|
La Luna Bangkit
dengan Harapan Baru
JAKARTA
– Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat, seakan tak pernah kehabisan
grup band berpotensi. Sejak kejayaan Rollies (Gito, Deddy Stanzah,
Bonny, Delly, Benny Likumahua dan Jimmy Manoppo) dan Rhapsodia
(Deddy Dorres), kemudian berlanjut ke Kahitna, Java Jive dan Base
Jam; serta generasi baru, /rif , Pas Band, The Groove, dan Cokelat,
lalu kini Mocca, Seurieus … dan La Luna (Manik, Uti, Erwin,
Boyan)—mereka selalu membawa citra yang terpandang.
Begitu banyak nuansa corak musik yang diaduk dan dibuat apik oleh
band Bandung. Bunyi pop yang berdengung dalam performa
masing-masing, bukan sekadar dipadu Rock, Soul dan Jazz saja, namun
ada pilihan kembali ke alunan Vintage dan Disco Beat seperti yang
dilakukan La Luna di album terbarunya, Menanti Pagi.
Ya, setelah sempat vakum beberapa lama, kini La Luna bangkit kembali
dengan lirik-liriknya yang membawa pesan harapan, atau menyambung
dengan judul album ketiganya itu. ”Kami menemukan suasana pagi yang
cerah. Refreshing!,” ujar Erwin Januar, pemain bas kelahiran
Bandung, 23 Januari 1976.
Irama yang coba diketengahkan memang variatif. Namun, perbedaan
utama yang dijalin tetap berpusat pada vokalis Manik Purwakrishna
(25) yang berolah suara Sound Retro dengan materi musik yang
mengambil referensi konsep tren tahun 1940 hingga 2000-an.
”Inspirasinya memang demikian. Tapi bukan teknik vokalnya, namun
hanya musiknya yang mendekati sound-sound tempo dulu,” ungkap Manik,
saat merilis Menanti Pagi di Hard Rock Café, Jakarta.
Menegaskan Eksistensi
Perbedaan baru yang menonjol dari album terbaru La Luna adalah
berupaya mengubah bunyi beat dan muatan lirik. Artinya sudah lepas
dari proses remaja ABG, dan sok dewasa di dua album terdahulu.
”Kini kami lebih nyampur, secara sosial lebih melihat luas, dan
bervariasi usia penggemarnya. Musiknya sederhana dan mudah dicerna”
sambung Manik.
Lagu utama ”Selepas Kau Pergi” karya dramer Iyan Sopian (Boyan)
disebut sebagai suatu pengakuan nyata. ”Sambil mewakili problem
asmara siapa saja,” imbuh wanita kelahiran Bandung, 8 Desember 1978
itu.
Kedengarannya sebatas nyanyian orang yang patah hati. Padahal,
menurut Manik, ”Selepas Kau Pergi” membawa optimisme yang menyimpan
pengharapan tak pernah putus.
Mereka juga menjagokan lagu ”Asal Kau Tahu” dan ”Bahagia Tanpamu”
sebagai calon hits berikut dari La Luna. Target utama grup band yang
dibentuk 2 Januari 2000 ini adalah bisa diterima lagi oleh publik,
setelah menghilang cukup lama.
Utamanya, ”Kami sekarang ingin menegaskan eksistensi. Tidak
segmented lagi, tapi lebih membumi,” jelas Manik kepada SH.
Semua band di mana-mana harus memiliki citra tersendiri. ”Ini tetap
kami jaga! Kejujuran seperti itu tidak boleh hilang! Padanannya
tetap ringan, dan berlirik Indonesia agar mudah dicerna siapa saja,”
sambung Manik, didukung Boyan.
”Cara penyampaiannya lebih lugas. Tetep tentang cinta. Kebetulan
menyangkut percintaan dari sudut pandang perempuan. Bener-bener
feminin. Ada sisi-sisi mellow, sensitif dibandingkan Cokelat yang
rebel (berontak),” tukas Manik.
Namun, ini tidak mengartikan lemah, dipertegasnya. ”Setegar cewek
yang tetap ada rasa sensitif dan kesedihan” tutur Manik. (JJS)
|
|