I P T E K   &   L I N G K U N G A N

No.  4595

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Dari California, Iran, sampai Bali dan Mataram
Teori Tektonik di Balik Rentetan Gempa


Ist
Lempengan Bumi – Permukaan bumi terbentuk dari lempengan atau plate yang perbenturannya mengakibatkan gempa tektonik.
 

JAKARTA – Belum surut kegembiraan menyambut tahun 2004, Bali dan Mataram diguncang gempa. Getaran berkekuatan 6,3 skala richter (SR) melanda Pulau Bali dan Pulau Lombok, Jumat (2/1) pagi. Gempa berpusat di Selat Bali dan Lombok, Nusa Tenggara Barat atau pada 8,5 Lintang Selatan (LS)-115,96 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 47 km di bawah laut.

Berita tentang gempa bumi tadi bukan yang pertama kita dengar. Di penghujung 2003 belum lama ini kota Bam, Iran runtuh akibat gempa berkekuatan 6,3 SR yang disusul 5,3 SR. Tak kurang dari 25.000 jelazah dievakuasi dari kota tersebut. Sementara sepekan sebelumnya gempa berukuran 6,5 SR melanda California tengah, Amerika Serikat. Menurut Surevei Geologi AS, pusat gempa berlokasi 11 kilometer dari San Simeon, California. Gempa ini tergolong satu gempa terbesar yang pernah melanda daerah yang memang berpotensi gempa tersebut.
Rentetan peristiwa gempa di penghujung tahun 2003 dan awal 2004 tersebut memiliki satu keseragaman, yakni sama-sama gempa tektonik. Jenis gempa satu ini disebabkan akibat pergerakan atau pergeseran lapisan batu bumi yang berasal dari dasar atau bawah permukaan bumi. Ini sangat berbeda dengan gempa vulkanik yang dipicu oleh gejolak atau letusan gunung berapi.

Lempengan Tektonik
Gempa tektonik terjadi karena lapisan kerak bumi yang keras menjadi lunak dan akhirnya bergerak. Dalam dunia geologi dikenal teori Techtonic Plate alias Lempengan Tektonik yang diciptakan oleh Alfred Wegener. Teori ini memaparkan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Ini disebabkan oleh panas bumi dari pusat bumi. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya, demikian menurut www.olympus.net Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.
Pada dasarnya permukaan bumi kita terdiri atas 15 lempengan, yakni lempengan Eurasia, Amerika Utara, Australia, karibia, pasifik, Cocos, Juan de Fuca, Filipina, Nazca, Amerika Selatan, Scotia, Arabia, Afrika, India dan Antartika. Daerah yang berdiri pada perbatasan lempengan cenderung berpotensi terkena gempa tektonik. Sebut saja negara seperti Jepang, Filipina atau Amerika Serikat khususnya California yang memang sudah menjadi ”pelanggan” bencana gempa tektonik.
Gempa tektonik juga cenderung diikuti dengan gempa lanjutan di wilayah lain di dunia. Ini disebabkan satu lempengan dengan lempengan saling bertautan, sehingga jika terjadi sedikit saja guncangan atau pergeseran maka akan menyambung ke lempengan lain. Maka tak heran kalau bencana gempa kerap bersifat global alias mendunia.
Bisa diamati, lokasi Iran yang berdekatan dengan Aljazair berada di perbatasan lempengan Arabia dan Eurasia. California, AS sendiri berlokasi di perbatasan lempengan Amerika Utara dengan Juan de Fuca. Sementara daerah Bali dan Lombok berada pada perbatasan lempengan Eurasia dan Australia. Tak heran kalau ketiga tempat tadi diguncang gempa secara bergantian karena memang berada pada lempengan berbeda yang saling berhubungan satu sama lain.

Gempa Vulkanik
Mayoritas gempa bumi dipicu oleh lempengan tektonik. Namun ada pula penyebab lain, yakni akibat dari gejolak atau letusan gunung berapi yang biasa disebut gempa vulkanik Gempa satu ini tergolong lebih jarang dibanding tektonik. Gempa vulkanik terjadi akibat adanya letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Ketika gunung berapi meletus maka getaran dan guncangan letusannya bisa menjangkau hingga 20 mil.
Berdasar data yang dicatat www.eSmartSchool.com, gempa vulkanik terbesar di Indonesia adalah ketika terjadi letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan ini menyebabkan goncangan dan bunyi yang terdengar sampai sejauh 5.000 kilometer. Letusan tersebut juga menyebabkan adanya gelombang pasang tsunami setinggi 36 meter dilautan dan letusan ini memakan korban jiwa sekitar 36.000 orang.
Kedua jenis gempa kekuatannya diukur dengan menggunakan satuan skala Richter yang mengukur magnitud gempa berdasarkan ketinggian gelombang dengan alat bernama seismograf. Area di bawah permukaan bumi tempat gempa berasal disebut sebagai fokus. Kinerja pengukuran dimulai saat gelombang melampaui fokus. Para ilmuwan seismologi mengenal beberapa tipe gelombang laut yang disebabkan oleh gempa, yakni gelompang primer (P) dan sekunder (S). Gelombang P adalah gelombang longitudinal yang mendorong dengan kekuatan penuh ke seantero muka bumi. Sementara gelombang S merupakan gelombang yang bergejolak, gelombang ini juga menyebar ke muka bumi namun tidak berpenetrasi dengan cairan.
Semua gelombang gempa ini direkam pada seismograf. Saat gelombang S menyebar lebih lambat dari gelombang P maka bisa diketahui sejauh mana gempa melanda dengan menggunakan komputer. Makin banyak seismograf yang dipasang pada lokasi berbeda makin akurat kalkulasi yang didapat oleh para ilmuwan ihwal gempa yang terjadi.
Semua angka yang didapat dinyatakan dalam satuan skala Richter (SR), yaitu ketinggian gelombang yang direkan seismograf. Kakuatan gempa hingga 2,5 SR tergolong lemah, hampir tak terasa. Jika mencapai 6 SR tergolong besar dan menyebabkan kerusakan parah. Gempa terparah dan memicu kerusakan luar biasa masuk kategori di atas 8 SR.
(SH/merry magdalena)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003