|
Hukum bagi Semua,
kecuali Dirinya
Oleh
Benny Susetyo
Masalah mendasar dalam kasus Tibo cs bukanlah soal kontroversi
hukuman mati belaka. Ada juga pertanyaan mengapa Tibo dkk yang
dihukum mati. Pertanyaan tersebut dikedepankan karena kesalahan
mengambil langkah hari ini berdampak sangat fatal bagi masa bangsa/negara.
Dituntut kehati-hatian agar bukan saja hukum yang ditegakkan, tetapi
juga keadilan sejati dapat diraih.
Penegakan hukum harus melahirkan keadilan. Bila tidak, penegakan
hukum hanya akan melahirkan golongan-golongan belaka. Golongan ”kita”,
”aku”, ”kamu”, atau ”mereka”. Menghukum ”kita” akan berbeda dengan
saat menghukum ”mereka”. Kalau ada tokoh-tokoh terpandang bangsa ini
yang mempertanyakan keputusan ini, tentu ada sesuatu yang janggal
yang tidak terungkap. Dan realitas kini mengalami kebimbangan,
bahkan mulai menghadapi pilihan yang sempit.
Sebagian pendapat menyatakan menghukum mati Tibo dkk selamanya tidak
akan pernah menjadi solusi. Arief Budiman dalam opininya berjudul
”Hukuman Mati, Masih Perlukah?” (Kompas, 17/2/2003) menyatakan
keberatan atas alasan hukuman mati akan melahirkan efek jera. Alasan
ini tidak bisa dipertahankan karena meski sudah banyak penjahat
dihukum mati, angka kriminalitas masih terus tinggi.
Dalam kasus Tibo, alih-alih justru melahirkan masalah di kemudian
hari. Bukankah dalam setiap kerusuhan selalu ada dalang, dan mengapa
justru wayang yang dihukum?
Kambing Hitam
Menjadi percuma menghukum Tibo karena pada saatnya akan lahir
kembali tibo-tibo lain yang menjadi korban ”politik kambing hitam”.
Kita mengkhawatirkan bangsa ini yang tak pernah mau belajar dari
pengalaman. Hukum kita bahkan tak jarang luput menghukum orang.
Pencuri sandal dihukum penjara tapi koruptor kakap dibebaskan. Atau
guru SD yang dihukum seperti pelacur malam, dan diharuskan membayar
denda. Di mana gerangan keadilan? Keadilan sulit ditegakkan karena
belum ada kemauan.
Siapa membunuh Munir? Siapa membunuh Udin Bernas? Siapa membunuh
Marsinah? Kita tidak belajar dari kasus-kasus tersebut yang membuat
hukum kita hingga kini masih mandul. Kalaupun tajam, ia hanya
seperti pisau dapur karatan, yang hanya bisa mengiris ke bawah dan
tumpul mengiris ke atas. Mentalitas bangsa akan dikerdilkan begitu
rupa dengan cara menghadirkan tibo-tibo sebagai kambing hitam.
Soal rasanya menjadi kambing hitam, tanyakan saja kepada Budiman
Sudjatmiko. Dan ingat tidak ada rahasia abadi. Semua pasti akan
terbuka pada saatnya nanti – serapat apapun rahasia tersimpan. Kini
semua orang tahu Budiman adalah kambing hitam dari sebuah pergolakan
politik kekuasaan. Munir mati karena rekayasa, Udin dan Marsinah
juga mati karena sebuah kezaliman.
Memori bangsa ini sampai kapanpun tidak akan melalaikan
peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut. Peristiwa itu menyangkut
bagaimana rakyat kecil berjuang menegakkan keadilan tetapi hasilnya
justru maut cepat yang menjemput.
Kita dan Mereka
Banyak kasus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya. Tiba-tiba
saja hukuman dijatuhkan. Hukum masih jauh dari keadilan dan tidak
melindungi yang lemah. Keadilan yang tercipta masihlah normatif,
bukan substansial. Keadilan seperti ini hanya melahirkan kambing
hitam. Keputusan pengadilan selalu dianggap adil.
Aparat negara ini belum memiliki nyali kuat untuk menegakkan
keadilan. Dan menegakkan demokrasi tanpa keadilan omong kosong.
Demokrasi hukum membutuhkan ruang bagi setiap orang untuk menerima
keadilan. Siapa yang layak dihukum berat dan ringan, harus jelas dan
tegas. Ketimpangan menegakkan keadilan hanya akan melahirkan
keadilan untuk ”kita”, tapi tidak untuk ”mereka”.
Kita pernah mendengar cerita kepenguasaan Paus Gregorius VII
(1073-1085). Tahun 1075, Paus Gregorius VII mengeluarkan maklumat
penting Reformatio Totius Orbis. Tujuannya? Menata ulang tertib
semesta yang mengikat siapapun, kecuali dirinya.
Di masa kini, hukum tampaknya masih berlaku demikian. Ia berlaku
untuk ”kita” tapi belum untuk ”mereka”. Dan untuk menggolongkan diri
menjadi ”kita” atau ”mereka” pun tidak sulit. Kita bisa menjadi
”kita” dan suatu saat menjadi ”mereka”, tergantung seberapa dekat
hukum bisa kita atur dengan kekuatan, kekuasaan dan terutama uang.
Akhirnya, di saat jeda penangguhan eksekusi untuk Tibo dkk adalah
saat tepat bagi ”kita” dan ”mereka” untuk mawas diri dan berefleksi
mendalam. Hukum harus diterapkan setara, sebab dalam hukum tidak
pernah ada ”kita” dan ”mereka”. Semua sama saja.
Penulis adalah pendiri Setara Institute
|
|