|
Keraton Yogya
Gandeng Pengusaha Bangun ”Hypermall”
Yogyakarta, Sinar Harapan
Keraton Yogyakarta ingin lebih memberdayakan tanah-tanah miliknya,
seiring dengan rencana Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) yang akan mengembangkan Yogyakarta sebagai pusat
dari Jawa Tengah (Jateng) selatan. Karena itulah, pihak keraton
Yogyakarta menggandeng para pengusaha untuk mendirikan sebuah
hypermall di sebelah barat hotel Ambarukmo.
Pengusaha yang digandeng adalah dari kelompok Formula. "Kami ingin
memberdayakan lahan keraton agar lebih berdayaguna baik untuk
keraton sendiri maupun masyarakat. Dengan dibangunnya mal ini tentu
akan menimbulkan lapangan kerja dan lain sebagainya," kata Kangjeng
Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto, Kepala Urusan Rumah Tangga
Keraton Yogya, Sabtu (28/2), di Yogyakarta.
Menurut rencana, lahan yang dibangun itu yang dulunya dipakai
sebagai kebun anggrek dan juga kini tengah dipakai oleh SD Negeri
Ambarukmo. Di atas tanah seluas 2 hektare itu akan dibangun bangunan
5 lantai. Sementara hotel Ambarukmo yang juga milik keraton akan
direnovasi pula. Nantinya, hypermall dan hotel akan menjadi satu
kawasan.
Diperkirakan pembangunan ini akan dimulai April ini dan akan menelan
biaya Rp 200 miliar. "Perkembangan bisnis di Yogyakarta memang
sangat bagus terutama untuk ritel dan perhotelan. Banyak investor
yang sudah lama berminat menanamkan modalnya di sini," kata Eddy
Susanto, pimpinan kelompok Formula yang ikut mendampingi Hadiwinoto.
Pihaknya, menurut Eddy, sungguh beruntung sekali mendapatkan lahan
ini. Lokasinya strategis, selain dekat bandara internasional
Adisucipto, juga banyaknya kompleks perumahan di sekitar itu. Dalam
hal kerjasama dengan para pengusaha untuk menggarap kawasan
Ambarukmo itu, menurut Hadiwinoto, pihak keraton tak sembarang
menggandeng. Kelompok yang akan membangun didalamnya harus ada
pengusaha dari Yogya.
"Ini untuk menghindari uang yang masuk agar tidak semuanya lari
keluar Yogya, tapi tetap ada yang beredar di Yogya," ujarnya.
Kebijakan ini diambil, lanjut Hadiwinoto, karena berkaca dengan
kasus Bali. Di Bali, boleh dikata kebanyakan hotel-hotel besar dan
mall pemiliknya adalah orang asing atau orang luar Bali. "Jadi orang
Bali itu hanya sebagai pekerja saja, sementara uang yang masuk
disetor keluar Bali," ungkapnya.
Tak hanya itu saja. Pihak keraton juga menekankan siapapun yang
masuk ke hypermall itu juga - sedikit banyak - harus menjual produk
lokal. Ini dimaksudkan produsen lokal juga ikut terangkat dan
menikmati hasilnya. Keraton tetap bertanggungjawab untuk SDN
Ambarukmo:
Pada kesempatan itu, Hadiwinoto membantah bila pembangunan hypermall
ini akan mengabaikan SDN Ambarukmo yang memang saat ini berdiri di
atas tanah keraton. Menurut Hadiwinoto, pihaknya telah berkoordinasi
dengan Pemerintah Kabupaten Sleman dan Dinas Pendidikan Sleman untuk
memikirkan kepindahan SDN Ambarukmo itu.
Kini, pihaknya tengah menunggu keputusan dari Pemkab Sleman, apakah
SD itu akan digabung dengan SD yang lainnya, atau akan diganti
lokasinya. "Tentu kami akan tetap bertanggungjawab. Dan kalaupun
pindah, tak akan jauh dari lokasi itu. Keraton masih mempunyai tanah
di utara Ambarukmo. Kalaupun nanti dibangun juga tak akan mengganggu
proses belajar mengajar," ujar Hadiwinoto.
Pihak keraton, kata Hadiwinoto, jelas tak akan mengabaikan masalah
pendidikan. Dan ini bisa dilihat berapa banyak tanah keraton yang
dipakai untuk gedung sekolah dari SD hingga Universitas. (yuk)
|
|