|
Karst Cibinong
Menyelamatkan Fauna Gua
Oleh
Cahyo Rahmadi
CIBINONG – Letaknya di selatan Jakarta. Cibinong mempunyai kawasan
karst yang belum banyak diketahui kekayaan faunanya. Sampai saat ini
karst Cibinong hanya di eksploitasi untuk penambangan batu kapur
guna bahan baku pabrik semen. Sementara itu, upaya kegiatan
inventarisasi atau penelitian kekayaan fauna gua dan karst belum
banyak dilakukan. Adanya aktivitas penambangan tentunya telah
menimbulkan berbagai persoalan lingkungan yang cukup serius.
Gua-gua yang ada di kawasan Cibinong sampai saat ini pun belum
terdata secara lengkap, baik dalam hal potensi guanya maupun potensi
faunanya. Seolah Karst Cibinong hanya memiliki kapur sebagai
satu-satunya sumber alam yang bernilai ekonomis.
Kawasan Karst Cibinong dengan luas 15 km2, diperkirakan berumur dari
masa Pliosen Bawah dengan bentukan-gunung kapur, saat ini
keberadaannya semakin memprihatinkan. Gunung-gunung kapur tak lagi
nampak dengan bentukan-bentukan khasnya, namun telah tampak rata
akibat aktivitas penambangan. Aktivitas ini tentunya membawa dampak
langsung pada ekosistem karst dan gua yang ada di dalamnya. Berbagai
macam flora dan fauna yang belum banyak diketahui telah lebih dulu
punah.
Temuan Menarik
Survei secara cepat yang dilakukan di salah satu gua di Karst
Cibinong pada September 2004 menemukan satu fauna yang sangat
menarik bagi ilmu pengetahuan, yaitu isopoda akuatik. Temuan jenis
ini diyakini merupakan catatan baru untuk ilmu pengetahuan tentang
Pulau Jawa. Fauna akuatik ini sebelumnya hanya ditemukan di
Thailand, Sumatra, Sarawak dan Kalimantan. Fauna yang diduga dari
marga Stenasellus dari kelompok udang-udangan (Crustacea) diyakini
menjadi satu catatan jenis baru.
Fauna yang berukuran kecil sekitar 5-8 mm, berwarna putih kemerahan
dan tidak bermata ditemukan di sebuah genangan air di lekukan yang
berlumpur di salah satu gua di Kecamatan Klapa Nunggal Cibinong.
Fauna yang masih sekerabat dengan jenis-jenis yang ada di gua-gua
Sumatra, menjadi salah satu fauna khas yang hidup di dalam gua dan
keberadaannya tidak ditemukan lagi di luar gua. Fauna lain yang
ditemukan adalah Kala cuka Thelyphonus caudatus (Uropygi), Kala
cemeti Stygophrynus dammermani (Amblypygi) dan udang-udang yang
hidup di sungai bawah tanah. Amblypygi, yang sebelumnya pernah
dideskripsikan pada tahun 1928 oleh orang Belanda adalah
Stygophrynus dammermani yang ditemukan di gua-gua di sekitar Bogor,
salah satunya adalah gua di daerah Cibinong.
Aktivitas penambangan yang bersifat relatif merusak telah mengubah
ekosistem karst secara menyeluruh dan berpengaruh pada satu sistem
ke sistem yang lain. Hancurnya gunung kapur otomatis akan mengurangi
kemampuan penyerapan air hujan oleh batuan kapur dan sekaligus
mengurangi kandungan air di dalam batu kapur.
Endapan lumpur yang masuk ke dalam gua melalui sungai bawah tanah
merupakan dampak lain penambangan. Tingginya laju erosi menyebabkan
meningkatnya laju sedimentasi di dalam gua. Sedimentasi yang tinggi
menyebabkan berkurangnya genangan-genangan air yang mengancam
keberadaan fauna akuatik.
Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan survei
menyeluruh baik potensi gua maupun fauna di semua area, termasuk
area penambangan dan kondisinya. Dari hasil survei ini dibuat sebuah
daftar fauna sekaligus keberadaan populasi dan tingkat ancamannya
sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan kawasan. n
Penulis bekerja pada bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI
|
|