|
Belenggu Perempuan
Buru dalam Kawin Piara
Oleh
Emmy Kuswandari
JAKARTA – Anak perempuan Pulau Buru adalah korban. Di hadapan
tradisi, mereka harus pasrah dipinang dalam usia belia, enam tahun
atau bahkan saat masih dalam kandungan oleh lelaki dewasa yang
sedang mencari istri. Dalam kebiasaan masyarakat Buru, ketika
pinangan sudah dilakukan, sang anak dilarang untuk sekolah lagi.
Istilah setempat mengatakan ”kawin piara”. Anak yang sudah dipinang
dipelihara sampai dirasa siap untuk menjadi ibu dan mengurus rumah
tangga.
Sebut saja Lusia Latun. Di usia yang sudah senja tersebut bertutur,
ia dipinang ketika usia enam tahun. Ayahnya pernah mendaftarkannya
ke sekoah, tapi usaha tersebut terpaksa dibatalkan karena Lusi
dilarang sekolah oleh keluarga calon mertuanya.
Lusi dipinang oleh Agus Hukunala menjadi istri ketiga sebagai
pengganti kakak perempuan Agus Hukunala. Kakak perempuan Agus
sendiri dijadikan istri kedua oleh sang ayah. Singkatnya, Lusi
dipertukarkan oleh sang ayah. Dalam kebiasaan masyarakat Buru,
perempuan bisa dipertukarkan bahkan diteruskan pada lelaki lain
dalam satu keluarga jika suaminya telah meninggal.
Mama Lusi, demikian ia dipanggil ketika sudah menikah dengan Agus,
dikarunia delapan anak. Ia berharap tidak ada lagi anaknya yang
bernasib sama seperti dirinya. Namun sayang, anaknya nomor lima Ince
Hukunala mengalami nasib yang sama. Gadis kecilnya tersebut pada
saat tahun pertama ia menginjakkan kaki di sekolahnya.
Ince dipinangkan oleh ayahnya dengan Roby Wael, anak lelaki dusun
tetangga yang baru duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Mama
Lusi tidak bisa menolak. Pinangan tersebut untuk membuat tali
persaudaraan kedua keluarga tersebut lebih erat.
Sama seperti mamanya dulu, Ince hanya bisa bermain di seputar rumah,
menunggu Roby selesai sekolah dan menikah pada saatnya nanti.
Menjadi seorang istri, melahirkan, merawat anak, memasak, ke kebun
hingga ke ladang. Bekerja dari matahari terbit hingga larut malam.
Pinangan tersebut, secara adat Buru, keluarga Ince menerima uang
sebesar Rp 4 juta dengan 500 jenis harta benda seperti piring, gelas,
tifa, gong, tombak, dan lainnya. Itulah harga Ince.
Harta dan Perempuan
Tradisi kawin piara ini hingga kini masih ada. Perkawinan ini
melibatkan harta untuk dipertukarkan dengan perempuan. Jumlah uang
berkisar Rp 100.000 hingga yang tertinggi Rp 25 juta. Harta benda
mencakup barang pecah belah, barang-barang dapur, kain putih yang
semuanya bisa berjumlah 100–500 buah. Urusan harta ini ditentukan
oleh orang tua perempuan dan diketahui kepala soa (kepala marga).
Mama Lusi dan Ince hanyalah sepenggal kisah nyata yang terangkum
dalam buku Seribu Impian Perempuan Buru, Kisah-kisah Pergulatan
Dalam Masalah Pendidikan yang oleh Jesuit Refugee Centre (JRS) yang
sudah 25 tahun mendampingi pengungsi di berbagai tempat di
Indonesia.
Buku ini lahir dari pengalaman dan pertemanan mendalam pekerja
lapangan JRS dengan pengungsi korban konflik di Buru dan Maluku pada
tahun 2000. Kisah-kisah yang tertuang merupakan kisah yang luar
biasa. Buku ini berkisah tentang suara penduduk asli Buru dan derita
perempuan Buru yang tidak pernah terekspos keluar.
Buru, bagi sebagian besar orang, terkenal sebagai tempat tahanan
politik kisaran tahun 1969-1979. Setelah masa pembuangan tapol
berakhir, pemerintah menempatkan transmigran di unit-unit bekas
barak tapol. Pulau Buru atau oleh penduduk asli disebut Fuka Bupolo
ini ternyata masih merentang kepiluan yang panjang.
Simak misalnya kisah Ibu Nana atau yang bernama lengkap Sisilia
Latbual, guru SD Darurat Wambasalahin Pulau Buru yang datang pada
acara peluncuran buku akhir pekan lalu di Jakarta. Ia salah seorang
perempuan yang beruntung bisa mengenyam pendidikan hingga Sekolah
Keterampilan dan Kepandaian Putri (SKKP) dan mendapatkan kesempatan
mengajar di sebuah SMP di Buru Selatan.
Sayang, kesempatan itu ia tolak. Ia memilih mengajar Paket A bagi
anak-anak di sekolah darurat, 50 kilometer dari Kota Namlea.
Ketika konflik pecah tahun 1999, ia membantu mengobati para
pengungsi. Hatinya tergerak melihat kondisi pendidikan anak-anak
yang telantar di pengungsian yang tersebar di ketel–ketel (tempat
penyulingan minyak kayu putih).
Ketel yang satu dengan yang lain terpisahkan oleh jarak berkilo-kilo
dengan medan berat yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Naik
turun lereng bukit, tanaman coklat, udara panas dan serbuan nyamuk
saat gelap. Pagi ia mengajar, malam harinya sibuk mengumpulkan
daun-daun kayu putih di sekitar ketel tempatnya mengajar untuk
menyambung hidup.
Pergulatan Ibu Nana terhadap anak-anak tidak hanya terjadi selama
mengajar, tetapi juga perjuangannya bagi anak-anak yang
tereksploitasi oleh tradisi lokal. Sebagai penduduk asli Pulau Buru
yang sempat mengenyam pendidikan di luar Pulau Buru, ia melihat hal
ini sebagai pemasungan terhadap kebebasan anak.
Tak jarang, anak didiknya yang baru duduk di bangku kelas satu
dijemput orang tuanya untuk dipinangkan dengan lelaki dewasa. Itulah
yang membuatnya bersikap keras terhadap orang tua ketika dia
mengajar program Paket A.
Dosen Studi Feminisme dan Filsafat Kontemporer Universitas Indonesia
Gadis Arivia mengatakan seringkali argumen kultural digunakan untuk
menegaskan kekerasan terhadap perempuan. Dengan mengatasnamakan
kultur, perempuan didomestifikasi, tidak ditingkatkan pendidikannya,
diatur dalam bertindak, berpakaian bahkan hak-hak reproduksi
ditentukan bukan oleh dirinya sendiri.
Negara, menurut Gadis, ikut mendukung institusi-institusi yang
memojokkan dan menegakkan argumen kultural dengan motif-motif
tertentu seperti mengontrol kehidupan perempuan.
Kode-kode Rahasia
Kisah perempuan Pulau Buru ini barangkali terlalu klasik dan kuno
untuk dunia yang sedang bergerak cepat. Mencermati kisah-kisah
perempuan Buru ini menurut Bambang Sipayung, mantan Project Director
JRS Maluku, kita justru menemukan kecerdasan subjek yang tanpa ragu
dalam persilangan budaya dan sosial yang membingungkan. Ada rahasia
tentang bagaimana mereka bertahan, beradaptasi, dan berdiplomasi
dengan kekuatan-kekuatan sosial yang mengitarinya tanpa ia harus
mengubah ketegangan dan konflik menjadi suatu bentuk-bentuk
kekerasan yang menghancurkan kehidupan bersama. Kode-kode rahasia
untuk mempertahankan kesucian hidup tanpa terjebak menjadi
penghancur kehidupan atas nama alasan yang paling suci sekalipun.
Diangkatnya kisah pergulatan perempuan Buru merupakan suatu langkah
untuk menemukan kode-kode rahasia dari suatu masyarakat, dari suatu
budaya dan dari para perempuan Buru. n
|
|