Senin, 01 Maret 2004

N U S A N T A R A

No.  4640

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Keraton Yogya Gandeng Pengusaha Bangun ”Hypermall”
 

Yogyakarta, Sinar Harapan
Keraton Yogyakarta ingin lebih memberdayakan tanah-tanah miliknya, seiring dengan rencana Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang akan mengembangkan Yogyakarta sebagai pusat dari Jawa Tengah (Jateng) selatan. Karena itulah, pihak keraton Yogyakarta menggandeng para pengusaha untuk mendirikan sebuah hypermall di sebelah barat hotel Ambarukmo.
Pengusaha yang digandeng adalah dari kelompok Formula. "Kami ingin memberdayakan lahan keraton agar lebih berdayaguna baik untuk keraton sendiri maupun masyarakat. Dengan dibangunnya mal ini tentu akan menimbulkan lapangan kerja dan lain sebagainya," kata Kangjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto, Kepala Urusan Rumah Tangga Keraton Yogya, Sabtu (28/2), di Yogyakarta.
Menurut rencana, lahan yang dibangun itu yang dulunya dipakai sebagai kebun anggrek dan juga kini tengah dipakai oleh SD Negeri Ambarukmo. Di atas tanah seluas 2 hektare itu akan dibangun bangunan 5 lantai. Sementara hotel Ambarukmo yang juga milik keraton akan direnovasi pula. Nantinya, hypermall dan hotel akan menjadi satu kawasan.
Diperkirakan pembangunan ini akan dimulai April ini dan akan menelan biaya Rp 200 miliar. "Perkembangan bisnis di Yogyakarta memang sangat bagus terutama untuk ritel dan perhotelan. Banyak investor yang sudah lama berminat menanamkan modalnya di sini," kata Eddy Susanto, pimpinan kelompok Formula yang ikut mendampingi Hadiwinoto.
Pihaknya, menurut Eddy, sungguh beruntung sekali mendapatkan lahan ini. Lokasinya strategis, selain dekat bandara internasional Adisucipto, juga banyaknya kompleks perumahan di sekitar itu. Dalam hal kerjasama dengan para pengusaha untuk menggarap kawasan Ambarukmo itu, menurut Hadiwinoto, pihak keraton tak sembarang menggandeng. Kelompok yang akan membangun didalamnya harus ada pengusaha dari Yogya.
"Ini untuk menghindari uang yang masuk agar tidak semuanya lari keluar Yogya, tapi tetap ada yang beredar di Yogya," ujarnya.
Kebijakan ini diambil, lanjut Hadiwinoto, karena berkaca dengan kasus Bali. Di Bali, boleh dikata kebanyakan hotel-hotel besar dan mall pemiliknya adalah orang asing atau orang luar Bali. "Jadi orang Bali itu hanya sebagai pekerja saja, sementara uang yang masuk disetor keluar Bali," ungkapnya.
Tak hanya itu saja. Pihak keraton juga menekankan siapapun yang masuk ke hypermall itu juga - sedikit banyak - harus menjual produk lokal. Ini dimaksudkan produsen lokal juga ikut terangkat dan menikmati hasilnya. Keraton tetap bertanggungjawab untuk SDN Ambarukmo:
Pada kesempatan itu, Hadiwinoto membantah bila pembangunan hypermall ini akan mengabaikan SDN Ambarukmo yang memang saat ini berdiri di atas tanah keraton. Menurut Hadiwinoto, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sleman dan Dinas Pendidikan Sleman untuk memikirkan kepindahan SDN Ambarukmo itu.
Kini, pihaknya tengah menunggu keputusan dari Pemkab Sleman, apakah SD itu akan digabung dengan SD yang lainnya, atau akan diganti lokasinya. "Tentu kami akan tetap bertanggungjawab. Dan kalaupun pindah, tak akan jauh dari lokasi itu. Keraton masih mempunyai tanah di utara Ambarukmo. Kalaupun nanti dibangun juga tak akan mengganggu proses belajar mengajar," ujar Hadiwinoto.
Pihak keraton, kata Hadiwinoto, jelas tak akan mengabaikan masalah pendidikan. Dan ini bisa dilihat berapa banyak tanah keraton yang dipakai untuk gedung sekolah dari SD hingga Universitas. (yuk)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003