Rabu,  15 Februari  2006

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5227

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Gores Grafis Slovakia, Fantasi yang Menyentuh Arkeologi

 



Oleh
Sihar Ramses Simatupang

JAKARTA – Slovakia adalah sebuah negeri dengan perjalanan kultur yang dipengaruhi dunia seni rupa global. Teknik grafis di masa modern pun terpulas dalam bingkai visual yang menarik lewat persentuhan dengan budaya lain. Mulai dari era Stalin, avant garde Eropa, juga ikonografi masa klasik dan pengaruh Asia.
Kekayaan seni kontemporer Slovakia itu diperlihatkan dalam pameran seni grafis di Galeri Cemara, Jakarta, hingga akhir bulan ini. Dalam pameran ini, Andrej Augsutin memunculkan karya grafis dengan tajuk “Mandala Snake” (2003) yang memperlihatkan putaran Mandala dari tubuh dua ekor ular yang dipertemukan. Seperti kilasan filosofi yin-yang China, beberapa penanda dari Asia dimunculkan antara lain berupa tumbuhan, juga pola hiasan.
Bahkan, Anna Gajova memperlihatkan karya “Apotheosis” (1993), dengan teknik etching, yang menampilkan sosok karikatural bertangan yang membawa buah seakan manusia, sosok yang bersepatu seolah makhluk hidup dengan mata dan kaki.
Atau filosofi dalam karya Ondrej Rudavsky jr, yang bertajuk “Between Times” (2002) dengan teknik digital print, menampilkan manusia-manusia yang berlari dalam dua putaran besar, sementara di tengahnya banyak ikon yang mengingatkan pada berbagai bentuk ikon multikultur.
Ada beberapa aliran yang khas pada seniman yang ada, seperti ungkapan kurator Rifky Effendy dan Aminuddin Th Siregar antara lain dekorasi yang kental dalam karya Jarmila Pavlickova, surealistik pada Josef Duzik hingga abstraknya Peter Augustovic yang formal atau Jitka Besurova yang liris.
Negeri yang kemudian menjadi negara Slovakia, berasal dari pembauran bangsa-bangsa termasuk Kelt, Romawi, Teuton dengan tiga bahasa yaitu Jerman, Hungarian dan Slovaki, menghasilkan pembauran budaya yang sangat kental pada kekayaan tampilan, termasuk objek dan ikon yang ditampilkan dalam seni grafisnya.

Orisinalitas
Kekayaan para seniman grafis dalam pameran yang dibuka oleh Duta Besar Republik Slovakia, Peter Holasek, ini diadakan dengan kerja sama Deniek dan Karin Sukarya juga Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Seni grafis kontemporer yang dipaparkan oleh Mgr Zora Petrasova, dari Slovak Association of Graphic Artists, telah dirintis oleh para tokohnya antara lain Mikulas Ganda, Ludofit Fulla, Koloman Sokol, Orest Dubay hingga Albin Brunovsky itu, mengalami varian yang begitu banyak.
Walau di luar saling pengaruh dan konvensi budaya di negeri ini, yang tak luput dari tampilan mereka adalah eksplorasi individual dari senimannya, orisinalitas dan ungkapan artistik.
Lihatlah bagaimana kepurbaan sejarah disentuh oleh Ivan Kovacik lewat karyanya bertajuk “Atlantis” (2000) yang berupa serigrafi. Dalam karya Ivan itu, dimunculkan bentuk pulau “Atlantida” lalu pembesaran beragam makhluk purba yang ada di samudra itu.
Bentuk-bentuk aneh dari makhluk yang bisa jadi ada di dalam penemuan fosil dalam sejarah ilmuwan modern. Fantasi yang menyentuh arkeologi!
Ada juga karya yang cenderung abstrak geometris, bentuk yang deformatif dalam objek yang ditampilkan. Fantasi yang dimunculkan pun beragam, dari mulai nuansa filosofis, satir bahkan ironi yang menyentuh. Abad kontemporer dalam kesenian telah membuka dunia grafis dalam loncatan yang mengagumkan lewat kekayaan estetis dan eksperimen bahasa visual yang tak kalah dibandingkan patung atau pun dunia seni lukis. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003