Jum'at, 23 Juli 2004

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4759

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Ribuan Warga Persiapkan Pelebonan Putri Raja Ubud
 

DENPASAR – Suasana kota Ubud, Gianyar, Bali beberapa hari ini terlihat lain dari biasanya. Pasalnya, keluarga besar puri (keraton) Ubud akan melaksanakan upacara pelebonan (pengabenan-pembakaran jenazah) putri almarhum raja Ubud, yakni Tjokorda Istri Niyang Muter (94) dan Ny Henny Sudharsana pada Sabtu (24/7). Tidak hanya itu, puri Ubud juga akan melaksanakan pengabenan massal bagi 58 jenazah dari empat banjar (lingkungan) di Ubud.
Ribuan warga bergantian bergotong-royong mempersiapkan berbagai hal sehubungan pelaksanaan pelebonan agung jenazah putri raja Ubud itu. Warga sibuk membuat berbagai sarana yang diperlukan dalam prosesi pelebonan itu seperti membuat bade (menara) setinggi sekitar 25 meter, meru tumpang sembilan, patung sapi, naga banda dan titi atau jembatan kayu.
Benda-benda itu merupakan sarana yang dipakai sebagai simbolik bagi pelaksanaan prosesi pelebonan agung. Meski upacara pelebonan dilaksanakan pada Sabtu (24/7), puri Ubud sudah ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Para turis antusias menyaksikan berbagai benda yang sedang dibuat untuk keperluan pelebonan ini. Seakan tidak ingin melewatkan momen, berbagai kamera kemudian dimainkan guna mengabadikan peristiwa itu. Salah seorang sesepuh puri Ubud yang juga anak almarhum Tjokorda Istri Niyang Muter yakni Tjokorda Gede Agung Suyasa mengatakan, upacara pelebonan merupakan paling agung sepanjang 25 tahun terakhir ini, yang mungkin tidak akan pernah dilihat pada masa mendatang.
Praktis selama berlangsungnya prosesi pelebonan nanti, seluruh jalan raya di Ubud ditutup bagi setiap kendaraan. ”Upacara pelebonan ini adalah salah satu dari upacara Pitra Yadnya dan merupakan upacara yang paling penting bagi umat Hindu Bali,” ujar Suyasa.
Karena begitu agung dan besarnya, biaya yang dibutuhkan untuk rangkaian pelebonan ini ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Biaya yang paling mahal untuk prosesi ini adalah pembuatan lembu dan bade serta naga banda.
Pelebonan agung ini juga kabarnya akan dihadiri Presiden Megawati Soekarnoputri, Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam dan calon presiden (capres) dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta pejabat tinggi dan tokoh masyarakat lainnya. Sekitar 5.000 warga di lingkungan puri Ubud akan dikerahkan melaksanakan prosesi pelebonan agung ini.
Tak ketinggalan pula, prosesi akbar ini akan diliput ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri. Uniknya, pihak panitia mengharuskan para jurnalis mengenakan pakaian adat Bali ketika meliput prosesi pelebonan itu.

Belasan Pelebonan
Di Bali, ada belasan macam upacara pelebonan. Namun dari sekian banyak macam itu, pelebonan memiliki satu makna yakni mengembalikan tubuh yang sudah meninggal itu ke tubuh materi alam semesta yaitu kelima unsurnya seperti air, api, udara, tanah dan akasa. Selain itu juga diyakini untuk menyatukan kembali ke sang Panca Maha Butha.
Pada saat itu, sang roh harus dituntun ke suatu perjalanan pulang kembali ke Umah tua (rumah lama) ”batara-batari” (dewa-dewi) atau dalam tradisi agama Hindu-Bali klasik disebut Ida Sanghyang Widi, Sang Paramatma.
Secara harfiah ritus tersebut ”menindaki” proses pembebasan itu. Sedangkan berbagai sarana untuk pelebonan itu memiliki makna dan fungsinya tersendiri. Misalnya, bade (menara) berfungsi sebagai wadah jenazah. Bade ini nantinya akan secara gotong-royong dipikul oleh warga ke tempat dilangsungkannya pelebonan di Tebesaya.
Bade merupakan lambang alam semesta (makrokosmos), dimana alam kecil (mikrokosmos) umat manusia pada akhirnya akan menyatu. Pada bagian atas bade ini terdapat sembilan tumpangnya. Bagian atas tumpang melambangkan dunia sorga, dan bagian bawahnya diartikan sebagai bumi atau dunia gelap.
Sedangkan pada bagian tengahnya melambangkan umat manusia. Jenazah ini nantinya akan ditempatkan pada bagian tengah. ”Meru tumpang sembilan bagi keluarga kerajaan Ubud melambangkan tingkat sorga yang diharapkan bisa dicapai oleh roh orang yang meninggal,” tutur Suyasa.
Sementara empat tiang kayu yang akan dipakai untuk menopang meru melambangkan kanda empat (empat saudara kosmik orang yang meninggal). Dengan mereka itulah diyakini orang yang meninggal itu akan menyatu di alam baka. Sedangkan, patung sapi/atau lembu mempunyai arti sebagai kendaraan orang yang meninggal menuju alam sorga. Jenazah nantinya akan dibakar di dalam petulangan (lembu) ini. Sarana lainnya seperti naga banda melambangkan ikatan-ikatan duniawi. Naga banda ini nantinya secara simbolik akan dipanah menggunakan busur oleh seorang pendeta.
Menurut kalender Bali, sebagaimana disampaikan Suyasa, tanggal 24 Juli merupakan hari baik guna melaksanakan pelebonan agung bagi jenazah almarhum Tjokorda Istri Niyang Muter yang meninggal dunia pada 5 Juni 2004 lalu. Selama berlangsungnya prosesi pelebonan ini, daerah Ubud dan sekitarnya diyakini dalam keadaan kotor (sebel). Karena itu pula, selama tiga hari setelah upacara pelebonan ini masyarakat tidak diperkenankan melakukan ritual lainnya.
Untuk pembuatan patung lembu maupun naga banda ini, keluarga besar puri Ubud mengerahkan pemahat andal. Sebelum dilakukannya upacara pelebonan ini, berbagai upacara sejak beberapa hari lalu telah pula dilaksanakan. Hal ini diyakini sebagai persiapan jiwa guna meninggalkan alam fana ini.(SH/cinta malem ginting)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003