|
Ketika Muda-mudi
Lakukan ”Med-Medan”
DENPASAR — Gelak tawa ratusan penonton
di Bale Banjar (Balai Desa) Kaja tak bisa terelakkan ketika Ni Made
Centini (bukan nama sebenarnya) dengan malu-malu menyorongkan
bibirnya agar bisa diraih oleh bibir Nyoman Raka (juga bukan nama
sebenarnya). Sorak sorai penonton disertai tepuk tangan kemudian
pecah ketika kedua bibir remaja itu sudah melekat.
Saat kedua bibir muda-mudi itu sudah melekat bak perangko dan
amplop, tanpa dikomando para penonton langsung mengambil air yang
sudah tersedia dan menyiramkan keduanya sehingga basah kuyup. Dalam
kondisi demikian, keduanya pun melepaskan lekatan bibir keduanya.
Giliran berikutnya adalah Ni Melati (bukan nama sebenarnya)
berpasangan dengan Nengah Mujung (juga bukan nama sebenarnya). Para
pengunjung di Bale Banjar Kaja ini semakin terbahak-bahak ketika
menyaksikan Nengah Mujung yang sedikit memaksa Melati agar bisa
dicium.
Melati agak malu-malu sehingga Mujung terpaksa menarik leher gadis
remaja itu. Setelah bibir keduanya menempel, lagi-lagi penonton pun
menyiramkan air ke tubuh keduanya pertanda adegan ciuman selesai.
Adegan yang dilakukan dua pasangan muda-mudi itu bukan mesum, tapi
sebuah rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1926. Bagi
sebagian orang, adegan itu unik karena hanya dilakukan oleh
muda-mudi di Banjar Kaja dan merupakan tradisi sejak lama dan
dikenal dengan nama med-medan.
Para peserta yang boleh mengikuti med–medan itu hanya warga Banjar
Kaja. Setiap peserta terlebih dahulu harus mendaftarkan diri ke
panitia. Setelah itu, panitia yang menentukan pasangannya.
Setelah mendapat giliran, akhirnya pasangan yang telah ditentukan
itu melakukan adegan saling berciuman. Tampak banyak peserta,
terutama dari kaum wanita, merasa malu-malu untuk melakukan adegan
ciuman. Hal ini mengingat adegan ciuman itu dilakukan di depan umum,
dan disaksikan khalayak ramai.
Tetua Banjar Kaja, I Gusti Ngurah Oka Putra, menjelaskan acara ini
merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang dahulu yang hingga saat
ini masih terus dilestarikan oleh para generasi mudanya. Biasanya
acara ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi.
Menurut Ngurah Oka Putra, warga Banjar Kaja meyakini acara med–medan
ini mempunyai nilai magis, sehingga harus terus dilestarikan.
Dahulu, papar Ngurah Oka Putra, acara ini sempat dihentikan. Namun
akibatnya, banyak warga setempat menderita bencana seperti sakit.
Melihat kejadian ini, lanjut Ngurah Oka Putra, tetua Banjar Kaja
akhirnya menetapkan bahwa acara ini harus terus dilakukan. ”Kita
meyakini akan mendapat hukuman secara niskala (gaib) jika tidak
melaksanakan med–medan, ” ucapnya.
Tidak Melanggar
Sementara itu Wakil Ketua I Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
Bali Ngurah Sudiana kepada SH mengatakan kegiatan yang dilakukan
oleh warga Banjar Kaja adalah sah dan tidak bertentangan dengan
ajaran Hindu. Hal ini mengingat dalam ajaran Hindu juga memakai
tradisi masyarakat setempat, kondisi dan waktu. ”Secara agama,
med-medan itu sah dan tidak bertentangan,” ujarnya.
Sudiana mengisahkan, awal mula med-medan ini yang akhirnya menjadi
tradisi di masyarakat Banjar Kaja, Sesetan berawal dari adanya
perkelahian seekor babi jantan dengan seekor babi betina. Dalam
konsep penciptaan, menurut Sudiana perkelahian
dua makhluk yang memiliki unsur positif dan negatif itu mempunyai
makna untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Sudiana mencontohkan air dengan api. Bila kedua benda ini
digabungkan, lanjutnya, bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
bagi manusia. Misalnya, air setelah dipanaskan menggunakan api bisa
dipakai untuk meminum kopi.
Med-medan mempunyai arti saling tarik-menarik antara pria dan wanita
yang masih berusia remaja. Med-medan, demikian kata Sudiana, juga
memiliki kekuatan untuk menetralisir sesuatu yang negatif.
”Secara agama Hindu, acara ini mengandung kekuatan untuk
menetralisir alam dari unsur negatif,” tutur Sudiana sembari
menambahkan lelaki dan perempuan juga mengandung unsur saling
kontradiktif namun jika disatukan bisa menghasilkan sesuatu yang
baru. (SH/cinta malem ginting)
|
|