|
Ribuan Warga
Persiapkan Pelebonan Putri Raja Ubud
DENPASAR – Suasana kota Ubud, Gianyar,
Bali beberapa hari ini terlihat lain dari biasanya. Pasalnya,
keluarga besar puri (keraton) Ubud akan melaksanakan upacara
pelebonan (pengabenan-pembakaran jenazah) putri almarhum raja Ubud,
yakni Tjokorda Istri Niyang Muter (94) dan Ny Henny Sudharsana pada
Sabtu (24/7). Tidak hanya itu, puri Ubud juga akan melaksanakan
pengabenan massal bagi 58 jenazah dari empat banjar (lingkungan) di
Ubud.
Ribuan warga bergantian bergotong-royong mempersiapkan berbagai hal
sehubungan pelaksanaan pelebonan agung jenazah putri raja Ubud itu.
Warga sibuk membuat berbagai sarana yang diperlukan dalam prosesi
pelebonan itu seperti membuat bade (menara) setinggi sekitar 25
meter, meru tumpang sembilan, patung sapi, naga banda dan titi atau
jembatan kayu.
Benda-benda itu merupakan sarana yang dipakai sebagai simbolik bagi
pelaksanaan prosesi pelebonan agung. Meski upacara pelebonan
dilaksanakan pada Sabtu (24/7), puri Ubud sudah ramai dikunjungi
wisatawan mancanegara maupun domestik.
Para turis antusias menyaksikan berbagai benda yang sedang dibuat
untuk keperluan pelebonan ini. Seakan tidak ingin melewatkan momen,
berbagai kamera kemudian dimainkan guna mengabadikan peristiwa itu.
Salah seorang sesepuh puri Ubud yang juga anak almarhum Tjokorda
Istri Niyang Muter yakni Tjokorda Gede Agung Suyasa mengatakan,
upacara pelebonan merupakan paling agung sepanjang 25 tahun terakhir
ini, yang mungkin tidak akan pernah dilihat pada masa mendatang.
Praktis selama berlangsungnya prosesi pelebonan nanti, seluruh jalan
raya di Ubud ditutup bagi setiap kendaraan. ”Upacara pelebonan ini
adalah salah satu dari upacara Pitra Yadnya dan merupakan upacara
yang paling penting bagi umat Hindu Bali,” ujar Suyasa.
Karena begitu agung dan besarnya, biaya yang dibutuhkan untuk
rangkaian pelebonan ini ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Biaya
yang paling mahal untuk prosesi ini adalah pembuatan lembu dan bade
serta naga banda.
Pelebonan agung ini juga kabarnya akan dihadiri Presiden Megawati
Soekarnoputri, Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam dan calon
presiden (capres) dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) serta pejabat tinggi dan tokoh masyarakat lainnya. Sekitar
5.000 warga di lingkungan puri Ubud akan dikerahkan melaksanakan
prosesi pelebonan agung ini.
Tak ketinggalan pula, prosesi akbar ini akan diliput ratusan
wartawan dari dalam dan luar negeri. Uniknya, pihak panitia
mengharuskan para jurnalis mengenakan pakaian adat Bali ketika
meliput prosesi pelebonan itu.
Belasan Pelebonan
Di Bali, ada belasan macam upacara pelebonan. Namun dari sekian
banyak macam itu, pelebonan memiliki satu makna yakni mengembalikan
tubuh yang sudah meninggal itu ke tubuh materi alam semesta yaitu
kelima unsurnya seperti air, api, udara, tanah dan akasa. Selain itu
juga diyakini untuk menyatukan kembali ke sang Panca Maha Butha.
Pada saat itu, sang roh harus dituntun ke suatu perjalanan pulang
kembali ke Umah tua (rumah lama) ”batara-batari” (dewa-dewi) atau
dalam tradisi agama Hindu-Bali klasik disebut Ida Sanghyang Widi,
Sang Paramatma.
Secara harfiah ritus tersebut ”menindaki” proses pembebasan itu.
Sedangkan berbagai sarana untuk pelebonan itu memiliki makna dan
fungsinya tersendiri. Misalnya, bade (menara) berfungsi sebagai
wadah jenazah. Bade ini nantinya akan secara gotong-royong dipikul
oleh warga ke tempat dilangsungkannya pelebonan di Tebesaya.
Bade merupakan lambang alam semesta (makrokosmos), dimana alam kecil
(mikrokosmos) umat manusia pada akhirnya akan menyatu. Pada bagian
atas bade ini terdapat sembilan tumpangnya. Bagian atas tumpang
melambangkan dunia sorga, dan bagian bawahnya diartikan sebagai bumi
atau dunia gelap.
Sedangkan pada bagian tengahnya melambangkan umat manusia. Jenazah
ini nantinya akan ditempatkan pada bagian tengah. ”Meru tumpang
sembilan bagi keluarga kerajaan Ubud melambangkan tingkat sorga yang
diharapkan bisa dicapai oleh roh orang yang meninggal,” tutur
Suyasa.
Sementara empat tiang kayu yang akan dipakai untuk menopang meru
melambangkan kanda empat (empat saudara kosmik orang yang
meninggal). Dengan mereka itulah diyakini orang yang meninggal itu
akan menyatu di alam baka. Sedangkan, patung sapi/atau lembu
mempunyai arti sebagai kendaraan orang yang meninggal menuju alam
sorga. Jenazah nantinya akan dibakar di dalam petulangan (lembu)
ini. Sarana lainnya seperti naga banda melambangkan ikatan-ikatan
duniawi. Naga banda ini nantinya secara simbolik akan dipanah
menggunakan busur oleh seorang pendeta.
Menurut kalender Bali, sebagaimana disampaikan Suyasa, tanggal 24
Juli merupakan hari baik guna melaksanakan pelebonan agung bagi
jenazah almarhum Tjokorda Istri Niyang Muter yang meninggal dunia
pada 5 Juni 2004 lalu. Selama berlangsungnya prosesi pelebonan ini,
daerah Ubud dan sekitarnya diyakini dalam keadaan kotor (sebel).
Karena itu pula, selama tiga hari setelah upacara pelebonan ini
masyarakat tidak diperkenankan melakukan ritual lainnya.
Untuk pembuatan patung lembu maupun naga banda ini, keluarga besar
puri Ubud mengerahkan pemahat andal. Sebelum dilakukannya upacara
pelebonan ini, berbagai upacara sejak beberapa hari lalu telah pula
dilaksanakan. Hal ini diyakini sebagai persiapan jiwa guna
meninggalkan alam fana ini.(SH/cinta malem ginting)
|
|