|
Sisi Gelap
Perkawinan Timur–Barat (6)
Mayat Nike Terpotong-potong
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
IJMUIDEN - Beberapa tahun lalu penduduk Belanda dikejutkan oleh
berita polisi yang ditayangkan lewat televisi, “ditemukan mayat
seorang perempuan Indonesia, korban mutilasi di dasar laut dermaga
pelabuhan Ijmuiden, tak jauh dari Amsterdam, oleh beberapa penyelam
amatir”.
Para penyelam menemukan dua kantong sampah dari plastik hitam merek
Komo, berisi potongan tubuh seorang perempuan Asia. Kantong sampah
berisi mayat korban mutilasi itu ditenggelamkan di dasar laut dengan
pemberat batu bata. Setelah polisi mengadakan investigasi diketahui
mayat itu adalah perempuan Indonesia bernama Nike, usia 35 tahun,
yang sedang hamil muda.
Nike adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang
ingin mengubah nasib ke negeri Belanda. Seminggu setelah penemuan
itu, polisi Belanda berhasil menangkap tersangka pembunuhan Nike,
yaitu Martijn, teman sekerja dan pacar korban.
Peristiwa tersebut sempat membuat gempar masyarakat Indonesia di
Belanda. Jenazahnya dipulangkan ke Jawa Tengah. Saat disembahyangkan
di kamar jenazah di Oosdorp, orang Indonesia memberikan perhatian.
Juga teman-teman almarhum baik dari perusahaan catering dimana dia
bekerja maupun teman-teman sesama siswa kursus roti/kue.
Dari keterangan yang berhasil dikumpulkan baik di Belanda maupun
Indonesia, diketahui Nike lahir dari keluarga sederhana di sebuah
desa di Jawa Tengah. Tamat SMA Nike mengadu nasib ke Jakarta dan
bekerja sebagai pelayan toko. Tetapi dia tidak puas dengan pekerjaan
itu. Kemudian Nike les bahasa Inggris, lalu bekerja sebagai pegawai
di sebuah biro pariwisata. Di tempat inilah Nike mulai berhubungan
dengan laki-laki asing. Nike mulai tahu bahwa di luar Indonesia ada
kehidupan yang lebih enak.
Nike adalah perempuan yang keras, yang tidak mau menyerah pada
nasib. Dengan potensi yang ada pada dirinya, wajah yang eksotik
timur, tubuh semampai dengan tinggi badan yang ideal dan
kemampuannya berbahasa Inggris, telah membawa Nike melalang buana ke
beberapa negara Eropa. Dia pernah tinggal di Wina, Austria; Perth,
Australia. Juga pernah di Los Angeles, USA sebagai perempuan penjaja
kenikmatan.
Perjalanan Nike cukup mendunia. Tetapi akhirnya ia lelah. Dia butuh
tempat untuk melabuhkan diri dari petualangannya yang panjang. Ia
pun berganti pasangan antar bangsa. Tetapi toh tidak menemukan apa
yang didambakannya. Akhirnya ia berlabuh di kota Weesp Negeri
Belanda, menikah dengan Frits.
Mereka menikah di Jawa Tengah dengan upacara adat Jawa. Fritz sempat
memperlihatkan foto pernikahan mereka. Setelah menikah suami istri
ini tinggal di sebuah flat berlantai 6 di kota kecil Weesp yang
terletak antara Amsterdam dan Hilversum. Menurut beberapa orang
Indonesia di kota ini, mereka berdua jarang bergaul dengan sesama
orang Indonesia. Pasangan ini tidak mempunyai keturunan.
Menjelang akhir hidupnya Nike bekerja di perusahaan catering di kota
Amstelveen. Untuk menambah ketrampilannya, karena Nike tidak pernah
puas dengan apa yang sudah dicapainya, Nike kursus membuat roti/kue.
Di perusahaan catering inilah Nike berkenalan dengan Martijn,
karyawan bagian daging.
Saat itu Martijn masih mempunyai seorang istri dan seorang anak.
Relasi antara Nike dengan Martijn terjalin makin akrab, layaknya
sepasang kekasih. Frits, suami Nike, tidak mengetahui rahasia
hubungan asmara antara istrinya dengan Martijn, sampai saat
ditemukan potongan-potongan tubuh Nike di dasar laut dermaga
pelabuhan Ijmuiden.
Gara-gara Hamil
Menurut Frits, bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya, Nike sering
keluar malam. Dia senang ke disko, sedangkan Frits karena hambatan
penglihatan lebih se-nang nonton televisi di rumah. Hubungan mereka
tetap baik sebagai suami istri. Begitu juga hubungannya dengan
Martijn.
Menurut beberapa teman, Nike memang perempuan yang mempesona. Dia
pintar bergaul dengan siapa saja. Dia mempunyai banyak teman dari
berbagai negara. Ada Suriname, Belanda, Cina, Maroko, Turki, juga
Indonesia, pokoknya multirasial. Bergaul dengan Nike memang
menyenangkan.
Pada suatu malam Nike tidak pulang ke rumah usai kerja. Menurut
Frits, hal ini biasa karena Nike sering menginap di rumah temannya.
Namun setelah tiga hari Nike tidak pulang, Frits mulai curiga,
tetapi dia belum melapor pada polisi. Ketika muncul berita polisi di
televisi, Frits langsung pergi ke polisi dan ingin melihat siapa
perempuan korban mutilasi itu. Dari bukti-bukti fisik, Frits yakin
mayat yang ditemukan di Ijmuiden itu adalah istrinya.
Dua bulan setelah ditemukannya tubuh Nike, terdakwa Martijn diajukan
ke Pengadilan Negeri Haarlem. Tak tanggung-tanggung, terdakwa
Martijn menunjuk pengacara Abraham Moskowitz sebagai pembelanya.
Moskowitz adalah pengacara terkenal dan mungkin yang termahal
tarifnya di Belanda.
Persidangan yang berlangsung beberapa bulan memutuskan Martijn
bebas, karena barang bukti tidak cukup kuat untuk menggiring Martijn
ke penjara. Dari sidang tersebut terungkap Nike dibunuh dalam
keadaan hamil. Dan kehamilan itu akibat hubungannya dengan Martijn.
Pembunuhan itu terjadi karena Martijn merasa terus didesak oleh Nike
untuk memberikan uang, kalau tidak Nike akan membuka rahasia mereka
kepada istri Martijn.
Setiap orang berhak untuk menikmati kebahagiaan. Dan Nike menikmati
hidupnya dengan caranya sendiri, namun segala perbuatannya itu harus
dibayar mahal, yaitu dengan nyawanya. Betapa sedihnya keluarga Nike
di Jawa Tengah tatkala mendengar berita kematian putrinya yang tidak
wajar itu, apalagi Nike adalah tulang punggung keluarga. Setiap
bulan Nike mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.
Kisah tragis yang menimpa Nike ini semoga tidak terulang lagi pada
siapa pun, dan membuka mata perempuan Indonesia untuk lebih
berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan pria asing. Entah itu
hubungan berdasarkan cinta atau sekadar suka sama suka. n
|
|