I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No.  5037

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Open Source, Pantaskah Kita Memilikinya



Jakarta - Kejadian diberangusnya warnet-warnet di Indonesia, setelah diketahui menggunakan perangkat lunak bajakan. Membuat banyak pengguna fasilitas ini, mengalihkan perhatian pada jenis perangkat lunak lain. Salah satu pilihannya jelas menggunakan jenis perangkat lunak yang lebih bersahabat. Yaitu jenis-jenis perangkat lunak yang berbasis open source, alias gratis dan bisa di-download dari situs internet kapan saja.
Namun semua itu sebenarnya masih bisa dibilang tak pasti. Karena tak adanya garansi mengenai kemampuan jenis software, mereduksi semua keinginan pemakai. Hingga para pemakai tak akan bisa mengklaim apa pun bila ternyata jenis perangkat lunak ini ngambek, dan tidak mau menjalankan fungsinya.
Belum lagi masalah tampilan, yang bisa berbeda jauh berbeda sekali satu sama lain. Hingga banyak calon pemakai perangkat lunak jenis ini menjadi terus bertanya-tanya. Bahkan beberapa operator warnet di bilangan Margonda, Depok, terpaksa harus membiasakan diri dahulu selama beberapa minggu. Sebelum mereka siap memakai layanan jenis open source, sejenis Linux, kepada para pelanggannya. Beberapa kemudian tak merekomendasikan dan beberapa yang lain meminta untuk menahan sebentar.
Padahal sebenarnya kasus ketidakyakinan ini bisa ditekan, bila para pemakai perangkat lunak jenis open source mengerti apa saja yang perlu diperhatikan bila serius memakainya.
Pertama yang perlu diketahui dari perangkat lunak tersebut adalah keterangan mengenai siapa nama pengarang asli dari sistem operasi perangkat lunak tersebut. Sebab dengan mengetahui namanya, paling tidak kita telah memiliki jaminan apakah jenis perangkat lunak tersebut dapat kita pergunakan.
Adanya nama pengarang juga membuat kita memiliki daftar kemampuan per individu para programer tersebut. Dan nantinya, apabila kita tak suka pada jenis perangkat lunak tersebut, kita dapat membuangnya, dan mem-black list nama tersebut dalam daftar software berbasis open source yang bisa di-download.
Kemudian hal lain yang bisa dilakukan adalah melakukan penjajagan mengenai perangkat lunak yang akan dipergunakan. Biasanya para programer perangkat lunak tersebut, akan meninggalkan alamat untuk menghubungi mereka. Catat alamat tersebut dan simpan baik-baik. Sebab kemungkinan itu akan berguna bila kita menemui kesulitan dalam pemakaian perangkat lunak.
Jangan lupakan juga meminta izin kepada sang pencipta sistem perangkat lunak. Karena ini berhubungan juga dengan bentuk penghargaan kita terhadap karya cipta mereka. Pengalaman kita dari peristiwa terdahulu seharusnya kita jadikan pelajaran. Biar bagaimanapun, hak cipta merupakan hal yang patut diperhatikan.
Dengan adanya sikap permisif yang direspons para pembuat program juga, paling tidak membuat lahirnya jaminan mengenai bonaviditas perangkat lunak tersebut. Adanya izin dari pencipta program, membuat kita lebih nyaman dalam memakai perangkat lunak tersebut. Selain juga menemukan tempat bertanya yang paling baik, bila kita memiliki masalah dalam pemakaian perangkat lunak tersebut.
Namun perlu diingat juga. Keputusan kita untuk memakai program gratisan berbasis open source ini, sebenarnya juga memiliki ancaman yang tak kalah penting. Apalagi pada bisnis-bisnis penting, yang memerlukan keandalan perangkat untuk memuluskan perjalanan keprofesionalan perusahaan.
Dengan memakai perangkat open source, segala kemungkinan dapat saja terjadi. Bahkan kejadian yang paling buruk, seperti tak berfungsinya semua sistem bisa terjadi. Jelas ini akan menghambat laju perusahaan, yang berarti juga kerugian akibat berkurangnya faktor produksi. Dan inilah sulitnya, karena para pengacara kita tentu juga tak akan mudah untuk menentukan akan menuntut siapa, pada kasus ini. Sementara kerugian dan keluhan para konsumen terbayang di depan mata.
Rasa-rasanya untuk kaum yang menganggap kepuasan sebagai salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, tentu akan berpikir ulang memakai produk gratisan ini. Jadi disarankan, agar calon pemakai program ini untuk memilah segala kebutuhannya. Open source mungkin bisa menjadi jalan keluar, bila memang kita merasa cocok dan memiliki jaminan untuk pengoperasiannya. (slg)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003