|
Dari California, Iran,
sampai Bali dan Mataram
Teori Tektonik di Balik Rentetan Gempa

Ist
Lempengan Bumi – Permukaan bumi terbentuk dari lempengan atau plate
yang perbenturannya mengakibatkan gempa tektonik.
JAKARTA – Belum surut kegembiraan
menyambut tahun 2004, Bali dan Mataram diguncang gempa. Getaran
berkekuatan 6,3 skala richter (SR) melanda Pulau Bali dan Pulau
Lombok, Jumat (2/1) pagi. Gempa berpusat di Selat Bali dan Lombok,
Nusa Tenggara Barat atau pada 8,5 Lintang Selatan (LS)-115,96 Bujur
Timur (BT) dengan kedalaman 47 km di bawah laut.
Berita tentang gempa bumi tadi bukan yang pertama kita dengar. Di
penghujung 2003 belum lama ini kota Bam, Iran runtuh akibat gempa
berkekuatan 6,3 SR yang disusul 5,3 SR. Tak kurang dari 25.000
jelazah dievakuasi dari kota tersebut. Sementara sepekan sebelumnya
gempa berukuran 6,5 SR melanda California tengah, Amerika Serikat.
Menurut Surevei Geologi AS, pusat gempa berlokasi 11 kilometer dari
San Simeon, California. Gempa ini tergolong satu gempa terbesar yang
pernah melanda daerah yang memang berpotensi gempa tersebut.
Rentetan peristiwa gempa di penghujung tahun 2003 dan awal 2004
tersebut memiliki satu keseragaman, yakni sama-sama gempa tektonik.
Jenis gempa satu ini disebabkan akibat pergerakan atau pergeseran
lapisan batu bumi yang berasal dari dasar atau bawah permukaan bumi.
Ini sangat berbeda dengan gempa vulkanik yang dipicu oleh gejolak
atau letusan gunung berapi.
Lempengan Tektonik
Gempa tektonik terjadi karena lapisan kerak bumi yang keras menjadi
lunak dan akhirnya bergerak. Dalam dunia geologi dikenal teori
Techtonic Plate alias Lempengan Tektonik yang diciptakan oleh Alfred
Wegener. Teori ini memaparkan bahwa bumi terdiri dari beberapa
lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan
hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Ini disebabkan oleh
panas bumi dari pusat bumi. Lapisan tersebut bergerak perlahan
sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya, demikian
menurut www.olympus.net Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa
tektonik.
Pada dasarnya permukaan bumi kita terdiri atas 15 lempengan, yakni
lempengan Eurasia, Amerika Utara, Australia, karibia, pasifik,
Cocos, Juan de Fuca, Filipina, Nazca, Amerika Selatan, Scotia,
Arabia, Afrika, India dan Antartika. Daerah yang berdiri pada
perbatasan lempengan cenderung berpotensi terkena gempa tektonik.
Sebut saja negara seperti Jepang, Filipina atau Amerika Serikat
khususnya California yang memang sudah menjadi ”pelanggan” bencana
gempa tektonik.
Gempa tektonik juga cenderung diikuti dengan gempa lanjutan di
wilayah lain di dunia. Ini disebabkan satu lempengan dengan
lempengan saling bertautan, sehingga jika terjadi sedikit saja
guncangan atau pergeseran maka akan menyambung ke lempengan lain.
Maka tak heran kalau bencana gempa kerap bersifat global alias
mendunia.
Bisa diamati, lokasi Iran yang berdekatan dengan Aljazair berada di
perbatasan lempengan Arabia dan Eurasia. California, AS sendiri
berlokasi di perbatasan lempengan Amerika Utara dengan Juan de Fuca.
Sementara daerah Bali dan Lombok berada pada perbatasan lempengan
Eurasia dan Australia. Tak heran kalau ketiga tempat tadi diguncang
gempa secara bergantian karena memang berada pada lempengan berbeda
yang saling berhubungan satu sama lain.
Gempa Vulkanik
Mayoritas gempa bumi dipicu oleh lempengan tektonik. Namun ada pula
penyebab lain, yakni akibat dari gejolak atau letusan gunung berapi
yang biasa disebut gempa vulkanik Gempa satu ini tergolong lebih
jarang dibanding tektonik. Gempa vulkanik terjadi akibat adanya
letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Ketika gunung berapi
meletus maka getaran dan guncangan letusannya bisa menjangkau hingga
20 mil.
Berdasar data yang dicatat www.eSmartSchool.com, gempa vulkanik
terbesar di Indonesia adalah ketika terjadi letusan gunung Krakatau
pada tahun 1883. Letusan ini menyebabkan goncangan dan bunyi yang
terdengar sampai sejauh 5.000 kilometer. Letusan tersebut juga
menyebabkan adanya gelombang pasang tsunami setinggi 36 meter
dilautan dan letusan ini memakan korban jiwa sekitar 36.000 orang.
Kedua jenis gempa kekuatannya diukur dengan menggunakan satuan skala
Richter yang mengukur magnitud gempa berdasarkan ketinggian
gelombang dengan alat bernama seismograf. Area di bawah permukaan
bumi tempat gempa berasal disebut sebagai fokus. Kinerja pengukuran
dimulai saat gelombang melampaui fokus. Para ilmuwan seismologi
mengenal beberapa tipe gelombang laut yang disebabkan oleh gempa,
yakni gelompang primer (P) dan sekunder (S). Gelombang P adalah
gelombang longitudinal yang mendorong dengan kekuatan penuh ke
seantero muka bumi. Sementara gelombang S merupakan gelombang yang
bergejolak, gelombang ini juga menyebar ke muka bumi namun tidak
berpenetrasi dengan cairan.
Semua gelombang gempa ini direkam pada seismograf. Saat gelombang S
menyebar lebih lambat dari gelombang P maka bisa diketahui sejauh
mana gempa melanda dengan menggunakan komputer. Makin banyak
seismograf yang dipasang pada lokasi berbeda makin akurat kalkulasi
yang didapat oleh para ilmuwan ihwal gempa yang terjadi.
Semua angka yang didapat dinyatakan dalam satuan skala Richter (SR),
yaitu ketinggian gelombang yang direkan seismograf. Kakuatan gempa
hingga 2,5 SR tergolong lemah, hampir tak terasa. Jika mencapai 6 SR
tergolong besar dan menyebabkan kerusakan parah. Gempa terparah dan
memicu kerusakan luar biasa masuk kategori di atas 8 SR.
(SH/merry magdalena)
|
|