|
Nglepen, Dusun yang
Tinggal Kenangan
Oleh
Yuyuk Sugarman
YOGYAKARTA-“Dusun Nglepen ini tinggal kenangan. Nanti bisa untuk
cerita pada cucu bahwa kakeknya dulu tinggal di dusun ini yang porak
poranda dalam hitungan detik,” ungkap Rubiman (38) saat ditemui SH
baru-baru ini.
Ia lantas menceritakan peristiwa 27 Mei lalu. Pagi itu, sekitar
pukul 05.30 WIB, hampir seluruh warga Dusun Nglepen, Sumberharjo,
Prambanan, yang terletak di lereng bukit Patuk, sudah bangun dan
melakukan aktivitas.
Di tengah-tengah kesibukan pada pagi itu, tiba-tiba saja bumi terasa
bergetar begitu kencang. Tak pelak seluruh warga tunggang langgang
keluar dari rumah masing-masing. Mereka dikumpulkan ketua RT
setempat di sebuah tanah lapang.
Hanya selang beberapa menit, tanah di Dusun Nglepen ini kembali
berguncang disertai dengan suara ledakan yang keras. “Suaranya
seperti bom. Ada asap yang membumbung tinggi di sebelah timur tempat
kami berkumpul di lapangan itu,” ujar Rubiman yang juga sebagai
Ketua RT Nglepen ini.
Jerit tangis dan teriakan ketakutan para warga tak terelakkan lagi.
Apalagi tanah lapang tempat mereka berkumpul juga terasa amblek dan
beberapa bagian merekah panjang selebar 2-5 sentimeter.
“Kami sudah pasrah, tak tahu apa yang harus kami perbuat. Yang bisa
kami lakukan hanyalah menyebut nama Tuhan memohon pertolongan dan
ampunan,” kata Rubiman, bapak dari dua anak ini.
Ketika dipastikan bumi tak bergetar lagi, beberapa warga mulai
memeriksa keadaan sekitar, sembari mencari saudaranya atau
tetangganya yang tertinggal tak sempat kumpul di lapangan. “Ada
beberapa orang, di antaranya ibu-ibu masih ketinggalan di sekitar
rumah masing-masing. Mereka masih mencari anaknya yang terpisah dari
pelukannya,” kata Rubiman.
Semua warga Nglepen yang berjumlah 20 keluarga itu sangat bersyukur,
karena tak ada satu jiwa pun yang melayang. Mereka bisa lolos dari
bencana gempa bumi yang dahsyat.
“Hanya satu warga yang luka-luka ringan. Bahkan ada satu anak yang
keluar dari puing-puing rumah mereka yang ambruk juga dalam keadaan
selamat tanpa luka sedikitpun. Ini merupakan kebesaran Allah,” tutur
Rubiman.
Namun, seluruh warga Dusun Nglepen menjadi terperangah, tak percaya
begitu melihat keadaan dusunnya. Di tengah-tengah dusunnya itu,
terdapat rekahan tanah selebar 20 meter, sedalam 4 meter dan
sepanjang hampir 300 meter. Tiga rumah yang berdiri di tanah yang
kini merekah hancur lebur masuk ke dalam rekahan bumi itu. Rumah itu
masing-masing milik Kartoredjo (63), Rubingan (43), dan Sarwani
(40).
“Memang ada sisa rumah Pak Kartorejo yang masih berdiri. Tapi sisa
rumah itu telah bergeser ke timur sejauh 15 meter dan kini berada di
pinggiran rekahan,” kata Rubiman.
Kartorejo, Sarwani, dan Rubingan beserta keluarganya, meski rumahnya
hancur dan masuk dalam rekahan tetap selamat. Mereka sempat
menyelamatkan diri ke tanah lapang. “Syukur, kami sekeluarga selamat.
Hanya rumah kami hancur,” ujar Kartorejo yang saat terjadi gempa
itu-bersama isteri dan kedua anaknya-sedang berada di luar rumah.
“Mungkin ini sudah diatur Tuhan,” tambahnya terlihat pasrah, karena
ia tak tahu lagi harus ke mana.
Minta Direlokasi
Memang, boleh dikatakan seluruh warga Dusun Nglepen saat ini tak
tahu harus bagaimana lagi harus bertempat tinggal. Sebab, tak
mungkin mereka bisa mendirikan rumah di atas tanah mereka sebelumnya.
Bisa dibilang, meski ada rumah yang tetap tegak berdiri, namun di
sekelilingnya terdapat rekahan-rekahan tanah yang memanjang dan
selebar 2-5 sentimeter, di samping bergeser dari tempatnya semula
hingga mencapai 1-2 meter.
”Tanah di pedusunan kami sudah sangat mengkhawatirkan sebab
sewaktu-waktu akan longsor. Tidak tertutup kemungkinan jika terjadi
gempa susulan tanah di sini akan bergerak melorot ke Dusun Sengir
yang ada di bawah kami,” tambah Rubiman. Apalagi, jalan menuju Dusun
Sengir yang semula landai dan bisa dilewati mobil, kini keadaannya
turun menajam. “Sekarang dilewati motor pun mikir,” ungkap Rubiman
lagi.
Dengan keadaan seperti inilah, warga sepakat meminta pemerintah bisa
merelokasi mereka ke tempat yang lebih aman. Dari 20 KK itu, menurut
Rubiman, sebanyak 16 keluarga telah setuju. “Terserah di mana, yang
penting kami masih ada di sekitar sini, karena kami tak ingin
kehilangan mata pencaharian kami selama ini,” ungkap Rubiman seraya
menambahkan, mayoritas pencaharian warga Dusun Nglepen adalah petani
dan buruh bangunan.
Kepala Bidang Mitigasi Bencana Geologi dan Pergerakan Tanah ESDM
Surono, menyatakan melihat kondisi di Nglepen maka warga harus
direlokasi. Begitu pula Bupati Sleman Ibnu Subiyanto menyatakan
bahwa sudah ada rencana merelokasi warga Dusun Nglepen bahkan juga
dusun di bawahnya, yakni Dusun Sengir.n
|
|