|
”Mereka yang Gila”
dalam Novel Stefani Hid
Jakarta, Sinar Harapan
Perempuan penulis terus bermunculan. Deretannya bertambah panjang
dengan munculnya Stefani Hid bersama novelnya berjudul Bukan Saya,
Tapi Mereka yang Gila. Peluncuran novel ini ditandai dengan diskusi
yang menghadirkan pembicara Teguh Esha dan Intan Paramaditha di QB
Book Store, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/4).
Pembahasan tentang novel ini mengambil beberapa aspek, antara lain
proses kreatif, tema psikologis dan struktural teks, serta biografi
penulis. Teguh Esha mengatakan bahwa karya Stefani merupakan
cerminan dari kondisi makro bangsa Indonesia yang sedang mengalami
pembusukan atau sedang ”kacrut” (begitu Teguh menyebut situasi yang
semrawut ini).
Pengarang novel remaja tahun 1970-an ”Ali Topan Anak Jalanan” ini,
kemudian mengisahkan pertemuannya dengan Stefani pada bulan April
2003 di Warung Apresiasi Bulungan. Waktu itu, wartawan sebuah
majalah, bernama Aga, memperkenalkan karya Stefani pada dirinya.
Lewat Teguh, karya ini kemudian dibawakan ke Sitok Srengenge, yang
akhirnya menjadi penerbit dari buku karya Stefani yang berjudul
Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila itu. Teguh juga bertutur tentang
karya Stefani yang ”keliaran”, atau persisnya kejalangan, yang
terbentur ”dinding-dinding kemunafikan orang-orang sekitarnya”.
Teguh menyorot seorang anggota parlemen yang berhubungan dengan
tokoh utama bernama Nian di novel ini, juga hubungannya dengan
seorang perempuan lesbian dan seorang pastur.
Dari Psikologi hingga ...
Remaja juga adalah dunia yang sebenarnya rumit dan tidak sesederhana
yang dipikir oleh kalangan dewasa, ujar Intan Paramaditha, jebolan
Sastra Inggris Universitas Indonesia. Intan, membahas pandangan
secara psikologi tentang tokoh sentral Nian. Tokoh yang mendapat
tekanan dari keluarga, setelah ayah dan ibunya bercerai, lalu ikut
oma dan opa yang menggunakan standar tertentu.
Nian, seorang remaja yang menjalin hubungan dengan Keken Sukendar,
anggota parlemen itu. Sebagai penikmat – atau juga pengamat, Intan
membedah tokoh utama dari sisi psikologi seorang remaja. Dengan
menggunakan ”pisau bedah” teori psikoanalisis Lacan, Intan memandang
bahwa tokoh Nian menyimbolkan kompleksitas posisi gadis remaja saat
ingin memasuki Aturan Simbolis (symbolic order) di mana dunia telah
penuh dengan tatanan nilai serta batasan tentang yang normal dan
tidak normal. Dunia juga adalah sistem patriarki yang penuh dengan
aturan maskulin: keras, rasional, ideal dan normatif.
Ia (bisa dibaca tokoh Nian pada kasus teks novel ini), dalam
pandangannya, bisa saja melihat bahwa dunia inilah yang gila karena
semua harus ikut aturan jika ingin selamat. Dengan memasuki ”aturan
simbolis” dia tetap merindukan ”fase imajinasi” masa kanak-kanak
yang identik dengan irasional, penuh pemberontakan dan
ketidakteraturan.
Nian, dalam perjalanannya – dalam analisis Intan Paramaditha – sadar
bahwa untuk bertahan, seseorang harus menyerap nilai maskulin dengan
tegar dan rasional. Berkompromi dengan lingkungan dengan cara
menganalisis penyakit jiwanya, dan mengikuti aturan permainan Keken.
Keken mewakili simbol kemunafikan, yang sekalipun cinta pada Nian
tetap menjaga citranya sebagai anggota parlemen. Dalam kondisi
psikologi antara pemberontakan dan kompromi, dia kemudian akhirnya
mesti melepaskan tahap imajinasi yang penuh kegilaan, melupakan
”gila”nya Zarathustra (karya Frederich Nietzsche), dan menerima
kenyataan yang normatif.
Karya Stefani, bila dilihat memang sekalipun ditulis oleh remaja,
justru dalam isi bukan ”novel remaja” (dalam pengertian ”remaja”
konvensional). Di dalam karyanya, ada perenungan, perbenturan
normatif, gugatan sosial dan politik pada tokoh-tokoh yang dikenal
ideal tetapi digugat dari sisi moralitas juga perenungan lainnya.
Intan, sekalipun tak menyertakan dalam makalahnya tentang pengkajian
intertekstualitas (latar, alur, penokohan, dsb), mengatakan bahwa
karya Stefani memang konvensional dari sisi struktur teks. Dengan
alur maju, pengisahan narator adalah melalui tokoh utama yaitu Nian.
Kisah yang diangkatnya bisa jadi merupakan ”kenangan psikologi”
remaja alam bawah sadar (pre-conciousness) yang terlewatkan atau
terlupakan. Alam imajiner memang penuh dengan kebebasan, namun penuh
dengan pencarian identitas, baik referentif teori, atau lewat
keliaran lingkungan masyarakat dan sosial.
Ungkapan menarik terlontar terhadap Stefani dan karyanya: ”Di negeri
kacrut ini banyak orang yang iri, dengki, cembokur pada kebiasaan
orang lain. Kamu gak usah gubris! Kamu seorang novelis! Tapi kamu
memang masih harus banyak belajar, bukan teknis dan gaya penulisan,
tapi tentang kebenaran. Tentang Tuhan yang memberimu talenta, yang
tak boleh kamu sia-siakan…,” kata Teguh. (srs)
|
|