Kamis, 02 Oktober 2003

O P I N I

No.  4523

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Indonesia, Negeri Penuh Anomali
 

Oleh Lanjar Sumarno

Ketika ekonomi sedang krisis, di jalan-jalan besar Jakarta berseliweran mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah. Presiden dan Wapres di negeri yang tengah menghadapi krisis multidimensi ini pun hampir tiap bulan secara bergantian ke luar negeri dengan membawa rombongan besar. Mungkin B-1 dan B-2 takut anggaran perjalanan ke luar negeri tidak habis sampai waktunya. Di pihak lain, di negeri yang sedang krisis ini, pola konsumsi dan kemewahan makin menunjukkan kesemena-menaan. Pemilu akan datang, misalnya, tak lebih dari jor-joran uang untuk memburu kekuasaan.
Jangan tanya petani dan rakyat kecil. Mereka adalah kaum yang hanya dibutuhkan secara statistik. Lebih dari itu, keberadaan mereka dibiarkan pusing kepala memikirkan problem-problem kehidupannya yang makin sulit dimengerti dan penuh anomali.
Sebagai contoh – belum lama ini, ketika masyarakat dilanda kekeringan, pemerintah justru tidak memberikan solusi bagaimana mengatasi krisis air tersebut. Solusinya: membagikan beras gratis. Lho! Wong yang diminta air, kok yang didapat beras, celoteh seorang warga Gunung Kidul, Yogyakarta yang wilayahnya kerontang. Tidak hanya soal minta air dikasih beras, musim kemarau juga memunculkan fenomena anomali yang lain, yaitu harga beras turun. Padahal di tahun-tahun sebelumnya di musim kemarau harga beras naik. Kenaikan harga beras ini secara ekonomi wajar karena permintaan yang tinggi tidak sebanding persedian yang ada, khususnya di musim kemarau pada saat produksi padi petani rendah.
Tapi dalam dua tahun terakhir, yang terjadi adalah sebaliknya: muncul anomali harga beras. Jika biasanya harga beras naik di musim kemarau, sekarang justru turun. Kepala Humas Perum Bulog Suharjono membenarkan fenomena anomali harga beras tersebut. Hal ini bisa dilihat dari harga beras di pasar. Pada bulan Januari, misalnya, harga beras kualias medium sekitar Rp 2.800-an per kg, sedang di bulan September hanya Rp 2.600-an
Bila dilihat sepintas dan dangkal, fenomena tersebut menguntungkan konsumen. Kebutuhan pangan masyarakat bisa terpenuhi dengan harga murah. Ini berarti ”ketahanan pangan” masyarakat lebih terjamin. Walhasil, secara keseluruhan masyarakat Indonesia diuntungkan dengan anomali tersebut.
Ternyata, logika tadi keliru besar. Anomali harga tersebut justru akan menghancurkan ekonomi petani Indonesia. Kenapa? Karena anomali tersebut muncul dari derasnya impor beras yang dilakukan para pengusaha besar. Lebih tragis lagi, sebagian besar impor tadi bersifat ”spanyol” (separo nyolong) alias ilegal. Inilah yang jadi masalah.
Dari laporan Pasar Induk Cipinang, misalnya, terungkap bahwa dalam dua tahun terakhir pasokan beras impor sangat tinggi. Pada tahun 2000-2001, misalnya, beras impor yang keluar dari pasar induk Cipinang hanya 2-5 persen. Tapi pada tahun 2002 dan 2003, porsi beras impor tersebut membesar, yaitu masing-masing 14,57-19,17 persen. Fenomena banjir beras impor tersebut terlihat juga di laporan Dow Jones di Bangkok, Thailand. Dow Jones mencatat para pedagang di Negeri Gajah itu tengah menunggu permintaan beras yang besar dari importir Indonesia. Laporan permintaan beras yang tinggi dari importir Indonesia juga terungkap di Vietnam. Cuma saja, pedagang beras di Vietnam secara terus terang menyatakan, ekspor beras ke Indonesia kebanyakan dilakukan lewat jalur ilegal.

Ketahanan Pangan
Melihat penyebab anomali harga beras yang sepintas menguntungkan masyarakat tersebut, ternyata bila diteropong lebih jauh dampaknya akan sangat merugikan masyarakat Indonesia. Ini terjadi karena dalam konsep ketahanan pangan tidak hanya terfokus pada terpenuhinya kebutuhan pangan secara murah, tapi juga harus mencakup tersedianya lapangan kerja dan tercukupinya pendapatan masyarakat. Ketiga faktor tersebut ternyata tidak terpenuhi jika melihat fenomena anomali harga beras tadi.
Pertama, fenomena anomali harga beras murah tersebut saat ini–meski terlihat menguntungkan–sebetulnya menyimpan bom waktu. Dengan adanya beras murah impor, justru beras milik petani yang selama ini menjadi ”tabungan berharga” untuk dijual di musim kemarau yang harapannya harga akan naik, menjadi tidak laku karena disaingi beras impor yang murah. Akibatnya petani harus menurunkan harga jual berasnya meski rugi sekali pun. Hal ini jelas akan memukul ekonomi petani yang sudah ngos-ngosan tersebut. Bila itu terjadi, kegiatan pertanian akan lumpuh. Tragisnya lagi, yang namanya anomali niscaya akan bergerak ke kondisi normal lagi di mana harga beras impor kembali mahal sesuai standar harga internasional. Kita bayangkan jika dalam kondisi mayoritas petani lumpuh lalu harga beras bergerak ke kondisi normal, niscaya akan muncul keresahan sosial yang luas. Itulah sebabnya, meski kondisi anomali harga tersebut kelihatan menguntungkan masyarakat, fenomena itu harus segera di atasi. Jika tidak, dampak lanjutannya akan lebih besar lagi: lapangan pekerjaan petani tidak tercukupi dan mereka kehilangan pendapatan.
Mengacu pada pengertian ketahanan pangan di atas, berarti anomali harga beras murah yang sekarang sedang terjadi di Indonesia ini di masa depan akan menghancurkan ketahanan pangan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah harus melakukan terobosan kebijakan yang strategis agar para petani Indonesia terbebas dari kemiskinan. Dalam kaitan ini, kita bisa melongok ke Cina daratan (RRC) yang mulai tahun 1994 menerapkan reformasi kebijakan pertanian dengan mengusung konsep Economic and Technological Development Zone (ETDZ). Sasaran ETDZ adalah meningkatkan: a) efisiensi proses produksi pertanian, b) mengenalkan sistem produksi massal untuk alternaif beras seperti hortikultura dan aquaculture, c) menguasai dan meningkatkan performa teknologi yang sudah ada di masyarakat petani, dan d) mengembangkan teknologi baru terutama dalam bidang pembibitan, pupuk, dan pestisida ramah lingkungan. Apa yang dilakukan Cina kelihatan sederhana, tapi pemerinah Beijing melakukannya secara bertahap dengan urutan prioritas yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten.
Hasilnya, kurang dari satu dekade, RRC berhasil mandiri dan swasembada pangan. Bahkan, produk-produk pertanian Cina kini mulai diekspor dan mendapat pasaran luas di negara-negara berkembang. Sebaliknya yang terjadi di Indonesia.
Di atas kertas konsep ”revolusi hijau” yang dicanangkan pemerintah Orde Baru yang didikte negara-negara donor (baca: pemberi utang) sangat bagus. Tapi hasilnya: para petani Indonesia makin lama makin terpuruk. Semua itu disebabkan strategi pengembangan pertanian yang dijalankan pemerintah tumpang tindih, tidak menghiraukan teknologi pertanian setempat yang sudah ada, dilakukan secara tidak konsisten, dan last but not least, aparat pemerintah yang berada di lapangan menunjukkan contoh-contoh sikap yang korup. Dampaknya, kini kita rasakan semua. Indonesia sebagai negara pertanian secara ironis menjadi importir beras terbesar di dunia.
Jika kondisinya demikian, maka masa depan ketahanan pangan akan sangat terganggu, bahkan bisa menimbulkan tragedi. Nah, dalam kaitan ini perlu kita pikirkan bersama cara mengatasinya. Sebagai contoh, bangsa Indonesia harus mulai berpikir untuk mengubah kebiasaan mengonsumsi beras tiap kali makan dengan sumber karbohidrat yang lain. Pasalnya di Indonesia sumber karbohidrat lain di luar beras jumlahnya sangat banyak – mulai jagung, singkong, kembili, garut, ganyong, sagu, ubi, dan lain-lain. Jika sumber karbohidrat tersebut dibudidayakan dan dikembangkan, termasuk cara-cara pengolahan pascapanennya, niscaya akan bisa diterima masyarakat. Kita masih ingat, di tahun 60-an, ketika Indonesia dilanda krisis pangan, ada perusahaan yang mengolah tepung singkong menjadi butiran mirip nasi. Hasilnya luar biasa, masyarakat menyukainya seperti makan nasi biasa, padahal bahan bakunya tepung tapioka. Saat ini, misalnya, beberapa industri mie instan telah mulai memanfaatkan tepung tapioka untuk membuat mie. Paling tidak mie tersebut dibuat dari campuran terigu dengan tepung tapioka yang harganya jauh lebih murah. Hasilnya ternyata tak berbeda jauh ketimbang mie dari terigu (gandum). Hal ini mungkin bisa diterapkan dalam hal membuat nasi. Jika ini dilakukan niscaya kebutuhan akan beras tidak tinggi lagi. Bila demikian, Indonesia pun bisa mendikte harga beras luar negeri (impor). Dan harap dicatat, kandungan gizi tepung singkong, jagung, dan sagu dibandingkan beras tidak terlalu jauh. Namun demikian, dengan teknik pemerkayaan gizi (fortifikasi), masalah kandungan gizi ini tidak terlalu menjadi persoalan. Yang penting, bagaimana membiasakan lidah dan perasaan orang Indonesia jika menghadapi makanan pokok nonberas.
Jika hal ini terjadi, dampaknya akan sangat positif bagi ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu, petani Indonesia pun bisa mengganti tanaman sawah/ladangnya dengan komoditas hortikultura yang sedang laku di pasar internasional. So, percayalah, memvariasi makanan pokok merupakan jalan keluar yang amat ideal untuk mengatasi krisis pangan di Indonesia!

Penulis adalah peneliti senior bioteknologi di BPPT, tengah menyelesaikan tesis program doktor bidang studi agribisnis di IPB, Bogor.


 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003