I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No.  5437

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Trilogi Konservasi: Lindungi, Pelajari, dan Manfaatkan...
 

   
Oleh
Suer Suryadi

JAKARTA-Saya pernah mendapat pertanyaan membabi buta dari seorang teman lama. “Buat apa sih kita melakukan konservasi terhadap binatang atau pohon?” Saya segera menjawab, “Supaya nggak punah.” Teman saya segera menyahut, “Ah, kayak orang kurang kerjaan aja. Coba lihat tanaman singkong, dari dulu nggak ada konservasi singkong, buktinya toh singkong nggak punah juga?”
Masih kurang puas, dia nyerocos lagi. “Buat apa juga melindungi hutan yang luasnya puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektare? Itu kan lahan menganggur? Coba kalau dijadikan lahan pertanian, perkebunan, atau industri, pasti menghasilkan banyak devisa dan menyerap banyak tenaga kerja!” Berondongan pertanyaan itu sempat membuat saya terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya.
Begini boss. Dulu banyak orang mengira bahwa konservasi itu berarti nggak boleh dibeginikan atau dibegitukan. Pokoknya semua berisi larangan, semua harus dilindungi. Itu kan baru kulitnya konservasi. Itu pikiran dan asumsi kuno banget…
Konservasi modern justru bermuara pada aspek pemanfaatan. Di kalangan praktisi konservasi dikenal konsep trilogi save it, study it, use it atau lindungi, pelajari, dan manfaatkan. UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juga mengenal trilogi Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan.
Pada dasarnya segala yang ada di muka bumi ini dapat dimanfaatkan oleh manusia. Namun keterbatasan pengetahuan manusia menyebabkan masih sedikit sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan. Logika sehatnya, segala sesuatu yang sudah dan sedang dimanfaatkan otomatis akan dijaga agar tetap ada. Misalnya, ayam kampung akan terus ada meskipun jumlahnya kalah banyak dengan ayam broiler (baca: ayam negeri). Mengapa demikian? Sebab harga ayam kampung dan telurnya relatif lebih mahal, dan dipercaya lebih sehat daripada ayam negeri. Ayam kampung akan tetap ada sepanjang masih bernilai ekonomis, meskipun saat ini mulai tergantikan oleh ayam arab (maaf, tidak bermaksud rasial, tapi itulah nama yang ada di pasaran), yang telurnya mirip ayam kampung.
Namun adakalanya muncul logika tidak sehat, ketika pemegang konsesi sumber daya menghajar habis sumber daya di lahan konsesinya karena merasa telah membayar berbagai upeti dan perizinan konsesi. Nah, ini yang repot dan perlu diwaspadai, meskipun logika tak sehat itu tetap menganut prinsip ekonomi, sedikit pengeluaran banyak pemasukan.
Sumber daya di hutan juga ada yang bermanfaat secara langsung dan tidak langsung. Sayangnya, masih banyak manfaat itu yang belum diketahui atau belum paham cara pengelolaannya yang bersifat melestarikan. Untuk mengetahui manfaatnya, diperlukan penelitian terhadap hewan atau tumbuhan liar di habitat asal mereka. Dulu, buah merah (Pandanus conoideus) asal Papua tidaklah sepopuler sekarang. Setelah diteliti, kini kita dapat membeli ekstraknya dalam kemasan botol dengan harga cukup wah…
Setelah diketahui manfaatnya, diteliti lagi bagaimana caranya mengelola agar sumber daya itu dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang dan berkelanjutan. Bersamaan dengan itu, dicari cara untuk membudidayakannya. Tanpa budi daya, niscaya suplai buah merah juga akan berkurang di habitatnya, lalu semakin langka, harganya semakin di luar jangkauan masyarakat dan kemudian bisa dilupakan.
Lantas bagaimana kita dapat meneliti manfaat hewan/tumbuhan liar itu jika habitat aslinya dilenyapkan? Oleh karena itu, kita perlu mempertahankan berbagai habitat alami mereka dalam bentuk kawasan-kawasan konservasi. Dengan demikian, hewan/tumbuhan liar yang belum diketahui manfaatnya atau belum diketahui cara membudidayakannya, dapat dipelajari dengan optimal. Hasilnya tentu kembali untuk kesejahteraan manusia.
Ketika kita sudah mengetahui manfaat suatu jenis hewan/tumbuhan, jenis yang sama atau kerabatnya di hutan alami merupakan “cadangan devisa” bagi pengembangan kualitas, atau pengembangan varietas. Kreativitas menyilangkan tanaman budi daya dengan yang alami akan meningkatkan nilai tambah. Terbayang tidak, ada sejenis Aglaonema yang selembar daunnya berharga Rp 50.000? Itu salah satu hasil kolaborasi perlindungan dan penelitian.
Jika kita tidak melindungi kawasan hutan alami yang dihuni berbagai makhluk hidup, maka hewan/tumbuhan itu akan punah karena habitat mereka telah hancur. Akibatnya, hilanglah kesempatan kita untuk meneliti dan memanfaatkannya di masa kini dan masa mendatang. Siapa yang rugi? Kita semua, kan?

Penulis adalah aktivis pada Conservation for Integrated Resources Management.

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003