Rabu, 09 November 2005

I N T E R N A S I O N A L

No.  5145

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Mengantisipasi Gagalnya Pertemuan WTO Desember
Muncul Usulan Pertemuan “Hong Kong 2”



Jenewa - Setelah berunding selama lima jam di markas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Selasa (8/11) lalu, para juru runding anggota-anggota utama WTO mulai menggagas pertemuan “Hong Kong 2”.
 Pertemuan tersebut untuk mengantisipasi bila perundingan tingkat menteri WTO di Hong Kong pada Desember mendatang masih gagal menyepakati liberalisasi perdagangan, terutama sektor pertanian.
Pada pertemuan di Jenewa, beberapa juru runding seperti Menteri Perdagangan India Kamal Nath dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim mengulangi pesimisme bahwa pertemuan Hong Kong 13-18 Desember mendatang membawa hasil. Ini karena para juru runding di WTO yang beranggotakan 148 negara hingga kini belum sepakat merancang aturan liberalisasi perdagangan yang rencananya disahkan pada pertemuan Hong Kong.
“Ada kesadaran bahwa ekspektasi (pertemuan tersebut) harus diturunkan. Yang harus kita cermati adalah penyesuaian kembali (pertemuan) Hong Kong,” kata Nath, Selasa (8/11) lalu. “Kita jangan menyerah, namun harus realistis,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, Amorim mengatakan bahwa para menteri WTO perlu menggelar pertemuan “Hong Kong 2” untuk mengantisipasi gagalnya pertemuan bulan depan. Nath menilai pertemuan “Hong Kong 2” dapat diadakan Maret 2006.
Namun, usulan Amorim dan Nath ditentang juru runding dari Uni Eropa (UE). “Ada kecenderungan yang jelas dari mayoritas (anggota) untuk menyesuaikan ekspektasi,” kata Komisaris Perdagangan UE, Peter Mandelson. “Namun mencari rencana alternatif untuk pertemuan Hong Kong membawa risiko,” lanjut dia. Mandelson selanjutnya menilai bila para anggota WTO mulai mengurangi ekspektasi pada pertemuan di Hong Kong bulan depan maka mereka berisiko menjadi lalai atau cepat berpuas diri.
Dalam pertemuan di Jenewa, para juru runding membahas hasil pertemuan informal di London, Senin (7/11) lalu. Pertemuan informal tersebut hanya dihadiri para juru runding dari lima anggota utama, yaitu UE, Amerika Serikat, dan Jepang serta Brasil dan India yang mewakili kelompok negara berkembang. Mereka membahas upaya pengaturan liberalisasi di sektor pertanian, produk industri barang dan jasa seperti perbankan.
Dalam pertemuan di London, para juru runding mengaku berhasil mempersempit perbedaan pandangan mengenai upaya mengurangi hambatan-hambatan perdagangan seperti subsidi ekspor dan tarif impor. Namun, mereka belum berhasil menyamakan pandangan. “Ini semua mengenai upaya mencapai konsensus dan ternyata tidak mudah,” kata Ketua Misi Perdagangan AS, Rob Portman. Menurut dia, kesepakatan ditentukan berdasarkan negosiasi.
Sejak pertemuan tingkat menteri di Doha empat tahun lalu, WTO belum berhasil menyepakati aturan liberalisasi perdagangan global dengan memperhatikan perbaikan taraf hidup negara-negara berkembang. Ini karena mereka belum sepakat dengan besaran pengurangan subsidi ekspor dan tarif impor terutama di sektor pertanian. WTO menargetkan perundingan selesai pada 2006. (ant/afp/ren)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003