Kamis, 10 November 2005

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5146

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Potongan Kepala Azahari Ditemukan



Oleh
Eka Susanti/Chusnun Hadi

BATU – Potongan kepala salah satu korban yang tewas dalam penyergapan komplotan Dr Azahari di Jl Flamboyan II A-7, Batu, Malang, Jawa Timur, Rabu (9/11), ditemukan masih utuh, dan diduga kepala Azahari. Namun hal ini masih harus dibuktikan.
 “Hasilnya akan diketahui setelah dilakukan tes DNA oleh Tim Forensik Mabes Polri,” kata Kapolri, Jenderal Sutanto sesaat setelah meninjau lokasi, Kamis (10/11).
Untuk identifikasi ini, tim forensik dari Mabes Polri telah tiba di Malang, Rabu malam dengan membawa rumusan DNA Azahari yang didapat dari keluarganya di Malaysia. Namun, menurut sumber SH, sambil menunggu hasil tes DNA, Polri juga mendatangkan orang-orang yang dekat dengan Azahari baik semasa di Malaysia maupun Indonesia, termasuk Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III, penulis buku Membongkar Jamaah Islamiyah.
Saat ini, petugas dari unit-unit Gegana, Jihandak dan Tim Forensik mengidentifikasi lokasi penyergapan komplotan Azahari, sejak Kamis sekitar pukul 07.30 WIB. Penyisiran bom dimulai dari dua anggota tim Gegana yang mendeteksi terhadap bom yang kemungkinan masih tersisa di tempat kejadian perkara (TKP). Dari penyisiran ini ditemukan satu bungkusan yang diduga berisi bom. Karena itu tim Gegana langsung menugaskan seorang penjinak bom melakukan tugasnya.
Dengan menggunakan alat penjinak bom lengkap yang mirip astronot, petugas tersebut memasuki rumah. Hanya berselang 10 menit kemudian, anggota itu keluar lagi. Dia terlihat sedikit tegang. Setelah berkoordinasi dan diskusi dengan anggota tim yang lain, bungkusan yang diduga bom aktif tersebut ditarik dengan kabel dari jarak sekitar 50 meter dari TKP.
Enam anggota tim Gegana akhirnya menarik bungkusan tersebut. Ternyata sama sekali tidak menimbulkan ledakan apa pun. Karena itu, akhirnya lokasi dinyatakan aman.
Tetapi sayangnya hingga pukul 09.30 WIB tadi pagi, belum ada penjelasan resmi yang menyangkut temuan tim Gegana maupun Forensik di TKP. Setelah TKP dinyatakan aman, Kapolri Jenderal Sutanto langsung meninjau lokasi tersebut.
Dengan menggunakan hem warna putih garis-garis, Jenderal Sutanto memasuki rumah tersebut dengan pengawalan ketat. Tetapi sayangnya belum ada penjelasan tentang perkembangan terbaru dari kasus ini, termasuk jumlah mayat dalam rumah tersebut.

Mulai pukul 09.45 WIB tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim melakukan olah TKP, termasuk melakukan indentifikasi terhadap mayat yang berada di TKP. Setelah melakukan identifikasi dan olah TKP, diperkirakan pada pukul 12.00 WIB dilakukan evakuasi terhadap mayat-mayat itu.
Proses evakuasi dipantau langsung Kapolri didampingi Pangdam V/Brawijaya Mayjen Mapparepa. Kapolri Sutanto sempat menuturkan bahwa di salah satu bagian tubuh korban tewas masih menempel sebuah bom yang belum meledak.
Penyisiran ini mendapat pengaman ekstra ketat dari anggota Densus 88. Sedikitnya 16 personel Densus 88 berpakaian preman dilengkapi rompi antipeluru dan helm baja serta
menyandang senjata laras panjang hilir mudik di sekitar police line yang berjarak 50 meter dari TKP.
Sebelum meninggalkan lokasi, Kapolri mengatakan belum diketahui pasti jumlah anggota komplotan DR Azhari yang tewas. Karena di lokasi ditemukan banyak serpihan tubuh manusia yang tersebar di seluruh ruangan.
Menurut Kapolri dalam rumah kontrakan itu ditemukan dua mayat yang masih bisa dikenali. Anggota tubuh kedua mayat itu tidak lagi lengkap, terutama pada tangan dan kakinya. Di antara kedua mayat yang masih bisa dikenali itu, ada yang memiliki ciri-ciri sebagai DR Azahari. Namun untuk memastikannya, masih menunggu hasil tes DNA yang sedang dilakukan Mabes Polri.
Untuk pengetesan DNA ini, Mabes Polri mampu melakukan sendiri, tanpa bantuan dari negara lain. Namun ada yang menarik dari pengakuan Wali Kota Batu, Imam Kabul. Saat mendampingi Kapolri melihat lokasi, Imam Kabul mengaku tidak menemukan sama sekali potongan tubuh yang bisa dikenali sebagai DR Azhari.
Menurut Wali Kota yang juga Kiai ini, di dalam rumah tersebut hanya ditemukan serpihan tubuh manusia yang berserakan di mana-mana. Dari serpihan tersebut yang bisa diketahui hanya satu potong lutut di ruang tamu dan potongan kemaluan pria menempel di pintu.
Selain serpihan tubuh dan bagian bangunan rumah yang ambruk, juga ditemukan adanya bungkusan kantong plastik yang di dalamnya penuh dengan detonator.
Tim Densus 88 Antiteror dipimpin Kombes Nicolaus Riwayanto, yang sebelumnya pernah menjabat Kapolresta Malang. sehingga wajar jika tim ini dengan cepat menguasai medan.
Informasi dari seorang anggota intel, komplotan Azhari diketahui tengah mempersiapkan peledakan bom di sejumlah kota di Jatim dan Jakarta. Karena itu, sempat dilakukan pemantau di sekitar daerah tapal kuda Jatim, antara lain Pasuruan, Malang, Ponorogo dan
Tulungagung. ‘’Melihat keberadaannya di Batu dimungkinkan akan meniru ledakan bom di Bali, karena antara Bali dan Batu memiliki kesamaan, yakni sebagai daerah tujuan wisata.’’
Tidak diketahui pasti mana lokasi yang diincar, namun di Batu memang terdapat beberapa pusat kegiatan agama Kristen seperti YPPI (Yayasan Pendidikan Pengkabaran Injil), Seminari, pusat pendidikan teologi, dan Sekolah Tinggi Agama Budha. Diperkirakan Batu akan diledakkan sekitar awal Oktober, tetapi urung dilakukan karena ketatnya pengamanan selama puasa-lebaran. Sehingga sempat dijadwal ulang yakni sekitar Natal dan Tahun Baru.
‘’Indikasinya, komplotan ini biasanya selalu berada di sekitar lokasi yang hendak diledakkan. Sementara di dekat sini ada YPPI dan susteran,’’ kata sumber tadi.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutanto memastikan Dr Azhari adalah satu dari tiga korban tewas dalam baku tembak antara aparat keamanan dengan kelompok teroris yang terjadi di rumah kontrakan Jl Flamboyan A’ No 7 di kawasan Perumahan Flamboyan, Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu Kota Batu Jawa Timur, Rabu (9/11) sore.
‘’Informasi keberadaan Azhari ini merupakan pengembangan dari tertangkapnya CH (Cholil, red) di Semarang,’’ jelas Kapolri dalam jumpa pers yang digelar di Balai Kota Batu, tadi malam. CH merupakan salah seorang anggota jaringan teroris Dr Azhari.
Sebelum ditangkap, CH sempat berada di Kota Batu bersama Dr Azhari. Dia ditangkap Rabu pagi dalam satu penggerebekan. Saat ini CH sedang diperiksa di suatu tempat yang dirahasiakan. Petugas masih mengorek keterangan pria ini untuk melacak jejak Noordin M Top yang berhasil kabur dari kepungan petugas.
Kapolri mengatakan, mengingat kondisi TKP yang masih porak poranda dan dipenuhi bahan peledak, proses evakuasi korban dan olah TKP baru dimulai pagi ini. ‘’Di dalam rumah itu masih terdapat banyak bom. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, evakuasi baru dilakukan besok (hari ini, red) oleh tim jihandak dari Mabel Polri,’’ terang Sutanto dengan wajah cerah.
Bagaimana tewasnya Dr Azhari, Kapolri enggan merinci kondisi mantan dosen UTM (Universitas Teknologi Malaysia) itu. Ada dua versi tewasnya dosen tamu UGM ini. Pertama, Azhari yang dalam posisi terdesak meledakkan sebuah bom sehingga tubuhnya
hancur berkeping-keping. Namun versi lain menyebutkan Azhari tewas dalam baku tembak dengan aparat. Melihat pimpinannya tewas, salah satu anak buah Azhari yang
panik meledakkan bom. Karena itu, untuk lebih memastikan keberadaan Azhari sebagai salah satu korban tewas, Polri siap melakukan sejumlah tes termasuk tes DNA. Tes yang sama juga akan dilakukan terhadap anak buah Azhari yang tewas.
Ada yang menyebutkan bahwa saat itu di dalam rumah ada sekitar 12 orang termasuk Azahari. Namun Kapolri menegaskan bahwa polisi hanya mendapati 3 mayat di dalam rumah yang memiliki 3 kamar itu.
Menegangkan
Proses penggerebekan persembunyian Dr Azahari di kawasan perumahan Flamboyan Rabu (10/11) sore kemarin berlangsung sangat menegangkan. Dari informasi yang dihimpun, sebelum terjadi penggerebekan keberadaan komplotan ini sudah tercium tim dari Denses 88 sekitar sebulan terakhir. Saking rapinya cara bekerja tim elit antiteroris ini, sampai-sampai jajaran polres setempat tidak mengetahui keberadaannya. Uniknya, kehadiran tim Densus 88 ini baru diketahui Selasa malam lalu ketika anggota tim ini ditangkap petugas Polsekta Batu, lantaran membawa mobil boks mencurigakan. Mobil itu mengangkut 5 sepeda motor.
Siang kemarin dua anggota komplotan Dr Azahari diketahui berada kawasan hotel wisata Agro Kusuma, sekitar pukul 14.00. Tim Densus 88 segera mengejar mobil yang mereka tumpangi hingga ke kawasan perumahan Flamboyan. Begitu mobil berhenti, keduanya segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Belum sempat petugas mendekat, terdengar suara tembakan senjata AK 47 dan M16 bertubi-tubi dari dalam rumah. Mereka juga sempat melemparkan granat tangan. Akibat serangan itu, salah seorang anggota Densus 88 Brigadir Choiruddin tertembak di kaki kirinya. Saat ini Choirudin masih menjalani perawatan di Ruang Perawatan Kritis Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Lebih dari 20 anggota Densus 88 yang telah mengepung rumah kontrakan tersebut dari seluruh penjuru, langsung memuntahkan serangan balasan. Ada yang dari depan, belakang, kanan dan kiri. Beberapa anggota Den 88 tampak menaiki tangga dan menembak dari atap rumah di sebelahnya. ‘’Ketika akan mengepung rumah itu, kami
(warga, Red) semua disuruh masuk, tiba-tiba terdengar ledakan seperti bom keras sekali,’’ ungkap Dewi
Ambarwati (19) warga yang rumahnya hanya berjarak lima rumah dari TKP. Saking kerasnya suara ledakan, genteng rumah kontrakan milik Supomo warga asal Surabaya ini
terloncat ke atas hingga 15 meter. Rumah-rumah warga di sekitar TKP ikut bergetar. Beberapa lampu dan kaca rumah milik warga sampai pecah. Ledakan terdengar
hingga radius 1 km.
Suara tembakan masih terdengar beberapa kali. Dilanjutkan dengan ledakan-ledakan lebih kecil. Sedikitnya telah terjadi 11 kali ledakan. Sementara dari atap rumah tipe 45 yang rontok itu keluar asap putih mengepul seperti jamur, membumbung ke langit. Pintu rumah jebol, sementara tembok rumah penuh lubang peluru. Suasana sangat mencekam. Aliran listrik PLN dalam radius 200 meter dimatikan.
Bersamaan dengan itu, polisi mengamankan seorang pria bernama Suwandi yang diketahui mondar-mandir saat terjadi tembak menembak. Pria itu mengaku berasal
dari Tangulangin Sidoarjo dan sedang mengunjungi saudaranya. Namun ketika ditanya siapa saudaranya, dia tidak bisa menjawab. Suwandi kini dalam pengamanan Polres Batu dan masih berstatus sebagai saksi.

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003