Rabu, 15 November  2006

O L A H R A G A

No.  5451

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Promarketing
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Danang Kemayan Jati
Hadiah Ulang Tahun yang Mengubah Segalanya



Jakarta – Andaikata saat ulangtahunnya yang ke-28 Danang Kemayan Jati tidak mendapat hadiah stik golf dari istrinya, mungkin ia masih menekuni olahraga biliar hingga saat ini. Sebab, sejak masih kuliah, ia dikenal sebagai pebiliar yang disegani. Kemampuannya bermain biliar sudah sampai tingkat “master” buat ukuran mahasiswa.
Istri danang bukan pegolf. Ia hanya ibu rumah tangga biasa, yang kadang-kadang tersiksa oleh kecintaan suaminya pada biliar. Sebab, biliar memungkinkan Danang selalu pulang larut malam dan beraroma asap rokok pada bajunya.
Suatu ketika, Danang dan istrinya melewati jalan tol yang di pinggirnya terdapat lapangan golf. Iseng-iseng, Danang menyatakan keinginannya untuk mencoba bermain golf. Keisengan Danang itu rupanya ditanggapi serius oleh istrinya. Wujud dari keseriusan sang istri terbukti ketika Danang berulang tahun ke-28. Sang istri memberinya kado satu set stik golf. Sejak itu, kehidupan olahraga Danang berubah drastis. Ia tidak lagi pulang larut malam dengan aroma asap rokok.
Meskipun demikian, Danang tidak melupakan biliar sepenuhnya. Setidak-tidaknya, ia belajar sesuatu dari biliar. Yakni, ia belajar golf secara otodidak, persis seperti yang ia lakukan pada biliar. Ia mengaku banyak bertanya pada orang-orang yang lebih mengerti golf, kemudian mempraktikkannya. Tidak terasa, sudah 18 tahun ia menekuni golf. Karena itu, menjadi sangat wajar ketika ia pernah menikmati status single handicap. Selain itu, ia juga banyak membaca dan nonton video golf. Itu dulu, ketika ia masih menjadi jurnalis.
Kini, pria kelahiran Yogyakarta 24 November 1961 itu lebih banyak duduk di belakang meja. Ia hanya bermain golf pada hari Sabtu dan Minggu. Handicapnya pun melorot menjadi “dua digit”.
Alumnus IKIP Sanata Dharma ini menjadi salah satu dari enam pegolf yang akan mewakili Indonesia pada World Golfers Championship di Afrika Selatan, 17 – 23 November 2006. “Saya tidak punya persiapan khusus dan saya akan berusaha tampil sebaik mungkin,” katanya.
Ia optimis para pegolf Indonesia dapat berprestasi bagus pada kejuaraan tersebut karena kejuaraan tersebut dikelompokkan dalam beberapa kategori handicap. (toto prawoto)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003