Kamis, 11 Desember 2003

S E N I   &   H I B U R A N

No.  4577

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sajian Memukau PS Unpar Jelang Natal
 

Jakarta, Sinar Harapan
Tidak banyak warga masyarakat yang beruntung dapat menyaksikan penampilan langsung Paduan Suara Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar) Bandung. Kesempatan langka itu dinikmati komunitas Jerman di Jakarta pada konser Natal PS Unpar ini, pada Selasa (9/12) malam di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.
”Memukau” begitulah kata yang pantas untuk menggambarkan kecanggihan para mahasiswa pimpinan konduktor Avip Priyatna itu bernyanyi. Sebagian lagu yang disuguhkan merupakan nomor-nomor klasik dan lagu-lagu tradisional Indonesia. Dari lima lagu yang mereka nyanyikan pada babak pertama, dua adalah lagu-lagu madrigal renaissance yakni ”Nel dolce seno – Perche I’una” karya Luna Merenzo dan ”Io mi son giovinetta” karya Claudio Monteverdi (keduanya dari Italia), serta dua lagu romantisme ”Letztes Gluck” dan ”Verlorene Jugend” karya komponis Jerman Johannes Brahms.
Klimaks babak pertama adalah ”Gloria 3” karya Hyo Won Woo dari Korea Selatan—sebuah lagu pujian untuk Tuhan yang diciptakan pada abad ke-20. Dengan penuh semangat mereka menyanyikan secara bersahut-sahutan lagu pujian (sacred) dalam bahasa dan nuansa musik Korea ini. Sangat agung apalagi ketika pada akhir lagu mereka menyanyikan ”Amin”, penonton seolah dibawa untuk memuji Tuhan di tempat-Nya yang mahatinggi.
Menurut Christian Widi Nugraha, Presiden PS Unpar, ”Gloria 3” yang mereka bawakan ini memenangkan special price for the best interpretation of religious choral work pada The 8th International Chamber Choir Competion di Marktoberdorf, Jerman. Pada ajang yang diikuti berbagai paduan suara internasional itu PS Unpar juga menyabet Juara I Mixed Choir Category.
”Jadi, selain lagu-lagu Natal, yang kami tampilkan kali ini adalah nomor-nomor yang kami nyanyikan di Marktoberdorf,” kata Avip Priyatna, dalam perbincangan dengan SH. Jadi, wajar saja bila mereka menyanyi dengan sangat baik.
Memang Avip adalah tokoh kunci paduan suara ini, selain juga kekompakan para anggotanya. Latar belakang pendidikan konduktor muda ini sebenarnya arsitektur, namun dia juga mendalami pengetahuan memimpin paduan suara di Universitas Parahiyangan. Dia kemudian mendapat beasiswa dari Rotary dan pemerintah Austria untuk belajar di University for Music and the Arts Vienna, di bawah bimbingan Gunther Teuring (untuk memimpin paduan suara) dan Leopold Hager (untuk memimpin orkestra). Dia mendapat diploma dengan pujian, dan pada 1998 mendapat gelar master. Ketika itu dia sudah ditunjuk sebagai asisten konduktor pada Vienna Jeunesse Choir.
Tiga lagu rakyat yang dinyanyikan pada babak kedua yakni ”Karaban Sape” (Madura-Jatim), ”Luk-Luk Lumbu” (Banyuwangi-Jatim) dan ”Janger” (Bali) juga ditampilkan di Marktoberdorf. Ketiga lagu ini dinyanyikan secara acapela dengan sangat indah dan hidup.
Puncak konser mereka memang tiga lagu Natal yakni ”Es ist ein Ros entsprungen” (lagu Natal tradisional dari Jerman pada abad ke-16), ”Cantate Domino” (madrigal renaissance) karya Claudio Monteverdi dari Italia, dan ”Hymn to the Virgin” karya Benjamin Britten (abad ke-20) dari Inggris. Sungguh, hadirin seperti tidak mau angkat pantat untuk meninggalkan konser ini dan terus bertepuk tangan minta tambah. Bahkan setelah Duta Besar Jerman Gerhard Fulda dan istri menyerahkan bunga kepada Avip, hadirin tetap memaksa paduan suara ini bernyanyi lagi.
Tiga nomor bonus mereka tampilkan yakni sebuah lagu mengenai Orang Majus dari Timur yang hanya mengikuti cahaya bintang tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan dengan irama jazzy, kemudian ”Santa Claus is Coming to Town” secara acapela dan diakhiri ”Silent Nach”, secara anggun dan khusuk.
Meski muncul dengan formasi tak lengkap, hanya 22 dari 70 anggotanya karena banyak yang tengah ujian semester, harus diakui PS Universitas Katolik Parahiyangan tetap tampil prima dan cantik.
Ditanya apa rencana pada 2004, Avip berkata mungkin mereka akan ikut festival paduan suara internasional di Spanyol pada bulan Oktober, meski dia mengaku agak lelah setiap tahun mempersiapkan festival. ”Semua tergantung dananya. Kalau ada ya kami berangkat,” ujarnya. (xha)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003