|
Arti Kemerdekaan di
Mata Pengemis dan Gelandangan
Oleh
Mohamad Ridwan
JAKARTA – Sehari menjelang perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI
ke-61, Haeni Rustiati Lubis (45) sangat berharap bisa secepatnya
keluar dari Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat. Haeni yang dikenal
dengan panggilan "Rinka Oli" ini mengaku ingin cepat bebas agar bisa
mengikuti lomba "17-an" yang diselenggarakan pengurus RT di sekitar
stasiun Beos, Jakarta Kota -tempat selama ini ia mencari nafkah
sebagai pengemis.
"Sebenarnya saya sudah daftar lomba 17-an sama RT di sana. Tapi
sepertinya saya belum boleh pulang," ungkap Rinka yang sejak sepekan
kemarin menjadi penghuni Panti Sosial Bina Insan Kedoya setelah
tertangkap dalam razia PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial)
di sekitar stasiun Beos.
Keluar-masuk Panti Sosial Kedoya bukanlah pengalaman baru buat Rinka.
Ibu satu anak asal Tanjung Pura II, Krawang, Jawa Barat ini tercatat
lebih dari 5 kali dikirim ke Panti Sosial Kedoya. Sejak 10 tahun
terakhir, Rinka memang lebih memilih hidup sebagai pengemis di
pinggir jalan. Ia merasa jauh lebih merdeka ketimbang harus pulang
ke kampung halamannya dan berkumpul dengan keluarga.
Rinka sendiri mengaku berasal dari kalangan keluarga berada dimana
sang ayah, H Syamsudin Lubis merupakan orang terpandang di
kampungnya. "Saya dikucilkan keluarga karena saya hamil di luar
nikah. Setelah itu saya kabur dari rumah karena ayah saya menikah
lagi," ungkapnya.
Sejak kabur dari rumah dengan meninggalkan seorang putra bernama
Jefri Iskandar Sinaga hasil hubungan gelapnya dengan kekasihnya
Wahab Sinaga, Rinka mencoba mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi
pembantu rumah tangga. Namun lantaran mendapat perlakuan tidak
menyenangkan dari sang majikan Rinka pun memilih kehidupan di jalan.
"Saat itu saya hampir diperkosa oleh majikan karenanya saya memilih
kabur. Di tengah perjalanan saya melihat seorang ibu tengah mengemis
di sebuah lampu merah di daerah Manggarai. Saya lihat dia sangat
gampang mendapatkan uang, akhirnya saya menjadi tertarik untuk
mengikuti jejaknya ," ungkap Rinka menceritakan alasannya memilih "profesi"
sebagai pengemis.
Kehidupan di jalan memang sangat keras namun ia merasa lebih merdeka
ketimbang harus bekerja yang terikat dengan segala macam aturan dari
majikan. "Daripada saya jadi pelacur bukan lebih baik saya mengemis,"
tukasnya.
Untuk menghindari ancaman pemerkosaan yang telah membuatnya trauma,
Rinka mengaku punya kiat khusus selama hidup menggelandang di jalan.
"Saya selalu melumuri sekujur tubuh saya dengan oli, makanya di Beos
saya dikenal dengan panggilan Rinka Oli," kata Rinka yang menuturkan
bisa memperoleh uang Rp 30 hingga 40 ribu dari hasil mengemis di
jalan.
Ada kalanya Rinka mengaku rindu dengan suasana Panti Sosial Kedoya.
"Kalau sudah merasa badan saya kotor dan gatal saya malah pengen
cepet-cepet ditangkap Tramtib bisa dibawa ke sini. Sebab kalau di
panti saya bisa mandi dengan bersih," ujarnya.
Ketika ditanya sampai kapan ia mau bertahan hidup sebagai pengemis
di pinggir jalan? Rinka menjawab sampai keluarganya mau menerimanya
kembali."Daripada hidup tidak dihargai bukankah lebih baik saya
hidup merdeka seperti ini," tandasnya. n
|
|