|
Trilogi Konservasi:
Lindungi, Pelajari, dan Manfaatkan...
Oleh
Suer Suryadi
JAKARTA-Saya pernah mendapat pertanyaan membabi buta dari seorang
teman lama. “Buat apa sih kita melakukan konservasi terhadap
binatang atau pohon?” Saya segera menjawab, “Supaya nggak punah.”
Teman saya segera menyahut, “Ah, kayak orang kurang kerjaan aja.
Coba lihat tanaman singkong, dari dulu nggak ada konservasi singkong,
buktinya toh singkong nggak punah juga?”
Masih kurang puas, dia nyerocos lagi. “Buat apa juga melindungi
hutan yang luasnya puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektare? Itu kan
lahan menganggur? Coba kalau dijadikan lahan pertanian, perkebunan,
atau industri, pasti menghasilkan banyak devisa dan menyerap banyak
tenaga kerja!” Berondongan pertanyaan itu sempat membuat saya
terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya.
Begini boss. Dulu banyak orang mengira bahwa konservasi itu berarti
nggak boleh dibeginikan atau dibegitukan. Pokoknya semua berisi
larangan, semua harus dilindungi. Itu kan baru kulitnya konservasi.
Itu pikiran dan asumsi kuno banget…
Konservasi modern justru bermuara pada aspek pemanfaatan. Di
kalangan praktisi konservasi dikenal konsep trilogi save it, study
it, use it atau lindungi, pelajari, dan manfaatkan. UU No 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
juga mengenal trilogi Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan.
Pada dasarnya segala yang ada di muka bumi ini dapat dimanfaatkan
oleh manusia. Namun keterbatasan pengetahuan manusia menyebabkan
masih sedikit sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan. Logika
sehatnya, segala sesuatu yang sudah dan sedang dimanfaatkan otomatis
akan dijaga agar tetap ada. Misalnya, ayam kampung akan terus ada
meskipun jumlahnya kalah banyak dengan ayam broiler (baca: ayam
negeri). Mengapa demikian? Sebab harga ayam kampung dan telurnya
relatif lebih mahal, dan dipercaya lebih sehat daripada ayam negeri.
Ayam kampung akan tetap ada sepanjang masih bernilai ekonomis,
meskipun saat ini mulai tergantikan oleh ayam arab (maaf, tidak
bermaksud rasial, tapi itulah nama yang ada di pasaran), yang
telurnya mirip ayam kampung.
Namun adakalanya muncul logika tidak sehat, ketika pemegang konsesi
sumber daya menghajar habis sumber daya di lahan konsesinya karena
merasa telah membayar berbagai upeti dan perizinan konsesi. Nah, ini
yang repot dan perlu diwaspadai, meskipun logika tak sehat itu tetap
menganut prinsip ekonomi, sedikit pengeluaran banyak pemasukan.
Sumber daya di hutan juga ada yang bermanfaat secara langsung dan
tidak langsung. Sayangnya, masih banyak manfaat itu yang belum
diketahui atau belum paham cara pengelolaannya yang bersifat
melestarikan. Untuk mengetahui manfaatnya, diperlukan penelitian
terhadap hewan atau tumbuhan liar di habitat asal mereka. Dulu, buah
merah (Pandanus conoideus) asal Papua tidaklah sepopuler sekarang.
Setelah diteliti, kini kita dapat membeli ekstraknya dalam kemasan
botol dengan harga cukup wah…
Setelah diketahui manfaatnya, diteliti lagi bagaimana caranya
mengelola agar sumber daya itu dapat dimanfaatkan untuk jangka
panjang dan berkelanjutan. Bersamaan dengan itu, dicari cara untuk
membudidayakannya. Tanpa budi daya, niscaya suplai buah merah juga
akan berkurang di habitatnya, lalu semakin langka, harganya semakin
di luar jangkauan masyarakat dan kemudian bisa dilupakan.
Lantas bagaimana kita dapat meneliti manfaat hewan/tumbuhan liar itu
jika habitat aslinya dilenyapkan? Oleh karena itu, kita perlu
mempertahankan berbagai habitat alami mereka dalam bentuk
kawasan-kawasan konservasi. Dengan demikian, hewan/tumbuhan liar
yang belum diketahui manfaatnya atau belum diketahui cara
membudidayakannya, dapat dipelajari dengan optimal. Hasilnya tentu
kembali untuk kesejahteraan manusia.
Ketika kita sudah mengetahui manfaat suatu jenis hewan/tumbuhan,
jenis yang sama atau kerabatnya di hutan alami merupakan “cadangan
devisa” bagi pengembangan kualitas, atau pengembangan varietas.
Kreativitas menyilangkan tanaman budi daya dengan yang alami akan
meningkatkan nilai tambah. Terbayang tidak, ada sejenis Aglaonema
yang selembar daunnya berharga Rp 50.000? Itu salah satu hasil
kolaborasi perlindungan dan penelitian.
Jika kita tidak melindungi kawasan hutan alami yang dihuni berbagai
makhluk hidup, maka hewan/tumbuhan itu akan punah karena habitat
mereka telah hancur. Akibatnya, hilanglah kesempatan kita untuk
meneliti dan memanfaatkannya di masa kini dan masa mendatang. Siapa
yang rugi? Kita semua, kan?
Penulis adalah aktivis pada Conservation for Integrated Resources
Management.
|
|