|
Pelacuran Anak
Contoh dari Singkawang
PONTIANAK - Tahun 1997, ada peristiwa
yang sangat mengusik rasa kemanusiaan di Singkawang. Sepasang
suami-istri bersama tiga anaknya yang semuanya berumur di bawah 10
tahun, memilih bersama-sama mengakhiri hidupnya dengan menenggak
racun, karena merasa sudah tidak mampu lagi menanggung beban hidup.
Mereka ditemukan warga dalam kondisi tidak bernyawa di dalam gubuk
yang reot tiga hari kemudian, setelah bau busuk menyengat hidung
masyarakat sekitar. Upaya bersama-sama mengakhiri hidup, pernah
dikemukakan kepada salah satu tetangga, seminggu sebelum insiden
yang memilukan itu.
Dalam konteks seperti itulah, sebagian etnis Tionghoa (Cina) tidak
jarang mengambil jalan pintas, seperti rela diperistri lelaki asing,
misalnya dari Taiwan atau Hong Kong, asalkan kedua orangtuanya
memiliki jaminan hidup yang layak. Ada pula yang berprofesi sebagai
wanita tuna susila, dengan beroperasi mulai dari kawasan lokalisasi
kelas teri, hotel berbintang hingga wanita panggilan dengan tarif di
atas Rp 1 juta.
Di Singkawang, untuk memperoleh pesanan amoy (gadis Cina) cukup
mudah, asalkan kenal dengan germo. Jika harga cocok, si germo dengan
senang hati membawa setiap lelaki hidung belang untuk menemui
pesanan, untuk selanjutnya kencan di suatu tempat, sesuai
kesepakatan.
Ini pula yang menurut anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Drs
Herman Hofi Munawar, bahwa Singkawang yang dijuluki Kota Amoy sudah
berkonotasi negatif, yakni mudah cari pekerja seks komersial (PSK)
keturunan Cina.
Herman tidaklah terlalu berlebihan. Robertus Amiau, salah satu
aktivitas pemuda di Singkawang, memperkirakan, tidak kurang dari 100
wanita keturunan di bawah umur di wilayah itu berprofesi sebagai
pelacur.
”Anak Asuh”
Coba lihat kiprah Liem Pheng Tjia, salah satu germo terkenal di
Singkawang. Lelaki beranak dua dan berusia 37 tahun ini mengaku
memiliki 'anak asuh' lebih dari 30 orang yang kesemuanya wanita Cina
berumur belasan tahun. Anak asuhnya beroperasi di sekitar Jalan
Alianyang dan Jalan Diponegoro.
"Pukul 20.00 WIB stok selalu habis. Pemesan biasanya kebanyakan dari
Sarawak, Brunei Darussalam, dan luar Kalimantan Barat (Kalbar),
mulai dari pejabat pemerintah hingga pejabat swasta. Saya juga tidak
habis pikir, kenapa amoy asal Singkawang memiliki daya pikat
tersendiri bagi setiap lelaki hidung belang," ujar Liem sambil
tertawa geli.
Jalan hidup amoy pemuas nafsu itu berliku-liku. Tju Fha (17 tahun)
mengaku menjadi wanita tuna susila justru sepengetahuan kedua orang
tuanya. Malah sejak satu tahun terakhir, anak pertama dari empat
bersaudara yang kesemuanya perempuan ini, praktis menjadi tulang
punggung keluarga. Ia berhenti sekolah saat duduk di kelas satu SMU,
karena ayahnya sebagai penjual sayur lumpuh terserang stroke.
"Terkadang hati kecil menangis. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah
terlanjur, dan jalan hidup sudah menentukan begini. Saya tidak tahu
kapan akan berakhir. Tapi saya mesti menghidupi kedua orang tua dan
tiga adik," ujar Tju.
Tuntutan ekonomi pula, membuat Tju merasa sudah terbiasa dikontrak
dalam limit waktu tertentu oleh lelaki hidung belang. Tju bersedia
dibawa ke mana saja, hingga ke luar negeri sekalipun, asalkan tarif
sesuai harapan dan bisa dibayar di muka. Untuk mengantisipasi
sesuatu yang tidak diinginkan, sebelumnya Tju mesti sepakat dengan
teman prianya, supaya setiap saat bisa mengontak kedua orang tuanya
di rumah.
Perkosaan
Angela Lie (18 tahun), mengaku terjerumus ke dunia hitam, karena
perceraian kedua orang tuanya. Tahun 2000, ibunya lari dengan lelaki
lain yang mengakibatkan ayahnya yang berprofesi sebagai tukang pijit
mengalami stres berat. Angela bersama satu adik lelakinya, kemudian
dititipkan dengan salah satu keluarga pihak ayah.
Tanpa dinyana, di suatu malam, teman anak familinya yang dalam
keadaan mabuk, memperkosa Angela. Karena malu, Angela kemudian tidak
berani menceritakan kepada siapapun. Namun tiga bulan kemudian,
Angela diketahui hamil, dan kemudian digugurkan. Dalam pikiran
galau, Angela yang hanya mengenyam pendidikan kelas dua SLTP,
akhirnya menerima tawaran salah satu kenalannya untuk menekuni dunia
hitam.
Jika melihat penampilan Susana Liu Suan (17 tahun) anak bungsu dari
tiga bersaudara, semua orang barangkali tidak akan menyangka bahwa
wanita yang mengenyam pendidikan kelas 1 SMU itu, berprofesi sebagai
pemuas nafsu syahwat lelaki hidung belang. Sekilas Susan, panggilan
akrabnya, terkesan sangat kalem, sopan, cantik, tinggi semampai,
tetap berpakaian rapi dan selalu hati-hati dalam berbicara.
Cuma yang membedakan Susan, sorotan matanya terkadang tajam dan
menerawang jauh. Terlebih lagi, jika kita ingin menggali perjalanan
hidupnya. "Saya sudah tidak punya harapan apa-apa lagi. Tapi saya
tidak ingin menyalahkan siapa-siapa," katanya.
Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Untuk Keadilan (LBH
APIK) Kalbar, Hairiah menilai, praktik pelacuran anak di bawah umur
di Kalimantan Barat, terutama dari kalangan Cina di Singkawang,
lebih didasari faktor ekonomi. Tapi bisa berimplikasi kepada dampak
sosial yang cukup rumit. Di antaranya, tingkat penularan penyakit
yang terindikasi cenderung terus meningkat setiap tahun.
HIV AIDS
Sementara itu, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, 1993 - 2003,
Kantor Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar)
mencatat ada 121 orang terinfeksi penyakit Human Immunodeficiency
Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS). Sebanyak 74
orang di antaranya merupakan warga asli Kalbar.
Sebanyak 47 orang lainnya, adalah nelayan berkebangsaan Thailand,
Kamboja dan Vietnam. Warga asing itu baru ketahuan mengidap HIV/AIDS
setelah diperiksa tim medis ketika tengah menjalani proses hukum,
lantaran kapal yang memperkerjakan mereka melakukan pencurian ikan
di wilayah Indonesia.
Sebagian besar dari 74 orang asli Kalbar yang mengidap HIV/AIDS
adalah wanita yang bekerja sebagai wanita penghibur di sejumlah kota
besar di Indonesia. Para wanita malang itu baru kembali Kalbar,
ketika dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.
"Sebagian besar dari mereka berasal dari Kota Singkawang dan Sambas.
Pemerintah juga tidak bisa membatasi tingkat pergaulan mereka selama
berada di tengah masyarakat, kendatipun sebelumnya sudah diingatkan
supaya mampu mengisolasi diri," ujar Toris Zulkarnaen, Kepala Dinas
Kesehatan Pemprov Kalbar.
Toris mengatakan, terungkapnya 74 orang warga Kalbar positif
HIV/AIDS sekaligus menunjukkan penularan penyakit mematikan itu
sudah dalam kondisi serius. (*)
|
|