Sabtu, 01 Mei 2004

S E N I   &   H I B U R A N

No.  4691

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

”Mereka yang Gila” dalam Novel Stefani Hid
 

Jakarta, Sinar Harapan
Perempuan penulis terus bermunculan. Deretannya bertambah panjang dengan munculnya Stefani Hid bersama novelnya berjudul Bukan Saya, Tapi Mereka yang Gila. Peluncuran novel ini ditandai dengan diskusi yang menghadirkan pembicara Teguh Esha dan Intan Paramaditha di QB Book Store, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/4).
Pembahasan tentang novel ini mengambil beberapa aspek, antara lain proses kreatif, tema psikologis dan struktural teks, serta biografi penulis. Teguh Esha mengatakan bahwa karya Stefani merupakan cerminan dari kondisi makro bangsa Indonesia yang sedang mengalami pembusukan atau sedang ”kacrut” (begitu Teguh menyebut situasi yang semrawut ini).
Pengarang novel remaja tahun 1970-an ”Ali Topan Anak Jalanan” ini, kemudian mengisahkan pertemuannya dengan Stefani pada bulan April 2003 di Warung Apresiasi Bulungan. Waktu itu, wartawan sebuah majalah, bernama Aga, memperkenalkan karya Stefani pada dirinya.
Lewat Teguh, karya ini kemudian dibawakan ke Sitok Srengenge, yang akhirnya menjadi penerbit dari buku karya Stefani yang berjudul Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila itu. Teguh juga bertutur tentang karya Stefani yang ”keliaran”, atau persisnya kejalangan, yang terbentur ”dinding-dinding kemunafikan orang-orang sekitarnya”. Teguh menyorot seorang anggota parlemen yang berhubungan dengan tokoh utama bernama Nian di novel ini, juga hubungannya dengan seorang perempuan lesbian dan seorang pastur.

Dari Psikologi hingga ...
Remaja juga adalah dunia yang sebenarnya rumit dan tidak sesederhana yang dipikir oleh kalangan dewasa, ujar Intan Paramaditha, jebolan Sastra Inggris Universitas Indonesia. Intan, membahas pandangan secara psikologi tentang tokoh sentral Nian. Tokoh yang mendapat tekanan dari keluarga, setelah ayah dan ibunya bercerai, lalu ikut oma dan opa yang menggunakan standar tertentu.
Nian, seorang remaja yang menjalin hubungan dengan Keken Sukendar, anggota parlemen itu. Sebagai penikmat – atau juga pengamat, Intan membedah tokoh utama dari sisi psikologi seorang remaja. Dengan menggunakan ”pisau bedah” teori psikoanalisis Lacan, Intan memandang bahwa tokoh Nian menyimbolkan kompleksitas posisi gadis remaja saat ingin memasuki Aturan Simbolis (symbolic order) di mana dunia telah penuh dengan tatanan nilai serta batasan tentang yang normal dan tidak normal. Dunia juga adalah sistem patriarki yang penuh dengan aturan maskulin: keras, rasional, ideal dan normatif.
Ia (bisa dibaca tokoh Nian pada kasus teks novel ini), dalam pandangannya, bisa saja melihat bahwa dunia inilah yang gila karena semua harus ikut aturan jika ingin selamat. Dengan memasuki ”aturan simbolis” dia tetap merindukan ”fase imajinasi” masa kanak-kanak yang identik dengan irasional, penuh pemberontakan dan ketidakteraturan.
Nian, dalam perjalanannya – dalam analisis Intan Paramaditha – sadar bahwa untuk bertahan, seseorang harus menyerap nilai maskulin dengan tegar dan rasional. Berkompromi dengan lingkungan dengan cara menganalisis penyakit jiwanya, dan mengikuti aturan permainan Keken.
Keken mewakili simbol kemunafikan, yang sekalipun cinta pada Nian tetap menjaga citranya sebagai anggota parlemen. Dalam kondisi psikologi antara pemberontakan dan kompromi, dia kemudian akhirnya mesti melepaskan tahap imajinasi yang penuh kegilaan, melupakan ”gila”nya Zarathustra (karya Frederich Nietzsche), dan menerima kenyataan yang normatif.
Karya Stefani, bila dilihat memang sekalipun ditulis oleh remaja, justru dalam isi bukan ”novel remaja” (dalam pengertian ”remaja” konvensional). Di dalam karyanya, ada perenungan, perbenturan normatif, gugatan sosial dan politik pada tokoh-tokoh yang dikenal ideal tetapi digugat dari sisi moralitas juga perenungan lainnya.
Intan, sekalipun tak menyertakan dalam makalahnya tentang pengkajian intertekstualitas (latar, alur, penokohan, dsb), mengatakan bahwa karya Stefani memang konvensional dari sisi struktur teks. Dengan alur maju, pengisahan narator adalah melalui tokoh utama yaitu Nian.
Kisah yang diangkatnya bisa jadi merupakan ”kenangan psikologi” remaja alam bawah sadar (pre-conciousness) yang terlewatkan atau terlupakan. Alam imajiner memang penuh dengan kebebasan, namun penuh dengan pencarian identitas, baik referentif teori, atau lewat keliaran lingkungan masyarakat dan sosial.
Ungkapan menarik terlontar terhadap Stefani dan karyanya: ”Di negeri kacrut ini banyak orang yang iri, dengki, cembokur pada kebiasaan orang lain. Kamu gak usah gubris! Kamu seorang novelis! Tapi kamu memang masih harus banyak belajar, bukan teknis dan gaya penulisan, tapi tentang kebenaran. Tentang Tuhan yang memberimu talenta, yang tak boleh kamu sia-siakan…,” kata Teguh. (srs)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003