I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No.  5171

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Karst Cibinong
Menyelamatkan Fauna Gua



Oleh
Cahyo Rahmadi

CIBINONG – Letaknya di selatan Jakarta. Cibinong mempunyai kawasan karst yang belum banyak diketahui kekayaan faunanya. Sampai saat ini karst Cibinong hanya di eksploitasi untuk penambangan batu kapur guna bahan baku pabrik semen. Sementara itu, upaya kegiatan inventarisasi atau penelitian kekayaan fauna gua dan karst belum banyak dilakukan. Adanya aktivitas penambangan tentunya telah menimbulkan berbagai persoalan lingkungan yang cukup serius.
Gua-gua yang ada di kawasan Cibinong sampai saat ini pun belum terdata secara lengkap, baik dalam hal potensi guanya maupun potensi faunanya. Seolah Karst Cibinong hanya memiliki kapur sebagai satu-satunya sumber alam yang bernilai ekonomis.
Kawasan Karst Cibinong dengan luas 15 km2, diperkirakan berumur dari masa Pliosen Bawah dengan bentukan-gunung kapur, saat ini keberadaannya semakin memprihatinkan. Gunung-gunung kapur tak lagi nampak dengan bentukan-bentukan khasnya, namun telah tampak rata akibat aktivitas penambangan. Aktivitas ini tentunya membawa dampak langsung pada ekosistem karst dan gua yang ada di dalamnya. Berbagai macam flora dan fauna yang belum banyak diketahui telah lebih dulu punah.

Temuan Menarik
Survei secara cepat yang dilakukan di salah satu gua di Karst Cibinong pada September 2004 menemukan satu fauna yang sangat menarik bagi ilmu pengetahuan, yaitu isopoda akuatik. Temuan jenis ini diyakini merupakan catatan baru untuk ilmu pengetahuan tentang Pulau Jawa. Fauna akuatik ini sebelumnya hanya ditemukan di Thailand, Sumatra, Sarawak dan Kalimantan. Fauna yang diduga dari marga Stenasellus dari kelompok udang-udangan (Crustacea) diyakini menjadi satu catatan jenis baru.
Fauna yang berukuran kecil sekitar 5-8 mm, berwarna putih kemerahan dan tidak bermata ditemukan di sebuah genangan air di lekukan yang berlumpur di salah satu gua di Kecamatan Klapa Nunggal Cibinong. Fauna yang masih sekerabat dengan jenis-jenis yang ada di gua-gua Sumatra, menjadi salah satu fauna khas yang hidup di dalam gua dan keberadaannya tidak ditemukan lagi di luar gua. Fauna lain yang ditemukan adalah Kala cuka Thelyphonus caudatus (Uropygi), Kala cemeti Stygophrynus dammermani (Amblypygi) dan udang-udang yang hidup di sungai bawah tanah. Amblypygi, yang sebelumnya pernah dideskripsikan pada tahun 1928 oleh orang Belanda adalah Stygophrynus dammermani yang ditemukan di gua-gua di sekitar Bogor, salah satunya adalah gua di daerah Cibinong.
Aktivitas penambangan yang bersifat relatif merusak telah mengubah ekosistem karst secara menyeluruh dan berpengaruh pada satu sistem ke sistem yang lain. Hancurnya gunung kapur otomatis akan mengurangi kemampuan penyerapan air hujan oleh batuan kapur dan sekaligus mengurangi kandungan air di dalam batu kapur.
Endapan lumpur yang masuk ke dalam gua melalui sungai bawah tanah merupakan dampak lain penambangan. Tingginya laju erosi menyebabkan meningkatnya laju sedimentasi di dalam gua. Sedimentasi yang tinggi menyebabkan berkurangnya genangan-genangan air yang mengancam keberadaan fauna akuatik.
Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan survei menyeluruh baik potensi gua maupun fauna di semua area, termasuk area penambangan dan kondisinya. Dari hasil survei ini dibuat sebuah daftar fauna sekaligus keberadaan populasi dan tingkat ancamannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan kawasan. n

Penulis bekerja pada bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003