|
Ekspedisi
Sangkulirang Mapala UI 2005 (1)
Menyambang ke Rumah Naga
Pengantar Redaksi:
Berikut ini laporan pertama dari tiga tulisan penelusuran goa di
Sangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ekspedisi ini diikuti
oleh Seto Wardhana selaku pimpinan kegiatan, Putri Wardhani, Titus
Dermawan, Rizky Apriono, Ahmad Malian, Isma Yunita, Sahala, Melati,
Regina Puspita, Fadli Arfan dan Muhammad Yusuf. Perjalanan dilakukan
dari 2 Agustus hingga 22 Agustus lalu.
Oleh
Muhammad Yusuf
KUTAI TIMUR—Akhirnya pesawat Wings Air jurusan Jakarta-Balikpapan
yang kami naiki mulai meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Perasaan
marah akibat harga tiket yang dinaikkan seenaknya oleh agen travel
kami mulai mereda berganti dengan perasaan tak sabar untuk segera
menginjakkan kaki di tanah Kalimantan.
Perjalanan ini boleh dibilang sedikit nekat karena kami berangkat
dengan uang seadanya. Namun kapan lagi kesempatan untuk menjelajahi
hutan dan goa-goa di Kalimantan, pikirku. Yang penting berangkat
dulu, soal pulang urusan nanti.
Kami bersebelas yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Sangkulirang
Mapala UI 2005 memang telah berkomitmen untuk menanggung segala
risiko apapun yang terjadi. Tim kami bertambah menjadi 13 orang
setelah dua rekan dari Imapa Universitas Mulawarman, yaitu Robi dan
Siswandi, bergabung bersama kami.
Berbeda dengan perjalanan-perjalanan kami sebelumnya, kali ini
lokasi ekspedisi yang kami tuju berada jauh di dalam hutan
Ambulabung, tepatnya di Desa Pengadan, Kecamatan Sangkulirang,
Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Untuk mencapai desa
tersebut, kami menghabiskan waktu dua hari dari Samarinda dengan
menggunakan jalur transportasi darat dan air.
Tiba di desa terakhir, kami mengajak seorang penduduk setempat, Pak
Bejo, sebagai penunjuk jalan. Dia memang dikenal sebagai orang yang
sering keluar masuk hutan dan pekerjaannya sebagai pencari sarang
burung walet sangat membantu kami untuk mencari mulut goa Ambulabung
yang akan kami telusuri.
Menyambang ...........
Serangan Semut
Perjalanan menuju goa Ambulabung kami awali dengan naik truk yang
kami sewa sejauh 31 km. Selanjutnya, kami harus berjalan kaki di
hutan dataran rendah yang cukup lebat untuk mencapai mulut goanya.
Beban berat di pundak membuat kami kelelahan, dan akhirnya setelah
tiba di pondok milik para pemburu rusa, kami memutuskan untuk
bermalam.
Serangan semut hutan di malam hari membuat kami stres, sehingga kami
memutuskan untuk segera masuk ke dalam tenda agar dapat lolos dari
serangan tersebut.
Pagi harinya kami melanjutkan perjalanan. Sedikit berbeda dengan
kemarin, kali ini kami melewati rawa-rawa. Dengan meniti batang
pohon tumbang dan pegangan pada batang-batang pohon yang dibuat Pak
Bejo, kami melewati rawa itu dengan sangat hati-hati.
Kata Pak Bejo, rawa itu cukup dalam dan sangat berlumpur, ditambah
lagi airnya juga berasa gatal di kulit. Pokoknya mimpi buruk kalau
sampai jatuh di rawa itu.
Setelah berjalan selama empat jam, akhirnya kami tiba di mulut goa
Ambulabung. Tampak sisa-sisa yang ditinggalkan oleh pencari sarang
burung walet masih ada di tempat itu dan kami sempat melihat tiga
ekor biawak yang berjemur di batu besar di dekat mulut goa kabur
menjauhi kami dan berenang ke arah goa. Mungkin saja, biawak-biawak
itu yang selama ini disangka sebagai naga. Begitu legendanya di sini,
mengenai goa yang kami cari. Inilah tempatnya naga bertandang.
Di tempat ini, kami akan mendirikan kemah induk selama beberapa hari
untuk melakukan penelusuran goa. Posisi kemah induk kami ini sangat
nyaman karena apabila hujan turun tidak akan mengenai kami. Hal itu
dikarenakan oleh bentukan tebing yang miring sehingga memayungi kami.
Makanya tanah di situ selalu kering, dan banyak sekali tumbuh pohon
cabai rawit di sekitarnya. n (bersambung)
|
|