|
Potongan Kepala
Azahari Ditemukan
Oleh
Eka Susanti/Chusnun Hadi
BATU – Potongan kepala salah satu korban yang tewas dalam
penyergapan komplotan Dr Azahari di Jl Flamboyan II A-7, Batu,
Malang, Jawa Timur, Rabu (9/11), ditemukan masih utuh, dan diduga
kepala Azahari. Namun hal ini masih harus dibuktikan.
“Hasilnya akan diketahui setelah dilakukan tes DNA oleh Tim Forensik Mabes
Polri,” kata Kapolri, Jenderal Sutanto sesaat setelah meninjau
lokasi, Kamis (10/11).
Untuk identifikasi ini, tim forensik dari Mabes Polri telah tiba di
Malang, Rabu malam dengan membawa rumusan DNA Azahari yang didapat
dari keluarganya di Malaysia. Namun, menurut sumber SH, sambil
menunggu hasil tes DNA, Polri juga mendatangkan orang-orang yang
dekat dengan Azahari baik semasa di Malaysia maupun Indonesia,
termasuk Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III, penulis buku
Membongkar Jamaah Islamiyah.
Saat ini, petugas dari unit-unit Gegana, Jihandak dan Tim Forensik
mengidentifikasi lokasi penyergapan komplotan Azahari, sejak Kamis
sekitar pukul 07.30 WIB. Penyisiran bom dimulai dari dua anggota tim
Gegana yang mendeteksi terhadap bom yang kemungkinan masih tersisa
di tempat kejadian perkara (TKP). Dari penyisiran ini ditemukan satu
bungkusan yang diduga berisi bom. Karena itu tim Gegana langsung
menugaskan seorang penjinak bom melakukan tugasnya.
Dengan menggunakan alat penjinak bom lengkap yang mirip astronot,
petugas tersebut memasuki rumah. Hanya berselang 10 menit kemudian,
anggota itu keluar lagi. Dia terlihat sedikit tegang. Setelah
berkoordinasi dan diskusi dengan anggota tim yang lain, bungkusan
yang diduga bom aktif tersebut ditarik dengan kabel dari jarak
sekitar 50 meter dari TKP.
Enam anggota tim Gegana akhirnya menarik bungkusan tersebut.
Ternyata sama sekali tidak menimbulkan ledakan apa pun. Karena itu,
akhirnya lokasi dinyatakan aman.
Tetapi sayangnya hingga pukul 09.30 WIB tadi pagi, belum ada
penjelasan resmi yang menyangkut temuan tim Gegana maupun Forensik
di TKP. Setelah TKP dinyatakan aman, Kapolri Jenderal Sutanto
langsung meninjau lokasi tersebut.
Dengan menggunakan hem warna putih garis-garis, Jenderal Sutanto
memasuki rumah tersebut dengan pengawalan ketat. Tetapi sayangnya
belum ada penjelasan tentang perkembangan terbaru dari kasus ini,
termasuk jumlah mayat dalam rumah tersebut.
Mulai pukul 09.45 WIB tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim
melakukan olah TKP, termasuk melakukan indentifikasi terhadap mayat
yang berada di TKP. Setelah melakukan identifikasi dan olah TKP,
diperkirakan pada pukul 12.00 WIB dilakukan evakuasi terhadap
mayat-mayat itu.
Proses evakuasi dipantau langsung Kapolri didampingi Pangdam V/Brawijaya
Mayjen Mapparepa. Kapolri Sutanto sempat menuturkan bahwa di salah
satu bagian tubuh korban tewas masih menempel sebuah bom yang belum
meledak.
Penyisiran ini mendapat pengaman ekstra ketat dari anggota Densus
88. Sedikitnya 16 personel Densus 88 berpakaian preman dilengkapi
rompi antipeluru dan helm baja serta
menyandang senjata laras panjang hilir mudik di sekitar police line
yang berjarak 50 meter dari TKP.
Sebelum meninggalkan lokasi, Kapolri mengatakan belum diketahui
pasti jumlah anggota komplotan DR Azhari yang tewas. Karena di
lokasi ditemukan banyak serpihan tubuh manusia yang tersebar di
seluruh ruangan.
Menurut Kapolri dalam rumah kontrakan itu ditemukan dua mayat yang
masih bisa dikenali. Anggota tubuh kedua mayat itu tidak lagi
lengkap, terutama pada tangan dan kakinya. Di antara kedua mayat
yang masih bisa dikenali itu, ada yang memiliki ciri-ciri sebagai DR
Azahari. Namun untuk memastikannya, masih menunggu hasil tes DNA
yang sedang dilakukan Mabes Polri.
Untuk pengetesan DNA ini, Mabes Polri mampu melakukan sendiri, tanpa
bantuan dari negara lain. Namun ada yang menarik dari pengakuan Wali
Kota Batu, Imam Kabul. Saat mendampingi Kapolri melihat lokasi, Imam
Kabul mengaku tidak menemukan sama sekali potongan tubuh yang bisa
dikenali sebagai DR Azhari.
Menurut Wali Kota yang juga Kiai ini, di dalam rumah tersebut hanya
ditemukan serpihan tubuh manusia yang berserakan di mana-mana. Dari
serpihan tersebut yang bisa diketahui hanya satu potong lutut di
ruang tamu dan potongan kemaluan pria menempel di pintu.
Selain serpihan tubuh dan bagian bangunan rumah yang ambruk, juga
ditemukan adanya bungkusan kantong plastik yang di dalamnya penuh
dengan detonator.
Tim Densus 88 Antiteror dipimpin Kombes Nicolaus Riwayanto, yang
sebelumnya pernah menjabat Kapolresta Malang. sehingga wajar jika
tim ini dengan cepat menguasai medan.
Informasi dari seorang anggota intel, komplotan Azhari diketahui
tengah mempersiapkan peledakan bom di sejumlah kota di Jatim dan
Jakarta. Karena itu, sempat dilakukan pemantau di sekitar daerah
tapal kuda Jatim, antara lain Pasuruan, Malang, Ponorogo dan
Tulungagung. ‘’Melihat keberadaannya di Batu dimungkinkan akan
meniru ledakan bom di Bali, karena antara Bali dan Batu memiliki
kesamaan, yakni sebagai daerah tujuan wisata.’’
Tidak diketahui pasti mana lokasi yang diincar, namun di Batu memang
terdapat beberapa pusat kegiatan agama Kristen seperti YPPI (Yayasan
Pendidikan Pengkabaran Injil), Seminari, pusat pendidikan teologi,
dan Sekolah Tinggi Agama Budha. Diperkirakan Batu akan diledakkan
sekitar awal Oktober, tetapi urung dilakukan karena ketatnya
pengamanan selama puasa-lebaran. Sehingga sempat dijadwal ulang
yakni sekitar Natal dan Tahun Baru.
‘’Indikasinya, komplotan ini biasanya selalu berada di sekitar
lokasi yang hendak diledakkan. Sementara di dekat sini ada YPPI dan
susteran,’’ kata sumber tadi.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutanto memastikan Dr Azhari adalah
satu dari tiga korban tewas dalam baku tembak antara aparat keamanan
dengan kelompok teroris yang terjadi di rumah kontrakan Jl Flamboyan
A’ No 7 di kawasan Perumahan Flamboyan, Kelurahan Songgokerto
Kecamatan Batu Kota Batu Jawa Timur, Rabu (9/11) sore.
‘’Informasi keberadaan Azhari ini merupakan pengembangan dari
tertangkapnya CH (Cholil, red) di Semarang,’’ jelas Kapolri dalam
jumpa pers yang digelar di Balai Kota Batu, tadi malam. CH merupakan
salah seorang anggota jaringan teroris Dr Azhari.
Sebelum ditangkap, CH sempat berada di Kota Batu bersama Dr Azhari.
Dia ditangkap Rabu pagi dalam satu penggerebekan. Saat ini CH sedang
diperiksa di suatu tempat yang dirahasiakan. Petugas masih mengorek
keterangan pria ini untuk melacak jejak Noordin M Top yang berhasil
kabur dari kepungan petugas.
Kapolri mengatakan, mengingat kondisi TKP yang masih porak poranda
dan dipenuhi bahan peledak, proses evakuasi korban dan olah TKP baru
dimulai pagi ini. ‘’Di dalam rumah itu masih terdapat banyak bom.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, evakuasi baru
dilakukan besok (hari ini, red) oleh tim jihandak dari Mabel Polri,’’
terang Sutanto dengan wajah cerah.
Bagaimana tewasnya Dr Azhari, Kapolri enggan merinci kondisi mantan
dosen UTM (Universitas Teknologi Malaysia) itu. Ada dua versi
tewasnya dosen tamu UGM ini. Pertama, Azhari yang dalam posisi
terdesak meledakkan sebuah bom sehingga tubuhnya
hancur berkeping-keping. Namun versi lain menyebutkan Azhari tewas
dalam baku tembak dengan aparat. Melihat pimpinannya tewas, salah
satu anak buah Azhari yang
panik meledakkan bom. Karena itu, untuk lebih memastikan keberadaan
Azhari sebagai salah satu korban tewas, Polri siap melakukan
sejumlah tes termasuk tes DNA. Tes yang sama juga akan dilakukan
terhadap anak buah Azhari yang tewas.
Ada yang menyebutkan bahwa saat itu di dalam rumah ada sekitar 12
orang termasuk Azahari. Namun Kapolri menegaskan bahwa polisi hanya
mendapati 3 mayat di dalam rumah yang memiliki 3 kamar itu.
Menegangkan
Proses penggerebekan persembunyian Dr Azahari di kawasan perumahan
Flamboyan Rabu (10/11) sore kemarin berlangsung sangat menegangkan.
Dari informasi yang dihimpun, sebelum terjadi penggerebekan
keberadaan komplotan ini sudah tercium tim dari Denses 88 sekitar
sebulan terakhir. Saking rapinya cara bekerja tim elit antiteroris
ini, sampai-sampai jajaran polres setempat tidak mengetahui
keberadaannya. Uniknya, kehadiran tim Densus 88 ini baru diketahui
Selasa malam lalu ketika anggota tim ini ditangkap petugas Polsekta
Batu, lantaran membawa mobil boks mencurigakan. Mobil itu mengangkut
5 sepeda motor.
Siang kemarin dua anggota komplotan Dr Azahari diketahui berada
kawasan hotel wisata Agro Kusuma, sekitar pukul 14.00. Tim Densus 88
segera mengejar mobil yang mereka tumpangi hingga ke kawasan
perumahan Flamboyan. Begitu mobil berhenti, keduanya segera turun
dan berlari masuk ke dalam rumah. Belum sempat petugas mendekat,
terdengar suara tembakan senjata AK 47 dan M16 bertubi-tubi dari
dalam rumah. Mereka juga sempat melemparkan granat tangan. Akibat
serangan itu, salah seorang anggota Densus 88 Brigadir Choiruddin
tertembak di kaki kirinya. Saat ini Choirudin masih menjalani
perawatan di Ruang Perawatan Kritis Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA)
Malang.
Lebih dari 20 anggota Densus 88 yang telah mengepung rumah kontrakan
tersebut dari seluruh penjuru, langsung memuntahkan serangan balasan.
Ada yang dari depan, belakang, kanan dan kiri. Beberapa anggota Den
88 tampak menaiki tangga dan menembak dari atap rumah di sebelahnya.
‘’Ketika akan mengepung rumah itu, kami
(warga, Red) semua disuruh masuk, tiba-tiba terdengar ledakan
seperti bom keras sekali,’’ ungkap Dewi
Ambarwati (19) warga yang rumahnya hanya berjarak lima rumah dari
TKP. Saking kerasnya suara ledakan, genteng rumah kontrakan milik
Supomo warga asal Surabaya ini
terloncat ke atas hingga 15 meter. Rumah-rumah warga di sekitar TKP
ikut bergetar. Beberapa lampu dan kaca rumah milik warga sampai
pecah. Ledakan terdengar
hingga radius 1 km.
Suara tembakan masih terdengar beberapa kali. Dilanjutkan dengan
ledakan-ledakan lebih kecil. Sedikitnya telah terjadi 11 kali
ledakan. Sementara dari atap rumah tipe 45 yang rontok itu keluar
asap putih mengepul seperti jamur, membumbung ke langit. Pintu rumah
jebol, sementara tembok rumah penuh lubang peluru. Suasana sangat
mencekam. Aliran listrik PLN dalam radius 200 meter dimatikan.
Bersamaan dengan itu, polisi mengamankan seorang pria bernama
Suwandi yang diketahui mondar-mandir saat terjadi tembak menembak.
Pria itu mengaku berasal
dari Tangulangin Sidoarjo dan sedang mengunjungi saudaranya. Namun
ketika ditanya siapa saudaranya, dia tidak bisa menjawab. Suwandi
kini dalam pengamanan Polres Batu dan masih berstatus sebagai saksi.
|
|