|
Oknum Aparat Diduga Serang
Permukiman Sipil
Ambon Dibombardir 10 Jam
Ambon, Sinar Harapan
Ratusan warga Kota Ambon, Rabu (28/4) pagi, mendatangi Mapolda
Maluku untuk mendesak Kapolda Maluku Brigjen Bambang Sutrisno
mengusut tuntas kasus pembakaran rumah mereka dan menempatkan satuan
Brimob untuk menggantikan pasukan TNI di kawasan Karangpanjang.
Ratusan orang itu adalah warga Karangpanjang, Kecamatan Sirimau,
Kota Ambon yang rumahnya telah dibakar massa pada Selasa (27/4)
malam hingga Rabu (28/4) pagi. Alasan warga adalah, karena mereka
melihat sendiri oknum aparat membakar rumah-rumah mereka pada Selasa
sekitar pukul 01.00 WIT dan membakar satu gereja pada Rabu sekitar
pukul 03.00 WIT di kawasan Karangpanjang itu. Tetapi mereka mengaku
tidak tahu dari satuan mana oknum aparat tersebut.
SH berusaha mengontak Kodam Pattimura dan Kodim 1504 Pulau Ambon,
Rabu pagi, tetapi petugas yang mengangkat telepon hanya mengatakan
komandan sedang berada di lapangan.
Kepala Dinas Penerangan Umum (Kadispenum) Mabes TNI, Kol. CAJ Ahmad
Yani Basuki, ketika dihubungi SH Rabu pagi, menjelaskan bahwa
masalah Ambon sebaiknya ditanyakan ke Penerangan Daerah Militer
(Pendam) Kodam Pattimura, karena masalah ini belum ditarik ke atas
ke Mabes TNI, selain Kepala Pendam (Ka Pendam) lebih mengetahui
dinamika di lapangan. ”Jadi kalau kaitan dengan TNI, tanyakan ke
Pendam sedang masalah Ambon secara keseluruhan tanyakan ke Polri,”
kata Yani Basuki.
Di kawasan Karangpanjang terjadi hujan bom dan mortir serta rentetan
tembakan senjata organik selama 10 jam, sejak Selasa sekitar pukul
20.00 WIT hingga Rabu hari ini sekitar pukul 06.00 WIT. Gedung
Gereja GPM Nazareth turut dimortir. Akibatnya ribuan warga mengungsi
mencari tempat-tempat perlindungan.
Wartawan SH yang sedang bersembunyi di balik puing-puing bangunan
yang telah dibombardir oleh sekelompok orang itu yang ingin
mengacaukan situasi keamanan yang telah kondusif sejak tahun lalu,
menyaksikan banyak warga berlarian mencari tempat perlindungan di
antara dentuman bom. Bahkan anak-anak kecil terlihat menangis sambil
berlarian.
Mereka sebagian besar menuju kawasan belakang Soya, Skip, Batu Meja,
dan Batu Gajah, semuanya masih di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.
Seorang warga menceritakan, serangan terus terjadi dari sayap kanan,
kiri dan tengah, sedangkan di kampung belakang Soya, ibu-ibu,
anak-anak dan bapak-bapak lari kocar-kacir.
Pagi tadi di Mapolda Maluku, ratusan warga Karangpanjang itu juga
meminta agar aparat keamanan memperjelas tentang apa yang
dimaksudkan dengan kelompok Republik Maluku Selatan (RMS) dan
memisahkan antara warga yang anggota RMS dengan warga bukan anggota
atau pendukung RMS. Mereka juga meminta agar setiap anggota RMS
ditangkap.
Pertemuan di Bandara
Sementara itu, Rabu sekitar pukul 13.00 WIT dilakukan pertemuan
antara Menko Polkam ad interim Hari Sabarno dengan jajaran Muspida
Provinsi Maluku dan Wali Kota Ambon Jopie Papilaya, di ruang tunggu
VIP Bandara Pattimura, Ambon.
Menko Polkam tidak menuju Kota Ambon karena alasan situasi keamanan.
Sedangkan rombongan Muspida Provinsi Maluku di antaranya Gubernur
Maluku Karel Ralahalu, Kapolda Maluku Brigjen Bambang Sutrisno,
Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Syarifudin Sumah, Kepala Kejati
Masri Djimim, serta sejumlah direktur pada jajaran Polda Maluku,
menuju Bandara Pattimura dengan menggunakan kendaraan lapis baja
milik Gegana Mabes Polri.
Menurut pantauan SH, sekitar satu jam atau pukul 12.00 WIT menjelang
kunjungan Menko Polkam, tidak lagi terdengar bunyi tembakan dan
ledakan bom di Kota Ambon, padahal sekitar pukul 11.30 WIT masih
terdengar suara tembakan dan ledakan bom di beberapa titik di Kota
Ambon antara lain di kawasan Tanah Lapang Kecil dan Karangpanjang.
Kondisi Pengungsi
SMK Negeri 4 Ambon dan kompleks Masjid Al Fatah, menjadi salah satu
tempat penampungan pengungsian, namun kekurangan persediaan
obat-obatan dan bahan pangan juga mulai menimpa para pengungsi.
Direktur RS Alfatah Ambon, dr Rivai Ambon, kepada SH, Selasa (27/4)
mengakui kekurangan vaksin dan cairan untuk menangani para korban
yang sebagian besar terkena tembakan peluru dari senjata organik.
”Kami pun memiliki keterbatasan ruangan dan tempat tidur sehingga
para korban ditempatkan pada gedung Islamic Centre,” katanya.
Sementara itu, seorang juru kamera SCTV dari Jakarta, Haryo Dewanto,
Selasa pagi dipukul massa dari kawasan Karangpanjang yang sedang
berada di Mapolda Maluku. Pemukulan dilakukan karena warga menilai
stasiun televisi itu telah memberitakan fakta yang salah. Menurut
mereka, dalam beberapa hari terakhir ini SCTV menyamakan kelompok
RMS dengan komunitas Kristen. Padahal, menurut masyarakat, anggota
RMS tidak lebih dari 100 orang dan tidak hanya terdiri dari
orang-orang Kristen.
Akibat pemukulan tersebut, juru kamera SCTV Haryo Dewanto terluka
goresan di pipi kanannya dan mendapat perawatan secukupnya di
Mapolda Maluku, kemudian bisa melanjutkan aktivitasnya kembali.
Budi Dharmawan, Humas SCTV ketika dihubungi SH, Rabu (28/4) pagi,
membenarkan adanya pemukulan terhadap Haryo Dewanto oleh sejumlah
warga di Mapolda Ambon. ”Itu memang risiko dalam menjalani tugas
jurnalistik. Saat ini Haryo Dewanto sudah mendapat perawatan ringan
di klinik di Mapolda Ambon. Kondisinya juga tidak mengkhawatirkan,
hanya luka ringan saja. Namun kami menyesalkan pemukulan tersebut,”
katanya.
Dia menjelaskan, pihaknya tetap berimbang dalam melakukan peliputan
di Ambon. ”Kita dalam pemberitaan tetap mengedepankan terciptanya
situasi yang kondusif bagi kedua belah pihak, sebab mereka adalah
saudara-saudara kita juga. SCTV tetap memegang prinsip jurnalistik
damai dalam peliputan konflik seperti di Ambon,” tambah Budi
Dharmawan. (izc/eld/ega/nor)
|
|