|
Pameran ”New Works”
Menyelami Empat Bahasa Rupa dari
Empat Pelukis

Ist
Dua lukisan, masing-masing karya Erizal (kiri) dan Joko Sulistiono
(kanan), dipamerkan di Galeri Taksu, Jl. Kemang Barat 5-7 Jakarta
Selatan hingga 30 Juli 2004.
JAKARTA – Empat seniman
lukis menampilkan karya-karya baru di Galeri Taksu, Jl. Kemang Barat
5-7 Jakarta. Pameran berlangsung sejak 16 Juli hingga 30 Juli
mendatang.
Stefan Buana, Antonius Kho, Joko Sulistiono dan Erizal AS memiliki
satu kesamaan dalam karya-karya mereka, yaitu menampilkan guratan
bidang dan warna yang tegas, baik warna cerah maupun gelap dan
buram. Ketegasan itu tampak jelas dengan penggunaan media akrilik,
cat air ataupun media campuran untuk disajikan di atas kanvas.
Para pelukis ini sesungguhnya telah lama berproses di dunia seni
rupa. Judulnya berupa ”Karya Baru” memperlihatkan karya-karya satu
atau dua tahun belakangan. Tahun penciptaan ini juga memperlihatkan
arah karya mereka – termasuk juga perkembangan dari setiap pelukis.
Joko Sulistiono, terutama dalam pameran ini, kental dengan idiomnya
yang khusus: berupa kuda dan perempuan bidadari. Dunia kuda dan
dunia bidadari adalah merupakan simbol pribadinya, penggambaran
sosok ”lelaki liar dan lepas” dengan ”perempuan yang indah”. Itu
dimunculkan pada karya-karyanya antara lain ”Beauty Spirit” (2004),
”Lelaki Kuda dan Seorang Bidadari I” .
Lukisannya yang umumnya dituangkan dengan media cat minyak antara
lain ”Meraih Cahaya II” (2004), sekalipun berkontur tebal,
dituangkan dengan warna-warna dasar yang lebih cerah. Tebal,
merupakan representasi ide yang dia inginkan untuk karyanya.
Antonius Kho, dengan media campuran – termasuk akrilik dan karung
goni – yang terpresentasikan lewat kanvas, namun ada yang menonjol
dan semuanya kemudian digabungkan dengan kayu-kayu sehingga terkesan
sebuah kotak-kotak puzzle berukuran besar, memperlihatkan karya yang
lebih ke bahasa rupa terutama pada ”Wajah-wajah yang Disalibkan”
(2003), berupa objek-objek wajah manusia. Simbol ini menurutnya
punya makna religius tentang penyaliban. ”Itu wajah orang-orang.
Semua kita akan disalibkan dan menanggung beban kita menanggung
beban,” katanya.
Begitu pun pada karyanya yang lain, misalnya ”Air Susu Ibu” (2004)
memperlihatkan bahan semacam plastik atau fyberglass dan keluar dari
kanvas. Karya itu sama dengan karya ”serigrafi” tiga adegan pada
karyanya yang berjudul ”Terlelap” (2003), ”Bercanda” (2003) dan
”Manja I” (2003), yang memperlihatkan hubungan ibu dan anak.
Lelaki dan Warna Suram
Erizal dalam karyanya memperlihatkan karya akrilik berupa sosok
lelaki dengan garis-garis yang tebal, ditambah guratan pensil hitam
yang arbitrer di atas figur wajah objeknya. Terkadang berupa
gemulung awan, bunga, awan atau bentuk lain yang simbolik menutupi
wajah objek manusia yang digambarkannya sangat maskulin.
Wajah atau tubuh objek manusia sedikit mengalami deformasi – dengan
warna cenderung buram — justru memperlihatkan kesan dan karakter.
Karyanya yang berjudul ”Kisah di Atas Awan” (2004), ”Seribu Payung
Hitam” (2004). ”Saya juga memperlihatkan dua sosok perempuan dan
lelaki,” tambahnya.
Menurut Erizal, penggambaran objek lain berupa awan dan yang lain
itu merupakan ekspresi artistiknya. Objek yang dituangkan dengan
media akrilik digurat dengan arsiran pensil. Ada beberapa karyanya
yang memperlihatkan juga buah apel yang punya makna metaforik pada
tiga lukisan antara lain ”Kisah di Atas Awan” (2004), ”Inner Beauty”
(2004) dan ”Sebuah Harapan”. Karya ”Membuka Mata Hati” (2004) dan
”Sebuah Harapan” (2004), menurutnya lebih membuka mata dan
kejiwaannya.
Stefan Buana memperlihatkan kontur tebal dengan timpaan warna yang
minimalis. Kesan buram pada media campuran, terkesan berupa kumpulan
pasir berwarna di atas kanvas, memperkuat warna muram pada karyanya.
Ada guratan warna prada di tengah warna gelap dan tegas di media
campurannya pada lukisan yang berjudul ”Bukan Etalase Tokoh tapi
Etalase Tokoh”. Sedangkan lukisan ”Sisir Hitam” (2004) menegaskan
goresan palet di tengah media tebal yang mengisi kanvas di karyanya.
Dengan karyanya yang sangat simbolik itu, Stefan ternyata cukup
perduli pada kondisi sosial terutama tema pemilu sebagaimana yang
terlihat pada karyanya ”Membuka Kemungkinan” (2004) sekalipun diolah
sangat kontemplatif dengan penggambaran pintu-pintu yang banyak
dengan satu pintu menampilkan wajah lelaki.
(SH/sihar ramses simatupang)
|
|