I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No.  5370

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Hemat Energi dengan ”Ecodrive”   



Oleh
Sulung Prasetyo

JAKARTA – Ada banyak cara untuk menghemat pemakaian energi pada kendaraan. Tak perlu njelimet, dengan teknologi canggih pula. Hanya biasakan berkendara dengan benar, dengan prinsip ecodrive.
Semenjak isu makin menipisnya energi fosil makin meyakinkan. Berlomba-lomba manusia mencari alternatif energi lain. Berbagai kemungkinan kemudian coba diungkapkan. Mulai dari minyak jarak, hingga energi dari hidrogen.
Salah satu cara untuk penghematan energi bisa menggunakan cara ecodriver. Bagi anda yang baru mendengarnya, kalimat ecodriver mungkin bisa disepadankan dengan berkendara secara hemat dengan memperhatikan fungsi lingkungan.
Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan cara kita memainkan perseneling kendaraan. Tak percaya? Mari kita buktikan.
Bagi sebagian besar orang, menekan gas sedalam mungkin, kemudian memindahkan perseneling saat gas sudah mengendur mungkin sudah menjadi kebiasaan., padahal tak perlu seperti itu. Sebagian besar tenaga mesin akan hilang. Karena faktor gesekan dalam mesin itu sendiri. Kebanyakan akan kehilangan tenaga akibat gesekan semakin besar, bila putaran mesin lebih tinggi. "Sebaliknya pada putaran mesin rendah kerugian gesek akan semakin kecil, sehingga dapat menghemat bahan bakar," ujar Junistra Syam, instruktur pada pelatihan ecodriver, di Serpong (3/8).
Jadi waktu penggunaan bahan bakar akan lebih hemat, bila pengemudi secepat mungkin memindahkan perseneling ke posisi yang lebih tinggi pada saat putaran mesin masih rendah. "Jadi dianjurkan dapatkan gigi tinggi pada saat rpm masih rendah," kata dia. Beberapa penelitian terakhir menunjukan, bahwa gigi lima pada kendaraan bisa diperoleh, bahkan pada saat kendaraan masih berada pada RPM (rotation per minute) 2500. "Bahkan pada mesin diesel, RPM 2000 sudah bisa mencapai gigi enam," imbuhnya.
Teknik pemindahan perseneling secara cepat, seperti ini baru satu cara penghematan. Cara yang lain adalah menghindari pengereman dan akselerasi tak perlu. "Seperti pada saat kita lihat lampu merah sekitar 50 meter di depan kita. Bila kita menghadapi kondisi tersebut, kita bisa memindahkan gigi ke posisi netral. Hingga mobil melaju dengan gaya dorong secara alami," papar Junistra lagi.
Pengereman yang tak perlu atau secara mendadak, akan memboroskan energi. Dengan menghilangkan kebiasaan tersebut, paling tidak kita akan menghemat bahan bakar hingga 10 persen banyaknya.
Langkah selanjutnya merupakan mematikan mesin mobil, pada saat kita harus berhenti lebih dari satu menit. Karena tetap menyalakan kendaraan, sama saja tetap melakukan proses pembakaran energi. Sementara tujuan mungkin masih jauh di depan mata. Dengan mematikan mesin, paling tidak kita menghemat selisih pembakaran energi, saat harus menunggu.
Penghematan juga bisa dilakukan dengan memperhatikan beban di kendaraan kita. Logikanya semakin berat beban yang kita bawa, berarti semakin banyak energi dibutuhkan untuk membawanya.
Aerodinamis badan kendaraan juga harus diperhatikan. Jangan hanya karena ingin gaya berlebihan, kita mengorbankan faktor aerodinamis tersebut. Pada kecepatan tertentu, kendaraan akan semakin berat menembus angin. Dengan sistem aerodinamis yang sudah diperhitungkan perusahaan penyedia mobil. Maka tak perlu rasanya kita menambah hal-hal yang tak penting lainnnya.
Sebagai penutup, tetap utamakan faktor keselamatan. Pakai logika dengan benar. Jangan terlalu memaksakan menghemat energi, justru celaka kita harus hadapi. Seperti memposisikan gigi netral, pada jalan turun di pegunungan contohnya.
Sekali lagi. Hidup modern bukan berarti tak peduli dengan sekeliling. Dengan menghemat energi dari kendaraan yang kita punya. Paling tidak kita telah membantu menghemat, pemakaian energi oleh 4 juta kendaraan yang ada di kota sekarang. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003