pagar yang dalam bahasa Inggris bernama Physic Nut dengan nama
species Jatropha curcas, tanaman ini seringkali salah diidentifikasi
dengan tanaman jarak yang dalam bahasa Inggris disebut castor bean
dengan nama species Ricinus communis.
Manfaat minyak jarak sebagai substitusi bahan bakar sebetulnya telah
lama diketahui. Misalnya melalui review yang dipublikasikan oleh
Gubitz (1999) pada jurnal Bio resource Technology edisi 67, tahun
1997 grupnya di Austria telah mempublikasikan hasil uji adaptasi
minyak jarak pada mesin diesel standar. Di dalam review tersebut
juga disebutkan bahwa jauh sebelum pengujian tersebut dilaksanakan,
pada tahun 1982, peneliti dari Jepang juga telah memperoleh hasil
memuaskan dalam menguji performansi mesin dalam menggunakan minyak
jarak di Thailand.
Pengembangan minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah di
Indonesia dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut
Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ekstraksi
minyak dari tanaman jarak.
Potensi Tinggi
“Di BPPT studi tentang tanaman jarak pagar sebagai biofuel baru
dilakukan dua tahun belakangan ini. Jarak pagar selain dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar biofuel, dapat juga diolah untuk
obat-obatan, sabun, pakan ternak, dan sebagainya. Namun semua
pemanfaatan tersebut memerlukan teknologi. Di sinilah letak
kelemahan ilmuwan kita. Walau sudah dikenal lama, tanaman jarak
pagar tergolong baru diketahui gunanya sebagai bioenergi,” komentar
Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Teknologi Pengembangan
Sumberdaya Energi BPPT.
Jarak pagar sesungguhnya punya potensi cukup tinggi sebagai bahan
bakar alternatif. Dibandingkan dengan kelapa sawit yang membutuhkan
proses produksi lebih rumit dan mahal, minyak jarak lebih sederhana
pengolahannya.
Di samping itu, minyak jarak tidak dapat dikonsumsi karena
mengandung racun. Dengan kondisi itu, minyak jarak sebagai energi
alternatif tidak akan mengganggu bidang konsumsi. Berbeda dengan
minyak sawit yang juga dialokasikan sebagai minyak goreng.
“Mereka yang mau terjun ke industri jarak pagar harus juga
memikirkan keuntungan dari bagian lain, bukan hanya minyaknya saja.
Dari seluruh biji jarak hanya sepertiga saja yang bisa menjadi
minyak. Dua per tiganya berupa ampas yang bisa dimanfaatkan sebagai
briket atau bahan baku boiler. Itulah yang sudah dilakukan di Afrika
dan selayaknya kita tiru,” demikian Unggul.
Selain dengan India, BPPT beserta ITB akan bekerja sama dengan
Belanda untuk mendalami teknologi pengolahan jarak. Indonesia akan
mengirimkan 10 peneliti ke Universitas Groeninghen, Belanda. n
|
|