KOPI PAHIT

No.  4585

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Artis Caleg


Oleh : Ateng Sanusih

Hidup ini harus pinter-pinter saling memanfaatkan. Partai-partai supaya dapat pengikut memanfaatkan artis. Sebaliknya artis yang cerdas langsung masuk partai. Siapa tahu dia bisa naik daun di pemerintahan atau di gedung wakil rakyat.
Gaya memanfaatkan artis seperti itu dimulai sejak jaman Orde Baru. Artis diboyong kemana-mana untuk manggung menghibur pengikut partai setelah sebelumnya disuguhi pidato politik. Disini artis cuma jadi penghibur dan orang bayaran.
Tapi di jaman reformasi, partai langsung merekrut artis sebagai orang partai. Paling tidak ada dua keuntungan. Pertama kalau nanti kampanye dan pakai pidato politik, maka kepopuleran sang artis bisa menarik massa. Kalau dia tampil dipanggung dan menghibur tak perlu lagi pake bayar honor. Keuntungan kedua , partai dapet masukan uang dari artis. Seperti Oneng yang main di sinetron Bajaj Bajuri, harus bayar lima juta rupiah ke partai supaya dia menjadi calon legislatif.
Soal saling memanfaatkan begini dalam politik sah-sah saja. Lebih dari itupun tak jadi masalah. Pokoknya buat urusan politik, cara apa saja menjadi halal asal dapet pengikut banyak. Sebaliknya buat para artis yang terjun ke partai tergantung masing-masing keinginan.
Artis yang cerdik dan punya ambisi tentu akan mikir ke masa depan. Dia bisa niru di Pilipina atau Amerika. Ada artis meniti karis politik kemudian jadi presiden Pilipina. Atau bisa niru Arnold Swarzeneger . Dengan dukungan istrinya dari keluarga Kennedy, dia sekarang jadi gubernur di Amerika. Atau niru Ronald Reagan dari dari bintang film jadi presiden Amerika.

Pilih Satu
Di Indonesia sampai sekarang memang belum ada artis yang mampu menduduki kursi menteri apalagi jadi presiden. Siapa tahu kalau artis ini tekun belajar politik , maka satu saat bisa menduduki kursi tinggi di perwakilan rakyat atau jadi menteri dan mungkin saja bisa jadi presiden.
Yang jadi masalah nanti bagaimana artis musti membagi waktu. Kalau dia musti shooting maka kalau dia menjadi anggota legislatif tentu tak bisa ikut sidang. Sekarang saja para anggota DPR yang bukan artis susah banget kalu diajak rapat. Bahkan ada Bamus di DPR sembilan kali gagal menggelar rapat karena anggota yang hadir tidak mencapai kuorum.
Maka artis yang terjun ke partai harus pilih satu saja. Dia kembali jadi artis atau sepenuhnya jadi orang partai dan wakil rakyat. Tak mungkin mereka harus mendua. Karena bagaimanapun kalau kerja bercabang maka dua-duanya bakalan tidak karuan. Kalau artis punya muka tebal maka dia tak peduli. Pokoknya asal narik duit banyak dari dua sumber tanpa hirau pada tanggungjawab pekerjaan.

Tugas Enteng .
Mungkin buat artis , permainan politik bisa saja dianggap enteng. Angap saja panggung politik tidak jauh beda sama panggung sandiwara. Cuma ukurannya lebih besar, tapi prinsipnya hampir sama saja.
Buat artis yang mampu mikir, maka dia bisa tampil mengeluarkan pendapatnya yang brilian dan disenangi rakyat. Tapi buat artis yang cuma mampu menghapal, maka dia tinggal nunggu bisikan dan pesan sponsor dari pusat partai. Dia bisa saja tampil gemilang didepan massa sebagai hasil hapalan dan penghayatan peran . Artis bakal mampu tampil kelihatan jahat atau jadi orang baik, tergantung peran yang diberikan oleh partainya.
Tinggal orang menonton apakah artis ini punya nurani atau tidak. Seperti Sophan Sopiaan dari artis terus merayap jadi tokoh partai dan mendapat kursi di legislatif.. Tapi ditengah perjalanan dia menarik diri dari politik karena yang dia jalani tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Hayo kita tonton saja artis main dipanggung politik. Kalau dia menarik bakal dapat sambutan rakyat tapi sebaliknya kalau dia konyol bakal ditimpukin penonton.

( Penulis adalah pengamat sosial )

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003