|
Artis Caleg
Oleh : Ateng Sanusih
Hidup ini harus pinter-pinter saling memanfaatkan. Partai-partai
supaya dapat pengikut memanfaatkan artis. Sebaliknya artis yang
cerdas langsung masuk partai. Siapa tahu dia bisa naik daun di
pemerintahan atau di gedung wakil rakyat.
Gaya memanfaatkan artis seperti itu dimulai sejak jaman Orde Baru.
Artis diboyong kemana-mana untuk manggung menghibur pengikut partai
setelah sebelumnya disuguhi pidato politik. Disini artis cuma jadi
penghibur dan orang bayaran.
Tapi di jaman reformasi, partai langsung merekrut artis sebagai
orang partai. Paling tidak ada dua keuntungan. Pertama kalau nanti
kampanye dan pakai pidato politik, maka kepopuleran sang artis bisa
menarik massa. Kalau dia tampil dipanggung dan menghibur tak perlu
lagi pake bayar honor. Keuntungan kedua , partai dapet masukan uang
dari artis. Seperti Oneng yang main di sinetron Bajaj Bajuri, harus
bayar lima juta rupiah ke partai supaya dia menjadi calon
legislatif.
Soal saling memanfaatkan begini dalam politik sah-sah saja. Lebih
dari itupun tak jadi masalah. Pokoknya buat urusan politik, cara apa
saja menjadi halal asal dapet pengikut banyak. Sebaliknya buat para
artis yang terjun ke partai tergantung masing-masing keinginan.
Artis yang cerdik dan punya ambisi tentu akan mikir ke masa depan.
Dia bisa niru di Pilipina atau Amerika. Ada artis meniti karis
politik kemudian jadi presiden Pilipina. Atau bisa niru Arnold
Swarzeneger . Dengan dukungan istrinya dari keluarga Kennedy, dia
sekarang jadi gubernur di Amerika. Atau niru Ronald Reagan dari dari
bintang film jadi presiden Amerika.
Pilih Satu
Di Indonesia sampai sekarang memang belum ada artis yang mampu
menduduki kursi menteri apalagi jadi presiden. Siapa tahu kalau
artis ini tekun belajar politik , maka satu saat bisa menduduki
kursi tinggi di perwakilan rakyat atau jadi menteri dan mungkin saja
bisa jadi presiden.
Yang jadi masalah nanti bagaimana artis musti membagi waktu. Kalau
dia musti shooting maka kalau dia menjadi anggota legislatif tentu
tak bisa ikut sidang. Sekarang saja para anggota DPR yang bukan
artis susah banget kalu diajak rapat. Bahkan ada Bamus di DPR
sembilan kali gagal menggelar rapat karena anggota yang hadir tidak
mencapai kuorum.
Maka artis yang terjun ke partai harus pilih satu saja. Dia kembali
jadi artis atau sepenuhnya jadi orang partai dan wakil rakyat. Tak
mungkin mereka harus mendua. Karena bagaimanapun kalau kerja
bercabang maka dua-duanya bakalan tidak karuan. Kalau artis punya
muka tebal maka dia tak peduli. Pokoknya asal narik duit banyak dari
dua sumber tanpa hirau pada tanggungjawab pekerjaan.
Tugas Enteng .
Mungkin buat artis , permainan politik bisa saja dianggap enteng.
Angap saja panggung politik tidak jauh beda sama panggung sandiwara.
Cuma ukurannya lebih besar, tapi prinsipnya hampir sama saja.
Buat artis yang mampu mikir, maka dia bisa tampil mengeluarkan
pendapatnya yang brilian dan disenangi rakyat. Tapi buat artis yang
cuma mampu menghapal, maka dia tinggal nunggu bisikan dan pesan
sponsor dari pusat partai. Dia bisa saja tampil gemilang didepan
massa sebagai hasil hapalan dan penghayatan peran . Artis bakal
mampu tampil kelihatan jahat atau jadi orang baik, tergantung peran
yang diberikan oleh partainya.
Tinggal orang menonton apakah artis ini punya nurani atau tidak.
Seperti Sophan Sopiaan dari artis terus merayap jadi tokoh partai
dan mendapat kursi di legislatif.. Tapi ditengah perjalanan dia
menarik diri dari politik karena yang dia jalani tidak sesuai dengan
hati nuraninya.
Hayo kita tonton saja artis main dipanggung politik. Kalau dia
menarik bakal dapat sambutan rakyat tapi sebaliknya kalau dia konyol
bakal ditimpukin penonton.
( Penulis adalah pengamat sosial )
|
|