|
Kelaparan dan
Diversifikasi Pangan di Papua
Oleh
Viktor Siagian
Berita kelaparan yang menewaskan 55 orang dan 112 orang sakit parah
di Kabupaten Yahukimo (pecahan Kabupaten Jayawijaya), Papua, sungguh
mengejutkan kita. Kejadian ini bukan baru kali ini terjadi di sana.
Korbannya bisa mencapai ratusan orang. Sekalipun Papua adalah
wilayah kaya sumber daya alamnya tetapi kemiskinan di provinsi ini
sangat tinggi. Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi
di Indonesia, yaitu 39.0% (2003).
Makanan pokok di Papua yaitu ubi jalar di daerah pegunungan dan sagu
di daerah pesisir. Potensi sagu di Papua sangat besar. Jika tidak
ada ekspansi manusia besar-besaran potensi sagu ini tidak akan habis
sampai tujuh generasi. Jadi penduduk pesisir Papua logikanya tidak
akan pernah kelaparan karena tinggal tebang (menokok) sagu saja.
Namun dalam beberapa tahun terakhir pola konsumsi di pesisir sudah
berubah. Penduduk sudah banyak yang makan nasi (beras) sebagai
makanan pokok karena lebih tersedia terutama dari para transmigran.
Untuk mendapatkan sagu perlu 2- 3 hari menokoknya di hutan sagu
milik adat yang dikapling berdasarkan marga-marga tertentu.
Orang Irian biasanya menokok sagu 4 – 6 kali per tahun dan sekali
nokok sagu biasanya 2- 4 tumang (40 – 50 kg/tumang). Harganya
mengacu ke beras medium saat ini Rp 3.500 – 4.000/kg. Lain halnya di
daerah pegunungan, ubi jalar merupakan tanaman musiman yang harus
ditanam setiap musim. Ubi jalar memang sangat cocok untuk daerah
berhawa dingin.
Kabupaten Baru
Untuk membudidayakan tanaman ini tidak sukar dan hama penyakit
cenderung rendah. Tanaman ini dapat dipanen 4 bulan. Ubi jalar tidak
dapat disimpan lama (< 1 bulan) seperti beras.
Kelaparan terjadi karena gagal panen akibat terlalu banyaknya hujan.
Jika aparat sudah mengetahui keadaannya, seharusnya sudah ada
tindakan pencegahan, misalnya dengan meminta bantuan dari Dinas
Sosial dan Ketahanan Pangan. Ramalan dari aparat Dinas Pertanian/Ketahanan
Pangan sangat diperlukan. Dari analisis lapangan mereka akan
memberikan rekomendasi tentang perlu tidaknya bantuan pangan.
Tetapi infrastruktur untuk ketahanan pangan di daerah ini sangat
minim terutama pada kabupaten-kabupaten baru yang banyak bermunculan
di Papua. Gudang Sub Dolog biasanya hanya ada di tingkat kabupaten
padahal jarak dari ibu kota kabupaten ke daerah ini sangat jauh dan
sulit dijangkau dengan transportasi darat. Di pegunungan Jayawijaya
satu-satunya alat transportasi adalah angkutan udara yang
frekuensinya tidak tetap dan ongkosnya mahal. Cuaca di sini juga
tidak ramah dan sangat cepat berubah.
Beberapa Langkah
Ada beberapa langkah strategis yang harus ditempuh pemerintah agar
tragedi kelaparan di Papua tidak berulang.
Pemda kabupaten harus memiliki pesawat udara sendiri, minimal satu
unit. Ini sangat mungkin dilakukan karena provinsi Irian memiliki
DAU dan dana perimbangan bagi hasil yang besar.
Di setiap kabupaten, bahkan (karena luasnya wilayah) di setiap
kecamatan harus dibangun gudang Sub Dolog.
Investasi diperlukan untuk membangun prasarana transportasi darat.
Menempatkan tenaga-tenaga penyuluh pertanian yang mengerti budi daya
dan agama orang Papua karena teknik budi daya tamanan ubi jalar dan
ubi kayu masyarakat asli masih rendah. Inovasi teknologi budi daya
yang mereka dapatkan selama ini lebih banyak dari para missionaris
dan pendeta/pastor dan guru jemaat gereja.
Tenaga-tenaga relawan dari Sekolah Kesejahteraan Sosial sangat
diperlukan di daerah ini, imbalannya angkat mereka jadi pegawai
negeri.
Jika ada voluntir dari LSM asing dan nasional harus kita dukung.
Menyediakan alat komunikasi Single Side Band (SSB) sampai tingkat
desa. Alat tidak terlalu mahal untuk ukuran saat ini. Perusahaan HPH,
Perkebunan, subkontraktor/kontraktor Migas, dll biasanya memiliki
ini sebagai salah satu alat komunikasi. Rawan pangan yang sudah
terjadi sejak pertengahan November baru diketahui sekarang karena
minimnya alat komunikasi. Bantuan hibah solar energy di daerah
terpencil, seperti yang sudah diterapkan di sebagian wilayah
Indonesia. Adanya listrik akan mempercepat transformasi teknologi
dan informasi.
Perlukah mendiversifikasi pangan dari ubi jalar ke beras? Tidak
perlu, karena ubi jalar/ubi merupakan makanan tradisionil dan bagian
dari adat mereka. Disamping itu tanaman padi secara agronomis kurang
cocok di daerah yang ketinggiannnya >1 500 m dpl. Lebih baik
mengintrodusir varitas unggul berdaya hasil tinggi dari ubi jalar.
Diversifikasi untuk ketahanan pangan lebih baik berjalan alami
seperti yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Irian Jaya. Karena
tanaman sagu sangat banyak di pesisir Papua, makanan pokok inilah
yang sebaiknya diintrodusir sebagai penyangga rawan pangan bagi
masyarakat pegunungan karena tersedia dan murah dan dapat disimpan
lama.
Penulis adalah Peneliti pada Pusat Analisa Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian, Badan Litbang Dep. Pertanian, Bogor
|
|