|
Agama yang
Kehilangan Kemanusiaan
Oleh
Benny Susetyo Pr
Bila kita tengok perilaku keagamaan kita beberapa waktu terakhir
dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, semangat penyejukan dan
perdamaian yang dibawa agama tampak kering. Hampir pasti semangat
tersebut meleleh karena perilaku sosial politik semenjak merdeka
telah meracuni agama itu sendiri. Agama dikerangkeng di dalam
aturan-aturan yang monolitik, monoton, dan berdampak tidak sehat.
Aneh, perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya. Norma
kesopanan telah pudar dalam sanubari bangsa ini. Seolah-olah kita
telah kehilangan jati diri sebagai orang beragama, sebagai bangsa
beragama, sebagai makhluk beriman. Karakter keimanan sebagai suatu
substansi yang harus diraih, gagal kita bangun. Keimanan bukan untuk
menyayangi makhluk lainnya, tetapi justru untuk membunuh, dengan
segala macam cara.
Adakah yang salah dalam cara kita beragama, berbangsa,
berperikehidupan? Mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban
karena membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa
ada usaha yang kuat untuk menghentikan praktik kekerasan itu
sendiri? Sebagai bangsa beragama, mengapa orientasi kehidupan kita
hanya mampu mencetak manusia kerdil, haus kekuasaan, harta dan
kemuliaan belaka?
Sebetulnya kita sedih menyimpulkan statemen ini. Tapi kita tidak
bisa mengelak sampai sejauh ini dalam kehidupan kebangsaan kita,
kita sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan keberagamaan kita telah
gagal membangun sebuah karakter keimanan. Seolah-olah kesucian hanya
dilihat di sekitar tempat ibadat, di luar itu orang boleh melakukan
praktik yang berlawanan dengan keimanan.
Terasing dari Realitas
Tuhan bukan butuh persembahan tetapi umat manusia yang bertindak
adil bagi sesama. Tuhan akan muak dengan persembahan kita bila
tangan kita penuh dengan darah, dan mulut kita penuh dengan dusta.
Realitas itu ditampilkan dalam wajah keagamaan saat ini, akibatnya
keagamaan yang seharusnya membebaskan manusia dari situasi
keterasingan, dalam realitas dirinya sendiri terasing.
Kita lihat dalam praktiknya, keberagamaan kita menampilkan wajah
kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian
individual ini tak kunjung berubah menjadi kesalehan sosial.
Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang
berorientasi pada kesucian perorangan.
Ukurannya hanya sekadar persembahan belaka, tetapi tidak mampu
memperbaharui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak
mampu keluar dari persoalan identitas (logo) seperti di atas.
Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas, bukan
kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekadar ritual belaka,
tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan.
Agama jauh dari realitas kehidupan kemasyarakatan. Dia cenderung
memikirkan dirinya sendiri dalam lingkup dogma, aturan dan
legalitas. Dia tak mampu melihat realitas masyarakat yang mengalami
penindasan, pemerkosaan hak, dan penderitaan kaum tertindas yang
termarginalisasikan oleh sistem pembangunan.
Agama gagal mempraktikkan iman yang memihak nilai-nilai kemanusiaan,
keadilan dan kesejahteraan. Mengapa agama bisa terasing dari
realitas? Hampir 40-an tahun agama dijadikan subordinasi politik
Orba. Agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi
pada dogma an sich. Pemeluknya pun sekadar beragama formal dan
fanatis.
Ini membuat pemeluk agama menjadi picik dan mudah dijadikan potensi
konflik. Selama ini tanpa sadar cara beragama kita masih sekadar
menjalankan kewajiban persembahan, bukan pada penghargaan hak-hak
manusia lainnya. Penghayatan yang ritualistik ini melahirkan nilai
keimanan yang kurang terwujud.
Ukuran Beradab
Karena itulah perubahan orientasi keagamaan seharusnya lebih
difokuskan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dialog kemanusiaan ini
akan membantu umat beragama memiliki kesadaran religiusitas yang
berkualitas. Kualitas religiusitas inilah yang membawa nilai-nilai
kemanusiaan semakin adil dan beradab. Ukuran beradab adalah bila
terwujud solidaritas sosial yang universal, tanpa pandang bulu
agama, etnis dan suku.
Ini terwujud bila umat beragama tidak terkurung dalam polemik yang
hanya mempersoalkan perbedaan ajaran, melainkan, di sisi lain, umat
beragama harus berani meninggalkan egoisme dengan cara membangun
komitmen kemanusiaan.
Komitmen ini akan terwujud bila umat beragama jujur terhadap
realitas dan jujur kepada Tuhan. Jujur terhadap realitas adalah umat
beragama memiliki bela rasa terhadap penderitaan umat manusia yang
beda keyakinan. Dengan itu, umat beragama dipanggil untuk bela rasa
terhadap korban, dalam bahasa yang sama yakni kemanusiaan. Lewat
wujud bela rasa itulah umat beragama menjalankan agama yang
berbelaskasih. Lewat tindakan yang tulus itulah dia sebenarnya jujur
terhadap Tuhan.
Umat beragama perlu mengadakan revolusi terhadap dirinya sendiri,
dengan berani terus–menerus menafsirkan teks secara konteksual. Teks
terus-menerus harus ditafsirkan dalam pelbagai konteks dan untuk
kepentingan kemanusiaan. Dengan demikian, cakrawala agama akan
semakin luas dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Moralitas agama tidak mengajarkan: “Yang penting gue slamet, elo mau
modar, sekarat, mati, itu bukan urusan gue,” sebuah moralitas yang
kini menjangkiti politisi kita. Mengapa? Sebab ini akan membawa
agama hanya sibuk mengurusi ritualisme tapi melupakan keadilan,
kejujuran dan ketulusan. Agama hanya terjebak pada
gebyar-seremoninya, tetapi melupakan persoalan manusia yang
mendasar. Ini akan membawa agama jatuh pada sekat–sekat
primordalisme.
Penulis adalah budayawan
|
|