Rabu, 16  Agustus  2006

J A B O T A B E K

No.  5378

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Arti Kemerdekaan di Mata Pengemis dan Gelandangan  


Oleh
Mohamad Ridwan

JAKARTA – Sehari menjelang perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-61, Haeni Rustiati Lubis (45) sangat berharap bisa secepatnya keluar dari Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat. Haeni yang dikenal dengan panggilan "Rinka Oli" ini mengaku ingin cepat bebas agar bisa mengikuti lomba "17-an" yang diselenggarakan pengurus RT di sekitar stasiun Beos, Jakarta Kota -tempat selama ini ia mencari nafkah sebagai pengemis.
"Sebenarnya saya sudah daftar lomba 17-an sama RT di sana. Tapi sepertinya saya belum boleh pulang," ungkap Rinka yang sejak sepekan kemarin menjadi penghuni Panti Sosial Bina Insan Kedoya setelah tertangkap dalam razia PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) di sekitar stasiun Beos.
Keluar-masuk Panti Sosial Kedoya bukanlah pengalaman baru buat Rinka. Ibu satu anak asal Tanjung Pura II, Krawang, Jawa Barat ini tercatat lebih dari 5 kali dikirim ke Panti Sosial Kedoya. Sejak 10 tahun terakhir, Rinka memang lebih memilih hidup sebagai pengemis di pinggir jalan. Ia merasa jauh lebih merdeka ketimbang harus pulang ke kampung halamannya dan berkumpul dengan keluarga.
Rinka sendiri mengaku berasal dari kalangan keluarga berada dimana sang ayah, H Syamsudin Lubis merupakan orang terpandang di kampungnya. "Saya dikucilkan keluarga karena saya hamil di luar nikah. Setelah itu saya kabur dari rumah karena ayah saya menikah lagi," ungkapnya.
Sejak kabur dari rumah dengan meninggalkan seorang putra bernama Jefri Iskandar Sinaga hasil hubungan gelapnya dengan kekasihnya Wahab Sinaga, Rinka mencoba mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi pembantu rumah tangga. Namun lantaran mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang majikan Rinka pun memilih kehidupan di jalan.
"Saat itu saya hampir diperkosa oleh majikan karenanya saya memilih kabur. Di tengah perjalanan saya melihat seorang ibu tengah mengemis di sebuah lampu merah di daerah Manggarai. Saya lihat dia sangat gampang mendapatkan uang, akhirnya saya menjadi tertarik untuk mengikuti jejaknya ," ungkap Rinka menceritakan alasannya memilih "profesi" sebagai pengemis.
Kehidupan di jalan memang sangat keras namun ia merasa lebih merdeka ketimbang harus bekerja yang terikat dengan segala macam aturan dari majikan. "Daripada saya jadi pelacur bukan lebih baik saya mengemis," tukasnya.
Untuk menghindari ancaman pemerkosaan yang telah membuatnya trauma, Rinka mengaku punya kiat khusus selama hidup menggelandang di jalan. "Saya selalu melumuri sekujur tubuh saya dengan oli, makanya di Beos saya dikenal dengan panggilan Rinka Oli," kata Rinka yang menuturkan bisa memperoleh uang Rp 30 hingga 40 ribu dari hasil mengemis di jalan.
Ada kalanya Rinka mengaku rindu dengan suasana Panti Sosial Kedoya. "Kalau sudah merasa badan saya kotor dan gatal saya malah pengen cepet-cepet ditangkap Tramtib bisa dibawa ke sini. Sebab kalau di panti saya bisa mandi dengan bersih," ujarnya.
Ketika ditanya sampai kapan ia mau bertahan hidup sebagai pengemis di pinggir jalan? Rinka menjawab sampai keluarganya mau menerimanya kembali."Daripada hidup tidak dihargai bukankah lebih baik saya hidup merdeka seperti ini," tandasnya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003