Senin, 26 April 2004

O P I N I

No.  4686

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Tenaga Kerja Negara Agraris dan Maritim
 

Oleh Mohamad Soerjani

Bangsa Indonesia dikaruniai Tuhan suatu negara kepulauan (maritim) besar dengan wilayah darat yang kaya raya dan lautan seluas hampir tiga kali lebih luas dari daratan dengan sumber daya laut yang tak terkira. Demikian kayanya sehingga menjadi incaran para nelayan asing yang mencuri ikan kita atau menadah kayu curian. Di samping itu juga cukup banyak sumber daya alam negara ini yang lebih ditawarkan di pasar global ketimbang dikonsumsi atau dimanfaatkan bangsa sendiri yang berjumlah hampir 220 juta jiwa ini. Terlalu banyak hasil negara ini yang mendahulukan ekspor (ikan, kayu, mineral, energi, dan sebagainya) karena daya beli rakyat kita yang sebagian besar (terutama para petani dan nelayan) tergolong miskin.
Masalahnya, mampukah pendidikan kita menghasilkan lulusan untuk menjadi tenaga kerja profesional yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dalam menelaah kebutuhan pasar ini, sepanjang yang kita amati, diartikan secara sempit: tenaga kerja yang laku di pasar. Pendidikan kita seharusnya juga menghasilkan profesional yang tahu apa (barang dan jasa) yang dibutuhkan masyarakat (baca: pasar), sehingga lulusannya adalah mereka yang menciptakan lapangan kerja, guna memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini baik untuk diri sendiri maupun terutama untuk membuka peluang bagi tenaga lain yang diserapnya atau diajak bergotong-royong. Jadi tidak hanya menciptakan pembantu, buruh atau ”budak”, tetapi membuka kesempatan menjadi partner kerja.

Agraris dan Maritim
Salah satu ironi besar yang perlu mendapat perhatian adalah pendidikan kita yang kurang sesuai dengan predikat sebagai negara agraris dan maritim, padahal petani dan nelayannya miskin. Kita terpancing untuk memikirkan apa yang dirisaukan oleh Ali Khomsan (”Quo Vadis SDM Pertanian Kita?” Kompas, 15 Maret 2004) dan Syaiful Bahri (”Kegagalan Pembangunan Pertanian di Indonesia”, Kompas, 15 Maret 2004). Menangapi kedua kolom itu, di sini penulis menyampaikan analisis yang mudah-mudahan melengkapinya.
Sebagai negara agraris pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor pembangunan dan keterlibatan tenaga kerja tahun 2002 ringkasnya adalah sebagai berikut. Tenaga kerja di bidang pertanian (termasuk nelayan, peternak, dan sebagainya) pada tahun 2000 jumlahnya 44.528.000 (± 45%) tetapi sumbangan untuk pertumbuhan ekonomi (% GDB) hanya ± 18%, atau rasio GDB/tenaga kerja hanya 0,4 dan terpuruk menjadi yang terendah no. 9 dibandingkan berturut-turut dengan pertambangan, bisnis/keuangan, listrik/gas/air, industri manufaktur, konstruksi, transportasi, perdagangan dan pelayanan umum (urutan rasio no. 1 sampai 8).
Pembangunan memerlukan dukungan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam suatu telaah pada tahun 1993 pembangunan Indonesia tidak sustainable, karena eksploitasi SDA kita mencapai 17-18% dari GDB, sedang yang kita peroleh untuk biaya pembangunan hanya 15%. Jadi setiap tahun ada pengurasan SDA yang tidak sesuai dengan makna hasilnya untuk negara dan bangsa ini.
Untuk itu diperlukan dua pendekatan: efisiensi pemanfaatan SDA (antara lain berupa penghematan, pemakaian kembali, reparasi, daur ulang, dan sebagainya). Di sisi lain peningkatan SDM yang mengerti dan memahami (know-how), serta mempunyai kompetensi teknologi dan manajerial dalam memproses nilai tambah sumber daya alam kita. Jadi produk primer pertanian dan hasil laut, perlu diproses dalam agroindustri maupun marineindustri. Contoh yang sederhana: ikan tidak dijual mentah, tetapi sebagai ikan peda, ikan asin, kerupuk, petis, dan sebagainya; rumput laut tidak diekspor mentah, tetapi diproses dulu secara sederhana sebagai jeli, dodol, jus, atau melalui teknologi yang lebih canggih dapat dikembangkan industri untuk menghasilkan karagen, pengemulsi, obat-obatan, dan sebagainya.
Dengan demikian karena ada kesibukan dan kebutuhan akan tenaga kerja di bidang pertanian dan kelautan, petani dan nelayan kita mendapatkan perolehan (pendapatan) lebih sehingga dapat mengkonsumsi SDA sendiri sebelum diekspor. Ekspor tentu penting, tetapi jangan mendahulukan ekspor sebelum berupaya meningkatkan pemasarannya untuk dikonsumsi secukupnya di dalam negeri sendiri.
Kita memang boleh mengacungkan jempol pada naiknya sumbangan devisa negara dari sektor pertanian maupun perikanan, karena itu pun tidak salah, tetapi hendaknya diekspor setelah petani atau nelayan kita sendiri kecukupan.

Pendidikan
Ada pengajar Fakultas Pertanian yang mengeluh, karena negara kita yang agraris jumlah sarjana pertaniannya hanya 0,3% dari seluruh sarjana yang jumlahnya 4,7%. Keluhan berikutnya adalah setelah lulus sebagai sarjana pertanian pun tidak bersedia menjadi petani. Bahkan ada julukan bahwa ada jurusan atau fakultas di perguruan tinggi yang diberi predikat sebagai jurusan atau fakultas ”serba-bisa”. Demikian pula siswa pendidikan perikanan, ternyata dalam kenyataan juga belum tentu berminat untuk menjadi nelayan.
Kalau pemberdayaan petani dan/atau nelayan kecil dan menengah harus dilaksanakan, maka perlu dilengkapkan kembali pendidikan kompetensi dan keterampilan teknik pertanian dan teknik perikanan bagi mereka yang tidak/belum mampu menempuh pendidikan tinggi. Hendaknya mereka diberi kesempatan memperoleh pendidikan secukupnya seperti dulu SPM – Sekolah Pertanian Menengah sesudah Sekolah Dasar (SD). Jadi perlu diperbanyak adanya SMK Perikanan atau Sekolah Menengah Perikanan dan Kelautan. Di samping itu juga ada jenjang Sekolah Pertukangan (zaman Hindia Belanda namanya Ambachtschool) setelah SD, lalu ada Sekolah Teknik (Technischeschool) dan sebagainya.
Di Papua Nugini dilaksanakan sistem pendidikan yang perlu dipertimbangkan penerapannya untuk Indonesia. Di SD, petani unggulan setempat yang berhasil telah diundang sebagai guru tamu untuk memberi penjelasan keberhasilannya dalam budi daya pertanian; bahkan murid-murid diajak ke kebun untuk melihat bagaimana dia bertani. Demikian pula peternak ikan yang berhasil meneruskan keberhasilannya kepada murid-murid SD.
Cara ini diharapkan akan memotivasi anak-anak, agar mereka tertarik untuk terjun ke bidang pertanian atau perikanan, seandainya tidak sempat meneruskan pendidikan pada jajaran yang lebih tinggi. Pengabdian di bidang pertanian maupun perikanan memang bukan pekerjaan profesional yang berdasi, tetapi yang membuat kotornya tangan untuk mencukupi kebutuhan dan kelangsungan kehidupan seseorang dan keluarganya.

Penulis adalah pengajar pada Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan.

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003