Senin,  26  Juni  2006

N U S A N T A R A

No.  5334

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Nglepen, Dusun yang Tinggal Kenangan   



Oleh
Yuyuk Sugarman

YOGYAKARTA-“Dusun Nglepen ini tinggal kenangan. Nanti bisa untuk cerita pada cucu bahwa kakeknya dulu tinggal di dusun ini yang porak poranda dalam hitungan detik,” ungkap Rubiman (38) saat ditemui SH baru-baru ini.
Ia lantas menceritakan peristiwa 27 Mei lalu. Pagi itu, sekitar pukul 05.30 WIB, hampir seluruh warga Dusun Nglepen, Sumberharjo, Prambanan, yang terletak di lereng bukit Patuk, sudah bangun dan melakukan aktivitas.
Di tengah-tengah kesibukan pada pagi itu, tiba-tiba saja bumi terasa bergetar begitu kencang. Tak pelak seluruh warga tunggang langgang keluar dari rumah masing-masing. Mereka dikumpulkan ketua RT setempat di sebuah tanah lapang.
Hanya selang beberapa menit, tanah di Dusun Nglepen ini kembali berguncang disertai dengan suara ledakan yang keras. “Suaranya seperti bom. Ada asap yang membumbung tinggi di sebelah timur tempat kami berkumpul di lapangan itu,” ujar Rubiman yang juga sebagai Ketua RT Nglepen ini.
Jerit tangis dan teriakan ketakutan para warga tak terelakkan lagi. Apalagi tanah lapang tempat mereka berkumpul juga terasa amblek dan beberapa bagian merekah panjang selebar 2-5 sentimeter.
“Kami sudah pasrah, tak tahu apa yang harus kami perbuat. Yang bisa kami lakukan hanyalah menyebut nama Tuhan memohon pertolongan dan ampunan,” kata Rubiman, bapak dari dua anak ini.
Ketika dipastikan bumi tak bergetar lagi, beberapa warga mulai memeriksa keadaan sekitar, sembari mencari saudaranya atau tetangganya yang tertinggal tak sempat kumpul di lapangan. “Ada beberapa orang, di antaranya ibu-ibu masih ketinggalan di sekitar rumah masing-masing. Mereka masih mencari anaknya yang terpisah dari pelukannya,” kata Rubiman.
Semua warga Nglepen yang berjumlah 20 keluarga itu sangat bersyukur, karena tak ada satu jiwa pun yang melayang. Mereka bisa lolos dari bencana gempa bumi yang dahsyat.
“Hanya satu warga yang luka-luka ringan. Bahkan ada satu anak yang keluar dari puing-puing rumah mereka yang ambruk juga dalam keadaan selamat tanpa luka sedikitpun. Ini merupakan kebesaran Allah,” tutur Rubiman.
Namun, seluruh warga Dusun Nglepen menjadi terperangah, tak percaya begitu melihat keadaan dusunnya. Di tengah-tengah dusunnya itu, terdapat rekahan tanah selebar 20 meter, sedalam 4 meter dan sepanjang hampir 300 meter. Tiga rumah yang berdiri di tanah yang kini merekah hancur lebur masuk ke dalam rekahan bumi itu. Rumah itu masing-masing milik Kartoredjo (63), Rubingan (43), dan Sarwani (40).
“Memang ada sisa rumah Pak Kartorejo yang masih berdiri. Tapi sisa rumah itu telah bergeser ke timur sejauh 15 meter dan kini berada di pinggiran rekahan,” kata Rubiman.
Kartorejo, Sarwani, dan Rubingan beserta keluarganya, meski rumahnya hancur dan masuk dalam rekahan tetap selamat. Mereka sempat menyelamatkan diri ke tanah lapang. “Syukur, kami sekeluarga selamat. Hanya rumah kami hancur,” ujar Kartorejo yang saat terjadi gempa itu-bersama isteri dan kedua anaknya-sedang berada di luar rumah. “Mungkin ini sudah diatur Tuhan,” tambahnya terlihat pasrah, karena ia tak tahu lagi harus ke mana.

Minta Direlokasi
Memang, boleh dikatakan seluruh warga Dusun Nglepen saat ini tak tahu harus bagaimana lagi harus bertempat tinggal. Sebab, tak mungkin mereka bisa mendirikan rumah di atas tanah mereka sebelumnya.
Bisa dibilang, meski ada rumah yang tetap tegak berdiri, namun di sekelilingnya terdapat rekahan-rekahan tanah yang memanjang dan selebar 2-5 sentimeter, di samping bergeser dari tempatnya semula hingga mencapai 1-2 meter.
”Tanah di pedusunan kami sudah sangat mengkhawatirkan sebab sewaktu-waktu akan longsor. Tidak tertutup kemungkinan jika terjadi gempa susulan tanah di sini akan bergerak melorot ke Dusun Sengir yang ada di bawah kami,” tambah Rubiman. Apalagi, jalan menuju Dusun Sengir yang semula landai dan bisa dilewati mobil, kini keadaannya turun menajam. “Sekarang dilewati motor pun mikir,” ungkap Rubiman lagi.
Dengan keadaan seperti inilah, warga sepakat meminta pemerintah bisa merelokasi mereka ke tempat yang lebih aman. Dari 20 KK itu, menurut Rubiman, sebanyak 16 keluarga telah setuju. “Terserah di mana, yang penting kami masih ada di sekitar sini, karena kami tak ingin kehilangan mata pencaharian kami selama ini,” ungkap Rubiman seraya menambahkan, mayoritas pencaharian warga Dusun Nglepen adalah petani dan buruh bangunan.
Kepala Bidang Mitigasi Bencana Geologi dan Pergerakan Tanah ESDM Surono, menyatakan melihat kondisi di Nglepen maka warga harus direlokasi. Begitu pula Bupati Sleman Ibnu Subiyanto menyatakan bahwa sudah ada rencana merelokasi warga Dusun Nglepen bahkan juga dusun di bawahnya, yakni Dusun Sengir.n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003