Jum'at, 24 Desember 2004

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4886

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Kecelakaan Super Puma TNI-AU
KSAU: Kita Kehilangan Besar
 

Yogyakarta, Sinar Harapan
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Laksamana Chappy Hakim mengatakan bahwa keluarga besar TNI AU merasa kehilangan besar atas musibah helikopter Super Puma TNI AU di Wonosobo, karena para korban adalah anggota TNI AU yang dibanggakan untuk tugas masa depan.

Chappy Hakim mengemukakan itu dalam sambutannya pada upacara pelepasan jenazah pada pukul 10.45 WIB, Jumat (24/12), di hanggar II skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta. Dalam upacara itu terlihat Sekretaris Militer Mayjen TNI T.B. Hasanuddin, Gubernur AAU Marsda Mardjono, Gubernur Jawa Tengah Mardiayanto, Bupati Wonosobo Riaman.
Menurut Kadispen AU Marsma Sagom Tambuen, akan segera dibentuk Tim PPKPT (Panitia Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Terbang). ”Ini akan segera kami bentuk untuk mengetahui apa penyebab kecelakaan,” katanya. Dia juga menambahkan, bahwa semua korban meninggal akan diberikan asuransi.
Sebanyak 14 jenazah korban kecelakaan helikopter Super Puma TNI AU di Wonosobo itu, Jumat pagi tiba di Pangkalan Udara dan disemayamkan di hanggar II skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta. Jenazah ini tiba di Yogyakarta pada pukul 07.55 WIB dari Wonosobo. Suasana duka penuh isak tangis dari keluarga korban yang memenuhi hanggar ketika mereka dipersilakan mendekati peti jenazah.
Jenazah para korban kecelakaan Heli NAS-332 Super Puma dari Skuadron 17 TNI AU Jumat dini hari diberangkatkan dari Wonosobo menuju Pangkalan Udara Adi Sucipto Yogyakarta dengan 14 ambulans. Helikopter itu jatuh sekitar pukul 12.15 WIB di ladang kentang, di lereng perbukitan Desa Suren Gede, Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Sebelumnya, jenazah para korban yang selesai dievakuasi sekitar pukul 02.00 hari Jumat itu dibawa ke kamar jenazah RSD Wonosobo, lalu disemayamkan sejenak di Pendopo Kabupaten Wonosobo. Bupati Trimawan Nugrohadi kemudian menyerahkan 14 jenazah itu ke pihak TNI AU, yang diwakili Letkol (Pnb) Agus Munandar.
Proses evakuasi jenazah sempat mengalami kesulitan karena kondisi lapangan yang sangat berat. Jalan yang menuju lokasi tempat jatuhnya pesawat di Bukit Perahu dengan ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut. Lokasi tempat jatuh yang masuk wilayah Desa Suran Gede, harus melalui jalan setapak dengan lebar setengah meter selama tiga jam dengan kondisi jalan yang sangat licin. Sehingga evakuasi baru dapat selesai sekitar sembilan jam. Evakuasi dilakukan aparat Brimob Kutoarjo dibantu dengan pasukan Paskhas TNI AU, pasukan dari Kodim setempat dan masyarakat sekitar yang hanya diterangi dengan obor.
Menurut Kapolwil Kedu, Kombes Agus Wantoro, evakuasi berakhir sekitar jam 02.00, Jumat. Selain mengevakuasi mayat para korban, tim SAR juga telah menemukan kotak hitam yang merekam komunikasi penerbangan, dan sudah diserahkan kepada pihak TNI AU. Selain itu, juga ditemukan uang dalam amplop senilai Rp 7,5 juta kemudian uang pecahan Rp 50.000 yang terbakar diperkirakan senilai Rp 2,5 juta, dua buah senjata laras pandang dan sebuah pistol yang hangus terbakar.

Bela Sungkawa
Berkaitan dengan kejadian ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Surabaya, Kamis (23/12) malam, mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban helikopter TNI yang jatuh itu, dan memerintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri agar seluruh pesawat helikopter diteliti kondisinya.
Presiden juga minta agar dalam menghadapi cuaca yang buruk seperti saat ini, jajaran TNI harus betul-betul menghitung kondisi cuaca sehingga keselamatan dan keamanan dapat terjaga. Presiden juga meminta dilakukan langkah investigasi yang lengkap untuk mengetahui sebab terjadinya musibah ini.
Sebelumnya, hari Rabu (21/12) helikopter Bell HU-416 milik TNI-AL jatuh Sungai Siriwo, Nabire, Papua, Rabu (21/12) dan diperkirakan lima awak dan penumpangnya tewas. Pada 11 Oktober lalu sebuah helikopter TNI AD jatuh di Aceh, dan menewaskan delapan prajurit TNI, termasuk Komandan Batalyon Infantri 320 Badak Putih.
Kecelakaan yang menelan jiwa demikian banyak perwira penerbang TNI AU ini jelas merupakan kehilangan besar untuk TNI AU. Para penerbang yang meninggal dunia dalam kecelakaan itu kebanyakan pilot pesawat angkut C-130 Hercules. Sebagai awak kokpit yang berpengalaman, mereka kemudian ditugaskan menjadi instruktur di Sekolah Penerbang TNI Angkatan Udara selama dua tahun. Mereka menumpang helikopter yang naas itu dalam rangka liburan.
Heli Super Puma NAS 332 dengan nomor body H 3201 itu berasal dari Skuadron Udara 17 yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Pesawat itu terbang dari Lanud Rembiga, Lombok, sempat singgah di Lanud Adisucipto dan akan menuju Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang, dengan tujuan akhir Lanud Halim PK, Jakarta, dengan misi pengecekan rute.

Kunjungi Keluarga
Semalam, KSAU Marsekal Chappy Hakim mengunjungi sembilan rumah duka di lingkungan Pangkalan Udara Halim P. Suasana haru terlihat saat tiba di rumah pertama, yang dihuni Mayor Penerbang Rully Panji, di Kompleks Angkasa, Halim Perdanakusuma. KSAU disambut ibu dan istrinya, Wenny D Susiawati, dan dua anaknya, Yasmin (7), dan Shinta (5).
”Kapan suami saya sampai Pak? Dia sudah ditemukan belum?” kata Wenny, dengan wajah sedih dan tubuh lemas di tempat duduk di ruang tamu rumahnya.
Menjawab pertanyaan itu, Chappy Hakim mengatakan jenasah suaminya dan korban-korban lain sebelum diserahkan kepada keluarga dikumpulkan di Pangkalan Udara Utama Adi Sutjipto, Yogyakarta untuk kemudian dikebumikan sesuai dengan keinginan keluarga.
Rombongan KSAU kemudian melanjutkan ke delapan rumah yang kepala keluarganya tewas dalam kecelakaan ini. Di rumah Mayor Penerbang Ferry S, Hakim tiba di rumah yang baru diperluas atas kemauan almarhum sudah dipenuhi keluarga, teman-teman, dan kerabat. Ibu korban mengatakan, ”Saya tidak percaya dia telah pergi. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Rumah ini diperluas juga atas permintaan dia supaya orang-orang bisa banyak datang.”
Selain kedua rumah itu, rombongan juga mengunjungi rumah Mayor Penerbang Rizky, Mayor Penerbang Yuswan, Sersan Mayor Agus Setiawan, Prajurit Kepala Hendra Jaya, dan Letnan Satu Johan Sihotang.
”Semua korban dilindungi asuransi. Ada asuransi dari Asabri, Asuransi Bumiputera, dan santunan dari dinas. Contohnya yang tewas akan mendapat Rp75 juta santunan dan masih ada lagi yang lain. Teknisnya akan diatur,” kata KSAU. (isf/lid/djo/yuk)

Awak pesawat:
1. Kapten (Pnb) Rifki Akbar, captain pilot, dibawa ke Jakarta.
2. Kapten (Pnb) Dhamar Wijayanto, co pilot, dibawa ke Semarang.
3. Lettu (Pnb) Norman, co pilot, dibawa ke Magelang
4. Serka A. Agus S, mekanik, dibawa ke Jakarta.
5. Serka Abdul Wahid, mekanik, dibawa ke Jakarta.
6. Praka Indrajaya, mekanik, dibawa ke Jakarta.

Penumpang:
7. Mayor (Pnb) Ferry, instruktur.
8. Mayor (Pnb) Sumanto, instruktur dibawa ke Madiun
9. Mayor (Pnb) Rully Panji, instruktur.
10. Mayor (Pnb) Yuswan, instruktur.
11. Mayor (Nav) FX Bambang Utoyo dibawa ke Malang
12. Kapten (Pnb) Adriyadi, instruktur, dibawa ke Padang
13. Lettu (Pom) Aditya.
14. Lettu Johan Sitohang.

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003