Rabu, 09 Maret 2005

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4945

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Kasus Ambalat, Rakyat Malaysia Lebih Tenang 

 

Oleh: Wartawan ”SH”
SOFYAN ASNAWIE


TAWAU — Tidak heboh seperti di Indonesia, masyarakat Sabah, Malaysia Timur, di negara bagian yang terlibat langsung dalam pertikaian perbatasan Ambalat antara Indonesia dan Malaysia, nampak tenang. Mereka lebih mempercayakan pada pemerintahnya, mungkin karena pengalaman dalam kasus pemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang dimenangkan Malaysia.
Banyak mahasiswa University Malaysia Sabah (UMS) di Kota Kinabalu yang berharap tidak terjadi konfrontasi, mereka tidak turun ke jalan, katakan untuk mendemo halaman Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Kinabalu.
Dua kantor perwakilan RI di Sabah, di Kota Kinabalu dan Tawau terlihat tenang. Pada hari-hari terakhir saja media massa di Malaysia memberitakan soal pencerobohan tentara laut Republik Indonesia masuk ke wilayah mereka, itulah sebutan mereka terhadap gerakan militer Indonesia di Laut Sulawesi. ”Di sini tenang, mungkin Kuala Lumpur lebih mendekati KBRI dan Jakarta dalam kasus Ambalat ini,” kata Konsul KJRI untuk Sabah-Sarawak, Kurniawan Roebadi, kepada SH.
Tidak ada foto terpampang secara demonstratif di media-media massa yang menggambarkan pejabat Malaysia berada di kapal perang atau di samping pesawat tempurnya, seperti media di Indonesia yang dalam sepekan memamerkan persiapan perang. Media Malaysia tidak memblow-up kasus Unarang dan Ambalat ini. Sebuah koran berbahasa Cina menyebut penempatan kapal perang di laut Sulawesi dan satuan Marinir di Sebatik wilayah Indonesia sebagai ”gertak”.
Ketenangan yang ada, mungkin karena masyarakat negara bagian Sabah yang berpenduduk sekitar 1,8 juta itu terbiasa dengan konfrontasi, terbiasa dengan ancaman militer dan ancaman mundu (bajak laut) terutama yang datangnya dari arah Timur Sandakan, tentara Abu Sayyaf dari Filipina yang kadang-kadang masuk ke wilayah Samporna.
Mungkin pula masyarakat Sabah terbiasa dari kasus Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, saat panas-panasnya tuntutan teritorial itu sebelum masuk di sidang mahkamah internasional tahun 1980-an hingga tahun 1990-an menjelang awal tahun 2002. Masyarakat Malaysia sudah matang akan kata konfrontasi seperti yang dilakukan Indonesia saat ”Ganyang Malaysia” tahun 1960-an.
Ketika panasnya kasus Pulau Sipadan-Ligitan itu, hampir tiap saat, dua bahkan sampai tujuh kapal perang Rl mengepung perairan antara Tawau, Batu Payung Tanjung Nagas, dari lepas pantai Pulau Sebatik yang terbagi dua Indonesia-Malaysia, dan Tanjung Haus di tepi timur Pulau Nunukan hingga lepas pantai pulau karang Ligitan.
Tiga tahun lalu, bahkan tahun-tahun sebelumnya masyarakat Samporna terutama di kampung-kampung pantai Apas Balung Mantilitip, Pulau Mabul, sering melihat kapal perang RI berseliweran berada di antara Pulau Sipadan dengan Pulau Kepalai.

Kini karena penempatannya di sekitar Ambalat sejauh hampir 30 mil laut dari pantai Samporna, kapal-kapal perang Rl itu tidak nampak, yang agak ramai adalah kapal perang Malaysia dan Polis Marine yang meronda (patroli) diantara Sipadan- Borneo.

Kayu dan TKI
Kegiatan kapal perang RI memang meningkat dalam sepekan terakhir, terlihat keluar rnasuk KRI yang kadang berlabuh di lepas pantai Selat Tawau, antara Nunukan - Sebatik, kesibukan ini terlihat dari Batu Payung dao Tinagat, serta pesisir kampung Mambalus.
Hebob Ambalat sekarang, secara psikologis kurang mempengaruhi masyarakat Sabah, percakapan sehari-hari hanya menyangkut bisnis, berbeda dengan kasus Sipadan - Ligitan yang setiap muncul komplain dari Indonesia, muncul pula komplain di media massa Malaysia.
Yang ditakuti masyarakat Malaysia di Tawau sekarang ini adalah bagaimana bila kayu Indonesia tidak lagi masuk ke Sabah, atau Indonesia menahan tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk tidak bekerja di Malaysia Timur. Maka akan lumpuhlah bisnis di Sabah, kilang-kilang kayu akan kekurangan bahan baku. ”Sekarang saja mereka mulai kelabakan,” kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Timur Mayjen Pol. Budi Utomo kepada SH.
Tetapi masyarakat bisnis perkayuan di Sabah hingga akhir Februari 2005 masih bersyukur karena ada saja kapal dan perahu besar bermuatan kayu smokel (selundupan) yang masuk Marotai, atau ke Tawau. Terutama kayu milik PT NJL yang tengah membuka lahan kabun sawit di daerah Simenggaris. Hal itu oleh Kapolda Kaltim tidak diketahui lebih jauh.
”Yang kami takutkan bila Indon (sebutan sehari-hari bagi Indonesia di Sabah) tidak mengizinkan pekerjanya masuk ke Sabah atau menarik semua pekerja dari Sabah, maka Sabah akan teruk (lumpuh),” kata Wong, warga Tawau keturunan Tionghoa, kepada SH.
Sumber tenaga kerja di Sabah berbeda dengan di Semenanjung. Pekerja Indonesia di perkebunan sawit Sabah merupakan pekerja yang rajin, upah rendah, tahan lasak (tahan uji), dan bahasa Melayu yang lebih mudah untuk saling mengerti. Sepertinya ada pembagian lahan pekerja di Sabah, untuk pekerja non-kebun lebih banyak dipegang warga Filipina, tapi khusus kebun dan kilang kayu cenderung oleh orang Indonesia.
Sekarang saja, ketika Operasi Tegas dilakukan, Kota Tawau menjadi sangat sepi, kedai- kedai lebih awal tutup tiap harinya, karena pembeli dari Indonesia,dan warga Indonesia tidak banyak berkeliaran di bandar (kota). Di tingkat atas, kekuatiran itu menjadi sebaliknya, Menteri Dalam Negeri Azmi Khalid bersama Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, menetapkan ke depan untuk tidak lagi mempekerjakan tenaga kerja migran asal Indonesia. Malaysia akan menarik pekerja non-Indonesia, mungkin Filipina dan India. Setelah amnesti, Malaysia kekurangan sekitar 500 ribu tenaga kerja migran.
Keputusan mutlak diambil hari Rabu (9/3), banyak orang di Kota Kinabalu melihat kebijakan Azmi Khalid ini ada kaitan dengan Wisma. Putra (istilah Kantor Perdana Menteri Malaysia) dalam menyikapi pamer kekuatan Indonesia di Ambalat. Malaysia seolah-olah ingin mengatakan, bagaimana negara yang dalam kondisi sulit seperti Indonesia itu dengan tingkat pengangguran yang tinggi, lapangan kerja terbatas, bisa menangani hampir 500 ribu pekerja eks Malaysia.

Meja Perundingan
Media Malaysia memang tidak mendramatisir pertikaian Indonesia - Malaysia di Laut Sulawesi itu. Media masa seperti Berita Harian dan Utusan Melayu lebih cenderung memberitakan soal pekerja asing tanpa izin (PATI) yang terkena razia Operasi Tegas. Banyak media menempatkan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke perbatasan di pojok kecil halaman surat kabar, bahkan ada yang menempatkannya di halaman dalam.
Masyarakat Nunukan yang menggunakan border lintas batas juga tidak banyak yang datang ke Tawau, demikian pula warga Sungai Nyamuk, Sungai Taiwan dan Sungai Pancang yang biasanya dengan bekal kartu tanda penduduk (KTP) Sebatik saja bisa belanja beberapa jam di Tawau, datang secara alamiah, tanpa keterangan resmi seperti paspor, misalnya, dengan jongkong (perahu bermotor) kecil membawa ikan dijual di pasar ikan Tawau, atau membawa sedikit koko (coklat) dan pulang ke Sebatik Indonesia membawa sembako. Sungai Pancang - Sabindo (Tawau) ditempuh 15 menit dengan jongkong bermotor 40 PK.
Udin Opong (45) nelayan Samporna, mengatakan sejak seminggu ini nelayan Malaysia khawatir menangkap ke laut lepas melebihi batas negara, apalagi pihak Indonesia mulai menangkapi semua kapal nelayan yang memasuki wilayah Indonesia, ada delapan kapal nelayan Malaysia yang ditangkap TNI-AL dalam sepekan ini.
Bandar Tawau memang sepi, tenang, padahal di balik Gunung Kinabutan (1285) di bagian selatan bandar, lepas pantai karang Roach, terlihat kegiatan-kegiatan militer yang menurut pihak Indonesia, siap tempur. ”Kalaupun perang terjadi tidak di sini, pasti di Laut Celebes sana bila perang itu urusan pemerintah,” kata Jamal Ikhsan. Ia yakin tidak terjadi konfrontasi apalagi pemerintah Malaysia berhati-hati sekali, lebih ingin lewat perundingan, bukan penyelesaian militer.
Kapal perang yang dikerahkan juga tidak banyak, dua kapal diraja (KD) yang memang biasanya ronda (patroli) membantu Polis Marine (Polisi Perairan) sepanjang perbatasan Filipina hingga perbatasan Indonesia, itupun dulunya hanya menjaga perairan dari bajak laut yang banyak di sekitar Pulau Mabul dan Pulau Mataking Kecil hingga lepas pantai Sandakan. Dua kapal memang didatangkan dari markas Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) Timur di Pulau Labuan dekat Beaufort, itupun disiagakan di pelabuhan Sandakan jauh dari daerah pertikaian.
Beberapa F-16 Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) ada di Labuan, karena wilayah persekutuan ini merupakan markas TUDM dan TLDM yang jangkauan terbangnya memang dekat bila konfrontasi militer terjadi di Ambalat, lebih dekat dari jangkauan terbang F-16 RI yang kini ada empat buah ditempatkan di Sepinggan, Balikpapan.
”Buat apa perang?” kata Syamsudin seorang aktivis UMNO dari kawasan Tawau, kalau bisa diselesaikan secara diplomatik, apalagi ia dengar Menteri Luar (Menteri Luar Negeri Malaysia) Syed Hamid Jaafar Albar dan Menteri Pertahanan yang juga Timbalan (Wakil) Perdana Menteri Datu Seri Najib Tun Rajak akan datang ke Jakarta untuk menyelesaikan kasus Ambalat.
Syamsudin mengatakan bila perang kedua negara akan menjadi teruk, lemah, ekonomi ataupun militer. Kalah atau menang masing-masing pihak akan bisa ditundukkan negara lain yang memang ingin melihat Asia Tenggara bisa didikte, atau dikendalikan secara politik, ekonomi, dan militer. Syamsudin tidak menyebut negara luar selain Indonesia dan Malaysia yang berkepentingan lemahnya kedua negara. Soal marwah (harga diri) bangsa bisa diselesaikan di meja perundingan. ***





 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003