|
Mengantisipasi
Gagalnya Pertemuan WTO Desember
Muncul Usulan Pertemuan “Hong Kong 2”
Jenewa - Setelah berunding selama lima jam di markas Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO), Selasa (8/11) lalu, para juru runding
anggota-anggota utama WTO mulai menggagas pertemuan “Hong Kong 2”.
Pertemuan tersebut untuk mengantisipasi bila perundingan tingkat menteri
WTO di Hong Kong pada Desember mendatang masih gagal menyepakati
liberalisasi perdagangan, terutama sektor pertanian.
Pada pertemuan di Jenewa, beberapa juru runding seperti Menteri
Perdagangan India Kamal Nath dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso
Amorim mengulangi pesimisme bahwa pertemuan Hong Kong 13-18 Desember
mendatang membawa hasil. Ini karena para juru runding di WTO yang
beranggotakan 148 negara hingga kini belum sepakat merancang aturan
liberalisasi perdagangan yang rencananya disahkan pada pertemuan
Hong Kong.
“Ada kesadaran bahwa ekspektasi (pertemuan tersebut) harus
diturunkan. Yang harus kita cermati adalah penyesuaian kembali (pertemuan)
Hong Kong,” kata Nath, Selasa (8/11) lalu. “Kita jangan menyerah,
namun harus realistis,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, Amorim mengatakan bahwa para menteri WTO
perlu menggelar pertemuan “Hong Kong 2” untuk mengantisipasi
gagalnya pertemuan bulan depan. Nath menilai pertemuan “Hong Kong 2”
dapat diadakan Maret 2006.
Namun, usulan Amorim dan Nath ditentang juru runding dari Uni Eropa
(UE). “Ada kecenderungan yang jelas dari mayoritas (anggota) untuk
menyesuaikan ekspektasi,” kata Komisaris Perdagangan UE, Peter
Mandelson. “Namun mencari rencana alternatif untuk pertemuan Hong
Kong membawa risiko,” lanjut dia. Mandelson selanjutnya menilai bila
para anggota WTO mulai mengurangi ekspektasi pada pertemuan di Hong
Kong bulan depan maka mereka berisiko menjadi lalai atau cepat
berpuas diri.
Dalam pertemuan di Jenewa, para juru runding membahas hasil
pertemuan informal di London, Senin (7/11) lalu. Pertemuan informal
tersebut hanya dihadiri para juru runding dari lima anggota utama,
yaitu UE, Amerika Serikat, dan Jepang serta Brasil dan India yang
mewakili kelompok negara berkembang. Mereka membahas upaya
pengaturan liberalisasi di sektor pertanian, produk industri barang
dan jasa seperti perbankan.
Dalam pertemuan di London, para juru runding mengaku berhasil
mempersempit perbedaan pandangan mengenai upaya mengurangi
hambatan-hambatan perdagangan seperti subsidi ekspor dan tarif impor.
Namun, mereka belum berhasil menyamakan pandangan. “Ini semua
mengenai upaya mencapai konsensus dan ternyata tidak mudah,” kata
Ketua Misi Perdagangan AS, Rob Portman. Menurut dia, kesepakatan
ditentukan berdasarkan negosiasi.
Sejak pertemuan tingkat menteri di Doha empat tahun lalu, WTO belum
berhasil menyepakati aturan liberalisasi perdagangan global dengan
memperhatikan perbaikan taraf hidup negara-negara berkembang. Ini
karena mereka belum sepakat dengan besaran pengurangan subsidi
ekspor dan tarif impor terutama di sektor pertanian. WTO menargetkan
perundingan selesai pada 2006. (ant/afp/ren)
|
|