Kamis, 15 Januari 2004

S E N I   &   H I B U R A N

No.  4604

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

La Luna Bangkit dengan Harapan Baru
 

JAKARTA – Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat, seakan tak pernah kehabisan grup band berpotensi. Sejak kejayaan Rollies (Gito, Deddy Stanzah, Bonny, Delly, Benny Likumahua dan Jimmy Manoppo) dan Rhapsodia (Deddy Dorres), kemudian berlanjut ke Kahitna, Java Jive dan Base Jam; serta generasi baru, /rif , Pas Band, The Groove, dan Cokelat, lalu kini Mocca, Seurieus … dan La Luna (Manik, Uti, Erwin, Boyan)—mereka selalu membawa citra yang terpandang.
Begitu banyak nuansa corak musik yang diaduk dan dibuat apik oleh band Bandung. Bunyi pop yang berdengung dalam performa masing-masing, bukan sekadar dipadu Rock, Soul dan Jazz saja, namun ada pilihan kembali ke alunan Vintage dan Disco Beat seperti yang dilakukan La Luna di album terbarunya, Menanti Pagi.
Ya, setelah sempat vakum beberapa lama, kini La Luna bangkit kembali dengan lirik-liriknya yang membawa pesan harapan, atau menyambung dengan judul album ketiganya itu. ”Kami menemukan suasana pagi yang cerah. Refreshing!,” ujar Erwin Januar, pemain bas kelahiran Bandung, 23 Januari 1976.
Irama yang coba diketengahkan memang variatif. Namun, perbedaan utama yang dijalin tetap berpusat pada vokalis Manik Purwakrishna (25) yang berolah suara Sound Retro dengan materi musik yang mengambil referensi konsep tren tahun 1940 hingga 2000-an.
”Inspirasinya memang demikian. Tapi bukan teknik vokalnya, namun hanya musiknya yang mendekati sound-sound tempo dulu,” ungkap Manik, saat merilis Menanti Pagi di Hard Rock Café, Jakarta.

Menegaskan Eksistensi
Perbedaan baru yang menonjol dari album terbaru La Luna adalah berupaya mengubah bunyi beat dan muatan lirik. Artinya sudah lepas dari proses remaja ABG, dan sok dewasa di dua album terdahulu.
”Kini kami lebih nyampur, secara sosial lebih melihat luas, dan bervariasi usia penggemarnya. Musiknya sederhana dan mudah dicerna” sambung Manik.
Lagu utama ”Selepas Kau Pergi” karya dramer Iyan Sopian (Boyan) disebut sebagai suatu pengakuan nyata. ”Sambil mewakili problem asmara siapa saja,” imbuh wanita kelahiran Bandung, 8 Desember 1978 itu.
Kedengarannya sebatas nyanyian orang yang patah hati. Padahal, menurut Manik, ”Selepas Kau Pergi” membawa optimisme yang menyimpan pengharapan tak pernah putus.
Mereka juga menjagokan lagu ”Asal Kau Tahu” dan ”Bahagia Tanpamu” sebagai calon hits berikut dari La Luna. Target utama grup band yang dibentuk 2 Januari 2000 ini adalah bisa diterima lagi oleh publik, setelah menghilang cukup lama.
Utamanya, ”Kami sekarang ingin menegaskan eksistensi. Tidak segmented lagi, tapi lebih membumi,” jelas Manik kepada SH.
Semua band di mana-mana harus memiliki citra tersendiri. ”Ini tetap kami jaga! Kejujuran seperti itu tidak boleh hilang! Padanannya tetap ringan, dan berlirik Indonesia agar mudah dicerna siapa saja,” sambung Manik, didukung Boyan.
”Cara penyampaiannya lebih lugas. Tetep tentang cinta. Kebetulan menyangkut percintaan dari sudut pandang perempuan. Bener-bener feminin. Ada sisi-sisi mellow, sensitif dibandingkan Cokelat yang rebel (berontak),” tukas Manik.
Namun, ini tidak mengartikan lemah, dipertegasnya. ”Setegar cewek yang tetap ada rasa sensitif dan kesedihan” tutur Manik. (JJS)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003