|
Ratusan Kali Teken
Kartu Kuning, Pekerjaan Tak Kunjung Datang
BEKASI – Dudung (26) terpaksa harus
berangkat pagi buta dari rumah saudaranya di Karawang ke kantor
Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi di Gedung Joeang, Jalan
Hasanuddin, Kecamatan Tambun, Bekasi. Dia datang hanya untuk melihat
deretan lowongan kerja di kantor pemerintah Kabupaten Bekasi
tersebut.
”Saya sudah hampir dua tahun menganggur. Sekarang ini memang sulit
untuk mencari pekerjaan. Sudah puluhan perusahaan yang saya datangi
dan kirim surat lamaran, tapi hingga kini toh belum ada panggilan
juga. Lowongan pekerjaan itu saya peroleh dari surat kabar serta
papan pengumuman di kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,”
ujar Dudung ketika disapa SH, Senin (13/10) siang.
Dia mengaku terpaksa mencari kerja di wilayah Bekasi. Di Bekasi,
banyak bertebaran perusahaan di kawasan industri, seperti Lippo
Cikarang, MM 2100, Hyundai, EJIEP, Delta Silicon, dan Jababeka.
”Perusahaan besar ini tak jarang membuka lowongan pekerjaan di
perusahaannya melalui Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,”
kata Dudung. Tapi, sudah dua tahun toh pria jebolan sebuah STM di
Karawang tersebut masih saja menganggur.
Dudung merupakan satu dari ratusan pencari kerja yang berdatangan di
kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi di Gedung Joeang.
Mereka harus berebut dan saling berdesakan hanya untuk melihat papan
pengumuman yang berisikan lowongan pekerjaan di kantor tersebut.
Banyak juga warga dari Lampung, Sumedang, dan Garut yang ikut
nimbrung di kantor pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengadu nasib.
Siapa tahu keberuntungan berpihak dan mereka dapat memperoleh
pekerjaan.
Banyak Perusahaan
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi Yoyok Soetoyo,
SH, banyaknya pencari kerja mendatangi kantornya memang masuk akal
karena di wilayah Kabupaten Bekasi terdapat sedikitnya 1.800
perusahaan, baik perusahaan penanaman modal asing (PMA), maupun juga
penanaman modal dalam negeri (PMDN).
”Perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi daya tarik bagi pencari
kerja, baik di Bekasi maupun dari luar Bekasi, untuk berdatangan ke
kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,” ujarnya.
Yoyok sendiri mengaku pihaknya belum mengetahui secara pasti jumlah
pengangguran di wilayah Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Tapi,
katanya, yang pasti bertambah dan itu terlihat dari membludaknya
para pencari kerja yang setiap hari berdatangan ke kantor Dinas
Tenaga Kerja Kota Bekasi maupun di Kabupaten Bekasi.
”Setiap hari sedikitnya 500 orang pencari kerja berdatangan. Mereka
sengaja datang dari berbagai kota, daerah bahkan dari luar Jawa
Barat, ingin mencari lowongan pekerjaan,” tuturnya.
Kepala Sub Dinas Penempatan dan Pelatihan Dinas Tenaga Kerja
Kabupaten Bekasi Ny Nani Nurhani SH menyebutkan data yang ada di
kantornya menyebutkan pada tahun 2002 jumlah pencari kerja dari
berbagai tingkat pendidikan mencapai 27.777 orang. Lowongan yang ada
hanya untuk menampung 5.273 orang saja.
Dari jumlah lapangan yang ada, berhasil ditempatkan hanya 4.742
orang. Yang lainnya tidak bisa diterima karena sejumlah alasan di
antaranya lantaran keterampilan dan keahlian yang kurang.
Dia memastikan pencari kerja di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi di
tahun 2003 ini terus meroket. Terhitung mulai Januari hingga Agustus
2003, jumlah pencari kerja yang mendaftarkan diri di kantor ini
tercatat 15.488 orang. Sementara itu, lowongan yang tersedia hanya
untuk 4.545 orang.
Sementara yang dapat ditempatkan di berbagai perusahaan hanya 4.375
orang. Data ini belum termasuk yang belum melalui bursa tenaga kerja
di Dinas Tenaga Kerja.
Akibat tidak tertampung, banyak pencari kerja di Kota dan Kabupaten
Bekasi memilih menjadi pengojek sepeda motor. Mereka ini biasa
mangkal di seputar gerbang tol Bekasi Timur.
Data yang tercatat oleh Perkumpulan Ojek Tol Timur (POTT) di tahun
2002 saja tercatat 950 pencari kerja yang memilih menjadi pengojek
sepeda motor. Jumlah tersebut belum termasuk pengojek sepeda motor
yang beroperasi di hampir setiap perumahan di wilayah Kota dan
Kabupaten Bekasi.
Terus Menanti
Sejumlah pencari kerja yang setiap hari datang ke kantor Dinas
Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi mengakui tidak akan putus asa mencari
lowongan. Pemadangan yang terlihat di seputar kantor itu setiap
harinya bagaikan pasar yang ramai dikunjungi pencarai kerja yang
umumnya usia produktif. Jika ada pengumuman suatu lowongan, mereka
pun berkerumun dan berebut melihat. Lalu, melengkapi persyaratan dan
langsung mengajukan lamaran.
Setiap pelamar diwajibkan mempunyai kartu kuning. Rahmat, salah
seorang yang harus membubuhkan tanda tangannya di kartu kuning
sebagai petugas Dinas Tenaga Kerja, harus menggoreskan pulpennya
ratusan kali setiap hari karena foto kopi kartu kuning tadi harus
dilegalisasi. ”Kami terus menanti sampai lowogan ada,” kata Rahmat.
Menyikapi membludaknya pencari kerja tersebut, pihak Dinas Tenaga
Kerja Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi berusaha melakukan pelatihan
dan pendidikan bagi masyarakat, utamanya masyarakat asli Bekasi yang
sumber daya manusianya jauh tertinggal dari warga pendatang.
Pelatihan itu berupa pemagangan, pelatihan, dan penciptaan
wirausaha. Misalnya saja, upaya pemagangan Dinas Tenaga Kerja
bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk penempatan calon
tenaga kerja magang. Untuk lulusan SD hingga SLTP, misalnya,
pemagangan dilakukan selama 40 hari kerja di berbagai perusahaan
umumnya sektor garmen.
Selama 40 hari masa pemagangan, perusahan itu wajib menerima peserta
magang sebagai karyawan. Tetapi, pemerintah daerah menghadapi
keterbatasan dana pada sektor pemagangan, karena selama 40 hari
magang, biaya makan dan uang saku diberikan. Sumber dana dari APBD.
Dana untuk pemagangan tahun 2003 hanya Rp 150 juta.
Pihaknya juga melakukan pelatihan-pelatihan untuk usaha mandiri,
seperti pelatihan menjahit, gulung dinamo, las listrik, bengkel
sepeda motor, elektronik yang suber danya juga dari APBD. Peserta
pelatihan, usai mengikuti pendidikan, diharapkan dapat menciptakan
lapangan pekerjaan sendiri secara wirausaha.
Untuk pelatihan ini pihak Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten
Bekasi mengaku banyak menerima permintaan dari kecamatan, tapi dana
sangat terbatas.
Membludak di Tangerang
Persoalan membludaknya pencari kerja juga tampak di wilayah
Tangerang. Hingga dengan akhir tahun 2003 ini jumlah pengangguran di
Kabupaten Tangerang diperkirakan telah mencapai angka 350.000 jiwa
lebih. Jumlah ini diperkirakan akan terus naik jika situasi ekonomi
di Tanah Air tidak menunjukkan perbaikan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kabupaten Tangerang Apon
Suryana yang ditemui SH di kantornya, Selasa (14/10), mengakui hal
itu. ”Sampai dengan bulan Oktober 2003 ini, diperkirakan jumlah
pengangguran yang tersebar pada 26 kecamatan di Tangerang mencapai
lebih dari 350.000 orang. Jumlah ini diambil berdasarkan data para
pencari kerja yang datang untuk mengurus kartu kuning dan jumlah PHK
yang terjadi akhir-akhir ini,” ujarnya.
Kadisnaker Kabupaten Tangerang ini menyatakan bahwa jumlah itu
diperkirakan akan terus bertambah pada tiap tahunnya. Persentasi
kenaikan jumlah pengangguran di Kabupaten Tangerang ini bisa
mencapai 4,5 persen per tahunnya.
”Apalagi kondisi ini semakin diperparah oleh kemungkinan hengkangnya
beberapa perusahaan asing dari Indonesia, termasuk Tangerang. Faktor
lainnya adalah terjadinya berbagai PHK massal,” tambah Apon. Dia
merujuk PHK massal yang dilakukan PT Doson hingga menyebabkan
sekitar 8.000 jiwa karyawan terpaksa kehilangan mata pencariannya.
Berdasarkan data yang diterima SH dari situs resmi milik pemerintah
Kota Tangerang, jumlah angka pengangguran di kota seribu industri
ini diperkirakan telah berada di atas angka 30.000 jiwa angka ini
diambil berdasarkan data statistik tahun yang dibuat dinas tenaga
kerja Kota Tangerang pada tahun 2001 lalu yang mencapai 27.000 jiwa
lebih. Dari jumlah itu, sekitar 61,9 persennya berpendidikan SLTA,
20,35 persen berpendidikan SLTP dan sisanya setingkat perguruan
tinggi.
Seperti halnya di Bekasi, pihak Dinas Tenaga Kerja Kota dan
Kabupaten Tangerang telah melakukan berbagai upaya seperti
dilakukannya beberapa program padat karya, pelatihan bidang-bidang
kejuruan tertentu, program magang dan kerja sama dengan pemerintah
Batam untuk mengatasi masalah pengangguran tersebut.
”Khusus untuk yang terakhir, kami telah melakukan kesepakatan dengan
pemerintah daerah Batam untuk menyalurkan tenaga kerja asal
Tangerang di industri-industri Batam,” ujar Apon.
(jon/wib)
|
|