Rabu, 21 September 2005

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5106

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Ekspedisi Sangkulirang Mapala UI 2005 (1)
Menyambang ke Rumah Naga 



Pengantar Redaksi:
Berikut ini laporan pertama dari tiga tulisan penelusuran goa di Sangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ekspedisi ini diikuti oleh Seto Wardhana selaku pimpinan kegiatan, Putri Wardhani, Titus Dermawan, Rizky Apriono, Ahmad Malian, Isma Yunita, Sahala, Melati, Regina Puspita, Fadli Arfan dan Muhammad Yusuf. Perjalanan dilakukan dari 2 Agustus hingga 22 Agustus lalu.


Oleh
Muhammad Yusuf

KUTAI TIMUR—Akhirnya pesawat Wings Air jurusan Jakarta-Balikpapan yang kami naiki mulai meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Perasaan marah akibat harga tiket yang dinaikkan seenaknya oleh agen travel kami mulai mereda berganti dengan perasaan tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di tanah Kalimantan.
Perjalanan ini boleh dibilang sedikit nekat karena kami berangkat dengan uang seadanya. Namun kapan lagi kesempatan untuk menjelajahi hutan dan goa-goa di Kalimantan, pikirku. Yang penting berangkat dulu, soal pulang urusan nanti.
Kami bersebelas yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Sangkulirang Mapala UI 2005 memang telah berkomitmen untuk menanggung segala risiko apapun yang terjadi. Tim kami bertambah menjadi 13 orang setelah dua rekan dari Imapa Universitas Mulawarman, yaitu Robi dan Siswandi, bergabung bersama kami.
Berbeda dengan perjalanan-perjalanan kami sebelumnya, kali ini lokasi ekspedisi yang kami tuju berada jauh di dalam hutan Ambulabung, tepatnya di Desa Pengadan, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Untuk mencapai desa tersebut, kami menghabiskan waktu dua hari dari Samarinda dengan menggunakan jalur transportasi darat dan air.
Tiba di desa terakhir, kami mengajak seorang penduduk setempat, Pak Bejo, sebagai penunjuk jalan. Dia memang dikenal sebagai orang yang sering keluar masuk hutan dan pekerjaannya sebagai pencari sarang burung walet sangat membantu kami untuk mencari mulut goa Ambulabung yang akan kami telusuri.

Menyambang ...........


Serangan Semut
Perjalanan menuju goa Ambulabung kami awali dengan naik truk yang kami sewa sejauh 31 km. Selanjutnya, kami harus berjalan kaki di hutan dataran rendah yang cukup lebat untuk mencapai mulut goanya. Beban berat di pundak membuat kami kelelahan, dan akhirnya setelah tiba di pondok milik para pemburu rusa, kami memutuskan untuk bermalam.
Serangan semut hutan di malam hari membuat kami stres, sehingga kami memutuskan untuk segera masuk ke dalam tenda agar dapat lolos dari serangan tersebut.
Pagi harinya kami melanjutkan perjalanan. Sedikit berbeda dengan kemarin, kali ini kami melewati rawa-rawa. Dengan meniti batang pohon tumbang dan pegangan pada batang-batang pohon yang dibuat Pak Bejo, kami melewati rawa itu dengan sangat hati-hati.
Kata Pak Bejo, rawa itu cukup dalam dan sangat berlumpur, ditambah lagi airnya juga berasa gatal di kulit. Pokoknya mimpi buruk kalau sampai jatuh di rawa itu.
Setelah berjalan selama empat jam, akhirnya kami tiba di mulut goa Ambulabung. Tampak sisa-sisa yang ditinggalkan oleh pencari sarang burung walet masih ada di tempat itu dan kami sempat melihat tiga ekor biawak yang berjemur di batu besar di dekat mulut goa kabur menjauhi kami dan berenang ke arah goa. Mungkin saja, biawak-biawak itu yang selama ini disangka sebagai naga. Begitu legendanya di sini, mengenai goa yang kami cari. Inilah tempatnya naga bertandang.
Di tempat ini, kami akan mendirikan kemah induk selama beberapa hari untuk melakukan penelusuran goa. Posisi kemah induk kami ini sangat nyaman karena apabila hujan turun tidak akan mengenai kami. Hal itu dikarenakan oleh bentukan tebing yang miring sehingga memayungi kami. Makanya tanah di situ selalu kering, dan banyak sekali tumbuh pohon cabai rawit di sekitarnya. n (bersambung)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003