Selasa, 23 Maret 2004

N U S A N T A R A

No.  4658

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Ketika Muda-mudi Lakukan ”Med-Medan”
 

DENPASAR — Gelak tawa ratusan penonton di Bale Banjar (Balai Desa) Kaja tak bisa terelakkan ketika Ni Made Centini (bukan nama sebenarnya) dengan malu-malu menyorongkan bibirnya agar bisa diraih oleh bibir Nyoman Raka (juga bukan nama sebenarnya). Sorak sorai penonton disertai tepuk tangan kemudian pecah ketika kedua bibir remaja itu sudah melekat.
Saat kedua bibir muda-mudi itu sudah melekat bak perangko dan amplop, tanpa dikomando para penonton langsung mengambil air yang sudah tersedia dan menyiramkan keduanya sehingga basah kuyup. Dalam kondisi demikian, keduanya pun melepaskan lekatan bibir keduanya.
Giliran berikutnya adalah Ni Melati (bukan nama sebenarnya) berpasangan dengan Nengah Mujung (juga bukan nama sebenarnya). Para pengunjung di Bale Banjar Kaja ini semakin terbahak-bahak ketika menyaksikan Nengah Mujung yang sedikit memaksa Melati agar bisa dicium.
Melati agak malu-malu sehingga Mujung terpaksa menarik leher gadis remaja itu. Setelah bibir keduanya menempel, lagi-lagi penonton pun menyiramkan air ke tubuh keduanya pertanda adegan ciuman selesai.
Adegan yang dilakukan dua pasangan muda-mudi itu bukan mesum, tapi sebuah rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1926. Bagi sebagian orang, adegan itu unik karena hanya dilakukan oleh muda-mudi di Banjar Kaja dan merupakan tradisi sejak lama dan dikenal dengan nama med-medan.
Para peserta yang boleh mengikuti med–medan itu hanya warga Banjar Kaja. Setiap peserta terlebih dahulu harus mendaftarkan diri ke panitia. Setelah itu, panitia yang menentukan pasangannya.
Setelah mendapat giliran, akhirnya pasangan yang telah ditentukan itu melakukan adegan saling berciuman. Tampak banyak peserta, terutama dari kaum wanita, merasa malu-malu untuk melakukan adegan ciuman. Hal ini mengingat adegan ciuman itu dilakukan di depan umum, dan disaksikan khalayak ramai.
Tetua Banjar Kaja, I Gusti Ngurah Oka Putra, menjelaskan acara ini merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang dahulu yang hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh para generasi mudanya. Biasanya acara ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi.
Menurut Ngurah Oka Putra, warga Banjar Kaja meyakini acara med–medan ini mempunyai nilai magis, sehingga harus terus dilestarikan. Dahulu, papar Ngurah Oka Putra, acara ini sempat dihentikan. Namun akibatnya, banyak warga setempat menderita bencana seperti sakit.
Melihat kejadian ini, lanjut Ngurah Oka Putra, tetua Banjar Kaja akhirnya menetapkan bahwa acara ini harus terus dilakukan. ”Kita meyakini akan mendapat hukuman secara niskala (gaib) jika tidak melaksanakan med–medan, ” ucapnya.
Tidak Melanggar
Sementara itu Wakil Ketua I Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Ngurah Sudiana kepada SH mengatakan kegiatan yang dilakukan oleh warga Banjar Kaja adalah sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Hindu. Hal ini mengingat dalam ajaran Hindu juga memakai tradisi masyarakat setempat, kondisi dan waktu. ”Secara agama, med-medan itu sah dan tidak bertentangan,” ujarnya.
Sudiana mengisahkan, awal mula med-medan ini yang akhirnya menjadi tradisi di masyarakat Banjar Kaja, Sesetan berawal dari adanya perkelahian seekor babi jantan dengan seekor babi betina. Dalam konsep penciptaan, menurut Sudiana perkelahian
dua makhluk yang memiliki unsur positif dan negatif itu mempunyai makna untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Sudiana mencontohkan air dengan api. Bila kedua benda ini digabungkan, lanjutnya, bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Misalnya, air setelah dipanaskan menggunakan api bisa dipakai untuk meminum kopi.
Med-medan mempunyai arti saling tarik-menarik antara pria dan wanita yang masih berusia remaja. Med-medan, demikian kata Sudiana, juga memiliki kekuatan untuk menetralisir sesuatu yang negatif.
”Secara agama Hindu, acara ini mengandung kekuatan untuk menetralisir alam dari unsur negatif,” tutur Sudiana sembari menambahkan lelaki dan perempuan juga mengandung unsur saling kontradiktif namun jika disatukan bisa menghasilkan sesuatu yang baru. (SH/cinta malem ginting)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003