|
Sayur Lodeh dan Bencana Alam
YOGYAKARTA — Adakah hubungan antara
bencana alam dengan sayur lodeh? Ada! Sayur lodeh diyakini sebagai
tolak bala sehingga bencana alam seperti badai ataupun air bah bisa
diredam, tapi jika bencana memang terjadi maka yang makan sayur
lodeh akan selamat. Tak percaya? Silakan tanyakan pada warga di
sekitar pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.
Beberapa hari lalu banyak penduduk di kawasan pantai itu yang
membuat sayur lodeh untuk dikonsumsi sendiri. Tentu saja jenisnya
berbeda dengan sayur lodeh seperti yang biasa dimasak sehari-hari.
Sayur lodeh ini harus dibikin dalam 7 warna (untuk warga di
Kabupaten Gunung Kidul) atau 3 warna untuk Kabupaten Bantul.
“Kami dan para tetangga di kawasan pantai Parangtritis telah membuat
sayur lodeh untuk tolak bala. Ini merupakan perintah dari Ngarso
Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X–red) untuk menghadapi bencana
badai yang akan terjadi,” kata Mugiyem (55), saat ditemui SH di
kawasan pantai Parangtritis, Jumat (4/2).
Belakangan ini muncul kabar akan terjadi badai tropis dan tsunami
yang akan melanda kawasan pantai selatan Yogyakarta. Malah, Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X,
Jumat secara khusus menggelar jumpa pers di kantornya untuk
memperingatkan warganya agar mewaspadai kemungkinan terjadinya
bencana alam tersebut.
Bencana alam berupa badai dan gelombang air laut yang akan masuk ke
daratan itu diperkirakan terjadi 9 Februari 2005. Menurut HB X yang
didampingi Kepala Sub Meteorologi Lapangan Udara Adi Sucipto
Yogyakarta, Kapten Sus Subakir, posisi badai tropis saat ini sudah
berada di atas Darwin, Australia dan bergerak menuju Indonesia
dengan kecepatan 20-40 knot/jam dan kecepatan putaran 75-125 km/jam.
Tinggi badai itu mencapai 40.000 kaki.
Dengan kecepatan itu, diperkirakan badai tropis akan sampai ke
Samudera Hindia 9-11 Februari 2005. Di samudera itu juga terlihat
adanya low pressure karena ada gerakan magma di dasar laut. “Hal ini
sesuatu yang jarang terjadi sehingga masyarakat harus benar-benar
waspada,” tegas HB X.
Ia menjelaskan, Rabu (2/2) dirinya mengadakan pertemuan dengan
bupati Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul, untuk memperingatkan
seluruh warga agar waspada. Bagi warga yang biasanya melakukan
ritual di pantai Selatan pada hari Imlek 9 Februari dan peringatan 1
Muharam pada 10 Februari, juga diminta berhati-hati.
Bagi warga seperti Mugiyem, perintah untuk membuat sayur lodeh
diterimanya dari mulut ke mulut. “Pokoknya begitu mendengar perintah
itu kami melaksanakan. Karena beliau adalah junjungan kami semua,”
tutur Mugiyem, ibu 5 anak ini.
Mugiyem sudah membuat sayur lodeh lima hari lalu dengan 3 warna
yaitu kluwih, jipang dan terong biru, sebab ia tinggal di kawasan
Bantul. Sedangkan bagi warga yang berada di Gunung Kidul sayur lodeh
dibuat dalam 7 warna yakni kluwih, daun melinjo, kulit melinjo, biji
melinjo, jipang, kecambah dan terong biru.
“Saya nggak tahu kenapa berbeda. Tapi ini harus kami buat dan
dimakan sekeluarga,” ujarnya lagi. Hal yang sama juga diungkapkan
Tukinah (32), penduduk Girijati, Parangtritis. “Kami juga buat demi
keselamatan sekeluarga,” ungkapnya. Meski begitu, ia tidak tahu apa
makna makan sayur lodeh itu.
Baginya, yang penting ikut memasak karena seluruh tetangganya juga
memasak. “Tapi saya percaya, karena ini merupakan perintah Ngarso
Dalem,” tambahnya.
“Air Tobat”
Tak hanya sayur lodeh supaya terhindar dari bencana alam. Menurut
Mugiyem, dirinya dan para tetangganya juga memperoleh pembagian satu
plastik air putih dari kepala dusun pada Kamis (3/2) malam. Menurut
kepala dusun itu, air putih tersebut harus dicampur dengan air di
bak mandi untuk mandi sekeluarga dan untuk dicampur dengan air minum
yang telah masak.
“Kata kepala dusun, air ini dari Ngarso Dalem untuk keselamatan.
Yang saya dengar, Ngarso Dalem mendapat firasat akan terjadi sesuatu
di pantai selatan. Untuk itu kami lantas diberi air putih itu,”
katanya. Lain halnya dengan Tukinah, yang hingga Jumat kemarin belum
dapat pembagian air putih. “Terus kalau mau minta di mana ya?” ia
bertanya dengan ekspresi gelisah.
Kegelisahan Tukinah pupus, tatkala kemudian Mugiyem berjanji akan
memberikan sisa air putih miliknya. “Kalau kamu belum dapat, nanti
ambil saja milikku,” tutur Mugiyem kepada Tukinah. Maka wajah
Tukinah pun berubah sumringah (berseri-seri).
Soal pembagian air memang diakui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Ia menyatakan air tersebut merupakan “air tobat”. Ia juga
menjelaskan, telah digelar mujahadahan di beberapa tempat dengan
membaca 30 surat yang ada di Al Quran. Pembacaan itu dilakukan 7
kali berturut-turut, di antaranya adalah surat At Taubah dan Al
Ikhlas.
“Harapan saya, yang tobat itu didasari dengan kejujuran. Kalau
memang ada air ya itu air tobat,” kata HB X. Menurut informasi yang
diperoleh SH, air itu diambilkan dari 7 sumber mata air dan sudah
diberi doa oleh HB X.
Pasrah
Setelah memasak sayur lodeh dan mendapat “air tobat”, Mugiyem dan
Tukinah merasa tenang jika nantinya memang bencana alam benar-benar
terjadi. Bahkan Mugiyem mengaku tidak akan mengungsi jauh-jauh hari
sebelum tanggal 9 Februari 2005. “Saya pasrah saja. Nanti kalau
memang benar-benar terjadi ya baru ngungsi naik ke bukit itu,”
tuturnya seraya menunjuk Pegunungan Seribu yang membentang tak jauh
dari pantai Parangtritis.
Mugiyem dan keluarganya sudah sangat siap jika nantinya benar-benar
terjadi bencana alam. Ia juga menjelaskan, di kawasan pantai
Parangtritis telah disiagakan tim SAR yang akan memberi peringatan
dini jika ada tanda-tanda datangnya bencana alam. “Saya juga sudah
mulai tidur dalam satu kamar dalam keadaan tak terkunci. Jadi kalau
terjadi apa-apa lebih cepat untuk menyelamatkan diri,” ucapnya.
Namun Mugiyem juga mengaku telah melihat gejala yang tidak biasa di
kawasan pantai Parangtritis. “Kalau malam anginnya kencang sekali,
tak seperti biasanya,” tuturnya. Ia bisa membedakan gejala itu
karena lahir dan dibesarkan di kawasan tersebut hingga berumur 55
tahun. “Saya bisa merasakannya,” tambahnya lagi
Lain halnya dengan Mantri Kesehatan Puskesmas I Bantul, Tri Agus
Purnomo. Ketika ditemui di rumahnya, di kawasan Kretek, sekitar 5 Km
dari garis pantai Parangtritis, Agus merasa was-was dengan kabar
akan ada bencana alam di kawasan pantai selatan. Pada awalnya Agus
tak mempercayai kabar itu. Namun setelah HB X menyampaikan secara
langsung, maka ia baru percaya.
“Sebagai orang kejawen, saya sangat percaya dengan ucapan Ngarso
Dalem. Beliau kalau berkata tentu tak sembarangan. Sabdo Pandito
Ratu,” katanya. Untuk itulah ia dan keluarganya akan mengungsi pada
tanggal 8 Februari nanti. Ia memilih ke Nanggulan, Kulon Progo, di
rumah saudaranya. “Saya kira di sana akan aman karena daerahnya
tinggi,” tuturnya.
Sementara itu Dwi Krisdiyanto, warga di sekitar pantai Samas, merasa
bingung. ”Gelombang di pantai memang semakin besar dibanding
hari-hari biasa. Tapi dengan adanya pengumuman dari BMG dan
pemerintah daerah, masyarakat justru panik antara percaya dan tidak
percaya. Sebagian warga bingung mau mengungsi ke mana,” kata Dwi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam
mengumumkan status waspada ini bukannya tanpa persiapan. Menurut
Sekretaris Daerah Pemprov DIY, Bambang SP, pihaknya telah melakukan
koordinasi dengan pihak Kepolisian Daerah (Polda) Yogyakarta dan
Komando Resort Militer (Korem) Yogyakarta, serta menyiagakan penuh
Tim SAR selama 24 jam. Lalu mengapa tidak dilakukan evakuasi dini?
“Serba repot. Nanti kami dikira ngaya wara (berlebih-lebihan),”
tegasnya.
Ya, memang repot! Tapi mudah-mudahan tidak akan terjadi bencana
alam, sehingga sayur lodeh hanya sekadar sayur lodeh yang memang
lezat rasanya. (SH/yuyuk sugarman)
|
|