|
Sisi Gelap
Perkawinan Timur–Barat (10)
”Koelkast” Itu Selalu Digembok
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
MARIAHOEVE, DEN HAAG - Acara Dharma Wanita di Kedutaan Besar RI
(KBRI) di Den Haag setiap Kamis kedua tiap bulan, baru saja bubar.
Aku bergegas keluar karena masih ada keperluan ke pusat kota Den
Haag. Tiba-tiba ibu Sari, yang dikenal sebagai aktivis di kalangan
perempuan Islam, mendekatiku. ”Mbak, mau minta tolong nih,” kata
Sari.
”Memang ada apa?” aku balik bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku, ibu Sari malah langsung mengajakku ke
rumahnya yang terletak di Mariahoeve, masih di kota Den Haag, tak
jauh dari KBRI. Aku ikut saja masuk ke mobilnya. Rencanaku ke pusat
kota Den Haag pun terlupakan.
Lalu kami tiba di rumah ibu Sari, di sebuah flat yang terletak di
lantai 8. Di ruang tamu sudah ada seorang perempuan dan beberapa
pemuda. Tamu perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Sri. Aku
belum sempat menyeruput kopi yang dihidangkan, Sri sudah terisak.
Perempuan muda ini berasal dari gudang beras di Jawa Barat,
Karawang.
Lalu Sri bercerita tentang kehidupannya. Begini penuturannya:
Setamat SMA aku dikawinkan orang tuaku dengan pemuda sekampung. Aku
tidak mencintai suamiku itu, tetapi sebagai gadis desa aku tak
berani membantah. Perkawinan itu membuahkan seorang putri yang
manis. Karena suami tidak mempunyai pekerjaan tetap, aku terpaksa
harus bekerja. Untung aku pernah les mengetik dan bahasa Inggris.
Aku bekerja di perusahaan milik Belanda di Karawang. Itulah sebabnya
selain bahasa Inggris aku bisa sedikit-sedikit berbahasa Belanda.
Aku adalah karyawan yang rajin.
Hasil pekerjaanku disukai atasanku. Di kantor aku adalah perempuan
aktif dan penggembira. Mungkin ini akibat pergaulanku setiap hari
dengan laki-laki yang sebagian besar adalah orang asing yang kreatif
dan penuh inisiatif.
Ternyata situasi ini memberikan dampak yang negatif terhadap
kehidupan pribadiku. Karena begitu pulang ke rumah, aku segera akan
berhadapan dengan situasi yang jauh berbeda. Suami tidak bekerja,
kurang inisiatif, mudah cemburu. Aku goyah.
Aku mulai membuka diri dengan laki-laki asing di kantor. Ajakan
makan siang berdua mulai aku ladeni. Dari makan siang meningkat ke
makan malam. Aku mulai pulang ke rumah sedikit terlambat.
Alasan kerja lembur. Suamiku mulai curiga. Pertengkaran tak dapat
dihindari. Hari demi hari makin menjadi-jadi. Puncaknya aku tidak
pulang-pulang ke rumah. Aku kos di tempat lain.
Mungkin perbuatan ini akan dikutuk oleh pembaca, karena aku istri
yang tidak setia. Tetapi aku punya pandangan lain, seorang istri
harus berani menjadi dirinya sendiri. Perkawinan bukan ikatan yang
membatasi gerak istri untuk berubah. Mungkin karena perubahanku ini
dinilai sangat negatif.
Tetapi kalau Anda berada di pihakku, maka penilaian itu akan menjadi
lain. Apakah Anda sebagai istri akan bisa bertahan hidup bersama
suami yang pemalas, yang tidak punya usaha dan inisiatif untuk
mencari pekerjaan, bahkan selalu marah-marah, curiga dan cemburu?
Perbuatanku menjadi buah bibir para tetangga. Aku malu. Kami pun
kemudian bercerai. Aku pindah ke kantor pusat di Jakarta. Nadia aku
bawa.
”Diusir” ke Indonesia
Hubunganku dengan laki-laki asing yang nota bene adalah bosku
terputus. Dia harus kembali ke tanah airnya. Aku pun mengisi
kekosongan itu dengan laki-laki asing lainnya, Leo, seorang Belanda.
Tetapi hubungan yang hanya just for fun ini kemudian berubah serius.
Singkat ceritera, kami menikah secara Islam di catatan sipil.
Kemudian kami sekeluarga pindah ke Belanda.
Karena keadaan perekonomian dunia terpuruk, perusahaan tempat kami
bekerja bangkrut. Leo dan aku kena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kami hidup dari jaminan sosial yang diterima Leo. Jumlahnya sedikit
sekali. Kami harus membayar sewa rumah, listrik, telepon dll.
Kemewahan yang kami alami di Jakarta berubah menjadi hari-hari penuh
perhitungan. Saat itu Leo berubah. Sifat aslinya mulai kelihatan.
Dia tidak pernah manis lagi pada diriku. Nadia selalu menjadi
tumpuan kemarahannya. Leo menjadi peminum.
Aku tidak pernah mendapat uang. Belanja sangat dibatasi. Leo
mengatur segala-galanya. Belanja mingguan kami lakukan bersama
tetapi sesuai dengan selera Leo. Isi lemari es hanya Leo yang tahu.
Setiap hari lemari es digembok dan hanya dibuka oleh Leo pada
jam-jam tertentu. Pada jam 08.00 pagi lemari es dibuka untuk
mengambil mentega, selai atau daging asap untuk isi roti, atau susu
buat sarapan.
Selesai sarapan, semua bahan dimasukkan lagi lalu lemari es
digembok. Lemari es dibuka pada jam 12.00 saat makan siang dan jam
18.00 saat makan malam. Nadia sering dibentak karena meminta es krim
yang ada dalam lemari es.
Adakah istri yang hidup seperti aku? Kehidupan rumah tangga kami
bagaikan neraka. Aku tidak tahan. Beberapa hari yang lalu aku dan
Nadia lari dari rumah. Untung ketemu ibu Sari di Den Haag Central
Station.
”Mereka sudah seminggu di sini,” ujar ibu Sari yang juga bersuamikan
seorang Belanda tetapi nasibnya sangat bagus, karena Rob, suaminya,
adalah seorang suami dan ayah yang baik. Hal itu terlihat dari
banyaknya pemuda Indonesia yang sering datang di tempat ini.
Mendengar semua ceritera Sri, aku trenyuh. Aku menasihatinya supaya
tidak kembali ke Indonesia, bertahan sampai mendapat izin tinggal.
Sri sampai saat itu masih tetap memegang paspor Indonesia.
Aku berpendirian demikian setelah mendengar kehidupan Sri yang serba
susah di Karawang. Walaupun bagaimana, hidup materi di Belanda jauh
lebih baik daripada di Indonesia. Tapi menurut ibu Sari, besok Leo
akan menjemput Sri dan Nadia.
Beberapa bulan aku tidak mendengar berita tentang Sri, hingga pada
perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus di Wisma Indonesia,
Wassenaar, aku bertemu dengan ibu Sari. Dia bergegas menemuiku. ”Sri
dan Nadia sudah kembali ke Indonesia.
Leo membohongi mereka, diajak jalan-jalan ke Amsterdam tetapi mereka
dibawa ke Schiphol dan langsung diurus terbang kembali ke
Indonesia,” kata ibu Sari. Aku terpaku. Mungkin ini lebih baik bagi
Sri dan Nadia.
Aku berharap Sri membaca tulisan ini. Itulah permintaan Sri agar
pengalamannya tidak terulang pada perempuan Indonesia lain. Dan aku
sudah memenuhi janjiku pada Sri. n
|
|