|
MANDIRI
Menghargai Orang Lain
Oleh:
Prof Dr Roy Sembel,
(www.roy-sembel.com),
Sandra Sembel,
Pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo.com)
Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai
Anda. Barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak
memerhatikan Anda.
Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda pun mungkin sekali kurang
menghargai orang lain atau sering terlalu memperhatikan diri sendiri
sehingga lupa memerhatikan orang lain di sekitar Anda? Nah, mungkin
inilah yang harus Anda lakukan: menghargai orang lain. Bagaimana
caranya? Simak yang berikut.
Mengapa Harus Menghargai Orang Lain?
Suka atau tidak, kita hidup dengan berinteraksi dengan orang lain.
Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain
agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan?
Saling Membutuhkan
Pernahkah Anda membayangkan jika segala sesuatu harus dilakukan
sendiri: menanam padi sendiri untuk mendapatkan beras; menanam
tumbuhan untuk membuat pakaian dan menjahit pakaian sendiri;
membangun rumah sendiri dari awal; membuat kendaraan sendiri;
mencuci baju sendiri; memasak sendiri; membersihkan rumah sendiri;
dan mengambil keputusan sendiri? Pasti itu sangat melelahkan,
merepotkan, atau bahkan tidak mungkin dilakukan.
Pasti ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri dengan baik.
Guru membutuhkan murid, penulis membutuhkan pembaca, produsen
membutuhkan konsumen, perusahaan membutuhkan karyawan dan konsumen,
serta pemimpin membutuhkan anak buah. Tentu saja kondisi ini berlaku
pula sebaliknya. Jadi intinya: kita semua saling membutuhkan.
Saling Menguntungkan
Selain saling membutuhkan, ternyata kita semua juga bisa saling
menguntungkan. Kita merasa beruntung karena bisa berbagi dengan
orang lain: kita mendapat pemasukan uang dan mendapat kepuasan
karena ada orang lain yang mau menggunakan hasil karya kita. Orang
lain juga merasa diuntungkan dengan kebaradaan kita karena mereka
bisa mendapatkan apa yang mereka perlukan dari kita.
Misalnya, murid merasa diuntungkan karena ada guru yang mau berbagai
ilmu dan keterampilan. Sebaliknya, guru juga merasa diuntungkan
karena ia bisa membagi ilmu dan keterampilan kepada orang lain dan
mendapat pemasukan dari pekerjaannya. Produsen merasa diuntungkan
karena ada pembeli. Sebaliknya, pembeli juga merasa diuntungkan
karena bisa mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan tanpa harus
repot membuatnya sendiri.
Saling Mengisi
Tidak ada satu orang pun yang benar-benar serupa dengan orang lain.
Anak kembar sekalipun memiliki perbedaan. Kita memiliki perbedaan
dalam kepribadian, talenta, kemampuan, gaya hidup, kebiasaan, dan
kebutuhan. Namun perbedaan inilah yang membuat hidup menjadi lebih
kaya, bervariasi, dan menyenangkan karena kita bisa saling mengisi.
Banyak restoran muncul karena banyak orang tidak bisa memasak
masakan seperti masakan yang disajikan restoran itu, atau karena
tidak ada waktu untuk melakukan aktivitas memasak. Banyak kursus
bahasa asing juga muncul karena ada orang yang sudah fasih berbahasa
asing, sementara ada juga orang yang ingin atau perlu belajar bahasa
asing.
Saling Menguatkan
Selain perbedaan, persamaan pun bisa menguntungkan. Orang-orang yang
memiliki persamaan bisa saling bekerja sama. Ringan sama dijinjing,
berat sama dipikul, begitu kata pepatah. Rupanya pepatah ini muncul
dari kesadaran bahwa dengan bekerja sama, segala sesuatu akan terasa
lebih mudah.
Masalah menjadi lebih ringan dan menjadi lebih mudah dicarikan
solusinya jika dipecahkan bersama. Pekerjaan berat akan menjadi
lebih mudah dan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama.
Bagaimana Menghargai Orang Lain?
Tahukah Anda bahwa orang lain akan lebih menghargai orang yang
menghargai mereka? Nah, sebelum kita menuntut orang lain menghargai
kita, kita perlu terlebih dahulu menghargai mereka. Kuncinya hanya
satu: buat orang lain merasa penting dan berharga.
Langkah 1: Kenali Orang-orang Sekitar
Tiap hari kita berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang
paling sering berhubungan dengan kita adalah mereka yang berada di
sekitar kita: keluarga, tetangga, dan rekan sekerja. Nah, kenali
orang-orang di sekitar kita. Perhatikan bahwa kita memiliki
persamaan dan perbedaan dengan mereka. Dengan demikian akan lebih
mudah bagi kita untuk bekerja sama dengan mereka dan menghargai
mereka.
“Aduh, si Idah sering membuat saya kesal. Saya minta tolong
panggilkan taksi biru, ternyata yang dipanggil adalah taksi kuning.
Saya minta dibelikan bawang putih, yang dibawa pulang adalah bawang
merah,” begitu cerita seorang teman.
Ternyata setelah diselidiki lebih jauh, Idah mempunyai kelemahan
mengingat instruksi yang terlalu panjang. Ia cenderung mengingat
kalimat terakhir yang diucapkan, apalagi jika kalimat tersebut
diulang dua kali.
Sementara itu, teman penulis seringkali merasa khawatir instruksinya
tidak dimengerti, sehingga cenderung mengulang “larangan” daripada
“instruksi intinya”. Jadi tidak heran jika teman penulis berkata
“Idah, tolong panggilkan taksi biru ya, jangan yang kuning. Sekali
lagi, jangan yang kuning,” maka yang datang adalah justru taksi
kuning. Setelah teman tersebut memahami perbedaan antara ia dan Idah,
ia pun bisa mengubah strateginya dalam memberikan instruksi.
Ia selalu menempatkan instruksi di kalimat akhir dan diulang. Sejak
saat itu penulis tidak lagi mendengar keluhan dari teman tersebut.
Langkah 2: Fokus pada Kelebihan
Seringkali kita lebih fokus pada kesalahan dan kekurangan orang
lain. Hal ini menyebabkan kita sulit sekali menghargai mereka.
Sebaliknya, karena kita selalu memperhatikan kekurangan orang lain,
orang lain pun menjadi enggan berinteraksi dan bekerja sama dengan
kita karena mereka merasa enggan jika selalu merasa “dipermalukan”.
Yang perlu kita ubah adalah fokus kita: coba fokuskan perhatian kita
terlebih dulu pada kelebihan orang lain, kita akan mendapatkan hasil
yang luar biasa.
Coba perhatikan ilustrasi berikut:“Wah, tulisan tanganmu bagus dan
rapih. Ibu juga senang kamu bisa menyerahkan pekerjaan rumah ini
tepat waktu,” demikian ujar seorang ibu guru pada muridnya.
“Terima kasih, Bu. Saya memang berusaha menulis dengan baik. Namun
ada beberapa kata yang masih sulit bagi saya untuk mengejanya. Jadi,
lain kali saya akan minta bantuan ibu untuk menjelaskannya lagi dan
saya akan berusaha menulis dengan ejaan yang benar,” begitu jawab si
anak.
Yah, ternyata sang ibu guru tidak langsung menyalahkan tulisan anak
tersebut yang ternyata masih banyak salah. Sebaliknya, ia
memfokuskan perhatian pada kelebihannya terlebih dulu. Sang anak
yang merasa sangat dihargai karena gurunya memerhatikan kelebihannya,
lalu menjadi lebih terbuka meminta bantuan guna memerbaiki
kesalahannya.
Langkah 3: Bangun Hubungan Saling Percaya
Ternyata hukum timbal balik memang berlaku dalam hidup ini. Jika
kita tidak memercayai orang lain, mereka pun tidak akan memercayai
kita. Sebaliknya, jika kita memercayai orang lain, orang lain akan
memercayai kita. Sebuah kerja sama bisnis pada dasarnya harus
dibangun atas dasar kepercayaan.
Usaha akan sukses dan langgeng jika pimpinan dan karyawan saling
memercayai, jika produsen dan konsumen saling percaya. “Saya tahu
Anda pernah melakukan kesalahan. Tapi, saya ingin memberikan
kesempatan kepada Anda. Saya akan melupakan perbuatan yang lama.
Coba kita memulai lembaran baru. Saya percaya Anda bisa berprestasi
lebih baik. Saya lihat Anda punya potensi untuk itu. Coba buktikan.”
Karena kata-kata inilah, Indra yang tadinya sudah kehilangan
kepercayaan diri menjadi termotivasi untuk melakukan yang terbaik
bagi pimpinannya yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
Banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika kita mau menghargai
orang lain: kita bisa saling membantu, saling menguatkan, dan saling
menguntungkan sehingga hidup menjadi lebih menyenangkan. Sukses
untuk Anda. n
|
|