Sabtu, 05 Februari 2005

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4920

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sayur Lodeh dan Bencana Alam
 

YOGYAKARTA — Adakah hubungan antara bencana alam dengan sayur lodeh? Ada! Sayur lodeh diyakini sebagai tolak bala sehingga bencana alam seperti badai ataupun air bah bisa diredam, tapi jika bencana memang terjadi maka yang makan sayur lodeh akan selamat. Tak percaya? Silakan tanyakan pada warga di sekitar pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.
Beberapa hari lalu banyak penduduk di kawasan pantai itu yang membuat sayur lodeh untuk dikonsumsi sendiri. Tentu saja jenisnya berbeda dengan sayur lodeh seperti yang biasa dimasak sehari-hari. Sayur lodeh ini harus dibikin dalam 7 warna (untuk warga di Kabupaten Gunung Kidul) atau 3 warna untuk Kabupaten Bantul.
“Kami dan para tetangga di kawasan pantai Parangtritis telah membuat sayur lodeh untuk tolak bala. Ini merupakan perintah dari Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X–red) untuk menghadapi bencana badai yang akan terjadi,” kata Mugiyem (55), saat ditemui SH di kawasan pantai Parangtritis, Jumat (4/2).
Belakangan ini muncul kabar akan terjadi badai tropis dan tsunami yang akan melanda kawasan pantai selatan Yogyakarta. Malah, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Jumat secara khusus menggelar jumpa pers di kantornya untuk memperingatkan warganya agar mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam tersebut.
Bencana alam berupa badai dan gelombang air laut yang akan masuk ke daratan itu diperkirakan terjadi 9 Februari 2005. Menurut HB X yang didampingi Kepala Sub Meteorologi Lapangan Udara Adi Sucipto Yogyakarta, Kapten Sus Subakir, posisi badai tropis saat ini sudah berada di atas Darwin, Australia dan bergerak menuju Indonesia dengan kecepatan 20-40 knot/jam dan kecepatan putaran 75-125 km/jam. Tinggi badai itu mencapai 40.000 kaki.
Dengan kecepatan itu, diperkirakan badai tropis akan sampai ke Samudera Hindia 9-11 Februari 2005. Di samudera itu juga terlihat adanya low pressure karena ada gerakan magma di dasar laut. “Hal ini sesuatu yang jarang terjadi sehingga masyarakat harus benar-benar waspada,” tegas HB X.
Ia menjelaskan, Rabu (2/2) dirinya mengadakan pertemuan dengan bupati Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul, untuk memperingatkan seluruh warga agar waspada. Bagi warga yang biasanya melakukan ritual di pantai Selatan pada hari Imlek 9 Februari dan peringatan 1 Muharam pada 10 Februari, juga diminta berhati-hati.
Bagi warga seperti Mugiyem, perintah untuk membuat sayur lodeh diterimanya dari mulut ke mulut. “Pokoknya begitu mendengar perintah itu kami melaksanakan. Karena beliau adalah junjungan kami semua,” tutur Mugiyem, ibu 5 anak ini.
Mugiyem sudah membuat sayur lodeh lima hari lalu dengan 3 warna yaitu kluwih, jipang dan terong biru, sebab ia tinggal di kawasan Bantul. Sedangkan bagi warga yang berada di Gunung Kidul sayur lodeh dibuat dalam 7 warna yakni kluwih, daun melinjo, kulit melinjo, biji melinjo, jipang, kecambah dan terong biru.
“Saya nggak tahu kenapa berbeda. Tapi ini harus kami buat dan dimakan sekeluarga,” ujarnya lagi. Hal yang sama juga diungkapkan Tukinah (32), penduduk Girijati, Parangtritis. “Kami juga buat demi keselamatan sekeluarga,” ungkapnya. Meski begitu, ia tidak tahu apa makna makan sayur lodeh itu.

Baginya, yang penting ikut memasak karena seluruh tetangganya juga memasak. “Tapi saya percaya, karena ini merupakan perintah Ngarso Dalem,” tambahnya.
“Air Tobat”
Tak hanya sayur lodeh supaya terhindar dari bencana alam. Menurut Mugiyem, dirinya dan para tetangganya juga memperoleh pembagian satu plastik air putih dari kepala dusun pada Kamis (3/2) malam. Menurut kepala dusun itu, air putih tersebut harus dicampur dengan air di bak mandi untuk mandi sekeluarga dan untuk dicampur dengan air minum yang telah masak.
“Kata kepala dusun, air ini dari Ngarso Dalem untuk keselamatan. Yang saya dengar, Ngarso Dalem mendapat firasat akan terjadi sesuatu di pantai selatan. Untuk itu kami lantas diberi air putih itu,” katanya. Lain halnya dengan Tukinah, yang hingga Jumat kemarin belum dapat pembagian air putih. “Terus kalau mau minta di mana ya?” ia bertanya dengan ekspresi gelisah.
Kegelisahan Tukinah pupus, tatkala kemudian Mugiyem berjanji akan memberikan sisa air putih miliknya. “Kalau kamu belum dapat, nanti ambil saja milikku,” tutur Mugiyem kepada Tukinah. Maka wajah Tukinah pun berubah sumringah (berseri-seri).
Soal pembagian air memang diakui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia menyatakan air tersebut merupakan “air tobat”. Ia juga menjelaskan, telah digelar mujahadahan di beberapa tempat dengan membaca 30 surat yang ada di Al Quran. Pembacaan itu dilakukan 7 kali berturut-turut, di antaranya adalah surat At Taubah dan Al Ikhlas.
“Harapan saya, yang tobat itu didasari dengan kejujuran. Kalau memang ada air ya itu air tobat,” kata HB X. Menurut informasi yang diperoleh SH, air itu diambilkan dari 7 sumber mata air dan sudah diberi doa oleh HB X.
Pasrah
Setelah memasak sayur lodeh dan mendapat “air tobat”, Mugiyem dan Tukinah merasa tenang jika nantinya memang bencana alam benar-benar terjadi. Bahkan Mugiyem mengaku tidak akan mengungsi jauh-jauh hari sebelum tanggal 9 Februari 2005. “Saya pasrah saja. Nanti kalau memang benar-benar terjadi ya baru ngungsi naik ke bukit itu,” tuturnya seraya menunjuk Pegunungan Seribu yang membentang tak jauh dari pantai Parangtritis.
Mugiyem dan keluarganya sudah sangat siap jika nantinya benar-benar terjadi bencana alam. Ia juga menjelaskan, di kawasan pantai Parangtritis telah disiagakan tim SAR yang akan memberi peringatan dini jika ada tanda-tanda datangnya bencana alam. “Saya juga sudah mulai tidur dalam satu kamar dalam keadaan tak terkunci. Jadi kalau terjadi apa-apa lebih cepat untuk menyelamatkan diri,” ucapnya.
Namun Mugiyem juga mengaku telah melihat gejala yang tidak biasa di kawasan pantai Parangtritis. “Kalau malam anginnya kencang sekali, tak seperti biasanya,” tuturnya. Ia bisa membedakan gejala itu karena lahir dan dibesarkan di kawasan tersebut hingga berumur 55 tahun. “Saya bisa merasakannya,” tambahnya lagi
Lain halnya dengan Mantri Kesehatan Puskesmas I Bantul, Tri Agus Purnomo. Ketika ditemui di rumahnya, di kawasan Kretek, sekitar 5 Km dari garis pantai Parangtritis, Agus merasa was-was dengan kabar akan ada bencana alam di kawasan pantai selatan. Pada awalnya Agus tak mempercayai kabar itu. Namun setelah HB X menyampaikan secara langsung, maka ia baru percaya.
“Sebagai orang kejawen, saya sangat percaya dengan ucapan Ngarso Dalem. Beliau kalau berkata tentu tak sembarangan. Sabdo Pandito Ratu,” katanya. Untuk itulah ia dan keluarganya akan mengungsi pada tanggal 8 Februari nanti. Ia memilih ke Nanggulan, Kulon Progo, di rumah saudaranya. “Saya kira di sana akan aman karena daerahnya tinggi,” tuturnya.
Sementara itu Dwi Krisdiyanto, warga di sekitar pantai Samas, merasa bingung. ”Gelombang di pantai memang semakin besar dibanding hari-hari biasa. Tapi dengan adanya pengumuman dari BMG dan pemerintah daerah, masyarakat justru panik antara percaya dan tidak percaya. Sebagian warga bingung mau mengungsi ke mana,” kata Dwi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mengumumkan status waspada ini bukannya tanpa persiapan. Menurut Sekretaris Daerah Pemprov DIY, Bambang SP, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak Kepolisian Daerah (Polda) Yogyakarta dan Komando Resort Militer (Korem) Yogyakarta, serta menyiagakan penuh Tim SAR selama 24 jam. Lalu mengapa tidak dilakukan evakuasi dini? “Serba repot. Nanti kami dikira ngaya wara (berlebih-lebihan),” tegasnya.
Ya, memang repot! Tapi mudah-mudahan tidak akan terjadi bencana alam, sehingga sayur lodeh hanya sekadar sayur lodeh yang memang lezat rasanya. (SH/yuyuk sugarman)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003