|
Hemat Energi dengan ”Ecodrive”
Oleh
Sulung Prasetyo
JAKARTA – Ada banyak cara untuk menghemat pemakaian energi pada
kendaraan. Tak perlu njelimet, dengan teknologi canggih pula. Hanya
biasakan berkendara dengan benar, dengan prinsip ecodrive.
Semenjak isu makin menipisnya energi fosil makin meyakinkan.
Berlomba-lomba manusia mencari alternatif energi lain. Berbagai
kemungkinan kemudian coba diungkapkan. Mulai dari minyak jarak,
hingga energi dari hidrogen.
Salah satu cara untuk penghematan energi bisa menggunakan cara
ecodriver. Bagi anda yang baru mendengarnya, kalimat ecodriver
mungkin bisa disepadankan dengan berkendara secara hemat dengan
memperhatikan fungsi lingkungan.
Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan cara kita memainkan
perseneling kendaraan. Tak percaya? Mari kita buktikan.
Bagi sebagian besar orang, menekan gas sedalam mungkin, kemudian
memindahkan perseneling saat gas sudah mengendur mungkin sudah
menjadi kebiasaan., padahal tak perlu seperti itu. Sebagian besar
tenaga mesin akan hilang. Karena faktor gesekan dalam mesin itu
sendiri. Kebanyakan akan kehilangan tenaga akibat gesekan semakin
besar, bila putaran mesin lebih tinggi. "Sebaliknya pada putaran
mesin rendah kerugian gesek akan semakin kecil, sehingga dapat
menghemat bahan bakar," ujar Junistra Syam, instruktur pada
pelatihan ecodriver, di Serpong (3/8).
Jadi waktu penggunaan bahan bakar akan lebih hemat, bila pengemudi
secepat mungkin memindahkan perseneling ke posisi yang lebih tinggi
pada saat putaran mesin masih rendah. "Jadi dianjurkan dapatkan gigi
tinggi pada saat rpm masih rendah," kata dia. Beberapa penelitian
terakhir menunjukan, bahwa gigi lima pada kendaraan bisa diperoleh,
bahkan pada saat kendaraan masih berada pada RPM (rotation per
minute) 2500. "Bahkan pada mesin diesel, RPM 2000 sudah bisa
mencapai gigi enam," imbuhnya.
Teknik pemindahan perseneling secara cepat, seperti ini baru satu
cara penghematan. Cara yang lain adalah menghindari pengereman dan
akselerasi tak perlu. "Seperti pada saat kita lihat lampu merah
sekitar 50 meter di depan kita. Bila kita menghadapi kondisi
tersebut, kita bisa memindahkan gigi ke posisi netral. Hingga mobil
melaju dengan gaya dorong secara alami," papar Junistra lagi.
Pengereman yang tak perlu atau secara mendadak, akan memboroskan
energi. Dengan menghilangkan kebiasaan tersebut, paling tidak kita
akan menghemat bahan bakar hingga 10 persen banyaknya.
Langkah selanjutnya merupakan mematikan mesin mobil, pada saat kita
harus berhenti lebih dari satu menit. Karena tetap menyalakan
kendaraan, sama saja tetap melakukan proses pembakaran energi.
Sementara tujuan mungkin masih jauh di depan mata. Dengan mematikan
mesin, paling tidak kita menghemat selisih pembakaran energi, saat
harus menunggu.
Penghematan juga bisa dilakukan dengan memperhatikan beban di
kendaraan kita. Logikanya semakin berat beban yang kita bawa,
berarti semakin banyak energi dibutuhkan untuk membawanya.
Aerodinamis badan kendaraan juga harus diperhatikan. Jangan hanya
karena ingin gaya berlebihan, kita mengorbankan faktor aerodinamis
tersebut. Pada kecepatan tertentu, kendaraan akan semakin berat
menembus angin. Dengan sistem aerodinamis yang sudah diperhitungkan
perusahaan penyedia mobil. Maka tak perlu rasanya kita menambah
hal-hal yang tak penting lainnnya.
Sebagai penutup, tetap utamakan faktor keselamatan. Pakai logika
dengan benar. Jangan terlalu memaksakan menghemat energi, justru
celaka kita harus hadapi. Seperti memposisikan gigi netral, pada
jalan turun di pegunungan contohnya.
Sekali lagi. Hidup modern bukan berarti tak peduli dengan sekeliling.
Dengan menghemat energi dari kendaraan yang kita punya. Paling tidak
kita telah membantu menghemat, pemakaian energi oleh 4 juta
kendaraan yang ada di kota sekarang. n
|
|