|
Lampion Sastra:
Serat ”Centini” dan Sastra Erotis
Oleh
Sihar Ramses Simatupang
Jakarta - Tak ada yang pernah kuno dalam sebuah budaya. Satu lagi,
serat warisan Nusantara, Centhini, telah mendampingi I La Galigo
dalam pelayaran epos-epos abadi di dunia.
Serat yang aslinya bernama Suluk Tambangraras-Amongraga ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada dalam khasanah Sastra
Jawa Klasik karya bersama dari Raden Sutrasna, Raden Ngabehi
Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura.
Karya sastra yang mengupas seksualitas, adukan yang likat antara
erotisme dan filsafat, tubuh manusia bukan hanya sumber cinta dan
ekspresi seksual tetapi jalan untuk menuju Tuhan, papar Zen Hae
terhadap serat ini. Centhini menjadi salah satu karya yang dibacakan
dalam agenda Lampion Sastra yang bertajuk “Sastra Erotis” kali ini.
Landung Rusyanto Simatupang membacakan karya ini. Usai membacakan
karya Goenawan Mohamad--mulai dari puisi Kata-kata seperti Dencing
Gobang, Menjelang Pembakaran Sita dan Persetubuhan Kunti--untuk
Serat Centhini, Landung menghadirkan performanya dengan merebah
santai di sofa merah di tengah panggung Ruang Kreativitas Terbuka,
Taman Ismail Marzuki (10/11). Di antara para pembaca karya, praktis
Landung yang mempunyai inner dan emosi dengan vokalnya yang tetap
tenang dan terjaga.
Merujuk fenomena erotisme di dalam karya sastra, Zen memaparkan
bahwa pembacaan sastra erotis bukan bertujuan meneguhkan watak
subversif erotisme melainkan menempatkan erotisme sebagai tema yang
sama pentingnya dengan tema-tema lain dalam sastra. Ia mesti
diapresiasi dengan sikap tanpa prasangkan dan penuh kewajaran
sekaligus kesungguhan.
Serat yang totalnya berisi 12 jilid dan 722 tembang dibaca dan
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Oleh Elizabeth D Inandiak,
penerjemahan itu ditransliterasikan lagi secara bebas dalam bahasa
Prancis dengan judul Les Chants de l’ile a dormer debout le Lievre
de Centhini (2002).
Katalog ini mengambil penerjemahan bahasa Indonesianya yang berjudul
Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan (Galang Pers. 2004), antara lain
Tembang 84, Tembang 105, dan Tembang 112.
Inilah dua paragraf Tembang 84: Fajar malam ketiga belas sudah
mendekat saat rebana menggema di pendopo, para santri bergirang hati
menari mengikuti irama emprak. Jayengwesti memerintahkan mereka
bubar, Jayengraga memohon diri kepada kakak sulungnya dan kembali ke
kediamannya beserta istrinya, Rarasastri diikuti ketiga seliri dan
iring-iringan para abdinya…..Sampai di ranjang, tingkahnya seperti
kumbang menghisap madu: “manisku, mari lekas tidur, berkasih-kasihan.
Seks dan Estetika
Dengan tema yang sama, Lampion Sastra juga merangkul karya-karya
“erotis” yang lain. Nama Motinggo Busye yang dianggap lekat dengan
ekspresi semacam ini--kecuali beberapa karya seperti “Aulia Para
Sufi” juga “Sanu Infinita Kembar”. Juga puisi-puisi Goenawan Mohamad,
aktivis yang kerap juga dianggap figur liberal di tengah pembicaraan
puisi-puisinya yang spiritualis.
Ruth membacakan karya Motinggo Busye, yaitu “Isteri-isteri Orang
Lain” dan Dinar Rahayu “Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch”,
sedangkan Ari Pahala Hutabarat membacakan karyanya sendiri
Bukan sekadar apologi ketika memang apresiasi itu punya kekuatan
filosofi semacam Serat Centhini. Karya-karya Mas Gun pun sebenarnya
menampilkan suasana yang menekankan juga perasaan dan perenungan
ketimbang fisik. Di tengah deru sastra erotis yang terjebak pada
makna fisikal dan melepaskan perenungan, karya semacam Rosa
Liksom--antara lain berjudul One Night Stand--tentu sarat juga
dengan makna sastrawinya. Apalagi Serat Centhini, teks yang tak
lepas dari analogi-analogi penjaga estetika di tengah unsur kisah
dan tinjauan intrinsik, juga tema yang memperkuat karya.n
|
|