|
Kecelakaan Super Puma TNI-AU
KSAU: Kita Kehilangan Besar
Yogyakarta, Sinar Harapan
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Laksamana Chappy Hakim
mengatakan bahwa keluarga besar TNI AU merasa kehilangan besar atas
musibah helikopter Super Puma TNI AU di Wonosobo, karena para korban
adalah anggota TNI AU yang dibanggakan untuk tugas masa depan.
Chappy Hakim mengemukakan itu dalam sambutannya pada upacara
pelepasan jenazah pada pukul 10.45 WIB, Jumat (24/12), di hanggar II
skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta. Dalam upacara
itu terlihat Sekretaris Militer Mayjen TNI T.B. Hasanuddin, Gubernur
AAU Marsda Mardjono, Gubernur Jawa Tengah Mardiayanto, Bupati
Wonosobo Riaman.
Menurut Kadispen AU Marsma Sagom Tambuen, akan segera dibentuk Tim
PPKPT (Panitia Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Terbang). ”Ini akan
segera kami bentuk untuk mengetahui apa penyebab kecelakaan,”
katanya. Dia juga menambahkan, bahwa semua korban meninggal akan
diberikan asuransi.
Sebanyak 14 jenazah korban kecelakaan helikopter Super Puma TNI AU
di Wonosobo itu, Jumat pagi tiba di Pangkalan Udara dan disemayamkan
di hanggar II skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta.
Jenazah ini tiba di Yogyakarta pada pukul 07.55 WIB dari Wonosobo.
Suasana duka penuh isak tangis dari keluarga korban yang memenuhi
hanggar ketika mereka dipersilakan mendekati peti jenazah.
Jenazah para korban kecelakaan Heli NAS-332 Super Puma dari Skuadron
17 TNI AU Jumat dini hari diberangkatkan dari Wonosobo menuju
Pangkalan Udara Adi Sucipto Yogyakarta dengan 14 ambulans.
Helikopter itu jatuh sekitar pukul 12.15 WIB di ladang kentang, di
lereng perbukitan Desa Suren Gede, Kecamatan Kejajar Kabupaten
Wonosobo, Jawa Tengah.
Sebelumnya, jenazah para korban yang selesai dievakuasi sekitar
pukul 02.00 hari Jumat itu dibawa ke kamar jenazah RSD Wonosobo,
lalu disemayamkan sejenak di Pendopo Kabupaten Wonosobo. Bupati
Trimawan Nugrohadi kemudian menyerahkan 14 jenazah itu ke pihak TNI
AU, yang diwakili Letkol (Pnb) Agus Munandar.
Proses evakuasi jenazah sempat mengalami kesulitan karena kondisi
lapangan yang sangat berat. Jalan yang menuju lokasi tempat jatuhnya
pesawat di Bukit Perahu dengan ketinggian sekitar 1.900 meter di
atas permukaan laut. Lokasi tempat jatuh yang masuk wilayah Desa
Suran Gede, harus melalui jalan setapak dengan lebar setengah meter
selama tiga jam dengan kondisi jalan yang sangat licin. Sehingga
evakuasi baru dapat selesai sekitar sembilan jam. Evakuasi dilakukan
aparat Brimob Kutoarjo dibantu dengan pasukan Paskhas TNI AU,
pasukan dari Kodim setempat dan masyarakat sekitar yang hanya
diterangi dengan obor.
Menurut Kapolwil Kedu, Kombes Agus Wantoro, evakuasi berakhir
sekitar jam 02.00, Jumat. Selain mengevakuasi mayat para korban, tim
SAR juga telah menemukan kotak hitam yang merekam komunikasi
penerbangan, dan sudah diserahkan kepada pihak TNI AU. Selain itu,
juga ditemukan uang dalam amplop senilai Rp 7,5 juta kemudian uang
pecahan Rp 50.000 yang terbakar diperkirakan senilai Rp 2,5 juta,
dua buah senjata laras pandang dan sebuah pistol yang hangus
terbakar.
Bela Sungkawa
Berkaitan dengan kejadian ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di
Surabaya, Kamis (23/12) malam, mengucapkan belasungkawa kepada
keluarga para korban helikopter TNI yang jatuh itu, dan
memerintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri agar seluruh pesawat
helikopter diteliti kondisinya.
Presiden juga minta agar dalam menghadapi cuaca yang buruk seperti
saat ini, jajaran TNI harus betul-betul menghitung kondisi cuaca
sehingga keselamatan dan keamanan dapat terjaga. Presiden juga
meminta dilakukan langkah investigasi yang lengkap untuk mengetahui
sebab terjadinya musibah ini.
Sebelumnya, hari Rabu (21/12) helikopter Bell HU-416 milik TNI-AL
jatuh Sungai Siriwo, Nabire, Papua, Rabu (21/12) dan diperkirakan
lima awak dan penumpangnya tewas. Pada 11 Oktober lalu sebuah
helikopter TNI AD jatuh di Aceh, dan menewaskan delapan prajurit
TNI, termasuk Komandan Batalyon Infantri 320 Badak Putih.
Kecelakaan yang menelan jiwa demikian banyak perwira penerbang TNI
AU ini jelas merupakan kehilangan besar untuk TNI AU. Para penerbang
yang meninggal dunia dalam kecelakaan itu kebanyakan pilot pesawat
angkut C-130 Hercules. Sebagai awak kokpit yang berpengalaman,
mereka kemudian ditugaskan menjadi instruktur di Sekolah Penerbang
TNI Angkatan Udara selama dua tahun. Mereka menumpang helikopter
yang naas itu dalam rangka liburan.
Heli Super Puma NAS 332 dengan nomor body H 3201 itu berasal dari
Skuadron Udara 17 yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdana
Kusuma. Pesawat itu terbang dari Lanud Rembiga, Lombok, sempat
singgah di Lanud Adisucipto dan akan menuju Lanud Suryadarma,
Kalijati, Subang, dengan tujuan akhir Lanud Halim PK, Jakarta,
dengan misi pengecekan rute.
Kunjungi Keluarga
Semalam, KSAU Marsekal Chappy Hakim mengunjungi sembilan rumah duka
di lingkungan Pangkalan Udara Halim P. Suasana haru terlihat saat
tiba di rumah pertama, yang dihuni Mayor Penerbang Rully Panji, di
Kompleks Angkasa, Halim Perdanakusuma. KSAU disambut ibu dan
istrinya, Wenny D Susiawati, dan dua anaknya, Yasmin (7), dan Shinta
(5).
”Kapan suami saya sampai Pak? Dia sudah ditemukan belum?” kata
Wenny, dengan wajah sedih dan tubuh lemas di tempat duduk di ruang
tamu rumahnya.
Menjawab pertanyaan itu, Chappy Hakim mengatakan jenasah suaminya
dan korban-korban lain sebelum diserahkan kepada keluarga
dikumpulkan di Pangkalan Udara Utama Adi Sutjipto, Yogyakarta untuk
kemudian dikebumikan sesuai dengan keinginan keluarga.
Rombongan KSAU kemudian melanjutkan ke delapan rumah yang kepala
keluarganya tewas dalam kecelakaan ini. Di rumah Mayor Penerbang
Ferry S, Hakim tiba di rumah yang baru diperluas atas kemauan
almarhum sudah dipenuhi keluarga, teman-teman, dan kerabat. Ibu
korban mengatakan, ”Saya tidak percaya dia telah pergi. Tidak ada
tanda-tanda apa pun. Rumah ini diperluas juga atas permintaan dia
supaya orang-orang bisa banyak datang.”
Selain kedua rumah itu, rombongan juga mengunjungi rumah Mayor
Penerbang Rizky, Mayor Penerbang Yuswan, Sersan Mayor Agus Setiawan,
Prajurit Kepala Hendra Jaya, dan Letnan Satu Johan Sihotang.
”Semua korban dilindungi asuransi. Ada asuransi dari Asabri,
Asuransi Bumiputera, dan santunan dari dinas. Contohnya yang tewas
akan mendapat Rp75 juta santunan dan masih ada lagi yang lain.
Teknisnya akan diatur,” kata KSAU. (isf/lid/djo/yuk)
Awak pesawat:
1. Kapten (Pnb) Rifki Akbar, captain pilot, dibawa ke Jakarta.
2. Kapten (Pnb) Dhamar Wijayanto, co pilot, dibawa ke Semarang.
3. Lettu (Pnb) Norman, co pilot, dibawa ke Magelang
4. Serka A. Agus S, mekanik, dibawa ke Jakarta.
5. Serka Abdul Wahid, mekanik, dibawa ke Jakarta.
6. Praka Indrajaya, mekanik, dibawa ke Jakarta.
Penumpang:
7. Mayor (Pnb) Ferry, instruktur.
8. Mayor (Pnb) Sumanto, instruktur dibawa ke Madiun
9. Mayor (Pnb) Rully Panji, instruktur.
10. Mayor (Pnb) Yuswan, instruktur.
11. Mayor (Nav) FX Bambang Utoyo dibawa ke Malang
12. Kapten (Pnb) Adriyadi, instruktur, dibawa ke Padang
13. Lettu (Pom) Aditya.
14. Lettu Johan Sitohang.
|
|