|
Gores Grafis
Slovakia, Fantasi yang Menyentuh Arkeologi
Oleh
Sihar Ramses Simatupang
JAKARTA – Slovakia adalah sebuah negeri dengan perjalanan kultur
yang dipengaruhi dunia seni rupa global. Teknik grafis di masa
modern pun terpulas dalam bingkai visual yang menarik lewat
persentuhan dengan budaya lain. Mulai dari era Stalin, avant garde
Eropa, juga ikonografi masa klasik dan pengaruh Asia.
Kekayaan seni kontemporer Slovakia itu diperlihatkan dalam pameran
seni grafis di Galeri Cemara, Jakarta, hingga akhir bulan ini. Dalam
pameran ini, Andrej Augsutin memunculkan karya grafis dengan tajuk
“Mandala Snake” (2003) yang memperlihatkan putaran Mandala dari
tubuh dua ekor ular yang dipertemukan. Seperti kilasan filosofi
yin-yang China, beberapa penanda dari Asia dimunculkan antara lain
berupa tumbuhan, juga pola hiasan.
Bahkan, Anna Gajova memperlihatkan karya “Apotheosis” (1993), dengan
teknik etching, yang menampilkan sosok karikatural bertangan yang
membawa buah seakan manusia, sosok yang bersepatu seolah makhluk
hidup dengan mata dan kaki.
Atau filosofi dalam karya Ondrej Rudavsky jr, yang bertajuk “Between
Times” (2002) dengan teknik digital print, menampilkan
manusia-manusia yang berlari dalam dua putaran besar, sementara di
tengahnya banyak ikon yang mengingatkan pada berbagai bentuk ikon
multikultur.
Ada beberapa aliran yang khas pada seniman yang ada, seperti
ungkapan kurator Rifky Effendy dan Aminuddin Th Siregar antara lain
dekorasi yang kental dalam karya Jarmila Pavlickova, surealistik
pada Josef Duzik hingga abstraknya Peter Augustovic yang formal atau
Jitka Besurova yang liris.
Negeri yang kemudian menjadi negara Slovakia, berasal dari pembauran
bangsa-bangsa termasuk Kelt, Romawi, Teuton dengan tiga bahasa yaitu
Jerman, Hungarian dan Slovaki, menghasilkan pembauran budaya yang
sangat kental pada kekayaan tampilan, termasuk objek dan ikon yang
ditampilkan dalam seni grafisnya.
Orisinalitas
Kekayaan para seniman grafis dalam pameran yang dibuka oleh Duta
Besar Republik Slovakia, Peter Holasek, ini diadakan dengan kerja
sama Deniek dan Karin Sukarya juga Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Seni grafis kontemporer yang dipaparkan oleh Mgr Zora Petrasova,
dari Slovak Association of Graphic Artists, telah dirintis oleh para
tokohnya antara lain Mikulas Ganda, Ludofit Fulla, Koloman Sokol,
Orest Dubay hingga Albin Brunovsky itu, mengalami varian yang begitu
banyak.
Walau di luar saling pengaruh dan konvensi budaya di negeri ini,
yang tak luput dari tampilan mereka adalah eksplorasi individual
dari senimannya, orisinalitas dan ungkapan artistik.
Lihatlah bagaimana kepurbaan sejarah disentuh oleh Ivan Kovacik
lewat karyanya bertajuk “Atlantis” (2000) yang berupa serigrafi.
Dalam karya Ivan itu, dimunculkan bentuk pulau “Atlantida” lalu
pembesaran beragam makhluk purba yang ada di samudra itu.
Bentuk-bentuk aneh dari makhluk yang bisa jadi ada di dalam penemuan
fosil dalam sejarah ilmuwan modern. Fantasi yang menyentuh arkeologi!
Ada juga karya yang cenderung abstrak geometris, bentuk yang
deformatif dalam objek yang ditampilkan. Fantasi yang dimunculkan
pun beragam, dari mulai nuansa filosofis, satir bahkan ironi yang
menyentuh. Abad kontemporer dalam kesenian telah membuka dunia
grafis dalam loncatan yang mengagumkan lewat kekayaan estetis dan
eksperimen bahasa visual yang tak kalah dibandingkan patung atau pun
dunia seni lukis. n
|
|