Jum'at, 16 April 2004

O P I N I

No.  4678

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Tuhan Agama Kekuasaan
 

Oleh L Murbandono Hs

Di sekitar musim "pesta demokrasi" hari-hari ini sang hasrat berkuasa merajalela di negara kita, kian menghebat bahkan sampai tingkat mengerikan, dan akhirnya menjadi Tuhan agama baru. Agama Kekuasaan! Tuhan dan agama secara sengaja ditampilkan tanpa tanda petik, sebab ditilik dari prinsip-prinsip "rasa penghayatan keagamaan orang biasa" dan khususnya dampak-dampaknya, harus diakui secara jujur bahwa mereka bukan saja memang telah menjadi Tuhan dan agama dalam pengertian yang sebenarnya, tetapi malah dalam banyak kasus, lebih unggul.
Agama Kekuasaan itu berkembang pesat. Banyak tokoh kita menjadi pemeluknya meski sudah mempunyai agama menurut KTP masing-masing. Ibarat kawin ya poligami atau poliandri. Nyaris tak ada yang cerai dari sang agama yang masih dalam pelukan.
Riuh rendah kiprah politik saat ini, memang sekilas sepertinya cuma fenomena sosial politik belaka, tapi sejatinya, dalam ujungnya yang terpenting dan terdalam, merupakan fenomena totalitas peradaban kemanusiaan yang tengah beraksi habis-habisan mencurahkan apa saja demi Tuhan di dalam agama Kekuasaan tersebut. Tidak jarang, pihak terkait bahkan sambil mengatasnamakan dan memperalat agama yang masih dipeluknya.
Agama baru itu tentu saja mempunyai iman, dogma, ritual, misi, dan segala unsur agama yang kita kenal. Cuma, ia mencampuradukkan segala unsur agama terdahulu. Tapi tetap bisa diidentifikasi, meski rumit, sebab muaranya jelas. Uang dan tipu-menipu serta kenikmatan menjadi kredo, ritual, dogma, dan lain-lain, yang tumpang tindih atau menjadi satu sekaligus.
Karena itu, relatif, tidak ada masalah. Dalam arti kejelasannya! Campur aduk itu mencolok, menggiurkan, mewah. Berbinar-binar dengan gemerlap cahaya emas hedonisme dan berbagai jenis mata uang di brankas-brankas bank.
Hadirat Tuhan dalam agama Kekuasaan itu amat luas. Ia bukan saja memasuki partai-partai dan kantor-kantor birokrasi, tapi juga LSM, universitas, sekolah, tempat-tempat ibadat, kamar cukong, agenda-agenda media, villa-villa, kelurahan, kamar tidur pemimpin. Dia juga dengan mudah bisa ditemukan dalam pidato, seminar, rapat, demonstrasi, kisruh di pengadilan, kilah-kilah di parlemen, simpang siur di kabinet, dan tentu saja dalam kampanye-kampanye.
Situasi di atas bisa terjadi sebab gerak Tuhan dalam agama Kekuasaan amat lincah. Ia bergerak vertikal, horizontal, jumpalitan, melingkar-lingkar, dalam skala lokal, nasional, dan global. Kadang-kadang geraknya amat cepat dan heboh. Lain kali Ia merangkak perlahan-lahan, diam-diam, lemah lembut seperti hero asmara yang romantis. Meski geraknya tidak terduga, tetapi tujuan-tujuan sucinya mencolok dengan vulgar, yakni aneka jabatan di kecamatan, kabupaten, gubernuran, departemen, kabinet, dprd, dpd, dpr, mpr, istana presiden, dengan segala ikutan termasuk sekretariat-sekretariatnya.
Sudah barang tentu pengaruh Tuhan agama Kekuasaan itu kuat dan dahsyat bagi para pemeluknya. Demi Dia, sang pemeluk akan mempersembahkan segalanya, mau berjerih-payah, memeras otak, dan oke-oke saja mematikan perasaan. Demi Dia, sang pemeluk akan dengan enteng memalsukan dokumen, melanggar aturan, menyiksa adat, bertengkar, mengambil risiko besar, menjual harga diri, berutang besar, berjanji palsu, mencelakakan orang, me-merosotkan martabat, dan berbohong.
Bukan hanya menjadi tujuan, bagi pemeluknya Dia juga menjadi pengubah perilaku sampai perusak moral. Singkatnya, demi Tuhan dalam agama Kekuasaan, para pemeluknya akan mau untuk bertindak habis-habisan.

Agar Bisa Berkuasa!
Sebab jika kita mempunyai kekuasaan, apa yang tidak bisa kita raih? Kekuasaan adalah jalan pintas ke seluruh akses sospolekbudhankam.
Secara politik, kekuasaan adalah pencipta dan pembangun, semisal menciptakan kuburan massal tanpa dihukum dan membangun ruang harta karun bawah tanah tanpa terbongkar. Dia menjadi penggiring informasi, penentu nilai, pencipta makna, benteng isme, dan jika perlu menjadi algojo ideologi.
Secara ekonomis, kekuasaan adalah jalan ke kapital, ke kartu kredit, saham, obligasi, surat piutang, batangan emas, laba, faktor produksi, cheque, dan mobil mewah. Kekuasaan adalah lorong menuju nasib baik, simbol sukses, kebahagiaan, kelimpahan, lambang kejayaan, kunci pembuka segala kemungkinan berbisnis.
Secara moral kultural dan sejenisnya, maka bagi para pemeluknya kekuasaan adalah asas, cara, sumber, akses, citra, rasa, rasio, persepsi, candra, idaman, ikon, kiblat, orientasi, dan tujuan hidup.
Ada pun kredo dalam bentuk doa yang paling populer dewasa ini dalam rangka liturgi memuja Tuhan dalam agama Kekuasaan, kira-kira begini:
O, Kekuasaan, aku percaya kepada Dikau. Dikaulah tumpuan segalaku. Hanya dengan Dikau aku bisa jaya, kaya, terhormat dan dipuja-puja. Resapilah diriku dengan Dirimu sebab Kekuasaan mampu memproduksi kekuasaan-kekuasaan, sehingga aku bisa menundukkan pesaingku, memenjarakan musuh-musuhku, membesarkan ideologiku dan mengembangkan hasrat-hasratku. Tanpa Dikau, o, Kekuasaan, apalah aku ini. Limpahilah diriku dengan Dikau, o, Kekuasaan sembahanku. Amin.

Mengerikan!
Alhasil, kelahiran dan terciptanya Tuhan dalam agama Kekuasaan di atas jelas amat berbahaya bagi negara kita yang tengah dirundung deret panjang masalah yang sepertinya datang silih berganti. Yang sepertinya akan amat sulit untuk bisa digarap, ditangani, diatasi, dan diselesaikan oleh siapa pun yang berkuasa di negeri ini.

Penulis adalah jurnalis/produser senior Bidang Humaniora dan Budaya Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum, Nederland.

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003