Rabu, 14 Desember 2005

O P I N I

No.  5175

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Kelaparan dan Diversifikasi Pangan di Papua



Oleh
Viktor Siagian

Berita kelaparan yang menewaskan 55 orang dan 112 orang sakit parah di Kabupaten Yahukimo (pecahan Kabupaten Jayawijaya), Papua, sungguh mengejutkan kita. Kejadian ini bukan baru kali ini terjadi di sana. Korbannya bisa mencapai ratusan orang. Sekalipun Papua adalah wilayah kaya sumber daya alamnya tetapi kemiskinan di provinsi ini sangat tinggi. Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia, yaitu 39.0% (2003).
Makanan pokok di Papua yaitu ubi jalar di daerah pegunungan dan sagu di daerah pesisir. Potensi sagu di Papua sangat besar. Jika tidak ada ekspansi manusia besar-besaran potensi sagu ini tidak akan habis sampai tujuh generasi. Jadi penduduk pesisir Papua logikanya tidak akan pernah kelaparan karena tinggal tebang (menokok) sagu saja.
Namun dalam beberapa tahun terakhir pola konsumsi di pesisir sudah berubah. Penduduk sudah banyak yang makan nasi (beras) sebagai makanan pokok karena lebih tersedia terutama dari para transmigran. Untuk mendapatkan sagu perlu 2- 3 hari menokoknya di hutan sagu milik adat yang dikapling berdasarkan marga-marga tertentu.
Orang Irian biasanya menokok sagu 4 – 6 kali per tahun dan sekali nokok sagu biasanya 2- 4 tumang (40 – 50 kg/tumang). Harganya mengacu ke beras medium saat ini Rp 3.500 – 4.000/kg. Lain halnya di daerah pegunungan, ubi jalar merupakan tanaman musiman yang harus ditanam setiap musim. Ubi jalar memang sangat cocok untuk daerah berhawa dingin.

Kabupaten Baru
Untuk membudidayakan tanaman ini tidak sukar dan hama penyakit cenderung rendah. Tanaman ini dapat dipanen 4 bulan. Ubi jalar tidak dapat disimpan lama (< 1 bulan) seperti beras.
Kelaparan terjadi karena gagal panen akibat terlalu banyaknya hujan. Jika aparat sudah mengetahui keadaannya, seharusnya sudah ada tindakan pencegahan, misalnya dengan meminta bantuan dari Dinas Sosial dan Ketahanan Pangan. Ramalan dari aparat Dinas Pertanian/Ketahanan Pangan sangat diperlukan. Dari analisis lapangan mereka akan memberikan rekomendasi tentang perlu tidaknya bantuan pangan.
Tetapi infrastruktur untuk ketahanan pangan di daerah ini sangat minim terutama pada kabupaten-kabupaten baru yang banyak bermunculan di Papua. Gudang Sub Dolog biasanya hanya ada di tingkat kabupaten padahal jarak dari ibu kota kabupaten ke daerah ini sangat jauh dan sulit dijangkau dengan transportasi darat. Di pegunungan Jayawijaya satu-satunya alat transportasi adalah angkutan udara yang frekuensinya tidak tetap dan ongkosnya mahal. Cuaca di sini juga tidak ramah dan sangat cepat berubah.

Beberapa Langkah
Ada beberapa langkah strategis yang harus ditempuh pemerintah agar tragedi kelaparan di Papua tidak berulang.
Pemda kabupaten harus memiliki pesawat udara sendiri, minimal satu unit. Ini sangat mungkin dilakukan karena provinsi Irian memiliki DAU dan dana perimbangan bagi hasil yang besar.
Di setiap kabupaten, bahkan (karena luasnya wilayah) di setiap kecamatan harus dibangun gudang Sub Dolog.
Investasi diperlukan untuk membangun prasarana transportasi darat.
Menempatkan tenaga-tenaga penyuluh pertanian yang mengerti budi daya dan agama orang Papua karena teknik budi daya tamanan ubi jalar dan ubi kayu masyarakat asli masih rendah. Inovasi teknologi budi daya yang mereka dapatkan selama ini lebih banyak dari para missionaris dan pendeta/pastor dan guru jemaat gereja.
Tenaga-tenaga relawan dari Sekolah Kesejahteraan Sosial sangat diperlukan di daerah ini, imbalannya angkat mereka jadi pegawai negeri.
Jika ada voluntir dari LSM asing dan nasional harus kita dukung.
Menyediakan alat komunikasi Single Side Band (SSB) sampai tingkat desa. Alat tidak terlalu mahal untuk ukuran saat ini. Perusahaan HPH, Perkebunan, subkontraktor/kontraktor Migas, dll biasanya memiliki ini sebagai salah satu alat komunikasi. Rawan pangan yang sudah terjadi sejak pertengahan November baru diketahui sekarang karena minimnya alat komunikasi. Bantuan hibah solar energy di daerah terpencil, seperti yang sudah diterapkan di sebagian wilayah Indonesia. Adanya listrik akan mempercepat transformasi teknologi dan informasi.
Perlukah mendiversifikasi pangan dari ubi jalar ke beras? Tidak perlu, karena ubi jalar/ubi merupakan makanan tradisionil dan bagian dari adat mereka. Disamping itu tanaman padi secara agronomis kurang cocok di daerah yang ketinggiannnya >1 500 m dpl. Lebih baik mengintrodusir varitas unggul berdaya hasil tinggi dari ubi jalar.
Diversifikasi untuk ketahanan pangan lebih baik berjalan alami seperti yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Irian Jaya. Karena tanaman sagu sangat banyak di pesisir Papua, makanan pokok inilah yang sebaiknya diintrodusir sebagai penyangga rawan pangan bagi masyarakat pegunungan karena tersedia dan murah dan dapat disimpan lama.

Penulis adalah Peneliti pada Pusat Analisa Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Litbang Dep. Pertanian, Bogor

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003