Rabu, 15 Oktober 2003

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4534

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Ratusan Kali Teken Kartu Kuning, Pekerjaan Tak Kunjung Datang
 

BEKASI – Dudung (26) terpaksa harus berangkat pagi buta dari rumah saudaranya di Karawang ke kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi di Gedung Joeang, Jalan Hasanuddin, Kecamatan Tambun, Bekasi. Dia datang hanya untuk melihat deretan lowongan kerja di kantor pemerintah Kabupaten Bekasi tersebut.
”Saya sudah hampir dua tahun menganggur. Sekarang ini memang sulit untuk mencari pekerjaan. Sudah puluhan perusahaan yang saya datangi dan kirim surat lamaran, tapi hingga kini toh belum ada panggilan juga. Lowongan pekerjaan itu saya peroleh dari surat kabar serta papan pengumuman di kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,” ujar Dudung ketika disapa SH, Senin (13/10) siang.
Dia mengaku terpaksa mencari kerja di wilayah Bekasi. Di Bekasi, banyak bertebaran perusahaan di kawasan industri, seperti Lippo Cikarang, MM 2100, Hyundai, EJIEP, Delta Silicon, dan Jababeka.
”Perusahaan besar ini tak jarang membuka lowongan pekerjaan di perusahaannya melalui Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,” kata Dudung. Tapi, sudah dua tahun toh pria jebolan sebuah STM di Karawang tersebut masih saja menganggur.
Dudung merupakan satu dari ratusan pencari kerja yang berdatangan di kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi di Gedung Joeang.
Mereka harus berebut dan saling berdesakan hanya untuk melihat papan pengumuman yang berisikan lowongan pekerjaan di kantor tersebut.
Banyak juga warga dari Lampung, Sumedang, dan Garut yang ikut nimbrung di kantor pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengadu nasib. Siapa tahu keberuntungan berpihak dan mereka dapat memperoleh pekerjaan.

Banyak Perusahaan
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi Yoyok Soetoyo, SH, banyaknya pencari kerja mendatangi kantornya memang masuk akal karena di wilayah Kabupaten Bekasi terdapat sedikitnya 1.800 perusahaan, baik perusahaan penanaman modal asing (PMA), maupun juga penanaman modal dalam negeri (PMDN).
”Perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi daya tarik bagi pencari kerja, baik di Bekasi maupun dari luar Bekasi, untuk berdatangan ke kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi,” ujarnya.
Yoyok sendiri mengaku pihaknya belum mengetahui secara pasti jumlah pengangguran di wilayah Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Tapi, katanya, yang pasti bertambah dan itu terlihat dari membludaknya para pencari kerja yang setiap hari berdatangan ke kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Bekasi maupun di Kabupaten Bekasi.
”Setiap hari sedikitnya 500 orang pencari kerja berdatangan. Mereka sengaja datang dari berbagai kota, daerah bahkan dari luar Jawa Barat, ingin mencari lowongan pekerjaan,” tuturnya.

Kepala Sub Dinas Penempatan dan Pelatihan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi Ny Nani Nurhani SH menyebutkan data yang ada di kantornya menyebutkan pada tahun 2002 jumlah pencari kerja dari berbagai tingkat pendidikan mencapai 27.777 orang. Lowongan yang ada hanya untuk menampung 5.273 orang saja.
Dari jumlah lapangan yang ada, berhasil ditempatkan hanya 4.742 orang. Yang lainnya tidak bisa diterima karena sejumlah alasan di antaranya lantaran keterampilan dan keahlian yang kurang.
Dia memastikan pencari kerja di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi di tahun 2003 ini terus meroket. Terhitung mulai Januari hingga Agustus 2003, jumlah pencari kerja yang mendaftarkan diri di kantor ini tercatat 15.488 orang. Sementara itu, lowongan yang tersedia hanya untuk 4.545 orang.
Sementara yang dapat ditempatkan di berbagai perusahaan hanya 4.375 orang. Data ini belum termasuk yang belum melalui bursa tenaga kerja di Dinas Tenaga Kerja.
Akibat tidak tertampung, banyak pencari kerja di Kota dan Kabupaten Bekasi memilih menjadi pengojek sepeda motor. Mereka ini biasa mangkal di seputar gerbang tol Bekasi Timur.
Data yang tercatat oleh Perkumpulan Ojek Tol Timur (POTT) di tahun 2002 saja tercatat 950 pencari kerja yang memilih menjadi pengojek sepeda motor. Jumlah tersebut belum termasuk pengojek sepeda motor yang beroperasi di hampir setiap perumahan di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Terus Menanti
Sejumlah pencari kerja yang setiap hari datang ke kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi mengakui tidak akan putus asa mencari lowongan. Pemadangan yang terlihat di seputar kantor itu setiap harinya bagaikan pasar yang ramai dikunjungi pencarai kerja yang umumnya usia produktif. Jika ada pengumuman suatu lowongan, mereka pun berkerumun dan berebut melihat. Lalu, melengkapi persyaratan dan langsung mengajukan lamaran.
Setiap pelamar diwajibkan mempunyai kartu kuning. Rahmat, salah seorang yang harus membubuhkan tanda tangannya di kartu kuning sebagai petugas Dinas Tenaga Kerja, harus menggoreskan pulpennya ratusan kali setiap hari karena foto kopi kartu kuning tadi harus dilegalisasi. ”Kami terus menanti sampai lowogan ada,” kata Rahmat.
Menyikapi membludaknya pencari kerja tersebut, pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi berusaha melakukan pelatihan dan pendidikan bagi masyarakat, utamanya masyarakat asli Bekasi yang sumber daya manusianya jauh tertinggal dari warga pendatang.
Pelatihan itu berupa pemagangan, pelatihan, dan penciptaan wirausaha. Misalnya saja, upaya pemagangan Dinas Tenaga Kerja bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk penempatan calon tenaga kerja magang. Untuk lulusan SD hingga SLTP, misalnya, pemagangan dilakukan selama 40 hari kerja di berbagai perusahaan umumnya sektor garmen.
Selama 40 hari masa pemagangan, perusahan itu wajib menerima peserta magang sebagai karyawan. Tetapi, pemerintah daerah menghadapi keterbatasan dana pada sektor pemagangan, karena selama 40 hari magang, biaya makan dan uang saku diberikan. Sumber dana dari APBD. Dana untuk pemagangan tahun 2003 hanya Rp 150 juta.
Pihaknya juga melakukan pelatihan-pelatihan untuk usaha mandiri, seperti pelatihan menjahit, gulung dinamo, las listrik, bengkel sepeda motor, elektronik yang suber danya juga dari APBD. Peserta pelatihan, usai mengikuti pendidikan, diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri secara wirausaha.
Untuk pelatihan ini pihak Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten Bekasi mengaku banyak menerima permintaan dari kecamatan, tapi dana sangat terbatas.

Membludak di Tangerang
Persoalan membludaknya pencari kerja juga tampak di wilayah Tangerang. Hingga dengan akhir tahun 2003 ini jumlah pengangguran di Kabupaten Tangerang diperkirakan telah mencapai angka 350.000 jiwa lebih. Jumlah ini diperkirakan akan terus naik jika situasi ekonomi di Tanah Air tidak menunjukkan perbaikan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kabupaten Tangerang Apon Suryana yang ditemui SH di kantornya, Selasa (14/10), mengakui hal itu. ”Sampai dengan bulan Oktober 2003 ini, diperkirakan jumlah pengangguran yang tersebar pada 26 kecamatan di Tangerang mencapai lebih dari 350.000 orang. Jumlah ini diambil berdasarkan data para pencari kerja yang datang untuk mengurus kartu kuning dan jumlah PHK yang terjadi akhir-akhir ini,” ujarnya.
Kadisnaker Kabupaten Tangerang ini menyatakan bahwa jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada tiap tahunnya. Persentasi kenaikan jumlah pengangguran di Kabupaten Tangerang ini bisa mencapai 4,5 persen per tahunnya.
”Apalagi kondisi ini semakin diperparah oleh kemungkinan hengkangnya beberapa perusahaan asing dari Indonesia, termasuk Tangerang. Faktor lainnya adalah terjadinya berbagai PHK massal,” tambah Apon. Dia merujuk PHK massal yang dilakukan PT Doson hingga menyebabkan sekitar 8.000 jiwa karyawan terpaksa kehilangan mata pencariannya.
Berdasarkan data yang diterima SH dari situs resmi milik pemerintah Kota Tangerang, jumlah angka pengangguran di kota seribu industri ini diperkirakan telah berada di atas angka 30.000 jiwa angka ini diambil berdasarkan data statistik tahun yang dibuat dinas tenaga kerja Kota Tangerang pada tahun 2001 lalu yang mencapai 27.000 jiwa lebih. Dari jumlah itu, sekitar 61,9 persennya berpendidikan SLTA, 20,35 persen berpendidikan SLTP dan sisanya setingkat perguruan tinggi.
Seperti halnya di Bekasi, pihak Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten Tangerang telah melakukan berbagai upaya seperti dilakukannya beberapa program padat karya, pelatihan bidang-bidang kejuruan tertentu, program magang dan kerja sama dengan pemerintah Batam untuk mengatasi masalah pengangguran tersebut.
”Khusus untuk yang terakhir, kami telah melakukan kesepakatan dengan pemerintah daerah Batam untuk menyalurkan tenaga kerja asal Tangerang di industri-industri Batam,” ujar Apon.
(jon/wib)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003